Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Sambal Pahit.


__ADS_3

PoV Sumidah.


Satu jam sudah aku berada di kediaman Nanta, selama itu pula wanita yang bernama Amelia, tidak mau jauh dari pria itu. Namun sebaliknya tidak memberi kesempatan Nanta mendekati aku.


Dasar pria sok menolak dijodohkan mungkin karena belum tahu seperti apa calon istrinya yang ternyata cantik. Sudah barang tentu ia akan menerima wanita itu, nyatanya dia tidak menghindar kala Emelia menyentuhnya genit. Baguslah, dengan begitu aku tidak di pegang-pegang si tengil.


"Kamu sudah lama berhubungan dengan Nanta?" Tanya nyonya Zarina. Karena aku sejak tadi ngobrol panjang lebar dengan beliu.


"Kurang lebih satu tahun Tan..." jawabku tidak ragu-ragu.


"Oh iya kamu tadi kan belum menjawab pertanyaan saya, kamu asli darimana?"


"Saya dari tasik Tan, disini hanya mengadu nasib" aku menjawab jujur.


"Oh..." beliau manggut-mangut.


"Kalau boleh tahu... kamu lulusan apa? Dan saat ini kerja apa?" Cecar nyonya Zarina. Hadew... mengapa aku seperti orang yang mau melamar pekerjaan sih, tapi bagus lah aku akan menjawab apa adanya saja. Buktinya pria munafik itu saat ini sedang ngobrol juga dengan Amelia.


"Saya hanya lulusan SMU Tante, saya orang susah tidak mampu untuk bayar kuliah, bapak saya sudah lama tiada. Saat ini saya membantu Ambu membiayai kedua adik saya sekolah." Tuturku.Tidak ada yang aku tutupi karena jujur, aku tipikal orang yang blak-blakkan tidak bisa untuk berbohong.


Nyonya kembali mangut-manggut, tidak terlihat kaget sedikitpun.


"Memang adik-adik kamu saat ini sekolahnya apa?"


"Sudah SMA sama SMP Tan... dan jujur, saya saat ini hanya bekerja sebagai pengasuh anak" jujur aku. Nyonya menatapku cepat.


Namun aku merasa lega, karena terbebas dari perasaan yang membelenggu diriku karena berbohong, kini tidak ada lagi yang mengganjal.


Masa bodoh dengan uang 5 juta aku sudah tidak memikirkan lagi. Aku menatap dua orang Nanta dan juga Amelia ternyata sudah tidak ada di tempat. Mungkin mereka masuk ke kamar daaan... ahh... aku tidak tahu lagi apa yang mereka lakukan.


"Tante... Saya kira sudah cukup, saya pamit pulang," pamitku.Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan disini, pekerjaanku di rumah masih banyak.


"Loh, kok pulang... kita makan siang dulu" cegah Tante. "Nanta sama Amelia kemana?" Tanya beliau pun turut bingung.

__ADS_1


"Biar saja Tante... saya permisi, tadi ijin hanya sebentar khawatir majikan saya mencari." Aku segera beranjak dari kursi salim tangan nyonya Zarina.


"Loh tunggu dulu, biar di antar Nanta, tidak baik lah masa kalian datang berdua pulang sendirian," tampak nyonya Zarina merasa bersalah bermaksud memanggil Nanta.


"Tidak usah di panggil Tante... saya tidak apa-apa..." jawabku. Tentu tidak apa-apa, memang harus kecewa, tentu tidak. Lelaki pada dasarnya sama saja, tidak punya prinsip. Seketika aku ingat Abu. Ia berkata belum ada niat untuk menikah tetapi begitu di jodohkan dengan wanita secantik wanita yang menjadi istrinya sekarang tidak tengok kanan kiri lagi. Dan sekarang si tengil pun tidak semangat seperti saat berangkat membujuk aku, ketika melihat wanita cantik justeru lupa bahwa ada aku di rumah dia.


"Assalamualaikum..." Aku memutuskan untuk pulang.


"Waalaikumsalam..." Aku berjalan ke luar diantar Nyonya sambil memesan ojek online.


"Kamu pesan ojek? Dengan pakaian seperti ini apa tidak sulit?" Tanya Tante menatap gaun yang aku kenakan.


"Tidak Tan"


Terdengar suara motor berhenti di depan pagar aku segera mengangkat gaun keatas tentu tidak sulit karena celana jins masih aku kenakan.


Tante terkekeh melihat gayaku. Mungkin aneh karena yang biasa digunakan untuk dalaman gaun muslim itu celana tipis bukan jins semacam ini. Saat di salon kecantikan tadi sempat membuka celana, tetapi ternyata tidak nyaman tanpa celana panjang jadi terasa semriwing angin masuk ke dalam rok. Aku memutuskan untuk mengenakan rangkap di dalam.


"Permisi Tante..." ucapku setelah motor menjauh hanya terdengar samar-samar kata hati-hati ucapan nyonya.


Ananta PoV.


Aku membuka mata memindai sekitar ternyata aku sedang tidur. Aku melirik jam tangan ternyata sudah hampir jam 4 sore, itu artinya... Aku tidur selama tiga jam.


Seketika aku ingat tomboy, aku baru sadar meninggalkan dirinya begitu saja. Maksud aku ingin menghindar dari Amelia sebentar ternyata justeru tertidur.


Segera aku ke kamar mandi ambil air wudhu menjalankan shalat ashar, pasti si tomboy menunggu aku terlalu lama. Aku panjatkan doa untuk mama dan almarhum papa, lalu berdoa untuk diriku sendiri agar diberikan jodoh yang baik untuk ku.


Aku menuruni anak tangga mendengar tertawa dari dapur, mungkinkah itu si tomboy? Aku mempercepat langkahku menuju dapur, ternyata mama dan Amelia.


"Tomboy kemana Ma?"


"Tomboy? Tomboy siapa?" Tanya mama kaget. Aku ternyata keceplosan.

__ADS_1


"Midah mana Ma?" Aku mengulangi.


"Oh... Dia sudah pulang tidak lama kamu ke kamar tadi siang, Mama cegah tetapi kalau kelamaan takut diomeli majikan katanya"


Deg.


Apa jangan-jangan Tomboy sudah cerita dengan Mama, jika kami hanya sandiwara? Aku tahu Tomboy bukan orang yang ahli untuk berbohong. Aaagghh... kenapa aku sampai ketiduran sih!


"Ta, ajak makan Amelia kasihan Dia pasti kelaparan menunggu kamu bangun" titah mama.


"Iya Mas... makan yuk, katanya kamu suka sambal, aku tadi membuat sambal terasi ke sukaan kamu loh"


"Tidak lapar!" Jawabku ketus seraya menyingkirkan tangan wanita yang sejak tadi agresip sekali toal toel tidak jelas. Padahal tadi aku sudah bicara baik-baik kepdanya agar tidak mengharapkan aku. Dengan dalih aku sudah punya calon istri, tetapi wanita itu sungguh pantang menyerah.


"Ta... makan dulu" Mama menatapku seolah berkata "Kasihan Amelia"


Aku menuruti karena perutku lapar juga makan hanya sarapan tadi pagi. Selain menu makan siang yang sudah tersaji di meja makan membuat aku berselera.


Aku menarik kursi duduk bertiga, wanita ini duduk di sebelahku. Aku merasa risi sendiri. Nanti malam harus berbicara dengan mama. Aku tidak mau jika di jodohkan dengan wanita di sampingku ini.


"Ta... ayo makan... kok malah dilihatin terus makananya?"


Aku perhatikan mama sudah mulai menyendok makan di piring, begitu juga dengan wanita di sebelahku. Tanpa sadar satu centong nasi sudah tersaji di depanku. Entah mama atau wanita ini yang mengambilkan.


Aku ambil ikan bakar dan sambal, mencocol ikan dengan sambal dan makan dengan tangan tentu lebih nikmat. Suapan pertamaku berhenti mengunyah kala rasa sambal bukan lagi asin melainkan pahit. Mungkin wanita yang pamer sambal tadi membubuhkan garam lebih banyak daripada cabai.


"Kok tumben Ta, sambal kamu masih utuh?" Tanya mama mungkin curiga, kemudian beliu menyendok sambal mencicipi. Aku perhatikan mama memejamkan mata seraya mengedikkan bahu tanpa berkata apapun.


Selesai makan aku beranjak salim mama. "Mau kemana kamu Ta?"


"Mau menemui Midah Ma" jawabku merasa tidak tenang sebelum bertemu tomboy dan minta maaf sudah membiarkan dia pulang sendiri.


"Ta... kamu ini loh, ada Amelia kok. Antar Dia pulang dulu, baru menemui Midah" tegas mama.

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2