
Di rumah sakit jam merangkak naik tepat jam 9 malam Liha gelisah memikirkan putrinya yang belum juga tiba. Walaupun Abu selalu meyakinkan, tetapi hatinya merasa ada yang mengganjal, entah apa penyebabnya. Sudah pasti Liha kontak batin dengan putrinya. Andai saja Liha tahu jika Ais telah hilang, betapa hancurnya hati ibu muda itu.
"Sayang... kamu lebih baik tidur." Dengan sabar Abu menenangkan istrinya.
"Bagaimana mau tidur sih Bi... ada apa dengan Aisyah, sudah sejak jam 7 loh, Nanta menjemput tetapi kenapa belum juga tiba." Tergambar kegelisahan di wajah Liha.
"Banyak kemungkinan sayang, namanya di jalan, bisa macet, dan bisa saja ada kendala yang lain. Sekarang kita berdoa saja." Abu membetulkan selimut itrinya. Selama di rumah sakit Abu tidak pernah meninggalkan istrinya, kecuali ke kamar mandi. Shalat pun di ruangan itu juga.
"Abi benar, tapi setidaknya kita telepon Bulan Bi, Nanta sama Sumidah sudah berangkat kesini atau belum," Usul Liha. Jika belum mendengar dari Rembulan Liha sudah pasti akan kepikiran terus.
"Baiklah..." Abu mengalah ambil handphone kemudian menghubungi Bulan. Abu sengaja loudspeaker agar Liha mendengarnya.
Abu menjawab salam Bulan lalu menanyakan tentang Ais.
"Bulan, Nanta sudah menjemput Ais belum?" Tanya Abu. "Kok sampai dua jam belum sampai, atau mereka mampir kemana gitu ya." Abu pun sebenarnya bingung. Pasalnya jarak hotel dengan rumah sakit tidak jauh.
"Sudah Kak, tetapi..." Bulan tidak melanjutkan ucapanya hanya terdengar napas Bulan dari sambungan telepon.
"Tetapi kenapa Lan?" Cecar Abu. Karena Liha sudah komat-komat memberi kode kepadanya agar bertanya secara detail.
"Begini Kak, Ais sudah tidur sejak jam 7 tadi." Bohong Bulan.
"Oh... begitu, terus Nanta sama Sumidah kemana?"
"Mereka pulang dulu Kak,"
"Ya sudah Lan, besok pagi-pagi sekali saya saja yang menjemput. Assalamualaikum..." Pungkas Abu. Lalu mematikan handphone.
"Kamu dengar kan, kalau Ais sudah tidur. Besok pagi saja, kalau tidak di antar kesini aku yang menjemput sendiri, kamu nggak apa-apa kan... kalau besok pagi aku tinggal sebentar?"
"Tidak apa-apa Bi" Aslihah mengangguk, walaupun perasaannya belum juga plong.
***********************
Di apartemen, tepatnya di lantai 4 paling ujung. Kamar yang di huni Citra nenek Ais, tampak tiga orang pria berbadan besar sedang menjaga diluar apartemen sambil duduk santai di kursi sofa. Ketiga pria itu seketika berdiri ketika melihat tiga orang berjalan ke arahnya.
"Permisi Pak... kami ingin bertemu Bu Citra" Kata Sumidah. Sementara Nanta dan Tara berada di belakang Sum.
"Anda siapa?" Tanya salah satu pria merasa curiga dengan kehadiran Sumidah.
__ADS_1
Sumidah sesaat diam, entah mau menjawab apa. Pasalnya ia tidak tahu siapa saja keluarga Citra.
"Begini Pak, saya pemilik apartemen bermaksud menempati kamar ini. Jadi saya akan berbicara langsung kepada Bu Citra." Tutur Tara lancar. Tidak sulit mencari alasan baginya.
"Maaf, tetapi beliu sudah tidur, lebih baik besok pagi saja kalian kembali kesini." Titah pria itu.
"Baiklah... besok pagi kami akan kembali," Tara bermaksud kembali tidak mungkin ia memaksa masuk. Walaupun apartemen ini milik Tara. Namun, tidak sopan jika mengganggu ketenangan orang lain, karena Citra sudah teken kontrak apartemen ini hingga beberapa bulan ke depan.
Walaupun kecewa Sumidah mengikuti Tara dan Nanta. Namun ketika hendak melangkah terdengar samar-samar suara dari dalam apartemen. Sumidah mendongak menatap ke atas memasang telinga. Pantas saja suara dari dalam terdengar keluar ternyata dua jendela masih terbuka.
"Tunggu Kak." Sumidah berbisik menahan lengan Nanta. Nanta dan Tara pun ikut berhenti. Sementara tiga penjaga sudah kembali berjaga.
Tok tok tok.
"Tolooong... yang di lual bukain pintu..." Suara anak kecil pun semakin terdengar, dan terdengar pula suara wanita yang membujuknya.
"Nan, itu suara Ais, tidak salah lagi." Ujar Tara pelan agar tidak terdengar penjaga.
"Nggak mau... Ais mau pulang... lepas. Huaaa..." Jerit dari dalam semakin jelas.
"Anda menunggu apa disini! Bukankah kalian sudah sepakat akan kembali besok pagi?!" Sarkas satu penjaga mendekati mereka.
"Entahlah Nyonya mungkin lupa," Jawab temanya.
"Siapa suara anak kecil di dalam? Setahu saya Bu Citra tidak mempunyai anak kecil?" Tara pura-pura bertanya dengan nada biasa.
"Itu cucu nya. Sudahlah biarkan saja, memang begitu cucu nya selalu nakal." Kilah penjaga.
"Tolong bukakan kami pintu, jika tidak, saya akan membukanya sendiri, karena saya tahu nomor pin kamar apartemen ini." Kata Tara memang benar. Sebelum ia membangun rumah yang saat ini ia tempati bersama Bulan, ia bermaksud tinggal di apartemen ini. Namun mama Maya, dan papa Bisma kedua orang tua Tara tidak mengijinkan.
"Tolong buka Pak, suara anak kecil di dalam itu keponakan saya, jika Anda menolak! Kami akan melaporkan Anda ke pihak yang berwajib. Bahwa Anda telah melakukan penculikan!" Suara Nanta emosi.
"Tuan Tara, sebaiknya Tuan tidak perlu ijin, membuka pintu kepada pria-pria yang sudah melakukan penculikan kepada balita, kasihan Ais di dalam." Sumidah pun tak kalah emosi.
Tara maju tanganya terulur hendak membuka pintu.
Buk! Buk!
Dua pukulan mengenahi bahu Nanta.
__ADS_1
"Kurangajar!" Sarkas Nanta balik badan.
Buk! Buk!
Tara membalas pukulan, sebelumya memberikan pin apartemen kepada Midah.Tara bersama Nanta menyerang dua pria kekar itu.
Mata salah satu pria melirik tangan Sum, yang sudah siap membuka pintu. Namun tangan kekar mencekal tangan Sum hendak merebut pin tersebut.
"Hait! Langkahi dulu mayat gw!" Selayaknya pesilat tangguh, Sumidah sudah siap ambil kuda-kuda.
"Hahaha... wanita begeng macam gitu nantangin gw!" Pria itu tertawa remeh.
"Buk!
Merasa di remehkan Sum menendang paha pria itu. Karena tidak siap pria berwajah hitam itu sempoyongan.
"Brengsek!" Bak Elang, mata pria itu menatap Sum tajam. Seraya mendekat.
Mereka pun bertarung satu lawan satu. Gila! Hebat juga wanita ini. Gw harus mencari kelemahannya. Jika tidak, bisa mati konyol gw!
Pria itu hendak menyerang bagian dada Sum. Namun, matanya melotot ketika kerudung Sumidah menyingkap ke atas dan menampilkan buah jambu Sum yang hanya terbungkus kaos pas di badan. Pria itu menelan saliva. Konsentrasi pun buyar seketika.
Buk! Buk! Buk!
Kesempatan itu tidak di sia-sia kan oleh Sumidah, beberapa tendangan menyerang tubuh lawanya bertubi-tubi.
"Aaggghh..." Pria itu pun jatuh terjengkang.
Sum menatap Nanta yang sedang kewalahan lalu berlari hendak membantunya.
Buk! Buk!
Sumidah tidak menyadari jika lawanya tadi bangun dan menyerangnya dari belakang.
"TOMBOY..." Suara berat Nanta menggema, hendak menolong Sum.
Buk! Buk!
"Aow!" Pekik Nanta, jatuh tersungkur.
__ADS_1
...Bersambung....