
Aku hujani ciuman keseluruh wajah Dito, boleh Sumidah tidak mau jujur bahwa aku adalah ayah biologisnya. Tetapi banyak sekali kemiripan.
"Hahaha... Om, geli Om." Ujanya sambil tertawa aku lantas menurunkan Dito dari gendongan.
"Ini... hadiah buat Dito." Aku berikan coklat yang sejak tadi aku simpan di saku.
"Yayy... telimakasih Om." Sorak Dito, sambil mengiming-iming coklat kepada Sumidah yang sejak tadi hanya terpaku menatap kami berdua. Entah apa yang Tomboy pikirkan.
"Dito, ingat nggak. Pesan Bunda!" Ujarnya sedikit ketus.
Dito seketika diam menatap Midah takut. "Iya Bun, Dito nggak boleh makan coklat banyak-banyak, nanti gigi Dito ompong," Jawab Dito. Aku kasihan menatap bocah itu.
"Okay Bun, sekalang coklatnya Dito bagi sama Mbak Sulti ya. Dito ambil dikiiit... segini. Bolehkah?" Tanya Dito menunjukkan ujung kelingking. Tertangkap samar di wajah Midah tersenyum sedikit sambil mengangguk.
"Mbak Sulti, sini Dito bagi coklat ya," Dito mengait lengan surti lalu keluar. Hanya aku dan Midah yang berada di dalam villa.
Aku perhatikan, Midah menuju meja makan menelentangkan dua piring. Pasti ia mau sarapan. Aku tersenyum lalu dengan percaya diri menghampirinya.
"Aku nggak ditawarin makan?" Tanyaku sudah berdiri di sampingnya.
"Duduk disana," Usirnya tidak mengijinkan aku duduk di sebelahnya.
"Okay..." Aku senang. Walaupun aku tidak di diperbolehkan duduk di sebelahnya. Dengan menyuruh aku duduk di depanya otomatis aku mendapat lampu hijau.
"Boleh nggak aku makan?" Tanyaku. Padahal aku sudah kenyang, tetapi karena ingin lebih dekat pura-pura lapar.
"Makan saja! Itukan sudah ada piring!" Ucapnya ketus tetapi menyendokan nasi ke piringku. Alhamdulillah... rasanya aku di awang-awang. "Jangan pisahkan kami lagi ya Allah... aku ingin seperti ini. Jangan uji lagi hambamu yang tidak kuat menerima" Doaku dalam hati.
Aku pun sarapan untuk yang ke dua kali. Sesekali melirik tomboy, gaya makanya sudah berbeda. Entah darimana dia belajar semuanya. Yang pasti, kini bukan tomboy lagi, melainkan wanita berkelas.
"Kamu menginap disini hanya sendiri, Midah?" Tanyaku, membuka percakapan.
"Sudah tahu sama Dito, dan Surti. Pakai nanya?!" Sahutnya ketus sambil membenahi piring, ketika kami sudah selesai makan.
Aku tersenyum menggaruk kepala. "Galak amat."
Dia hanya melengos kesal lalu membawa piring ke wastavel.
Sudah seharian aku di villa bersama mereka. Tara telepon mengajak aku pulang, tetapi aku minta dirinya agar pulang lebih dulu.
Malam ini aku menginap di villa. Tentu tidak mau lancang tidur di kamar bersama Sumidah. Aku memilih tidur di sofa saja. Sangking dinginnya aku menggigil dan tidak bisa tidur.
Tepat tengah malam mendengar kamar tomboy di buka. Aku pura-pura tidur. Langkah kakinya terdengar menuju ke arahku dan berhenti di samping sofa. Hingga beberapa menit lalu pergi lagi.
__ADS_1
Aku kecewa merasa dekat dengan istriku namun tidak bisa memeluknya. Saat sedang berpikir macam-macam terasa selimut menutup tubuhku. Aku membuka mata sedikit, kali ini Midah mengenakan piama dan rambut tergerai cantik sekali. Tanpa ia tahu masih membetulkan selimut di tubuhku aku menelan saliva.
Ya Allah... aku tidak kuat, rasanya ingin memeluknya malam ini. Namun aku tidak ingin memaksa, aku takut ia marah dan membenciku lagi, setelah sekian lama berpisah karena kecerobohan diriku. Seharian ini aku berusaha mendekati dengan cara yang halus dan sedikit demi sedikit hatinya mulai luluh. Nyatanya ia saat ini menyelimuti tubuhku.
Keesokan harinya aku lihat dia sibuk ingin pulang. "Kamu mau pulang ya?" Tanyaku saat keluar dari kamar mandi, ia sedang mencuci piring.
"Iya" Jawabnya tanpa menoleh.
"Pakai mobil aku ya." Pintaku.
"Tidak usah, saya sudah membawa mobil sendiri." Tolaknya.
Aku tidak melanjutkan ucapanku, entah apa usaha Midah saat ini, jika aku perhatikan dia sudah sukses.
Aku duduk di kursi memperhatikan dirinya dari belakang. Aroma kopi menguar ke hidung menyadarkan aku. Ternyata satu gelas kopi, sudah ngebul. Alhamdulillah... lagi-lagi aku bersyukur. Banyak kejutan yang di tunjukkan Midah. Yakni tadi malam mengambilkan aku nasi, ketika tidur menyelimuti aku, dan kini membuatkan aku kopi.
"Tomboy..." Panggilku. Ia menoleh menghentikan mencuci piring.
"Terimakasih ya." Aku angkat cangkir kopi menunjukkan kepadanya sambil tersenyum. Namun ia tidak mau membalas senyumku.
"Om... Om telyata bobo disini ya?" Tanya Dito. Baru keluar dari kamar mandi berselimut handuk. Anak itu rupanya kedinginan.
"Iya dong," Aku tersenyum.
"Telus... Om bobo dimana?"
"Kenapa Om nggak bobo sama Dito?" Tanya Dito seraya menggerak-gerakkan badanya sudah pasti kedingan.
"Dito kan sama Mbak," Jawabku lalu menyeruput kopi sedikit. Heemm kopi buatan istriku paling enak.
"Kenapa Om tidak bobo sama Bunda? Bunda kan sendilian,"
"Tak!
Aku terkejut seketika meletakan cangir.
"Dito... cepat ke kamar, pakai baju dulu? Mbak Surti kemana?" Suara Midah melengking seperti priwitan.
"Ya Bun..." Dito berlari ke kamar.
"Hehehe..." Aku mentertawakan Sumidah. Rupanya ia pun terkejut dengan kata-kata Dito yang ceplas ceplos. Dia melengos ke kamar meninggalkan aku.
Keluar dari kamar Sumidah memutuskan untuk pulang.
__ADS_1
Segera aku telepon supir agar mengambil mobilku, biar waktu ini akan aku manfaatkan untuk terus berjuang mengambil hati Sumidah.
Dengan menggendong Dito, aku keluar bersama-sama. Surti menarik koper sementara Sumidah menylempang tas berjalan di depan.
Ketika Midah memencet mobil aku segera mendudukan Dito di jok tengah.
"Biar aku yang nyetir," Aku berdiri di samping Midah yang sudah duduk di kursi kemudi. Aku sengaja mendekatkan wajahku hingga tinggal beberapa cm.
"Nggak usah," Jawabnya tanpa menoleh.
"Minggir nggak, gw cium nih." Ancamku lirih agar tidak terdengar Dito di belakang.
"Cek"
Ia berdecak kesal lalu lompat duduk di sebelah kemudi.
"Holee... Om ikut pulang baleng..." Seru Dito di belakang, ketika mobil sudah aku jalankan. Aku terkekeh.
"Nyetil sampai lumah ya Om." Celotehnya dengan bahasa cadel menggemaskan.
"Pasti dong,"
Di dalam mobil kami saling diam, sesekali melirik ke samping sambil menyetir. Di belakang, Dito rupanya sedang tidur, begitu juga dengan Surti.
"Midah... sekarang kita ke rumah Mama ya," Ajakku lembut.
"Nggak mau!" Tolaknya tegas.
"Kamu nggak mau silaturahmi ke mertua kamu? Tidak hanya aku yang selalu mencari-cari kamu beberapa tahun ini Midah. Tetapi Mama pun sama."
"Nanti aku juga mau kesana, tapi tidak sekarang." Jawabnya masuk akal. Aku mengerti saat ini Midah ingin segera istirahat.
"Rumah kamu dimana?" Tanyaku karena di depan ada perempatan. Aku bingung harus belok kemana.
"Tidak jauh dari sini." Ia menuturkan alamat. Alhamdulilah... lambat laun ia mulai mencair. Aku segera menuju rumah mewah tidak jauh dari jalan tol.
Betapa terkejutnya aku, ketika tiba di rumahnya. Usaha apa yang istri aku jalani? Sehingga memiliki mobil mewah dan rumah di tempat ini pun tergolong paling mahal di kota bogor. Namun aku tidak mau menanyakan hal ini dulu. Dengan bisa masuk kesini bersama anak dan istri pun aku sudah senang.
"Dimana kamar Dito?" Tanyaku ketika sampai di rumah.
"Disini Tuan... mari saya tunjukkan," Surti yang menjawab. Ia berjalan lebih dulu membukakan pintu untuk aku.
"Sumidah... kamu sudah pulang Nak?" Suara familiar terdengar di telingaku. Setelah aku keluar dari kamar Dito.
__ADS_1
"Ambu?"
...~Bersambung~...