
Sore harinya Sumidah sudah selesai memandikan Rangga kemudian menyuapi.
"Mamam" celoteh Rangga.
"Iya maman. Alhamdulillah... sudah habis" ucap Midah, sembari membersihkan mulut Rangga dengan tissue.
"Bis" kata Rangga belum bisa bicara satu kata lengkap.
"Tadi Rangga takut ya sama Teteh... masa Teteh dandan cantik kok dedek malah takut"
"Kut" Rangga tertawa geli kala diciumi pipinya gemas oleh Sumidah.
"Memang kamu tadi habis darimana Sum?" Tanya Bulan keluar dari kamar sudah wangi, tentu menyambut suaminya pulang. "Jangankan Rangga, saya saja tidak bisa mengenali kamu" jujur Bulan. Saat Sumidah tiba di rumah tadi siang, Rangga menangis takut di dekati Sum.
"Saya tadi di ajak ke rumahnya Nanta Non" jujur Midah.
"Ke rumah Nanta? Ngapain, Sum?" Bulan menatap Sum terkejut.
Sumidah menceritakan semuanya kepada Bulan. Jika dirinya disuruh pura-pura menjadi pacar. "Begitu ceritanya Non..."
"Terus... kamu benar-benar membohongi Tante Zarina?" Tanya Bulan tidak habis pikir.
"Tidak Non, saya sudah menceritakan siapa saya kepada nyonya Zarina dengan jujur, tetapi belum sempat cerita mengenai hubungan saya dengan Ananta. Karena saya buru-buru pulang, khawatir Rangga mencari saya"
"Sebenarnya bukan pura-pura Sum, Nanta itu memang suka sama kamu. Kamu tidak peka sih" tegas Bulan.
"Hihihi... Non ada-ada saja dech, saya sama Nanta itu seperti kucing sama Anjing. Soalnya Dia itu selalu usil dan jahil sama saya mana mungkin jatuh cinta Non" Sum cekikikan.
"Ya sudah, kalau kamu tidak percaya"
Teng tong teng tong.
"Ada tamu tuh pasti Dia Nanta, sini biar Rangga sama saya" Bulan mengambil alih Rangga dari pangkuan Sum.
"Teteh" Rangga mengansunkan tangan masih mau di gendong.
"Sayang... Rangga sama Mama dulu. Teteh mau bukain pintu untuk tamu" Bulan segera masuk ke kamar. Sementara Sumidah ke depan membuka pintu.
"Tomboy... urusan kita belum selesai, tapi loe sudah kabur" ujar Nanta tanpa tedeng aling-aling, kemudian masuk melungguhkan bokongnya di sofa tanpa disuruh. Sumidah menyusul setelah menutup pintu duduk berhadapan dengan Nanta.
__ADS_1
"Apaan? Kamu yang ngilang entah kemana?! Pasti kamu sudah bobo siang sama calon istri kamu itu kan?!" Sarkas Midah.
"Ngacok! Kalau ngomong!" Nanta memajukan badan memukul pelan mulut Midah.
"Terus ngapain, nggak ada tuh yang bisa saya lakuin di rumah kamu selain melihat kamu colek-colekan sama tuh awewe nu geulis," Sungut Midah.
"Ciee... cembokur" Nanta terkekeh.
"Cembokur?! Idih! Kegeeran!" Sumidah melengos kesal.
"Sudah ah! Jangan cicit cuit kayak burung prenjak, sekarang gw minta nomer rekening loe" kata Nanta serius ingin transfer uang yang Nanta janjikan.
"Nggak mau! Saya batalkan rencana tadi, saya tersiksa kalau harus ngelakuin yang tidak sesuai dengan hati nurani saya" tegas Midah.
"Tomboy... gw serius nih, okay kalau loe tidak mau menerima uang itu biar untuk tambahan biaya kuliah Anda. Bukankah Anda tinggal beberapa bulan lagi lulus"
"Simpan saja uang kamu!" Midah bangkit dari duduknya melangkahkan kaki.
"Tunggu Tomboy" Ananta pun beranjak mencekal lengan Midah. "Jujur Tomboy... gw ngelakuin ini sebenarnya bukan nyuruh loe untuk berpura-pura menjadi pacar, tetapi gw sungguh-sungguh mencintai loe" Nanta menatap mata Midah mencari jawaban.
"Jadi... kamu membeli cinta saya dengan uang 5 juta?!" ketus Midah merasa terhina. "Keterlaluan kamu, Nanta!" Gadis itu benar-benar berlalu.
"Bukan begitu maksud gw Tomboy... aaggghh... salah lagi!" Nanta menyugar rambutnya gusar.
***********
Seminggu kemudian, di dalam kamar, Midah tidur telungkup. Selama seminggu Nanta bak di telan bumi, karena pria itu tidak pernah datang lagi. Padahal Midah ingin minta maaf. Sebenarnya Nanta tidak salah hanya bermaksud baik ingin membantu adiknya.
Namun, yang menyebabkan Midah kesal adalah... semua pria yang ingin membantunya mengapa harus dengan embel-embel rasa cinta. Dan pada akhirnya jika mereka kecewa kepadanya. Midah khawatir akan di bangkit. Midah tidak ingin punya hutang budi kepada siapapun. Termasuk Nanta dan juga Junaedi.
Midah membuka menutup hp, selama seminggu itu tidak ada chat masuk dari Nanta. Bisa saja Midah menulis pesan sekedar menanyakan kabar, tetapi bukan Midah jika tidak mempuanyai gengsi selangit.
Cling!
Ada pesan masuk Midah dengan cepat membukanya. Siapa tahu pria yang di pikirkan mengirim pesan. Midah mendelik gusar karena yang wa nomer tidak di kenal. Akun bisnis yang sedang menawarkan dagangan. Dengan rasa kesal Midah memblokir nomor tersebut, kemudian melempar handphone asal tentu di kasur tidak akan rusak.
"Masa bodoh dengan pria itu!" Gerutu Midah. "Tomboy... aku mencintai kamu..." Kata-kata Nanta seminggu yang lalu masih segar dalam ingatan Midah, tetapi nyatanya Nanta menyerah. "Omong kosong!" Hardik Midah.
Midah membuka selimut lebih baik mencoba tidur karena khawatir besok kesiangan.
__ADS_1
Deeerrtr... deerrtt...
Kali ini handphone yang berada di bawah kaki Midah bergetar. Awalnya Midah malas mengangkat, tetapi jika di diamkan khawatir Ambu atau adiknya dari kampung yang telepon.
Midah menggeser tombol hijau ternyata ada yang video call.
"Ka-kamu" gugup Midah, bagusnya seluruh tubuhnya sudah tertutup selimut. Midah menutup rambutnya dengan bantal.
Midah menatap Nanta yang sedang tiduran di ranjang meninggikan bantal.
"Hahaha... Kenapa kamu gugup begitu tomboy..." Nanta terbahak-bahak.
"Tahu ah! Kamu kemana saja selama seminggu ini?!" Sungut Midah.
"Cieee... Cieee... kalau rindu kirimlah surat jangan menangis di tempat tidur" seloroh Nanta terkekeh.
"Siapa juga yang rindu, jangan gede rasa, saya cuma mau memastikan kemana kamu selama seminggu ini?" Midah mengulangi pertanyaan. Tertangkap keseriusan di matanya.
"Gw lagi di jawa timur Midah... di tempat ini susah banget signal, sekarang bisa telepon loe, karena gw pindah hotel" tutur Nanta. Kedua insan berbeda jenis itu akhirnya ngobrol panjang lebar.
"Midah... mana nomor rekening nya, gw mau transfer uang kemarin itu" Nanta membahas masalah uang seminggu yang lalu lalu.
"Nggak mau, aku nggak punya nomor rekening" tolak Midah berbohong.
"Atau begini saja, besok kalau gw sudah pulang gw kasih tunai saja ya" Nanta serius.
"Nggak! Sudah saya katakan berapa kali? Tidak ya tidak!" Keukeuh Midah dengan pendirian.
"Loe itu kepalanya lebih keras daripada batu tahu nggak?!"
"Biarin!" Jawab Midah pendek.
"Ya sudah deh, sampai besok ya, lusa InsyaAllah, gw sudah pulang"
"Iya" jawab Midah.
"Okay... Tomboy... selamat tidur. I love you...
Sambungan telepon terputus. Midah hanya bengong menatap handphone.
__ADS_1
"Apa tadi dia bilang? I love you" gumam Midah kemudian tersenyum tidur memeluk guling.
...Bersambung....