
Perjalanan kendaraan bermotor di kota besar tentu tidak seperti di kampung halaman. Jika di kampung mengendara cukup 5 menit, di Jakarta bisa 10 menit, bahkan lebih. Seperti yang dialami Abu. Pria itu akhirnya tiba di depan apotek membuka helm lalu menyangkutkan di atas motor.
Setelah merapikan rambut di kaca spion, netranya menangkap Rembulan yang sedang membantu Udin. Dahi Abu berkerut tidak biasanya Rembulan membantu melayani seperti sekarang. Terburu-buru ia masuk ke dalam melalui pintu belakang samping mushala.
"Kak Abu..." sapa Novi, saat berpapasan dengan Abu di pintu toilet. Sepertinya Novi baru saja dari tempat itu.
"Nov, dapat salam dari ibu kamu" kata Abu sambil melepas sepatu.
"Salam kembali Kak, nanti deh, saya telepon," kata Novi. Selama seminggu ini memang tidak sempat telepon orang tuanya, karena apotek ramai terus, terlebih tidak ada Abu.
"Bapak sama Ibu saya sehat kan Kak?"
"Alhamdulillah... semua sehat," jawab Abu, seraya berajalan masuk, setelah meletakan sepatu di rak pinggir mushola.
"Tunggu Kak" cegah Novi.
Seketika Abu berhenti. "Ada apa Nov, apotek sedang ramai kita cepat ke dalam, membantu Udin sama Bulan"
"Cieee... Kak Abu, sudah buru-buru saja, ingin cepat ketemu Midah, ya" Novi cengegesan.
Deg.
"Midah?" Abu terkesiap, perasaan bersalah kepada Midah memenuhi ruang hatinya.
"Iya Kak, Dia menunggu Kak Abu sejak tadi," tutur Novi.
Abu berdiri mematung bagaimana caranya menyampaikan kepada Midah. Agar tidak menyakiti hati wanita itu.
"Kak... kok malah bengong, katanya tadi terburu-buru," Novi berjalan lebih dulu diikuti Abu sambil menata kembali pikirannya.
Tiba di dalam, Abu memindai sekeliling ruangan, ternyata tidak ada Midah dadanya sedikit lega.
"Assalamualaikum..." salam Abu. Bulan dan Udin seketika menoleh.
"Waalaikumsalam..."
"Panjang umur Kak, belum lama kita omongin nggak taunya datang," kata Udin.
"Kalian gibah ya?! Pantas, kuping saya berdengung," kelakar Abu.
"Ngomongin soal masa depan yang cerah Kak, jangan khawatir," Imbuh Rembulan.
"Aamiin..." sahut Abu kemudian membantu melayani pembeli, setelah senggang, Bulan mengajaknya duduk di sofa.
"Hati-hati loh, jangan clbk nanti kalian berdua di hajar Bang Tara," seloroh Udin.
__ADS_1
"Ngaco!" Ketus Bulan melengos sambil berlalu. Membuat Udin terbahak-bahak merasa lucu menatap mulut Bulan yang sedang manyun.
"Bagaimana kabar Pak Umar, sama Bu Ifah Kak?" tanya Bulan, kali ini mereka duduk di kursi sofa sambil berbincang-bincang.
"Ayah sama Ibu sehat kok Lan," jawab Abu. "Lahan pertanian, dan rumah milik bu Fatimah juga di urus anak buah Ayah dengan baik," Abu menambahkan.
"Aku ingin rumah dan tanah Ibu di jual saja Kak, tetapi ibu keberatan,"
"Ibu Fatimah benar Lan, rumah itukan peninggalan Ayah kamu, jadi tidak semudah itu ibu kamu menjual," nasehat Abu.
"Iya juga sih Kak," mereka ngobrol panjang lebar. Membiarkan Udin dan Novi melayani pelanggan.
"Kak Abu, Sumidah ada di disini loh," inilah yang akan Bulan bahas.
"Sekarang dimana Dia?" karena asik ngobrol, Abu lupa menanyakan Midah.
"Midah menemani Rangga di dalam ruangan, kasihan anak itu. Dia rupanya cinta banget sama Kakak. Lalu sebenarnya Kak Abu suka nggak sih... sama Dia? Cinta nggak cinta, Kak Abu harus jujur supaya Dia tidak terlalu berharab Kak," nasehat Bulan.
"Iya Lan, sebenarnya ada yang mau aku bicarakan dengan Dia" jujur Abu.
Gitu dong Kak" Bulan merasa lega.
"Oh iya Kak, aku mau tanya. Kak Abu di kampung mendengar kabar tentang sahabat aku nggak?" Midah mulai bicara yang lain lagi.
"Aslihah Kak," jawab Rembulan.
"Aslihah..."
"Kak Abu sudah sampai?" Sumidah menghampiri mereka sambil menggendong Rangga. Menghentikan obrolan Abu dan Rembulan.
"Sudah" jawab Abu pendek. Tenggorokan Abu tercekat.
"Benar kan Non, feling saya... kalau Kak Abu langsung kesini" Midah memberikan senyum kas nya. Wanita berperawakan sedang itu membuat perasaan Abu tidak menentu, entah bagaimana akan memulai bicara.
Abu menatap sendu wajah Sumidah. Sebelum jatuh cinta kepada nya, Sumidah dulu bertubuh gemuk. Namun demi cintanya, Midah rela diet hingga mencapai berat badan Ideal. Tidak hanya itu, sedikit demi sedikit Midah mulai memperbaiki penampilan. Yang dulu mengenakan kaos ketat, dan celana robek-robek pun kini sudah tidak lagi, walaupun cara memakai kerudung belum benar, setidaknya Sumidah sedikit berubah.
"Rangga sama Mama Yuk" Rembulan ambil Rangga dari gendongan Sum, mengajaknya ke ruangan. Memberikan waktu untuk mereka berbicara.
**********
Di rumah Abu. Liha sudah selesai memasak, kemudian menyusunnya di meja makan. Sambil menunggu Abu pulang, Liha mencuci piring bekas memasak.
Liha mencari sapu, di seluruh ruangan tidak menemukan, kemudian membuka pintu belakang. Rupanya di belakang rumah Abu ada sedikit sisa tanah untuk membuat jemuran, sapu dan kain pel pun di gantung rapi disana.
Liha Ambil sapu menyapu lantai dan seluruh ruangan kemudian mengepel hingga rumah Abu tambah kinclong.
__ADS_1
Setelah rapi semuanya, Liha melirik jam ternyata sudah jam satu siang. Pantas, cacing di perut sudah minta asupan gizi. Tentu Liha menahanya hingga Abu pulang nanti.
Liha pun akhirnya shalat dzuhur dulu, mungkin suami nya sedang dalam perjalanan sebab sudah biasa jalanan di Jakarta selalu macet.
"Umma..." panggil Ais. Bocah itu sudah bangun dan duduk di ranjang menunggu Liha selesai shalat baru kemudian menyapa.
"Sayang... anak Umma sudah bangun," Setelah melipat mukena Liha menghampiri putri nya.
"Mau pipis" ucap Ais.
"Ayo, Umma antar ke kamar mandi," Liha menuntun Ais ke kamar mandi.
"Ais pasti lapar, sekarang kita keluar terus Umma ambilkan makan ya," kata Liha Setelah tiba di kamar.
"Iya... Ais lapal," jawabnya menggemaskan. Di gandengnya Ais ke ruang makan saat ini sudah jam dua.
"Sekarang Ais duduk disini" Liha menarik kursi lalu mengangkat Ais mendudukan disana. Liha kemudian ambil makan, meletakan di depan Ais.
"Sekarang... berdoa sebelum makan dulu" begitulah Liha selalu mengajari Ais yang terbaik. Setelah membaca doa, membiarkan putri nya makan sendiri, walaupun berantakan, tetapi biar Ais belajar.
"Abi kemana Umma?" selesai makan Ais ingat Abu sejak bangun tidur tidak melihat.
"Abi kerja belum pulang" jawab Liha sembari membereskan bekas makan Ais.
"Oh kelja..." Ais pun kembali bermain.
Waktu berganti sore Abu belum juga pulang, Liha maklum mungkin suami nya langsung kerja. Liha akhirnya keluar sambil menuntun Aisyah membeli telur di warung yang tidak jauh dari tempat tinggal Abu.
Setelah mendapatkan yang di cari, Liha kembali memasak untuk makan malam, kali ini memasak balado telur. Sementara tempe dan sayur sup yang ia masak tadi pagi tinggal menghangatkan karena hanya Ais yang memakan.
Jam berlalu hingga jam tujuh malam Abu belum juga pulang. Liha lagi-lagi menahan rasa kecewa. Liha menonton televisi sambil menenami Ais bermain hingga jam delapan kemudian menidurkan putrinya.
"Kok Abi nggak pulang-pulang Umma..." rengek Ais.
"Abi mungkin sudah pulang sayang... tapi jalanan pasti macet, lebih baik Ais bobo, besok baru bertemu Abi." tutur Liha membimbing Ais membaca doa sebelum tidur. Setelah Ais bobo Liha keluar kamar. Untuk mengusir rasa sepi sambil menunggu Abu, Liha menyalakan televisi.
Detik menit dengan sabar Liha menunggu suaminya. Ia ingin pendekatan dan mengenal Abu lebih jauh. Walaupun bagaimana Abu kini sudah berstatus suami. Tetapi baru pertama kali tinggal bersama Liha sudah di kecewakan.
Liha memencet remote televisi kemudian beranjak, karena saat ini sudah hampir jam 12 malam.
Liha membuka tudung saji di meja makan, lagi-lagi makanan yang ia masak tidak ada yang makan. Lapar yang ia tahan sejak siang pun kini telah kenyang dengan sendirinya.
Dengan rasa kecewa yang mendalam, Liha masuk ke kamar menatap Ais yang sedang terlelap. "Yang penting kamu bahagia sayang..." di kecupnya perlahan pipi putrinya lalu merebahkan tubuhnya di samping Ais.
...BERSAMBUNG....
__ADS_1