
PoV Sumidah.
"Bundaa..." Panggil anakku masuk ke ruang kerjaku. Saat ini aku sedang mengecek laporan omset bulan ini, yang sudah di hitung oleh salah satu karyawanku. Seperti biasa jika hendak menggaji para karyawan setiap awal bulan.
"Iya sayang..." Aku menghentikan kegiatan aku.
"Anak Bunda darimana?" Aku usap kepalanya yang sedang menyusup ke pangkuan aku.
"Dali lual, Dito di kasih coklat sama Om" Dito menunjukkan coklat panjang merk terkenal.
"Om siapa?" Cecarku. Menatap Surti yang sedang berdiri di depan meja kerjaku.
"Dua pelanggan resto Non, tadi ngobrol sama Dito, terus dikasih coklat," Surti menjelaskan.
"Dito... kamu boleh makan coklat ini, tetapi tidak boleh banyak-banyak." Nasehatku.
"Kalau kebanyakan makan coklat giginya ompong kan, Bun," Potong Dito.
"Anak pintar, nanti coklatnya di bagi-bagi kalau sudah di rumah ya." Nasehat aku. Aku sengaja mengajak Dito ke resto karena masih trauma ketika hampir ketabrak kemarin. Toh, disini juga ada kamar walaupun kecil, tentu Dito bisa istirahat.
"Beles Bun, nanti aku bagi sama Om Anda, Om Endar, sama Mbak." Celotehan anakku menggemaskan. Lalu aku cium wajah yang mirip sekali dengan seseorang yang aku sayang sekaligus aku benci.
"Bun, masa Om yang ngasih coklat tadi bilang loe, gw, kan nggak sopan ya Bun." Polos Dito, menirukan ucapan aku ketika anakku bermain dengan anak tetangga bahasanya seperti itu, aku selalu menasehati.
Aku tersenyum. "Iya, sekarang... Dito bobo siang dulu okay..."
"Yaahh... kok bobo sih Bun," Protes Dito, anak ini kalau diajak tidur siang selalu susah.
"Bobo dulu, nanti kalau nggak mau bobo, besok nggak Bunda ajak lagi." Ancamku.
"Iya deh." Dito segera bangun dari pangkuan aku. "Tapi, ditemani Bunda ya," Rupanya anakku minta perhatian.
"Ayo Dito, bobo sama Mbak, nanti Mbak ceritain. Mbak punya cerita bagus loh," Surti cepat tanggap.
"Sama Mbak Surti dulu sayang... nanti Bunda menyusul ya." Aku membujuknya. Dan pada akhirnya Dito ke kamar tapi sesekali menoleh.
Aku sedih menatap putraku dari belakang, karena egoku ia tidak pernah tahu siapa Ayahnya.
Masih segar dalam ingatan aku, baru selesai menikah aku menjadi tidak respek lagi kepada pria yang tidak punya perasaan. Menggauli istri nya dalam keadaan marah.
Mungkin sebagian orang, hal itu tidak seberapa. Namun bagiku sulit melupakan semua itu. Aku tahu pria itu berjuang untuk mendapatkan maaf dariku. Namun aku memilih pergi tanpa pamit Ambu. Sikapku memang tidak bisa dibenarkan, namun inilah keputusan yang aku ambil kala itu.
__ADS_1
Aku mengikuti langkah kaki mendatangi teman sekolah SMK dulu yang sedang kos di Bogor. Teman aku bekerja di salah satu pabrik. "Aul, di tempat kamu kerja ada lowongan nggak?" Tanyaku.
"Coba saja bikin lamaran Midah, siapa tahu rezeki." Saran Aul. Sambil mengirim lamaran di beberapa tempat, aku bekerja di tempat ibu kos. Di tempat itu aku bekerja bagian memasak. Rupanya ibu kos memuji masakan aku yang aku pelajari dari Ambu.
"Masakan kamu enak Midah, ngapain kamu mencari kerja, mendingan kalian buka lesehan saja di depan. Daripada anak-anak kos kejauhan kalau cari makan," Saran Ibu kos menawarkan lapak di pinggir jalan lokasinya bagus untuk jualan pecel lele.
"Ibu benar?" Aku kegirangan.
"Benar," Jawab Bu Yeyen sungguh-sungguh.
"Baik Bu, kalau begitu, berapa sewanya setiap bulan?" Tanyaku bersemangat.
"Pakai saja, yang penting tolong di rawat, dan awasi anak-anak kos. Soalnya saya mau ikut suami ke Jakarta." Kata bu Yeyen.
Di tempat itu rezeki aku dipermudah, dengan modal tabungan gaji dari non Bulan. Ternyata daganganku laris manis. Aul sampai berhenti bekerja memilih membantu aku, karena gajinya aku beri lebih besar dari tempat ia bekerja.
Tiga bulan kemudian, aku sering sakit kepala tetapi tidak aku rasakan. Aul menyarankan agar aku periksa dan benar saja aku ternyata hamil.
Agar tidak menjadi fitnah orang menyangka aku hamil diluar nikah. Aku menjemput Ambu yang sudah tiga bulan aku tinggalkan. Tidak pernah lelah Ambu menasehati aku agar jujur kepada Nanta dan hidup bersama. Namun, aku menolak dengan berbagi alasan, justru aku minta Anda dan Endar agar jangan sampai mengatakan keberadaanku.
Ambu ikut aku ke Bogor dan tidur bersamaku di kamar kos. Beliau mengatakan kepada bu Yeyen jika aku sebenarnya punya suami. Tentu bu Yeyen percaya kepadaku. Bersama Ambu dan Aul, kami mengelola lesehan.
Semakin hari usaha aku semakin berkembang. Ikan dan Ayam aku pesan dari Anda. Karena Anda meneruskan usaha ternak Ayam dan Ikan milik Ambu. Alhamdulillah... tidak hanya aku yang meraup keuntungan, tetapi Anda pun sama.
Aku menghitung uang laba bersih secara manual karena hasil jualan selama 9 bulan tidak aku masukkan ke bank.
Alhamdulillah... aku senang sekali ternyata tabungan aku sudah hampir 100 juta. Penghasilan aku lebih besar dari gaji saat aku berkerja di rumah non Bulan.
Agar aman aku akan menyimpan uang ini ke bank saja. Jika aku lahiran nanti pasti akan masuk rumah sakit tentu membutuhkan uang. Aku ambil secukupnya dan selebihnya aku tabung.
"Ul, tolong antar aku ke bank ya." Pintaku kepada Aul.
"Okay..." Aul pun menyalakan motor. Motor ini aku beli seken dari pemilik kos. Mungkin rezeki anak yang aku kandung segala sesuatunya dipermudah oleh Allah.
"Mbu, aku berangkat ya," Ucapku. Aku masukan uang di kantong plastik hitam kemudian aku simpan ke dalam jok motor. Aku rasa lebih aman ketimbang membawa tas.
"Hati-hati Nak" Pesan Ambu.
Tiba di bank, betapa terkejutnya aku ketika mengecek saldo yang awalnya hanya tinggal beberapa juta. Kini tabungan aku total hingga ratusan juta. Itu artinya ada yang tranfer setiap bulan hingga puluhan juta.
Sudah pasti ini Nanta yang tranfer setiap bulan, tetapi darimana dia mendapat nomor rekening aku? Pasti dari non Bulan. Biar sajalah, toh ini untuk anaknya.
__ADS_1
Hingga tiba saatnya aku melahirkan anak laki-laki yang aku beri nama Dito Pratama. Nama itu aku ambil dari sepenggal nama Ayahnya. Yaitu Radito Ananta Pratama. Saat itu aku menangis kala yang Adzan di telinga putraku bukan Ayahnya, tetapi Anda.
"Midah... sudah saatnya kalian berkumpul Nak, jika kamu terlalu menuruti ego, apa kamu tidak kasihan Dito," Nasehat Ambu.
"Baik Mbu" Saat itu aku minta tolong Anda agar mendatangi rumah Nanta. Jika tidak mau menganggap aku istri, karena sudah meninggalkan dirinya, yang penting Nanta mengakui anaknya.
Saat itu juga, Anda datang ke rumah mama Zarina ke Jakarta. Mamun, menurut penuturan adikku yang berada di rumah itu perempuan se***xi. Dan yang membuat aku terkejut wanita itu mengatakan bahwa dia istri Nanta.
"Kamu nggak bohong kan Nda?" Aku mengguncang pundak Anda.
"Benar Teteh, lagi pula sudah dua bulan Bang Nanta tidak ke rumah" Anda menambahkan.
Aku menahan air mata agar tidak jatuh. Ini salahku, jika Nanta menikahi wanita lain, Dia tidak salah, karena aku sudah meninggalkan dirinya selama ini. Aku menarik napas panjang, jika Nanta memang menikah, pasti Amel wanitanya.
"Tidak mungkin" Kata Ambu. Ambu pun tampak menahan air mata. "Kalau begitu, coba kamu telepon Nanta saja, Midah..." Saran Ambu.
Aku hanya menggeleng sejak berangkat ke Bogor aku ganti nomor telepon. Inilah salahku karena tidak pikir panjang sesal dibelakang.
"Aku masih menyimpan Teh." Jawab Anda segera menghubungi Nanta kemudian memberikan handphone kepadaku.
"Hallo" Jawab wanita dari seberang telepon.
"Hallo! Nanta ada?" Tanyaku.
"Kamu siapa? Suami saya sedang tidur. Saya tidak berani membangunkan!"
Tut.
Terjawab sudah, ternyata Nanta menyerah. Semenjak saat itu aku membesarkan anakku bersama Ambu.
Lagi-lagi rezeki Dito. Saat Dito berusia tiga bulan pemilik tanah yang tak lain ibu kos akan menjual tanahnya.
Aku berunding dengan Ambu, tentu sayang jika tanah yang sudah banyak mengasilkan uang jatuh ke tangan orang lain. Ambu mengumpulkan kami bertiga bermaksud menjual tanah dan rumah di kampung hanya menyisakan sawah untuk ternak Ayam dan Ikan.
Hasil penjualan tanah Ambu kami pergunakan untuk membayar tanah, kemudian uang tabungan aku untuk membangun restoran. LAUK GRILLED.
Hingga kini usaha aku maju pesat tidak perlu aku ceritakan berapa omset penjualan perbulan. Yang jelas aku sudah membuka cabang di kota Tangerang saat ini di kelola Endar, sambil kuliah di bantu Aul.
"Bunda... lapal..." Suara Dito mengejutkan lamunan aku.
"Okay kita makan di luar yuk." Aku menggendong Dito keluar. Beginilah singkat cerita perjalanan hidupku selama 4 tahun. Aku selalu bersyukur untuk hal yang sekecil apapun. Terutama hadirnya Dito yang membuat aku semakin dewasa. Apapun itu jika bukan rezeki sudah kita gengam pun akan lepas seperti suamiku.
__ADS_1
...~Bersambung.~...