Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Ondel Ondel.


__ADS_3

"Siapa mereka Sum?" Tanya Junaedi. Mereka masih menatap motor Abu, hingga menjauh.


"Dulu, kami bekerja satu rumah Kak. Saya bagian bersih-bersih, lalu Dia bagian supir. Tetapi setahun yang lalu, Kak Abu membeli apotek dan sekarang ini semakin sukses" tutur Midah.


Junaedi mengangguk. "Lantas... kamu dengan Dia saling mencintai begitu?" Tanya Juned posesif. Ia cukup peka melihat interaksi antara Sumidah dan istri Abu.


"Jangan dibahas!" Tegas Sumidah.


"Enak ya Sum... bagaimana caranya para perantau sampai bisa mendirikan usaha di Jakarta. Sedangkan aku masih begini-begini saja" Junaedi mengalihkan pembicaraan. Ia tahu, Midah rupanya tidak mau di singgung masalah asmaranya.


"Sudahlah Kak, semua sudah ada rezekinya masing-masing. Semua orang memang cenderung melihat ke atas. Termasuk aku. Aku lihat Kak Juned juga kayaknya enak banget tuh. Sudah menjadi menejer, mendapat fasilitas apartemen. Sementara aku? Hanya sebagai pengasuh anak"


"Aku melihat kamu juga enak Sum, kamu digaji besar, punya majikan baik, makan tidur tidak bayar, gaji utuh. Diberi kebebasan kesana kemari pula." Puji Juned.


"Aku sih selalu bersyukur Kak" ujar Sumidah kemudian mengajak Juned ambil motornya. Setelah dua minggu di bengkel, kini motor Juned yang di tabrak Sumidah, sudah bagus kembali. Awalnya Midah datang kemari bermaksud melunasi sisa pembayaran service motor, walaupun toh Junaedi menolak juga.


"Sekarang kita pulang masing-masing ya Kak" kata Sum. Awalnya Sumidah memang menjemput Juned. Namun kali ini motor Juned sudah bisa di kendarai, tentu Juned pulang Sendiri.


"Iya Sumidah... sampai besok ya..." Juned memandangi mobil Sumidah hingga menjauh.


Pelan tetapi pasti, Sumidah menjalankan mobilnya. Ketika tiba di rumah, Ananta sudah duduk manis di ruang tamu.


"Darimana Tomboy?" Tanya Nanta yang awalnya sibuk dengan lap top, begitu mendengar langkah kaki lalu mendongak.


"Kak Nanta sudah sampai?" Bukan menjawab pertanyaan Nanta, Sumidah balik bertanya.


"Baru tadi pagi sampai" Jawab Nanta.


"Kok Kak Nanta hanya sendiri? Tuan Tara belum pulang ya?" Tanya Midah tidak tahu jika kedatangan Nanta kesini untuk menemui dirinya.


Deg.


Nanta terkejut karena Midah memanggilnya kakak. Selama ini kalau Sum memanggil dirinya pasti kamu.


"Gw mau ketemu loe Tomboy..." tegas Nanta, seraya beranjak ke motor ambil paper bag yang ia gantung, kemudian memberikan kepada Midah.


"Apa ini Kak?" Sumidah mengamati paper bag, tetapi bukan isinya melaikan mengamati bagian luar saja.

__ADS_1


"Buka saja, nanti malam kamu pakai ya, jam tujuh gw jemput"


"Mau kemana?" Potong Midah.


"Mama mau bertemu kamu"


"Mau bertemu. Ngapain?" Midah terkejut.


"Tolong Tomboy... please... jangan membantah"


Tin tin tiiin...


Obrolan berhenti kala klakson mobil di depan berbunyi. Sumidah kemudian membuka pagar, ternyata Tara sudah pulang. Setelah menutup pagar kembali. Sumidah mendekati mobil, tampak Tara sudah turun.


"Tasnya biar saya bawa Tuan" Midah menyandak tas Nanta, lalu membawanya kedalam mengikuti Tara yang tampak dingin kepadanya. Namun Midah tidak merasa terkejut karena sudah biasa dengan sikap bos prianya itu.


"Sudah lama loe?" Tanya Tara ketika melewati Ananta.


"Sudah dari tadi sih" jawab Nanta. Bukan langsung ke dalam. Tara menemani ngobrol Ananta sebentar. Menanyakan tentang tender apartemen di jawa timur.


"Alhamdulillah... apartemen itu sudah menjadi milik gw Tara" Ananta tersenyum bangga.


"Gw juga mau balik kok" Nanta pun ikut berdiri.


"Terus ngapain loe kesini? Kita kan belum selesai ngobrol." Dahi Tara berkerut.


"Sebenarnya gw kesini bukan mau ketemu loe, tetapi..."


"Mau ketemu Midah, gitu kan maksud loe." Tara geleng-geleng kepala.


"Cucok" Nanta terkekeh sambil mengacungkan jempol kemudian berlalu.


Malam harinya setelah shalat isya, Sumidah membuka isi paper bag mengambil isinya. "Wah, Gaun" Midah tersenyum memandangi gaun muslim berwarna hitam cocok untuk pakaian malam.


"Tadi pesan Nanta suruh di pakai" Midah segera membuka piama. Membuka lemari ambil kaos ketat dan celana ketat lalu memakainya sebelum merangkap dengan gaun muslim pemberian Nanta.


Setelah rapi, Midah menatap penampilannya di depan cermin. Rasanya masih kurang lengkap jika tidak memoleh wajah.

__ADS_1


Midah ambil kosmetik pemberian Bulan beberapa bulan yang lalu, tetapi belum pernah mencoba memakainya. "Bagaimana caranya" Midah mencoba ambil kuas wajah kemudian memoleskan.


"Tapi kok jadi aneh begini? Cek!" Gerutu Midah tidak percaya diri menatap wajahnya seperti ondel-ondel. "Ah masa bodoh" gumam Midah lalu ambil tas slempang. Sebelum akhinya keluar dari kamar.


"Sumidah, kamu mau kemana?" Tanya Bulan kebetulan sedang bersantai dengan Tara di ruang keluarga.


"Oh, iya Non, saya mau ijin. Kata Nanta, Tante Zarina mengundang saya" tutur Midah.


"Oh boleh, tetapi sebaiknya kamu mencuci muka dulu." Bulan menahan tawa melihat penampilan asistenya.


"Cuci muka Non, tapi..." Midah merasa percuma sudah dandan habis-habisan malah disuruh mencucinya itu artinya, muke up nya akan luntur.


"Sudah cepetan Sum, nanti aku betulkan keburu Nanta datang, kamu mau di tertawakan"


"Baik Non" Midah berlalu ke kamar mandi.


"Ahahha..." Tara terbahak-bahak rupanya ia tadi menahannya melihat wajah Sumidah. Setelah Sumidah tidak ada Tara tertawa sambil memegangi perutnya sampai sakit.


"Mas... Ih, nggak boleh tertawa sampai begitu, kasihan Sumidah. Dia sekarang ini sedang belajar untuk berbenah diri Mas... jadi kita harus mendukung. Bukan malah mentertawakan seperti itu" Bulan heran melihat suaminya mentertawakan orang lain sampai seperti itu, padahal biasanya cuek saja.


"Iya-iya" Tara pun diam bersamaan dengan Sumidah yang sudah selesai dari kamar mandi menemui Bulan.


"Ayo, sekarang ke kamar kamu" ajak Bulan berjalan lebih dulu di ikuti Sumidah.


"Sekarang aku rias wajah kamu, tapi lain kali belajar dari You tube ya" titah Bulan lembut sambil mulai merias. "Kosmetik ini sudah berapa bulan saya berikan Sum, maksud saya tuh, kamu belajar bukan untuk pajangan di depan cermin" protes Bulan.


"Maaf Non, lain kali saya akan belajar. Maaf sekali lagi, karena saya mengganggu istirahat Non Bulan" jawab Midah, sebenarnya merasa sungkan, karena Bulan sampai meriasnya.


"Sudah, kamu diam saja, nanti terima beres" pungkas Bulan. Kedua wanita berbesa kasta itu pun tidak ada jarak. Bagai adik dan kakak saja. Hingga beberapa menit kemudian wajah Midah di sulap Bulan menjadi wanita cantik.


"Sekarang kamu bercermin gih." Titah Bulan sambil berlalu meninggalkan Midah. Padahal Midah belum sempat mengucapkan terimakasih.


"Ya Allah... untung saja punya majikan baik, kalau tidak... pasti si tengil sudah mentertawakan aku" gumam Midah. Ingat tengil Midah melihat jam ternyata sudah waktunya di jemput.


Midah bergegas keluar menemui Ananta yang sedang berbincang-bincang dengan Bumantara dan Rembulan.


"Saya berangkat Non"

__ADS_1


Mendengar suara yang dinantikan, Ananta seketika berdiri terkesima menatap wajah Midah yang sudah di sulap oleh Rembulan.


...BERSAMBUNG....


__ADS_2