Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Pelukkan Dahsyat.


__ADS_3

Jam 11 pagi Sumidah sudah tampil cantik. Di depan cermin ia memutar tubuhnya meyakinkan dirinya sendiri bahwa penampilannya tidak memalukan di depan calon mertua. Hanya calon mertua yang Midah pikirkan, karena beliau sudah begitu perhatian rela merogoh kocek untuk membelikan gaun yang tidak murah.


"Uluh-uluh... masih kurang cantik apa, Sumidah..." Kata Rita tersenyum. Kini sepupunya sudah benar-benar akan merubah penampilan. Rita memang ingin merubah penampilan sepupunya sejak dulu, tetapi ia bersyukur dengan sendirinya Midah berubah.


"Bukan begitu Teh, aku hanya tidak ingin mengecewakan calon mertuaku," Jawab Midah kemudian duduk di depan kaca.


"Enak ya Sum, punya calon mertua baik, tidak seperti aku," Kini gantian Rita yang sedih, menunduk menopang dagu. Ia tiba-tiba murung, kala mengingat perlakuan mertuanya yang selalu membenci diri nya lantaran sudah menikah selama 5 tahun, tetapi belum di karunia momongan.


"Teteh... ulah dipikirkan, mani sedih kitu..." Hibur Sumidah.


Tok tok tok.


"Masuk saja, tidak di kunci kok" Ucap Midah, sedetik kemudian pintu terbuka. Midah mengamati siapa yang masuk.


"Ada apa Ndar?" Tanya Sumidah, ternyata adik bungsu nya yang masuk.


"Teh, ada tamu dari Jakarta"


"Tengil sudah datang?" Potong Midah segera memutar kursi menatap Endar.


"Ciee... rindu apa rindu..." Endar paling suka meledek tetehnya. "Lihat Teh Sum, Teh Rita. Rupanya sepupu Teteh sedang bucin, kalau kata orang mah." Kelakar Endar mengulas senyum.


Rita hanya tersenyum, candaan Endar, sedikit melupakan tentang masalah yang membelit nya.


"cepetan apa Ndar? Siapa tamunya?" Desak Midah. Karena tidak sabar ia pun hendak berjalan cepat-cepat seperti biasa, tetapi Midah lupa jika langkahnya terhalang oleh kebaya. Ia tepaksa melepas atributnya sebagai kelinci untuk sementara. Namun ia berusaha menjelma menjadi kura-kura untuk sementara waktu. Di susul Rita dan juga Endar.


"Non Bulan, dan Tuan Tara?" Gumam Midah ketika tiba di ruang tamu, menatap Rembulan sedang ngobrol bersama Ambu dan Ua, kakak Ambu. Midah berhenti mendadak. Sangking tidak percaya mengerjapkan mata untuk meyakinkan jika yang datang memang bosnya.


"Sumidah" Bulan menyapa ketika kebetulan menoleh, memandangi Sum yang masih mematung di tempat.


"Saya Non" Sumidah lungguh di karpet setelah tiba di dekat Bulan, walupun agak kesusahan namun memaksakan diri. Jika disuruh memilih, antara memakai kebaya kemudian duduk manis. Atau mendaki gunung, Midah tentu memilih yang kedua.


"Terimakasih Non, Non sudah menyempatkan datang ke gubuk saya." Kata Midah. Satu kehormatan karena di datangi bos nya.


"Sama-sama Sum, sebenarnya saya datang kesini, tidak hanya sendiri. Kami datang bersama Kak Abu dan istri, tetapi di tengah perjalanan, Aslihah mendapat musibah." Tutur Rembulan.


"Kak Abu datang kesini Non?" Midah menutup mulut tidak percaya. "Lalu ada musibah apa?" Cecar Midah.

__ADS_1


Ambu dan kakaknya hanya mendengar obrolan, tetapi Ambu cukup tahu dan paham siapa Abu.


"Aslihah mengalami pendarahan Sum, saat ini kami belum tahu hasilnya, karena masih di tangani oleh dokter" Bulan menarik napas berat. "Abu meminta kami agar kesini dulu, sebenarnya kami ingin menunggu di rumah sakit, tetapi kasihan anak-anak," Tutur Rembulan.


"Memang Aslhah sedang hamil Non?" Ambu menimpali.


"Sepertinya begitu Bu, tetapi kami belum mengetahui, secara pasti."


"Semoga Aslihah cepat sembuh Non, jika memang ternyata hamil, semoga bayi di dalam kandungannya sehat dan selamat." Doa Ambu.


"Aamin..." Ucap semuanya.


"Rangga..." Panggil Midah, menatap bocah yang sesekali angop karena mengantuk. Rangga hanya menyembunyikan wajahnya di dada Tara sang papa, karena tidak mengenali Sum yang merubah penampilan.


"Pasti nggak mengenali teteh dech," Sumidah terkikik. Lalu tatapanya pindah ke wajah Ais, yang tampak murung memikirkan Ibu nya.


"Kamu mau makan apa sayang, sini, dipilih kuenya," Titah Ambu.


"Ais Nggak lapal." Jawab Ais tidak semangat. Walaupun semua mengatakan bahwa Umma, tidak apa-apa. Namun Ais tetap memikirkan Umma yang sedang sakit.


"Okay..., sekarang kita lihat kucing di luar yuk." Kata Endar. Remaja itu peka terhadap kegelisahan anak itu.


"Tuan... boleh, saya ajak main Rangga?" Tanya Endar santun.


"Rangga mau lihat meong, sama Kakak?" Tanya Tara.


"Meong..." hanya itu jawaban Rangga. Endar kemudian menggendong Rangga dan menuntun Ais menuju tenda. Diluar masih sepi karena para tetangga belum kembali setelah selesai membuat tenda mereka mandi dan salin baju. Setelah dzuhur nanti akan kembali menyambut tamu yang sedang dalam perjalanan. Dengan caranya sendiri Endar berhasil membuat dua balita itu kembali ceria dan bermain selayaknya anak-anak. Bahkan menjelang dzuhur, Endar memberikan makan siang untuk Ais dan Rangga. Langkah terakhir, Endar mengajak ke kamar Sumidah dan lagi-lagi bisa membuat mereka tidur siang.


"Loh, anak-anak kemana Dek?" Tanya Bulan, kepada Endar yang sudah kembali bergabung.


"Mereka sudah makan, kemudian tidur di kamar Teteh Sum Non." Jawab Endar lalu duduk bersila di sebelah Sumidah bersama keluarga yang sedang menunggu Nanta datang. Sumidah mengacungkan jempol kepada adiknya, karena berhasil membujuk Rangga. Rangga biasanya sulit di ajak bermain jika bukan dengan orang yang sudah dikenal benar.


"Terimakasih Dek," Bulan tersenyum.


"Sama-sama Non"


Tepat jam satu siang para bapak-bapak berdiri semua, memberikan senyum terbaiknya. Tangan-tangan hitam terulur menyambut wanita paruh baya dan remaja tampan yang baru saja tiba. Siapa lagi jika bukan nyonya Zarina dan Ananta.

__ADS_1


"Assalamualaikum..." Dengan senyum ramah nyonya Zarina memperkenalkan diri.


"Silahkan masuk Nyonya... saya Endang, Ambu nya Sumidah yang biasa di panggil Een." Tutur Ambu dengan rasa hormat.


"Oh Ambu nya Sum, jangan panggil saya Nyonya, panggil saja Rina." Tolak Zarina merasa sungkan di panggil nyonya oleh calon besan.


"Baiklah... saya panggil Ece saja, saya dengar dari Nak Nanta, Ece ini dari Bandung kan."


"Betul" Zarina tersenyum.


"Mari masuk Ce" Ajak Ambu. Mereka pun berkumpul di ruang tamu.


"Tante..." Sapa Bulan dan Tara salim tangan nyonya Zarina yang sudah sangat di kenalnya.


"Kalian ternyata hadir juga Tara, Bulan, jika kami tahu pasti kita berangkat bersama." Ujar Zarina.


"Memang Nanta tidak bicara Tan, kalau kami akan kesini?" Tanya Tara melirik Nanta yang hanya nyengir saja. Karena Nanta sudah tidak kuat menahan sesuatu. "Nanti kita bahas lagi." Jawab Nanta kemudian berlalu ke belakang meninggalkan Tara. Tidak merasa sungkan karena sudah pernah ke rumah ini berniat ke kamar mandi.


Para tetangga terkesima menatap wajah pria tampan yakni calon suami Sumidah berjalan ke arahnya. Mereka tahu Sumidah wanita yang tidak ada kalem-kalemnya itu, mendapat jodoh macam Nanta.


"Tomboy... gw mau numpang kamar mandi." Ijin Nanta berhenti di depan Sum.


"Ya sudah sana! Kan sudah tahu tempatnya." Jawab Sumidah dingin.


"Anterin, Tomboy..." Pinta Nanta manja.


"Ah si Tengil, aku tuh malas berjalan, susah tahu!" Sungut Sumidah. Tentu tidak bebas bergerak karena kebaya. Lagian Sumidah ingin segera menyambut calon mertua.


"Ayo gw bantu." Pria berjas itu, mengait lengan Sumidah membantu berdiri. Benar saja ketika mau melangkah kaki Midah kesrimpet kebaya, reflek tangan kekar itu merangkul tubuh Midah hingga membentur dada Nanta. Sesaat Midah menghirup aroma wangi pria itu.


"Ciee... Cieee... pelukan dahsyat." Goda Endar pelan sambil terkekeh mengejutkan Midah. Midah seketika menyentak dada Nanta. Mereka pun berjalan pelan ke dapur. Jangan di tanya lagi seperti apa wajah Midah saat ini, namun tidak ada yang melihat.


"Aneh mereka itu Ndar, sama-sama somplak. Yang satu memanggil Tomboy, yang satu Tengil." Gerutu Rita. Menatap Nanta dan Midah hingga tidak terlihat.


"Hehehe... pasangan masa kini Teh." Endar terkekeh.


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2