Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Melamar pekerjaan.


__ADS_3

"Midah... kenapa kamu pergi tidak pamit? Bibi kamu, tadi malam telepon adikmu, katanya kamu kabur dari rumah, apa benar begitu? Bos kamu kebingungan loh, mencari kamu," tutur Ambu panjang lebar.


"Kamu ada masalah dengan bos kamu, atau dengan siapa?" cecar Ambu.


"Sudah aku bilang tidak ada apa-apa Ambu..." kilah Midah.


"Midah... mulut kamu bisa bicara begitu, tetapi mata kamu ini loh, tidak bisa berbohong." Ambu sebagai seorang Ibu bisa menangkap keresahan hati putrinya.


"Bos kamu itu baik loh Nak, jangan kecewakan beliau, kamu disana digaji gede, berbeda dengan majikan yang lain. Sering di kasih ini, itu, apa kamu tidak merasa bersalah, sampai pergi tidak pamit. Kalau ada masalah itu dibicarakan dengan baik, bukan lantas lari begini," nasehat Ambu.


"Lagi pula, bibi kamu pasti malu loh sama majikan kamu" Ambu memikirkn perasaan bibi yang sudah memasukkan kerja ke rumah Bulan.


"Aku bukan kesel sama Non Bulan, maupun Bibi Mbu, tapi kesal sama pria," adu Midah.


"Kesel sama Pria? Kenapa, bukankah selama ini kamu selalu berteman dengan pria?" Ambu terkejut.


Midah pun menceritakan semuanya kepada Ambu, jika Midah menyukai pria, tetapi pria itu justeru menikahi wanita lain.


Ambu justeru senyum-senyum mendengar cerita Sumidah. Ambu pikir putrinya tidak normal dan tidak menyukai pria. Selama ini, Ambu selalu berpikir tidak tenang mengenai putrinya yang tidak pernah menunjukkan tanda-tanda jatuh cinta. Ternyata dugaanya salah. Ambu bernapas lega dan bersyukur dalam hati.


"Ambu kok malah senyum-senyum sih? Senang ya lihat aku menderita" Midah manyun.


"Sekarang Ambu mau tanya, apa pria yang kamu maksud pernah mengutarakan cintanya?" Tanya Ambu.


Midah menggeleng, menunduk memeluk lutut. Saat ini ibu dan anak itu sedang berada di kamar Midah. Keduanya baru selesai menjalankan shalat dzuhur.


"Apa pria itu pernah juga berjanji akan menikahi kamu?" cecar Ambu. Midah pun menggeleng lemah.


"Sumi... Sumi. Kita ini perempuan Nak, tidak baik menyukai pria sampai berlebihan begitu, jika jodoh tidak akan kemana. Lagi pula biar laki-laki yang menghampiri kamu. Bukan kamu yang ngejar-ngejar," Ambu geleng-geleng kepala.


"Pria itu tidak salah Nak, Dia berhak memilih wanita yang disukai, lagian kan kamu tahu jika yang dinikahi pria itu adalah tetangganya sudah pasti ada alasan yang lebih penting" imbuh Ambu.


"Sekarang... kamu tidur gih, istirahat, biar tenang pikiran kamu itu" pungkas Ambu.


Tok tok tok


Mendengar pintu di ketuk menghentikan nasehat Ambu.


"Adik-adik kali ya Mbu" Midah langsung berdiri melipat mukena asal, kemudian ke luar mendahului ambu.


Ceklak.

__ADS_1


"Teteh..."


Seru Anda dan Endar, yang mengenakan seragam putih abu-abu, dan putih biru menyambut kehadiran Sumidah sang kakak.


"Kalian apa kabar?" Tanya Midah.


"Baik Teh" Anda menatap Midah dari atas sampai bawah.


"Ngapain kamu nglihatin teteh sampai kayak gitu?" Midah menyipitkan mata.


"Kok Teteh sekarang berubah, dulu kan seperti badut" kelakar Anda. Disambut tertawa lebar oleh Endar.


"Berani kamu sama Teteh ya" Midah mengacungkan tinju.


"Aku nggak loh Teh. Oh iya Teh, oleh-oleh nya mana?" Endar menaik turunkan alis ternyata ada maunya.


"Teteh pulang nggak rencana, nanti sore kita jalan-jalan terus beli makanan," jawab Midah.


"Nah... gitu dong, ini baru Teteh geulis" Anda menimpali.


"Eeh... kalian ini. Teteh belum istirahat sudah di todong makanan. Sana-sana semua salin baju shalat terus makan," titah Ambu.


"Iya Ambu..."


Di waktu yang bersamaan, terdengar adzan dzuhur. Aslihah bangun dari tidurnya. Ibu muda dan cantik itu terkejut, ia tidur dari jam 9 pagi, itu artinya...selama tiga jam sudah dirinya tidur. Liha memindai sekeliling kamar tidak ada putrinya.


"Astagfirrullah... Ais..." Liha panik sendiri lalu membuka pintu. Jantung nya hampir lepas kala membayangkan putrinya main keluar rumah seorang diri. Liha menyesal sudah meninggalkan putrinya tidur saat bermain. Pikiran buruk bermunculan ia tidak tahu jika Ais dan suaminya menyusulnya tidur. Mungkin sangking ngantuk nya, persiapan selamatan memang membuatnya kurang istirahat.


Sementara di dapur, Abu sudah selesai memasak untuk makan siang.


"Abi masak apa?" Tanya Ais. Sejak tadi anak itu selalu bertanya.


"Masak apa hayo, tebak..." Abu balik bertanya tersenyum, seraya menuang sayur berkuah ke dalam mangkok.


"Sayul sop" jawab Ais, sebab ia sering melihat Liha memasak sayur tersebut.


"Anak pintar..." Abu terkekeh.


"Aiis...!!!" Pekik Liha dari kejauhan, saat keluar dari kamar.


"Apa Umma... Ais di dapul" jawab Ais santai.

__ADS_1


"Ais..." Midah menatap Ais beralih menatap Abu yang masih bengong di pinggir meja makan.


"Umma kenapa?" tanya Ais kemudian meraih telapak tangan Liha.


"Umma kaget sayang... Umma pikir kamu kemana" Liha merasa lega.


"Liha... Sekarang kita makan dulu, baru kita shalat" titah Abu. Tatapan Liha beralih ke meja makan. Sayur sop, tempe goreng, sambal, dan ayam goreng sudah tersaji.


"Ini Kakak yang memasak?" Liha terkejut.


"Bukan, tadi cuma melafal doa, kemudian makanan ini tersaji," Abu terkekeh. "Ayo, sekarang kita makan, katanya mau jalan-jalan." Abu menarik kursi untuk istri nya.


"Memang kapan Kakak pulang?" tanya Liha kemudian duduk, melihat sambal dan tempe goreng ingin cepat melahab.


"Jam sembilan lewat," jawab Abu lalu duduk menyusul Liha, setelah Ais makan di ambilkan makan oleh Liha.


"Jam 9 lebih? Berarti Kakak tidak jadi mencari Midah?" Liha menatap Abu lekat.


"Tidak Liha, aku menyuruh orang saja, kan aku tidur memeluk kamu, tapi kamu tidur nya pulas, mana baju gamis kamu nyingkap lagi, kalau nggak pulas sudah aku serang," Abu tersenyum lebar.


Wajah Liha berubah merah. "Iih..." Liha tersipu malu. Abu terkekeh gemas. Ia sudah benar-benar di buat jatuh cinta oleh wanita di sebelahnya.


"Tadi harusnya Kakak membangunkan aku, biar aku bantu, kalau begini kan aku tinggal makan Kak," Liha tidak enak hati.


"Sudah... Memang aku yang mau memasak untuk kalian, sekarang kita makan," pungkas Abu. Mereka makan siang, setelah makan shalat dzuhur.


"Aku tadi ke kontrakan Udin Liha. Terus katanya Novi akan berhenti kerja" tutur Abu tadi pagi Abu menemui Udin agar menyuruh satpam apotek mencari Midah.


"Novi berhenti kerja Kak, ada apa? Apa karena aku kemarin kesal sama Dia?" Liha merasa bersalah.


"Bukan... ayah sama Ibu nya, meminta Novi pulang soalnya beliau sudah sepuh, ingin Novi di rumah saja," tutur Abu. "Nanti juga Dia akan kesini, mengantarkan surat pengunduran diri sekalian pamit sama kamu. Berarti kita nggak jadi jalan-jalan hari ini Liha... bagaimana kalau besok?" Tanya Abu hati-hati.


"Nggak apa-apa Kak. Lagian jalan-jalan kalau sudah siang gini nggak enak juga" mereka ngobrol di tempat shalat. Ais jika sudah bermanja di pangkuan Abu, pasti akan betah.


"Kak, Kalau Novi berhenti kerja, itu artinya Kakak membutuhkan karyawan baru?"


"Iya, kalau cuma aku sama Udin kerepotan,"


"Kalau gitu, aku yang melamar kerja di apotek Kakak ya" Liha sungguh-sungguh ingin bekerja.


"Apa? Kamu mau kerja?" Abu terkejut.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2