Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Pengantin Pria Tidak Datang.


__ADS_3

Siang itu di dalam kamarnya Sumidah beberapa kali telepon Nanta, tetapi tidak ada jawaban. Sumidah hanya bisa bertanya-tanya kenapa Nanta seperti marah kepadanya. Padahal Sum tidak merasa punya salah. Mau berangkat pun mereka baik-baik saja.


"Ah! Dasar tengil! Kenapa juga Dia? Mana telepon pakai di reject lagi!" Omel Midah, lalu melempar telepon di tempat tidur sebelum akhirnya keluar dari kamar. Midah mengenakan celana jins dan kaos pendek lalu mengenakan topi tanpa hijab.


"Mau kemana Sumidah?" Tanya Ambu kaget. Padahal tadi sudah di pesan jangan kemana-mana, tapi Midah malah kembali tampil tomboy.


"Tidak kemana-mana Mbu, cuma mau ke kolam sebentar kok, lihat ikan. Suntuk atuh Mbu, masa ke sawah saja nggak boleh." Jawab Midah. Ambil pancingan milik Anda membawanya ke belakang rumah.


Tiba di pinggir kolam Midah tidak membawa umpan mancing. Ia sedang berpikir sambil melihat kanan kiri apa yang bisa di jadikan umpan .


Midah ambil ulat kecil berwarna hijau menyangkutkan di pancing lalu melempar ke dalam kolam.


"Astagfirrullah... Sumidah, kamu teh seminggu lagi menikah. Bukanya luluran, tapi ini mah mancing," Seorang wanita duduk di sebelah Midah. "Kamu nggak takut hitam apa Sum,"


"Teteh..." Sapa Sumidah begitu menoleh, yang ia lihat teh Rita sepupunya.


"Ah masa bodoh Teh, abdi mau ngilangin suntuk saja, masa Nanta abdi telepon dari tadi tidak di angkat," Curhat Midah.


"Memang kenapa kalian, tidak sedang berantem kan?" Tanya Rita.


"Abdi juga lagi mikir teh, perasaan kami nggak kenapa-napa, waktu berangkat tadi dia ngantar abdi ke terminal. Tapi begitu Abdi sudah di dalam bus, Nanta nggak membuka chat. Aneh kan." Sumidah heran, biasanya Nanta tidak pernah begitu.


"Ya ampun Sum, begitu saja baper. Bisa saja kan, saat kamu chat tadi Nanta sedang menyetir tidak sempat balas. Begitu tiba di kantor, Nanta langsung di sibukkan dengan pekerjaan." Nasehat Rita.


"Iya juga sih Teh, tapi tadi ketika abdi hubungi malah di reject. Kesel nggak tuh!" Midah cemberut.


"Cek! Midah... selalu berpikirlah positif, mungkin calon suami kamu sedang menghadapi klien. Abdi nggak nyangka ya, sangking cintanya kamu jadi baperan."


Mereka berdebat panjang lebar, Rita sampai lupa jika kehadiranya ke kolam ikan di suruh Ambu memanggil Sumidah.


Tidak Midah sadari gagang pancing yang ia pegang terasa berat. Midah mengalihkan pandangan ke kolam.


"Teteh... Abdi dapat Ikan," Midah kegirangan. Lalu menarik pancing Ikan emas besar sudah di depannya.


"Waah... nu ageng pisan laukna Midah," Rita terkejut. Sepupunya ini memang wanita serba bisa. Mengerjakan tugas laki-laki bisa, apa lagi tugas perempuan.


"Wah-wah, wah. Pulang sekolah bakar ikan," Anda dan Endar tiba-tiba sudah datang.

__ADS_1


"Boleh juga usulan kamu Nda," Kata Sumidah. Segera menyuruh adiknya membuat perapian.


"Tunggu Teh, bikin perapian mah gampang. Tapi masalahnya abdi di suruh Ambu memanggil Teteh" Tutur Anda.


"Nggak apa-apa Ndak, nanti Teteh yang bilang sama Ambu." Tolak Sumidah.


Anda dan Endar segera bagi tugas membuat perapian, dan mencuci Ikan. Sementara Sumidah bersama Rita membuat bumbu.


"Sebenarnya abdi tadi juga di suruh Ambu memanggil kamu juga Sum." Rita merasa bersalah karena justeru ikut menghilang, maka Anda pun di suruh Ambu menyusul kemari.


"Paling di suruh mendekam di kamar kan Teh, atuda. Pusing kepala Abdi"


Sambil ngobrol Ikan pun akhirnya matang. Anda justeru memanggil Ambu minta bergabung. Mereka pun makan bersama. Ambu akhirnya ikut bergabung sambil membawa sambal dan nasi timbel.


*************


6 hari kemudian panitia sudah menyiapkan panggung dan tenda sejak dua hari yang lalu di tanah kosong. Karena sesuai keinginan Nanta dari jauh-jauh bulan sudah menyewa salah satu kebun luas dan sejuk.


Nanta memilih di tempat itu karena Sumidah senang dengan nuansa alam daripada sewa hotel dan lain sebagainya.


"Sumidah... senyum atuh, jangan asam begitu wajah nya," Kata Rita yang sedang mendampingi Sumidah.


Sumidah kali ini hanya diam.


"Kamu belum bisa menghubungi Nanta?" Tanya Rita. Sumidah hanya mengangguk.


"Nanti juga sebentar lagi datang Midah. Kamu itu jangan lebai apa." Kelakar Rita tersenyum. Maksud Rita bermaksud menghibur sepupunya. Namun segala lelucon Rita rupanya tidak lantas membuat Sumidah tersenyum. Bagaimana tidak? Sejak kedatangannya dari Jakarta hingga sudah tiba hari pernikahan pun, Nanta tidak menjawab panggilan Sumidah.


Padahal saat ini sudah sesuai jadwal yang di tentukan dan penghulu sudah menunggu di bawah. Namun belum ada tanda-tanda Nanta akan datang.


Sebenarnya tiga hari yang lalu Sumidah berniat kembali ke Jakarta memastikan keberadaan Nanta. Namun tentu semua keluarga tidak mengijinkan Sumidah pergi.


Sumidah memutuskan untuk menghubungi mama Zarina. Namun ketika Sumidah ingin berbicara dengan Nanta pun tetap saja ada alasan.


Sumidah benar-benar stres di buatnya. Ia khawatir jika pernikahanya dengan Nanta sampai batal. Betapa malunya keluarga Sumidah. Ambu terutama yang paling Midah pikirkan.


"Mana handphone kamu, biar teteh yang hubungi." Kata Rita. Sebenarnya Rita pun berpikiran sama dengan Sumidah, tetapi ia tidak menunjukan rasa khawatir nya kepada Sumidah.

__ADS_1


"Di atas nakas Teh," Jawab Sumidah.


Rita beranjak ambil handphone kemudian memberikan kepada Sumidah minta dibuka kuncinya. Sumidah menggerakan telunjuknya sedetik kemudian mengembalikan handphone.


Rita mencari nomor Zarina, kemudian menghubungi. "Tidak aktip" Lirih Rita seraya menggeleng.


"Coba hubungi Nanta Teh,"


"Baiklah," Rita mencari nama Nanta di deretan nama nomor WA. "Tidak ada nama Nanta Sum," Kata Rita tetap fokus dengan handphone.


"Tengil Teh."


"Oh" Rita sudah paham bahwa Sumidah menamai Nomer Nanta dengan nama tengil. Karena Rita sering mendengar Sumidah memanggil Nanta demikian. "Tidak aktip" Rita menatap Sumidah.


Sumidah menunduk lesu.


Sementara di lantai bawah, penghulu sudah menunggu. Namun calon pengantin pria belum juga datang. "Bagaimana ini Bu, sudah satu jam saya menunggu," Kata penghulu memandangi jam tangannya. Sebab di tempat lain ada calon pengantin yang sedang menunggunya pula.


"Mohon ditunggu 15 belas menit lagi Pak." Kata panitia mengajak bicara penghulu.


Sementara Ambu tidak ada bedanya dengan Sumidah. Pikirannya kini kemana-mana. Beliau membayangkan bagaimana jika Nanta membohongi putrinya. Sudah pasti hati Sumidah akan hancur.


"En, kamu minum dulu." Kata Cece, yakni Ibunya Rita memberikan segelas air kepada adik kandunnya itu.


"Terimakasih." ucap Ambu lalu meneguk air dalam gelas hingga setengah.


Tak tak tak.


Mendengar langkah kaki mendekat, Ambu menoleh ke belakang. Ia pikir Nanta yang datang.


"Ambu... maaf, saya terlambat, apakah acara ijab kabul sudah di laksanakan?" Tanya seorang pria.


"Belum Nak, itulah yang Ambu pikirkan. Sampai sekarang Nanta belum juga datang" Lirih Ambu.


"Yang sabar ya Mbu, mungkin jalanan sedang macet," Hibur pria itu.


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2