
Di ruang tamu kusa kusu terdengar di telinga Liha. Yakni membicarakan tentang Rembulan sahabatnya, tentu Liha ingin tahu apa masalahnya.
"Udin... sebenarnya ada apa? Siapa Midah yang di bicarakan Kak Novi?" Liha bertanya kepada Novi tidak dijawab lalu mencecar Udin.
"Bukan siap-siapa Liha... Midah itu pengasuh anak Rembulan, nanti kamu juga akan tahu," jawab Udin diplomatis.
Sebenarnya Liha masih tidak puas dengan jawaban Udin. Namun ya sudahlah masih ada yang lebih penting. Liha pun beranjak meninggalkan mereka mengerjakan yang bisa ia kerjakan.
"Tuh kan Nov, hampir saja ketahuan, jangan membahas masalah ini dulu, ini kan hari bahagia mereka, jangan sampai kita merusaknya," Nasehat Udin pelan, jangan sampai di dengar Liha yang sedang mondar mandir.
"Lah aku kan cuma khawatir terjadi sesuatu dengan mereka Din... kalau sampai nanti bertengkar bagaimana?" bisik Novi.
"Suuuttt... Biar Kak Abu yang menyelesaikan sendiri," pungkas Udin.
Sementara Liha menyambut suaminya yang baru pulang membeli buah-buahan dengan motor matic. Satu kardus besar yang di ikat di belakang, dan satu kantong plastik di sangkutkan di depan.
"Aku bantu Kak" Liha mengangkat kantong plastik besar berisi jeruk.
"Liha... jangan" cegah Abu menyandak lengan Liha. Tidak membiarkan istrinya membawa seberat itu. "Jangan mentang-mentang kuat, tenaga kamu itu tenaga wanita Liha" tegasnya perhatian.
"Kamu membawa ini saja" Abu menyerahkan kantong plastik kecil kapada Liha kemudian berjalan lebih dulu mengangkat kardus. Liha tersenyum menatap suami nya dari belakang, kemudian menyusul.
"Masih ada barang yang di angkat Kak?" tanya Udin.
"Masih satu kantong lagi Din" sahut Abu kemudian meletakan kardus di lantai dapur. Liha yang melihat suaminya lelah lantas menuang air dalam gelas.
"Minum dulu Kak" Liha meletakan air di atas meja. Semenjak diberi nasehat bu Fatimah, Liha sudah berubah lebih baik hanya belum menyerahkan kepemilikan nya kepada Abu. Namun Abu dengan sabar menanti saatnya itu.
"Terimakasih istriku..." Abu mengulas senyum sambil mengangkat gelas di atas meja.
Serupuuuttt...
Setengah gelas air mengurangi rasa dahaga setelah duduk Abu meneguknya.
"Alhamdulillah... segar..." Abu bersyukur.
"Ais kemana?" Abu baru sadar jika sejak masuk tidak melihat putri sambungnya. Tidak ada sebentar saja Abu pasti kangen dengan bocah kecil itu.
"Bobo..." Liha menjawab.
Oh iya Kak... aku penasaran deh sama Bulan, nanti malam Dia pasti datang kan?" Liha senang akan bertemu sahabatnya.
"Pasti Liha... tapi aku belum memberi tahu Dia, kalau kamu itu istriku, biar saja, aku mau memberi kejutan kepadanya."
"Oh iya Kak, lalu Midah itu siapa sih?" Tanya Liha pada akhirnya.
Deg.
Abu diam, ia baru ingat bahwa Bulan datang kemari sudah pasti mengajak Midah, padahal Abu belum sempat bicara kepadanya. Bagaimana ini?
__ADS_1
"Kak, ditanya kok melamun" kata Liha.
"Midah itu asistennya Bulan, kenapa memang?" Abu mulai panik.
"Nggak apa-apa, tadi Novi sama Udin membicarakan Dia, tetapi ketika aku tanya siapa Midah mereka tidak melanjutkan obrolan,"
"Ya sudah... aku mau mengantar buah dulu supaya ditata mereka," Abu meninggalkan Liha.
**********
Di kediaman Rembulan Midah tersenyum menatap foto dalam galeri. Malam nanti ia akan bertemu dengan pria idaman. Tetapi senyum Midah mendadak hilang tergantikan murung kala mengingat cintanya kini masih abu-abu. Apakah Abu selama ini tidak peka terhadap perasaannya? Tidak! abu mencintai aku, nyatanya Abu selalu perhatian kepadaku, Tetapi mengapa, Abu tidak juga mengutarakan cintanya? Atau Kak Abu mencintai wanita lain? Oh tidaaak... Midah kembali menatap foto Abu. Ia tepis semua pikiran buruk tentang Abu. Midah kembali tersenyum. Ia sandarkan kepada di tembok bayangan manis saat-saat bersama Abu bermunculan.
Midah tidak menyadari jika sejak tadi ada yang memperhatikan. Ananta yang baru keluar dari ruang kerja hendak ambil minuman memergoki si tomboy yang sedang tersenyum sendiri.
"Hahaha..." suara tawa ngakak mengejutkan lamunan Midah.
"Apa sih kamu!? Ketawa sendiri, gila ya?!" Midah melengos kesal.
"Yang ada juga kamu yang gila! Masa tersenyum sama tembok" Nanta tertawa lebar. Ia senang jika bisa mengerjai Midah.
"Tertawa saja terus sampai botak!" ketus Sumidah lalu berdiri meninggalkan Nanta. Midah Tidak ingat jika handphone miliknya masih tergeletak di lantai.
Perhatian Nanta tertuju pada handphone tersebut kemudian ia ambil, ternyata masih belum terkunci atau memang tidak dikunci entahlah. Dengan santainya Nanta menggeser galeri memperhatikan foto. Dalam album tersebut foto Abu yang mendominasi. Nanta mengangguk-angguk terjawab sudah jika si tomboy mencintai Abu.
"Heh! Kembalikan handphone saya!" Sum hendak merebut benda pipih tersebut. Sum kesal ternyata Nanta telah lancang membuka handphone miliknya.
"Kembalikan!" Sum mencengkeram tangan Nanta.
"Sakit tomboy!" Nanta meringis.
"Rasain Wleee..." Midah melet-melet sambil memamerkan handphone yang sudah pindah ke tanganya.
"Tapi rahasia loe sudah di tangan gw tomboy," Nanta menyeringai.
"Rahasia paan?! Ngaco!"
"Loe demen sama Kak Abu kan?" Nanta geleng-geleng kepala. "Midah... Midah, cewek urakan kaya loe, demen sama Kak Abu pria alim macam itu, haduw mimpi" ledek Nanta.
"Apa kamu bilang?!" Midah mengepalkan tinju mendekati Nanta. Nanta mundur menghalangi wajah dengan telapak tangan
Praaangg...
Nanta menyenggol keramik pajangan hingga pecah berantakan, ia terpaku di tempat menatap pecahan keramik yang sudah menjadi puing-pusing. Kesempatan itu digunakan oleh Midah untuk kabur.
"Ta, kenapa loe?" Tara yang baru saja hendak beristirahat mendengar suara kemudian berlari mencari sumber.
"Keramik loe pecah" lirih Nanta, menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Kenapa bisa pecah? Bukanya loe tadi mau ambil minum? Kenapa lama sekali?!" tandas Tara.
__ADS_1
"Ini gara si tomboy tuh" Nanta menoleh tapi sudah tidak ada Midah disana. Padahal Midah tersenyum puas di balik gesfar.
"Ada apa Mas?" Bulan pun yang sedang menidurkan Rangga mendengar suara kemudian keluar.
"Ini nih kelakuan Nanta sama Sum, minta dikawinin nih mereka!" Omel Tara.
"Sekarang Sum kemana?" Bulan mengedarkan pandangan, tetapi tidak ada Sum di sekitar.
"Sumidah..." panggil Tara, pria itu tahu keberadaan asistennya yang sedang bersembunyi.
Sum deg degan ia takut jika di suruh membersihkan beling.
"Sumidah!" Tara mengulani panggilan lebih keras lagi.
"Saya Tuan," Sumidah akhirnya berlari mendekat.
"Kalian berdua harus bersihkan pecahan beling ini, tidak boleh ada yang tertinggal. Awas kalian, kalau sampai anak gw bermain kesini bisa bahaya," Tara kemudian berlalu setelah marah-marah.
"Sumidah... setelah selesai membersihkan beling, kamu siap-siap kita berangkat setelah ashar," titah Rembulan lembut.
"Baik Non"
"Ini gara-gara loe!" ketus Nanta.
"Idih... main nyalahin orang, sudah salah tidak mau mengakui," Sumidah memunguti beling sambil kesal.
"Jangan diam terus, ambil fengki sama sapu!" Perintah Midah.
"Loe dong! Kok gw sih!" Nanta tidak mau di perintah.
"Mau di bantuin nggak? Kalau nggak mau ya sudah..." Midah beranjak.
"Iya, Iya..." Nanta pun menurut, malas jiga harus membersihkan beling sendiri. Nanta minta peralatan kepada bibi tidak lama kemudian kembali.
"Ini!" ketus Nanta.
"Sapu dong! Kok malah nyuruh, siapa juga yang mecahin keramik," tegas Sum. Lagi-lagi Nanta menurut. "Aow" Nanta meringis kaki nya menginjak pecahan beling darah pun mengucur. Sum hanya bisa menarik napas berat kemudian berlalu.
"Eh tomboy kenapa loe malah pergi? Kaki gw sakit nih,"
"Ambil P3K, mau dibantu nggak?" Midah bergegas ambil P3K, tidak lama kemudian kembali. Mengobati jempol kaki Nanta. Khawatir masih ada beling yang tertinggal Midah memencet luka hingga darah semakin banyak.
"Tomboy! Loe mau bunuh gw!"
"Diam! Jangan banyak bicara nanti saya tinggal nih!" ancam Midah. Keduanya lantas saling diam. Sum membersihkan darah dengan kapas, lalu di olesi alkohol, diberi obat, dan yang terakhir menutup dengan kain kasa baru kemudian di plester. Midah tidak tahu, jika Nanta sesekali mencuri pandang. "Jika dilihat-lihat lumayan cantik juga nih si tomboy" batin Nanta. Nanta kemudian duduk di sofa, tak urung Midah juga yang membersihkan pecahan kaca hingga bersih.
Setelah ashar Midah menyetir mobil mengantar Bulan dan Tara, menuju kediaman Abu.
...Bersambung....
__ADS_1