Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Rencana menikah.


__ADS_3

Setelah mendengar penuturan Ulum, jika Ais di rawat, Abu segera pulang ke rumah ambil motor, sebelumya mengganti koko dengan kaos dan jaket.


Dengan mengendarai motor, Abu menuju rumah sakit dimana Ais di rawat. Sepanjang jalan Abu tidak tenang memikirkan Ais. Seharusnya ia mengunjungi ke rumahnya, walaupun bagaimana sudah sayang pada Aisyah, tetapi jika ingat Liha tidak menyukai kehadiranya Abu bisa apa?


Motor pun akhirnya tiba dengan selamat di rumah sakit. Ia segera mencari kamar yang di tunjukan oleh Ulum.


Pada akhirnya tiba di ruang kelas tiga, tidak sulit mencari ruangan tersebut. Netranya melebar kala menatap Aslihah yang sedang menangis dengan tubuh begetar di lihat dari belakang. Sambil memegang telapak tangan putri nya.


"Ais sakit apa Liha?" tanya Abu mengejutkan Aslihah. Liha menggeleng menyusut air mata nya dengan tisue.


Tidak ada jawaban, Abu berjongkok di samping ranjang menatap Ais yang sedang di infus. Di pegangnya telapak tangan kecil itu lalu meraba dahi dan ternyata masih panas.


Abu menatap Aslihah tertangkap wajahnya yang merah, dan mata sembab. Sudah bisa di tebak jika Liha banyak menangis.


Di dalam ruang rawat inap saling diam, Abu tidak mau menyapa lagi. Dua manusia berbeda jenis itu sama-sama memegangi lengan Ais dari kanan dan kiri.


Kruuk kruuk.


Perut Abu keroncongan entah wanita di hadapanya mendengar atau tidak, masa bodoh. Selepas dari masjid Abu memang tidak sempat sarapan langsung ke rumah sakit.


Abu akhirnya beranjak berniat membeli teh hangat diluar rumah sakit.


"Tadi malam Ais mengigau memanggil nama kamu terus..." kata Liha pada akhirnya armala itu buka suara.


Abu menghentikan langkahnya menatap Liha sekilas, tanpa menjawab kemudian melanjutkan perjalanan.


Abu keluar menuju pedagang gorengan, lengkap dengan nasi uduk, kopi dan teh.


"Nak Abu... kamu disini?" tanya bu Indah rupanya sedang memesan sarapan untuk Liha.


"Saya mau menjenguk Ais Bu" jawab Abu mengangguk santun.


"Ibu mau sarapan juga?" sambung Abu.


"Saya memesan teh hangat untuk Liha Ab, dari tadi malam belum minum, maupun makan," tutur bu Indah wajahnya berubah sedih.


"Sebenarnya Ais sakit apa Bu?" tidak mendapat jawaban dari Liha, Abu pun bertanya kepada bu Indah.


"Sini Nak.... Saya mau bicara" bu Indah mengajak Abu agak menjauh sambil menunggu pesanan duduk di pembatas jalan, di bawah pohon.


"Kata dokter Rifal yang menangani Ais, hasil cek sampel darah Ais. Ais tidak mengalami infeksi atau penyakit apapun yang menyebabkan panas Ab," tutur bu Indah. "Makanya dokter Rifal bingung sakit apa Ais" imbuh bu Indah.

__ADS_1


Abu menyimak penuturan bu Indah tidak berniat memotong.


"Memang, sejak 4 hari yang lalu setelah kamu pulang dari rumah. Paginya Ais menangis terus Ab, karena menurut nya kamu telah berbohong. Dia merengek minta bertemu kamu terus, tetapi Liha menolak," Indah menuturkan.


"Ya Allah... kenapa Ibu tidak mengantar Ais ke rumah kami Bu," sesal Abu.


"Maksud Ibu juga begitu, tetapi Liha melarang, Ais berubah murung dan akhirnya sakit" Indah menunduk sedih.


"Ibu yakin, sakitnya Ais karena memikirkan kamu terus Ab," Indah menatap kosong ke depan memikirkan bagaimana jika Abu kembali ke Jakarta. Entah apa yang akan terjadi dengan cucunya. Padahal Abu tinggal tiga hari lagi akan kembali.


"Teh Nya Bu, Dek" pedangan mengantarkan teh.


"Terimakasih Bu" ucap Indah. Indah menyeruput teh yang masih hangat.


"Nanti kita bicarakan lagi Bu, jika berkenan sebelum saya kembali ke Jakarta biar Ais menginap di rumah saya," saran Abu.


Bu Indah menunduk sedih bukan itu jawaban yang ingin didengar dari Abu, tetapi bagaimana langkah selanjutnya tentang perjodohan ini. Bukan hanya mengajak menginap yang justeru akan membuat Ais semakin tidak bisa berpisah dengan Abu.


"Ya sudah Nak... Ibu mau mengantarkan sarapan," dengan rasa kecewa bu Indah beranjak sambil membawa teh dan gorengan untuk Liha sarapan.


"Biar saya yang membayar Bu," cegah Abu ketika bu Indah menyerahkan uang biru. Namun Abu menarik tangan bu Indah.


"Sama-sama Bu" mereka kembali ke ruangan.


"Kamu sarapan dulu Liha" bu Indah menyerahkan gelas teh hangat yang ia pinjam dari pedagang, dengan gorengan dalam plastik.


"Terimakasih Bu" Liha menerima gelas meletakan di atas meja netranya melirik Abu yang tidak memperdulikan dirinya.


"Di makan dulu Liha" titah bu Indah. Kasihan putrinya khawatir masuk angin.


"Iya Bun, tetapi aku tidak lapar," lirih Liha mana mampu menelan makanan ketika anaknya sedang sakit.


"Kalau gitu... teh nya saja yang diminum Liha, Ibu khawatir jika kamu sampai masuk angin, memang nggak kasihan Ais,"


"Iya Bun" Liha menyeruput teh sedikit melirik Abu yang sedang mengusap-usap telapak tangan Ais. Namun kali ini wajah Abu berubah dingin terhadapnya.


"Kalau begitu Ibu pulang dulu ya... mau masak, nanti kalau matang ibu bawa kesini," bunda Indah hanya beralasan, tentu mau memberi kesempatan Abu dan Liha agar mau saling bicara.


"Ab... Ibu tinggal sebentar ya Nak," pamit bu Indah sudah mengempit dompet.


"Iya bu... Ibu naik apa, saya antar" Kata Abu niat bu Indah gagal total.

__ADS_1


"Tidak usah, Ibu sendiri saja," tolak bu Indah.


"Tidak apa-apa... nanti selesai mengantar Ibu saya balik kesini lagi kok," Abu kekeuh dengan perdirian.


Bu Indah menyerah pada akhirnya di antar Abu pulang.


Tiba di rumah bu Indah, Abu pulang ke rumahnya dulu, ambil ATM yang tidak sempat ia bawa tadi pagi. Abu bermaksud mengurus administrasi biaya perawatan dan pengobatan Ais.


"Ab... kamu darimana?" tanya bu Ifah baru dari dapur.


"Dari rumah sakit Bu, Ais sakit"


"Ais sakit?" sambar pak Umar, baru masuk entah darimana.


Abu menceritakan seperti apa yang ibu Indah ceritakan.


"Duduk dulu Ab" titah pak Umar, melungguhkan bokong nya lebih dulu, di susul Abu dan juga Ifah.


"Ada apa Yah..." Abu paham jika sang ayah pasti akan bicara penting ketika menatap rahang sang ayah mengeras.


"Sebaiknya segera kamu nikahi Liha Ab!" Tegas pak Umar.


"Tapi Yah... masalahnya Liha tidak mau," Abu kasihan dengan Ais, tetapi jika ingat sikap Liha tentu tidak akan memaksakan.


"Kata siapa Liha nggak mau Ab, Indah sudah menceritakan sama Ibu, Liha mau kok menikah dengan kamu" bu Ifah menambahkan.


"Baik Yah... tiga bulan lagi, aku akan menikahi Liha," tidak ada pilihan lain bagi Abu. Dengan waktu tiga bulan, Abu akan berbicara dulu dengan Midah pelan-pelan.


"Tiga bulan? Kamu mau membuat Ais menderita selama itu Ab, beberapa hari tidak bertemu saja anak itu sampai sakit kok!" raut kesal di wajah pak Umar.


"Lalu menurut Ayah aku harus bagaimana?" Abu pasrah.


"Lusa kamu ajak Liha menikah ke KUA. Ayah yang akan urus segala sesuatunya," tegas pak Umar.


"Lusa Yah?" Abu terkejut, menatap pak Umar tidak percaya. Semudah itukah menikah? Abu membatin.


"Iya lusa. Setelah sah... kamu ajak Liha dan Ais ke Jakarta. Masalah keriaan nanti kita rencanakan lagi! sekarang juga Ayah akan mengurus ke rt rw" pak Umar beranjak di ikuti Ifah.


Abu menjatuhkan dahinya ke atas meja berbantalkan tangan.


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2