Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Terlanjur kecewa.


__ADS_3

Tidak jauh dari rumah mempelai wanita, pak Mulyana paman Midah adik ipar Ambu dan pak Asep ayah Junaedi sedang berbincang-bincang serius.


"Sep, tolong kami. Hanya keluarga kamu yang bisa menyelesaikan persoalan ini," Pak Mulyana memohon kepada pak Asep ayah Junaedi.


"Apa yang bisa kami bantu, Mul?" Pak Asep tidak mengerti, apa yang dimaksud pak Mulyana.


"Tolong bujuk putramu agar mau menggantikan Nanta, menikah dengan Sumidah Sep." tegas pak Mul. Hanya Juned yang bisa menutupi rasa malu yang di torehkan keluarga Nanta kepada Ambu.


"Apa? Jangan main-main dengan pernikahan Mul." Tolak Pak Asep. Ia terkejut dengan permintaan tetangganya itu.


"Sebagai orang tua saya tidak menolak siapapun yang akan menjadi jodoh putraku. Tetapi kita tahu jika anak-anak sekarang lebih memilih mencari pasangan sendiri daripada kita jodohkan." Imbuh pak Asep. Pak Asep berharap pernikahan anak-anaknya hanya sekali seumur hidup. Pak Asep tidak ingin jika anak-anaknya tidak bahagia setelah menikah. Apa lagi pernikahan ini hanya untuk menutup rasa malu.


"Sep, kata Rita Putriku, anakmu Junaedi sangat menyukai Sumidah. Abdi yakin, jika Junaedi akan senang menerima tawaran ini," Pak Mul meyakinkan.


"Jika yang kamu katakan itu benar, bahwa Junaedi mencintai Sumidah, tetapi nyatanya Sumidah mencintai pria lain, Mul." Kekeuh pak Asep, tetap menolak.


"Sep, tolong kami, tidak ada waktu lagi, kita temui putramu. Jika putramu menolak menikahi Midah, kami tidak akan memaksa," Kata Mulyana memelas. Asep pun menganggukan kepala. Kedua pria itupun menemui Junaedi.


10 menit kemudian diluar jendela kamar, dimana Sumidah berada, tanpa Sumidah tahu. Junaedi menatap sendu wajah wanita yang dicintainya sedang menyusut air mata. Selama mengenal Sumidah, Juned belum pernah melihat Sumidah sedih begini. Junaedi menarik napas berat, menyugar rambutnya gusar. Awas loe Nanta, jika loe terbukti sengaja melakukan ini. Gua akan membuat perhitungan!


Junaedi mengepalkan tangan. Ia benci kepada pria yang menyebabkan Sumidah menangis. Semua kerabat dekat Sumidah memohon kepada Juned agar bersedia menggantikan Nanta menikah dengan Sumidah. Namun, Junaedi hanya bisa beralasan. "Jalanan macet" Junaedi hanya bisa mengulur waktu agar menunggu Nanta, hingga beberapa saat lagi. Tidak Juned pungkiri, ia memang mencintai Sumidah dan dengan senang hati jika wanita yang ia cintai menjadi istrinya. Tetapi bukan dengan cara begini yang Juned inginkan.

__ADS_1


Junaedi awalnya sudah merelakan Midah, ketika dilamar pria kaya macam Nanta. Terlebih, Sumidah tampak ceria ketika bertemu di terminal, seminggu yang lalu. Junaedi tidak menyangka jika akan ada tangis berjamaah di saat pernikahan Sumidah.


Sementara Sumidah pun sedang dibujuk oleh semua sanak saudara seperti yang Juned hadapi. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 pagi, namun Nanta belum juga datang. Sudah melebihi waktu 2 jam. Waktu yang ditentukan oleh penghulu. Kepanikan pun semakin menjadi-jadi kala Ambu jatuh pingsan karena syok dan tidak berhenti menangis merasa dipermainkan oleh pengantin pria.


"Sumidah, tidak ada pilihan lain Nak, kamu harus menerima Junaedi, untuk menggantikan Nanta menjadi suami kamu," Kata pak Mulyana abah Rita, menatap Ambu yang sedang di kipasi oleh Anda.


"Tidak Paman, lebih baik aku tidak jadi menikah." Tolak Sumidah tegas. Mana mungkin ia menikah dengan Juned. Selama ini Sumidah hanya menganggap Juned sebagai sahabat.


"Apa kamu tidak sedih, melihat Ambu terus bersedih begitu Sum." Imbuh pak Mul. Kakak ipar Ambu itu tidak tega melihat adik iparnya yang masih belum sadar sedang di baluri minyak angin oleh Endar.


"Sumidah... yang dikatakan Abah benar, kamu lebih baik menikah dengan Junaedi. Kita semua mengenal Juned, Dia pria baik Sum" Rita menambahkan.


Sumidah berpikir keras, mencari letak kesalahan yang pernah Ia perbuat kepada Nanta. Sumidah menyesali apa yang sudah Nanta lakukan. Jika memang ia punya salah seharus Nanta menegurnya. Bukan malah membalas dendam seperti sekarang. Sumidah mengakui ia memang selalu berkata nyolot, tetapi itu hanya di bibir saja. Apa ini yang membuat Nanta sakit hati, hingga Nanta tega melakukan ini. Banyak pertanyaan yang berkecamuk di hati Sumidah.


Jika memang Nanta marah kepadanya, setidaknya jangan lakukan ini kepada Ambu. "Hiks hiks hiks" Sumidah kembali menangis.


"Sumidah... Bibi mengerti Nak, tidak mudah bagi kamu menerima Junaedi sebagai pengganti Nanta. Karena kamu tidak mencintai Junaedi. Tetapi pikirkan Ambu kamu Midah," Tutur istri Mulyana.


"Tidak tahu Bi... aku bingung. Hu huuu..." Sumidah semakin tersedu-sedu.


Sementara di pelaminan para tamu undangan sudah mulai berdatangan sesuai jam yang tertera yakni jam 11 hingga jam 4 sore.

__ADS_1


"Kok kita tidak di ijinkan masuk? Bukankah sekarang sudah jam 11 ya?" Tanya salah satu Ibu, kepada tiga orang temannya.


"Kita temui pak satpam saja." Jawab ibu yang lain. Kelima ibu itu pun sepakat mememui satpam. Mereka sengaja tidak sarapan pagi karena ingin mencicipi hidangan mewah yang di sediakan oleh pria kaya dari Jakarta.


"Maaf ya Bu, kami masih menunggu kedua mempelai saat ini belum tiba disini," Jawab satpam beralasan.


Dengan terpaksa para tamu undangan mengalah, mereka memilih mencari tempat duduk di bawah pohon yang rimbun. Di tempat itu banyak sekali pedagang dadakan menjual makanan khas tasik dan juga mainan untuk anak-anak yang kebetulan diajak oleh orang tuanya.


Di masjid yang tidak jauh dari rumah Sumidah, ijab kabul akan segera dilaksanakan. Ditemani Rita menuju meja dimana akan dilangsungkan ijab kabul, Sumidah berjalan pelan menjinjing gaun pengantin panjang. Namun wajah gadis itu tidak ceria seperti selayaknya calon pengantin pada umumnya.


Tiba di masjid, Sumidah duduk di kursi sebelah pria yang akan menjadi suaminya. Tampak Suhanda yang akan menjadi wali nikah pengganti ayahnya duduk bersama penghulu.


Anda menjabat tangan Juned. "Saya nikah dan kawinkan saudara Junaedi.


"Tunggu" Ujar pria berjas yang masih di pintu masjid. Diantar oleh rombongan dari Jakarta baru tiba membatalkan pernikahan itu.


Semua saksi termasuk calon pengantin Junaedi dan Sumidah menoleh ke arah rombongan. Yang tak lain Nanta di gandeng Zarina sang mana. Di ikuti Abu, Aslihah, Tara, Bulan dan bi Entin.


Tangis Sumidah kembali pecah kini hatinya sudah terlanjur sakit dan kecewa. Apapun alasan yang menyebabkan Ananta terlambat datang hingga 4 jam. Yang Sumidah inginkan hanya kabar dari Ananta.


...~BERSAMBUNG~...

__ADS_1


__ADS_2