
"Mbu, maaf. Saya terlambat," Kata seorang pria yang baru saja tiba, duduk bersila di samping Ambu, lalu salim tangan beliau.
"Belum terlabat Nak Edi, Nanta sampai sekarang belum tiba, kami sedang menunggu." Jawab Ambu sedih. Teryata pria yang baru tiba itu adalah Junaedi.
"Sabar Mbu, mungkin jalanan macet," Hibur Junaedi. Menatap iba wanita sahabat Ibunya itu. Wajah Ambu tampak pucat dan berkeringat.
"Ambu, sebaiknya istirahat ke kamar yuk," Anda mengusap keringat Ambu dengan tisu.
"Ambu tidak apa-apa Anda." Kilah Ambu. Mana mungkin istirahat dalam keadaan seperti sekarang.
***********
Di kamar hotel seorang pria mematut diri di depan cermin. Ia meringis memegangi bibir nya yang robek karena di tonjok sahabatnya.
Flashback on.
"Tuan Tara, sebelumya saya minta maaf, karena lancang. Jika diperbolehkan saya mau minta tolong Tuan, agar menghubungi Tuan Nanta." Kata bi Entin menunduk karena merasa tidak sopan.
"Telepon Nanta? Memang ada apa Bi?" Tanya Tara pagi ini ia baru dari masjid, masih lengkap dengan koko dan kopiah.
"Sumidah sedih Tuan, selama seminggu tidak bisa menghubungi Tuan Nanta." Tutur bi Entin. Ia pun panik mendengar cerita Sumidah mengenai Nanta. Padahal jam sembilan nanti ijab kabul akan segera dilaksanakan.
"Ya sudah Bi, jangan khawatir saya akan telepon Dia," Jawab Tara.
"Terimakasih Tuan." Bi Entin merasa lega, kemudian membungkukkan badan, sebelum akhirnya ke dapur menyiapkan bekal untuk Rangga. Sebab jam 5 nanti akan berangkat ke Tasik bersama tuan Tara dan nona Bulan.
Sementara Tara segera ke kamar menatap Bulan yang sedang menyiapkan beberapa setel pakaian untuk Rangga.
"Mas, Kak Abu sama Liha sudah sampai belum?" Tanya Bulan. Karena mereka akan berangkat ke Tasik bersama-sama.
"Belum" Jawab Tara, segera ambil handphone lalu duduk di sofa.
10 menit kemudian.
"Mas... main apa sih? Sibuk banget?" Tanya Bulan melirik suaminya yang sedang sibuk mengotak atik handphone.
"Yank, Tara tidak bisa di telepon."
"Sibuk kali Mas, bukanya sekarang Dia sudah di hotel." Jawab Bulan. Ia pikir Nanta sibuk mengurus pernikahannya. Bulan tahu jika Nanta sudah memesan kamar di salah satu hotel di daerah asal Sumidah.
"Masalahnya kata bi Entin, selama seminggu Nanta tidak mau angkat telepon Sumidah yank," Tara geleng-geleng kepala.
"Nah-nah. Jangan-jangan mereka bertengkar Mas?" Bulan berpikir yang tidak-tidak.
__ADS_1
"Kalau gitu aku lihat ke rumahnya dulu yank, siapa tahu Dia belum berangkat ke hotel." Nanta beranjak.
"Nanti kita kesiangan Mas." Tolak Bulan.
"Kesiangan juga nggak apa-apa Yank, paling nggak bisa menyaksikan ijab kabul. Yang penting saat resepsi kita disana sampai selesai," Pungkas Tara. Setelah Bulan setuju kemudian berangkat ke rumah Nanta.
Dut dut dut.
Tiba di halaman, Abu bersama Liha sudah tiba lalu mengucap salam.
"Bang Abu, ikut saya sebentar." Pinta Tara. Ketika Abu sudah turun, sambil menggendong Aisyah.
"Kemana?" Tanya Abu lalu memberikan Ais yang masih tidur ke gendongan Liha.
"Nanti saya ceritakan Bang" Tara tergesa-gesa hendak mengeluarkan motor. Namun dicegah Abu. "Pakai motor saya sajaTara." Saran Abu. Karena motornya masih menyala.
"Aslihah, sebaiknya menunggu di rumah saja, Bulan menunggu di kamar," Pungkas Tara.
Tidak mau bertanya lagi, Abu memberikan kunci motor kepada Tara. Tara memilih mengendarai motor karena waktu sudah terdesak.
Tiba di salah satu rumah mewah wanita paruh baya sedang menangis. "Tara, sudah dua hari kemarin, Nanta tidak pulang Nak," Air mata Zarina bercucuran.
"Loh, bukanya saat ini seharunya Nanta sudah di hotel Tasik Tan?" Tanya Tara terkejut.
Mama Zarina menceritakan setelah mengantar Sumidah dari terminal seminggu yang lalu, Nanta lebih banyak diam. Jika Zaria tanya, bilangnya tidak apa-apa. Tetapi nyatanya Nanta justeru menghilang.
"Apa awalnya mereka bertengkar dengan Sumidah Bu?" Tanya Abu menyela.
"Saya tidak tahu Nak Abu," Kata Zarina menyusut air mata. Ia bingung bagaimana cara menjelaskan setiap ada telepon dari Sumidah maupun calon besan. Zarina memilih mematikan handphone. Dan saat ini harusnya Nanta sudah di muke up di hotel, tetapi anaknya pergi entah kemana.
"Kalau begitu saya permisi mencari Nanta Tante." Kata Tara, melegakan sedikit dada Zarina yang amat sangat sesak.
"Terimakasih Tara, saya berharap banyak sama kamu Nak."
Tara kembali memboncengkan Abu, menuju apartemen. Ketika belum menikah dulu, Tara dan Nanta sering menghabiskan waktu di tempat itu.
"Apa mungkin? Nanta menginap di apartemen ini Ta?" Tanya Abu. Pria itu sudah bisa menerka.
"Kita cari dulu Bang, siapa tahu ada," Jawab Tara, sambil berjalan. Tiba di salah satu apartemen, Tara membuka pintu. Ia sudah tahu nomor pin apartemen tersebut.
"Assalamualaikum," Ucap Abu lembut, mengikuti Tara dari belakang. Namun tidak ada jawaban, Tara langsung membuka pintu kamar.
"Woi! Bangun woi! buk buk" Tara memukul Nanta dengan guling. Sementara Abu hanya bertanya-tanya dalam hati. Ada apa dengan Nanta.
__ADS_1
"Apa sih loe?!" Ketus Nanta menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Kenapa loe masih molor disini? Semua orang kebingungan mencari loe! Tahu nggak?!" Sarkas Tara. "Bangun! Jam 9 nanti loe harus akat nikah." Tara menarik selimut Nanta.
"Nggak! Nggak ada pernikahan. Batal!" Dengan seenaknya Nanta berucap.
"Nanta. Bangun! Jangan main-main loe!" Bentak Tara. Mendengar ucapan Nanta,Tara geram. Jadi selama ini Nanta mencintai Sum hanya pura-pura. Tara tidak rela asistenya diperlakukan seperti itu. Tara dan Bulan sudah menganggap Sum sebagai keluarga.
"Kalau nggak tahu ceritanya lebih baik diam loe!" Nanta menjawab. Sambil memeluk guling.
"Bangun kata gw!" Nanta menarik paksa sahabatnya.
"Apa sih loe?! Gue bilang nggak! Ya nggak!" Nanta pun akhirnya berdiri. Kedua sahabat itu, berhadapan. Wajah mereka sama-sama emosi.
Buk!
Tinju Tara melayang ke wajah Nanta. Nanta mengepal ingin membalas.
"Stop!"
Abu berdiri di tengah-tengah mereka. "Kalian ini seperti anak kecil saja. Duduk!" Tegas Abu.
Kedua sahabat itu, menjatuhkan bokongnya di kasur. Mereka sama-sama menghormati Abu.
"Nanta... sekarang ceritakan apa yang sudah Sumidah lakukan sehingga kamu membatalkan pernikahan secara sepihak?" Tanya Abu lembut.
"Sumidah tidak sepolos yang Kak Abu kira," Ujar Nanta.
"Okay... sekarang ceritakan apa kesalahan Midah?" Abu sebenarnya kecewa kepada Nanta. Selama ini Abu selalu berdoa agar Sumidah mendapat jodoh yang baik. Demi menebus kesalahannya, karena sudah membuat wanita setegar Sumidah hingga menangis. Dan kini Midah pun harus kecewa dengan Nanta.
"Sumidah selingkuh dengan pria sekampungnya Bang," Nanta menceritakan apa yang ia lihat ketika di terminal. Sumidah pulang satu bus dengan Junaedi. Nanta pikir Sumidah sudah janjian.
"Lalu apakah sudah kamu tanyakan baik-baik kepada Sumidah?" Tanya Abu lagi.
Nanta hanya menggeleng.
"Nanta... saya sudah mengenal Sumidah jauh sebelum kamu mengenalnya. Saya tahu benar, Sumidah itu tipikal orang yang setia. Jika sudah mencintai pria, sulit sekali untuk berpaling. Jika Dia sudah memutuskan untuk menikah dengan kamu, itu artinya. Dia sudah mencintai kamu dengan tulus." Nasehat Abu panjang lebar.
"Biar saja Bang, Dia mau menjadi pria yang tidak punya perasaan. Sudah membuat Tante Zarina Ibu kandungnya menangis. Sudah melukai hati Ambu calon mertuanya. Dan terus menangis sejak kemarin, karena memikirkan calon menantunya yang tidak punya prinsip. Mungkin Dia juga puas karena sudah membuat calon istri nya selama seminggu bersedih."
Plok plok plok.
"Sukses loe sekarang!" Ujar Tara tidak percaya Nanta yang ia kenal bisa berbuat begitu.
__ADS_1
...~Bersambung~...