
Mendengar tangisan dari saung, Ambu melepas sarung tangan membuangnya ke sembarang arah. Ambu kemudian berlari menghampiri putrinya merangkul nya erat. Hingga lima menit kemudian membiarkan putri nya menangis di pundak.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Ambu melepas pelukan. Di hapusnya air mata Midah. Menatap lekat wajah anak gadisnya. Selama ini putrinya jarang sekali menangis jika bukan karena terlalu nyesek.
"Maaf Mbu, aku tidak apa-apa. Aku hanya sedih, demi kami, Ambu membanting tulang tanpa kenal lelah. Hu huuu..."
"Astagfirrullah... Midah... kamu teh bicara apa? Jadi kamu menangis karena Ambu" Ambu geleng-geleng kepala. "Tugas Ibu di seluruh dunia memang begini seharusanya Midah... jika kamu nanti sudah menjadi seorang Ibu pasti akan melakukan hal yang sama." Ambu mengatakan panjang lebar.
"Tetapi Ibu-Ibu yang lain masih punya suami Mbu, sedangkan Ambu membesarkan kami seorang diri. Hiks hiks hiks"
"Midah, Ambu sudah cukup bahagia dengan apa yang Ambu miliki sekarang. Mempunya kalian anak-anak Ambu tumbuh menjadi anak yang baik, sholeh sholehah dan tidak nakal, ini karunia Allah swt yang harus Ambu syukuri Nak." Tutur Ambu menyelipkan rambut yang dulu selalu di potong pendek kini sudah sebahu. Ambu ingat keluhan tetangga bahwa anak-anak mereka yang mempunyai orang tua lengkap pun tidak menjamin kebahagiaan. Justru terlibat tawuran, bahkan merokok dan nongkrong sana sini.
"Maaf ya Mbu, aku belum bisa membantu Ambu." Kata Midah di sela-sela isak tangis.
"Kata siapa kamu belum bisa membantu Ambu. Yang menyekolahkan adik-adik kamu siapa? Yang membangun rumah reot Ambu siapa?" Tanya Ambu.
Mendengar kata-kata rumah reot, Midah seketika ingat, lusa akan banyak tamu. Midah segera mengusap air matanya.
"Mbu... besok kan banyak tamu, bagaimana kalau rumah Ambu kita plester dan di cat, biar agak bersih sedikit." Kata Midah pada akhirnya.
"Bagus Nak, Ambu juga punya pikiran begitu. Ambu punya tabungan sedikit, cukup untuk buat beli semen sama cat, tapi kalau untuk membayar tukang, Ambu rasa tidak cukup" tutur Ambu. Setiap kali Midah memberi uang yang bukan di tujukan untuk biaya sekolah Anda dan Endar. Ambu selalu menabungnya.
"Jangan Mbu, simpan saja uang Ambu." Jawab Midah. Ia sudah menyiapkan uang, maka mempunyai ide tersebut.
"Aiiihh... kami cari-cari ternyata disini. Teteh sama Ambu lagi syuting sinetron ya, pada nangis-nangis disini." Kelakar Endar, ternyata kedua pemuda itu, mendengarkan keluh kesah Ambu dan teteh nya dari kejauhan.
"Teteh mau merapikan rumah?" Tanya Anda serius.
"Rencana begitu dek, nanti kamu ke matreal pesan semen buat plester tembok, kalau sudah kering baru di cat," Kata Midah. Rumah mereka memang belum di aci.
"Siap Teh" Anda bersemangat.
"Baiklah... kalau begitu nanti Ambu, panggil tukang," Ujar Ambu.
"Tidak usah Mbu, aku sama Endar besok kan sudah libur semester, biar kami yang mengerjakan." Kata Anda. Daripada bayar tukang lebih baik mereka kerjakan sendiri. "Iya Kan Endar" Anda menoleh Endar yang nyemel keripik, rupanya ia membawa dari rumah.
"Siap laksakan Kak," Endar pun tak kalah semangat.
"Okay... biar cepat, nanti Teteh bantu." Sambung Midah.
"Jangan!" Cegah Ambu, Anda dan Endar.
__ADS_1
"Kenapa gitu?" Midah mengeryitkan kening, selama ini sudah biasa mengerjakan pekerjaan pria.
"Kamu kan mau kedatangan tamu Midah, lebih baik kamu merawat diri," titah Ambu.
"Tenang saja Mbu, pokoknya besok kami kerjakan sama-sama," Midah sudah bertekat.
"Teh... sudah mau ashar kita belum makan. Lapar Nih," Endar dan Anda sejak tadi menunggu Midah hendak makan siang bersama tetapi tidak pulang-pulang lantas mencari ke saung.
"Kalian bawa kesini saja, terus kita makan disini," saran Midah.
"Ide yang bagus" kedua pemuda itu, pulang ambil masakan tidak lama kemudian kembali ke saung.
"Kita makan..." Ambu segera membersihkan daun, pisang yang beliau petik di pinggiran sawah. Makan dengan daun pisang tentu lebih nikmat.
"Nda... nanti sore kamu potong Ayam ya, selagi Teteh kamu disini, nanti malam kita bakar disini." Titah Ambu seraya menyendok sambal.
"Tidak usah Mbu, lebih baik kita bakar ikan saja." Tolak Midah, lebih baik makan ikan saja daripada Ayam akan menimbun lemak apa lagi dimakan malam hari.
"Pasti Teteh takut, kalau badanya bulat kayak celengan Semar. Ahahaha..." Kelakar Endar.
"Memang kamu ngurusin badan Sum?" Tanya Ambu melirik putri nya. Ia baru sadar jika putrinya saat ini lebih langsing dan sedikit berubah feminim tidak seperti dulu.
"Iya Mbu, kalau begini kan jadi enteng badan aku." Jawab Midah. Ia merasa senang, dulu ia diet hanya demi Abu, tetapi dengan penampilannya sekarang lebih ringan hanya saja harus membeli ukuran celana yang awalnya 31 kini 28.
Mereka tertawa, kemudian makan di saung diselingi obrolan ringan. Mendengar kicau burung, ditambah semilir angin sore, membuatnya semakin betah.
Deeerrtt... deeerrtt...
Saat sedang asyik makan, benda pipih yang tergeletak di samping Midah bergerak karena getaran. Midah menggeser tombol dengan tangan kiri, karena ia makan menggunakan tangan.
"Tomboy... loe sudah sampai, macet tidak, loe baik-baik saja kan?" Cecar Nanta.
Ternyata Nanta vidio call.
"Sudah..." Jawab Midah pendek. Kemudian meneguk air mengurangi rasa pedas. "Laki-laki kok, ngomongnya seperti panci butut. Satu-satu apa tanya nya." Omel Midah. Ambu mendengar anaknya berbicara dengan calon suami tidak sopan lantas mencolek.
"Ahahaha... habisnya gw takut loe nggak jadi pulang, tapi malah panjat tebing." Sindir Nanta.
"Saya baik-baik saja, sudah ya, lagi makan nih." Kata Midah bermaksud menyudahi pangillan.
"Loe gitu amat, sih Tomboy... nggak kangen sama gw ya?"
__ADS_1
"Nggak."
"Midah..." Ambu kini memperingatkan karena Midah sudah keterlaluan.
"Ada Ambu ya... assalamualaikum..." Begitu mendengar suara Ambu Nanta segera mengucap salam.
"Ada" Midah memperlihatkan wajah Ambu, dengan cara mengalihkan layar handphone. Ambu tersenyum menatap pria bermata agak sipit dan berkulit putih itu, tidak menyangka akan melamar putrinya.
"Apa kabar Ambu?"
"Alhamdulilah sehat Nak"
"Syukurlah... hari minggu besok, saya mau mengajak Mama silaturahmi Ambu..." Nanta berkata santun.
"Kami tunggu dengan senang hati, Nak."
"Kak Nanta, jangan lupa oleh-oleh ya," kelakar Endar meninggalkan makan berdiri di belakang Ambu.
"Siap Endar... Anda mana?" Tanya Nanta kemudian.
"Hai Kak, calon adik ipar Kakak yang tampan, melebihi calon kakak ipar berada disini," seloroh Anda ambil alih handphone dari tangan Midah.
"Iya... saya tahu, kamu memang tampan. Lagi makan apa sih, kok sambil nggayem?" Tanya Nanta karena Anda telepon sambil mengunyah.
"Kita lagi makan sore Kak. Lihat" Anda memperlihatkan makanan yang berada di depan mereka. Dan tertangkap oleh Nanta jika mereka makan belum selesai. Nanta tidak enak hati.
"Mana Teteh Kamu?"
"Ada Kak" jawab Anda, mengembalikan handphone, kepada teteh nya. Midah ambil hp tapi sudah di ganti mode. Yang awalnya vidio call. Nanta berbicara berbisik.
"Gitu saja Tomboy... sampai besok. I love you..."
"Ya... sampai besok"
Tut.
Midah hanya memandangin handphone miliknya, ucapan Nanta baru saja membuatnya serasa kesambet.
"Cieee... cieee... Ahahaha... I love you..." Goda Anda dan Endar menyatukan kedua telapak tangan mereka sambil tertawa.
"Bahasa naon atuda? Piu-piu. Heemm... budak teh. Fai lieur..."
__ADS_1
...BERSAMBUNG....