Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Perasaan Nanta.


__ADS_3

"Sumidah, ajak Ambu istirahat di rumah Mama Nak." Kata mama Zarina lembut. Zarina kasihan melihat calon menatunya tampak lelah.


"Benar kata calon mertua kamu Midah, biar saya dan Zarina yang menjaga Nanta dan Tara." Imbuh mama Maya. Maya menyuruh Sum pulang ke rumah Bulan mengajak Ambu dan Anda.


"Tapi..." Jawab Sum menatap Nanta minta persetujuan.


"Pulang saja Tomboy, besok pagi baru kemari lagi." Nanta merasa kasihan juga. Ia pun sebenarnya tidak tega menyuruh Sum ini itu, tetapi itu hanya alasan Nanta, agar selalu dekat dengan Sumidah.


"Baik Nyonya Maya, kami pulang dulu," pamit Sumidah. Sumidah diantar supir papa Bisma, tentu memilih mengajak Ambu dimana ia bekerja, yakni rumah Bulan.


Mereka tiba di depan rumah Bulan, Ambu membantu Sumidah turun.


"Jadi... kamu bekerja di rumah ini Sum?" Tanya Ambu menatap rumah mewah dua lantai. "Nyonya Maya juga tinggal di rumah ini?" Ambu menyambung pertanyaan. Mereka berhenti sejenak di halaman. Sementara Anda menutup pagar.


"Tidak Mbu, rumah Nyonya Maya lebih besar dan mewah jika dibandingkan rumah ini. Rumah ini milik Tuan Tara sendiri yang beliau bangun setahun yang lalu," Sum menceritakan sebelum pindah kesini Sumidah bekerja di rumah Maya


"MasyaAllah... orang gedongan, rumahnya besar-besar begini, terus buat apa atuh Sum." Ambu berdecak kagum.


"Hehehe... Ambu... Ambu." Sumidah terkekeh. Padahal Ambu baru melihat rumah ini besarnya setengah dari rumah Nanta. Jika Ambu melihat rumah calon besan pasti heran.


"Mbu, itu ada Bibi, kita kejutkan yuk," Dalam keadaan kaki sakit pun Sumidah berniat usil.


"Jangan... kita tegur saja, kasihan kalau sampai bibi kalian kaget," Cegah Ambu.


"Bibi awet muda ya Teh," Mereka melihat bibi keluar dari pintu dapur.


"Memang, Bibi itu orangnya santai Nda, segala sesuatunya di bawa enteng jadi awet muda." Tutur Sumidah. "Teteh juga menganggap beliu sudah seperti Ibu," Kata Sum. Bibi yang selalu menasehati dirinya jika sedih maupun berbuat kesalahan.


"Entin..." Panggil Ambu.


"E'en..." Jawab bibi berjalan cepat menghampiri Ambu yang masih kerabat dekat itu.


"Entin... kumaha damang?" Ambu memeluk bi Entin.


"Sehat En, abi teu nyangka pisan kita bisa bertemu disini," Bibi senang sekali. Pandanganya beralih kepada Anda, terakhir bertemu ketika kelas tiga SMP dan kini sudah kelas 3 SMK. Anda menjelma menjadi pria tampan.


"Bibi..." Anda salim tangan Bibi.

__ADS_1


"Anda... kamu mirip almarhum Abah kamu, mani ganteng pisan," Bibi geleng kepala. Anda hanya menjawab dengan senyuman.


"Sum, kaki kamu kenapa? Terus Non Bulan kemana," Bibi beralih menatap Sum yang berjalan pincang. Bibi tidak tahu apa-apa dengan kejadian yang menimpa Tara dan Sumidah.


"Ceritanya panjang Bi, nanti Sum cerita," Jawab Sumidah, kemudian mengajak Ambu dan Anda ke dalam.


Bibi sibuk membuat minuman dan cemilan untuk Ambu dan Anda. Karena sudah malam. Midah mengajak nya tidur bersama. Sedangkan Anda tidur di kamar supir, yang sudah tidak di tempati.


*************


Keesokan harinya. "Umma... huaaa..." Ais menghambur ke pelukan Aslihah yang baru tiba di rumah.


"Sayang... sudah ya, jangan menangis," Hibur Liha. Padahal Liha pun menyembunyikan tangisnya agar jangan pecah di depan Ais.


"Digendong Abi yuk, memang Ais nggak kangen sama Abi?" Tanya Abu segera menggendong Aisyah jangan sampai Ais minta di gendong Liha yang belum sehat benar, terlebih Liha masih lelah.


"Abi... Ais takut, Nenek datang lagi," Adu Ais menangis sesegukan di dada Abu. Aslihah pun akhirnya tidak kuat menahan air mata agar tidak jatuh menatap putrinya dari belakang.


"Ais nggak boleh takut, Abi janji akan selalu menjaga Ais. Sekarang senyum dong," Abu mengajak bicara Ais duduk di Sofa di ikuti Aslihah. Bukan tertawa Ais justru menangis. Liha yang duduk di sebelah Abu mengusap-usap kepala putrinya.


"Sudah Din, terimakasih ya, kamu sudah membantu kami, menemukan Ais."


"Sama-sama Liha, ngomong-ngomong... kapan kalian berangkat dari tasik?"


"Setelah subuh tadi Din." Aslihah menceritakan. Rupanya begitu Udin telepon kemarin Liha sudah bingung minta pulang ke Jakarta. Namun Abu dan Bulan tentu melarang. Baru saat subuh mereka berangkat walaupun sebenarnya Aslihah belum sehat benar dan dokter pun tidak mengijinkan. Namun, Abu pikir. Jika Liha segera bertemu dengan Ais, tentu beban pikiran mereka berkurang dan membuat anak dan Umma itu justeru lebih baik.


"Kalau gitu saya ke apotek dulu Kak." Udin beranjak.


"Terimakasih Din, nggak nunggu aku memasak dulu?" Tanya Abu menatap Udin pasti lapar.


"Nanti malam saja aku kembali Kak,"


"Okay... kami tunggu, maaf ya, aku belum bisa membantu di apotek." papar Abu.


"Nggak apa-apa Kak, yang sift malam untuk sementara aku pindah pagi." Tutur Udin. Lebih baik malam yang tutup daripada siang hari.


"Atur saja Din," Jawab Abu. Setelah Udin keluar, Abu mengajak anak dan istrinya masuk ke kamar beristirahat.

__ADS_1


"Sekarang... Ais temani Umma di kamar ya, Abi mau memasak yang enak untuk kalian," Abu membaringkan Ais di kasur di samping Liha.


"Iya Abi... tapi Ais sudah salapan bubul sama Om Undin." Ais tadi pagi sudah dibelikan bubur oleh Udin.


*********


Seminggu kemudian, Nanta sudah pulang dari rumah sakit, di rawat lebih lama daripada Tara. Tara hanya dirawat selama tiga hari. Sementara Ambu dan Anda sudah kembali ke tasik lima hari yang lalu.


"Tomboy... tolong kompres punggung aku dong," Perintah Nanta. Saat ini Sumidah sedang menjenguk Nanta di rumah.


"Memang bukan perawat lagi yang mengompres?" Tanya Midah. Lalu ambil baskom yang sudah disiapkan oleh bibi di atas meja.


"Nggak ah, enakan calon istri sendiri." Nanta terkekeh, seraya melepas kaos. Mereka sedang duduk di sofa ruang tamu. Mata Midah membelalak kala menatap badan Nanta yang putih dan mulus. Lima menit sudah, Midah terpaku menatap punggung itu. Walaupun beberapa hari di rumah sakit belum pernah melihat tubuh Nanta. Jika tiba waktu menyeka mama Zarina yang melakukan.


"Tomboy..." Panggil Nanta, mengejutkan Sumidah.


"Ya jelaslah, kalau sama aku kan gratis." Jawab Sumidah asal, menghilangkan rasa gugupnya. Midah memeras kapas yang sudah di celup air, kemudian mengompres luka sayatan senjata tajam, yang masih memerah namun sudah mulai mengering.


"Mau di bayar?" Nanta menjawab serius.


"Bayarnya pakai cinta saja," Sumidah lantas menjulurkan lidahnya tanpa Nanta tahu. Midah merasa malu dengan ucapan baru saja.


"Kalau itu sih, sudah lama Tomboy, sejak setahun yang lalu, malah," Jujur Nanta.


"Setahun yang lalu?" Tanya Sumidah terperangah, menghentikan gerakan tanganya yang sedang mengompres. Sumidah sama sekali tidak tahu jika Nanta menyukainya selama itu.


"Loe ingat nggak, saat kita membebaskan Bulan dari penyekapan Keke? Nah, saat itu gw mulai suka sama loe,"


"Tapi kenapa kamu selalu jutek sama aku?" Dahi Midah berkerut.


"Loe nggak peka sih, yang kamu pikirkan cuma Abu, Abu dan Abu," Jawab Nanta posesif.


Sumidah seketika diam.


"Sekarang gw sudah jujur tentang perasaan gw sama loe. Nah, sekarang gw yang giliran tanya, jawab dengan jujur. Apakah loe mencintai gw?" Tanya Nanta. Ananta selama ini belum tahu perasaan Sumidah kepadanya.


...BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2