Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Terkejut.


__ADS_3

Gelap menjadi terang namun bukan karena lampu. Melainkan matahari sudah bergeser menerangi jagat raya. Terdengar suara cadel sedang berceloteh bertanya ini itu. Ia adalah Ais sedang mandi ditemani Aslihah.


"Umma... Abi pulang jam belapa tadi malam?" tanya Ais seperti orang dewasa.


"Nggak lama Ais bobo, Abi sudah pulang kok," Liha tentu tidak mungkin cerita jika Abu pulang pagi.


"Oh... telus? Abi lihat Ais ke kamal nggak?" tanya Ais penuh harap diperhatikan Abi barunya.


"Lihat..." jawab Liha pendek.


"Umma... kenapa Abi tidak bobo sama kita?"


"Sudah yuk, ngobrolnya di luar saja" potong Liha. "Di kamar mandi itu... sebenarnya tidak boleh bersuara. Apa lagi kalau kelamaan, nanti kedinginan, terus kulit Ais jadi keriput," Liha menutup tubuh putrinya dengan handuk kemudian kembali ke kamar membantunya salin baju.


"Keliput itu apa Umma?" polos Ais.


"Keriput itu... kulitnya berkerut-kerut," jawab Liha sambil membedaki Ais.


"Oh... kayak nenek nya Om Reza ya Umma... hihihi..." Ais ingat nenek nya Reza pemilik kontrakan dimana mereka tinggal. Nenek itu sudah berumur 90 tahun tapi masih sehat.


"Kamu ini" Liha menoel hidung mancung Ais. Ingat Reza Liha menjadi ingat bu Eli pemilik kontrakan. Jika Abu mengijinkan akan silaturahmi kesana.


"Sudah cantik... sekarang, Ais keluar dulu ya, Umma mau membereskan kamar dulu," Liha menarik sepray bekas Ais tidur sedikit berantakan.


"Ya Umma..." tangan kecil itu menarik handle pintu.


"Umma... kok susah..." Ais menoleh Liha minta bantuan.


"Keras ya" Liha menunda pekerjaan membantu Ais membukakan pintu. Setelah berhasil, Ais berlari-lari kecil keluar.


"Abi..." Ais menangkap sosok pria yang di bahas pagi ini sudah menunggu di meja makan.


"Waah... cantiknya... Umma mana?" Abu segera memangku Ais.


"Umma lagi beleskan tempat tidul dulu," Jawab Ais. Mereka pun akhirnya ngobrol kadang Ais cekikikan jika Abu melontarkan kata-kata lucu.


Tidak lama kemudian Liha bergabung menatap meja makan piring dan lain sebagainya sudah di siapkan oleh Abu, termasuk air minum.


"Duduklah Liha, kita sarapan" titah Abu.


"Terimakasih..." Liha menarik kursi kemudian melungguhkan bokongnya. Namun sebelumnya memindahkan Ais dulu ke kursi sendiri.

__ADS_1


Tidak lupa menyendok nasi kedalam piring suami nya, dan juga putrinya, baru yang terakhir dirinya sendiri.


Abu tersenyum menatap Liha, ia tidak percaya jika akan mempunyai istri secantik Liha.


"Tidak usah ngelihatin terus... sebaiknya makan dulu!" ucap Liha mengejutkan Abu dengan nada ketus.


Abu tersenyum lalu menunduk menggelengkan kepala, kini dirinya benar benar jatuh cinta. Ia bersyukur Allah telah menganugerahkan cinta untuk istrinya sendiri. "Mari kita makan" ucap Abu kemudian memimpin doa.


Mereka makan bersama entah diketahui oleh Liha atau tidak, Abu melempar pandang ke arah istrinya, dan terdengar sesekali celotehan Ais, hingga beberapa saat kemudian makan pun selesai.


"Liha... pagi ini aku mau mengajak kamu ke apotek, mau kan?" tanya Abu. Setelah selesai sarapan.


"Boleh..." Liha tentu ingin tahu tempat kerja suaminya.


"Tetapi aku malu Kak, karyawan Kakak banyak nggak?" Liha kecil hati. Ia sadar siapa dirinya. Liha belum tahu jika rekan kerja Abu adalah Bulan dan Udin teman sekelasnya dulu dan juga Novi kakak kelas Liha.


"Nanti kamu juga tahu" Abu ingin memberi kejutan kepada istri nya.


"Ais, kamu bawa mainan sayang..." titah Abu.


"Okay Bi..." Ais bergegas ke tempat bermain.


"Oh iya Liha... hari minggu kita akan mengadakan syukuran, mengundang warga agar kamu kenal mereka," kata Abu.


Kali ini Abu ambil baju di kamar Liha.


"Mau pakai yang mana Kak?" Liha membantu mencari baju.


"Kaos saja Liha... kerjaan aku kan bukan di kantor, jadi tidak usah terlalu resmi pakai kaos juga nggak apa-apa," tutur Abu.


Liha ambil kaos yang kira-kira pas untuk suaminya.


"Yang ini sepertinya bagus Kak" Liha memberikan kaos.


"Terimakasih..." Abu ambil kaos meletakan di sofa, tanpa sungkan membuka kaos yang masih melekat di badan di depan Liha.


"Astagfirrullah..." Liha menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Pasalnya melihat dada bidang Abu hingga ke perut.


"Heee... tidak usah ditutup Liha, perut dan dada ini sekarang halal untuk kamu lihat, bahkan kamu cium" Abu mendekat dan membuka telapak tangan Liha.


"Aaahh... nggak mau..." Liha meninggalkan Abu keluar lebih dulu. "Ampuni hamba ya Allah..." Liha tahu yang ia lakukan ini salah, karena menolak belaian suaminya, tetapi entahlah saat ini belum bisa kontak fisik dengan suami nya.

__ADS_1


"Umma... kenapa lali-lali?" tanya Ais berpapasan Liha sudah memegang APE di tangan.


"Nggak apa-apa..." jawab Liha kemudian menyiapkan bekal untuk Ais.


"Tidak usah repot membawa bekal Liha, setelah dari apotek aku mau mengajak kalian makan siang," Abu sudah berdiri di belakang Aslihah. Hembusan napas Abu menerpa tengkuk Liha. Lagi-lagi Liha merasa risi untuk yang kedua kali.


Abu terkekeh mengusap pucuk kepala Liha sebelum akhirnya mengeluarkan motor.


"Abi... kita mau kemana?" tanya Ais ketika sudah berada di atas motor.


"Kita mau jalan-jalan" Abu membantu Ais duduk di depan.


"Yayyy... kita jalan-jalan Umma" Ais kegirangan menatap Liha yang masih berdiri di samping motor.


"Liha... naik" titah Abu.


"Ya" Liha pun duduk di belakang Abu. Abu menarik kedua telapak tangan Liha kemudian melingkarkan di perut. Dengan cepat Liha menarik tanganya kembali.


"Hahaha..." Abu tertawa bersamaan dengan laju motornya, meninggalkan rumah.


Seperti biasa jalanan macet sudah tidak aneh. Bahkan sesekali dahi Liha membentur bahu Abu ketika ngerem mendadak. Sungguh Abu ingin terus merasakan momen seperti ini, jika ada kesempatan.


"Kita sampai.." ucap Abu ketika mereka tiba di depan apotek.


"Sampai ya Bi?"


"Betul... kita turun" Abu turun dari motor lebih dulu baru membantu Ais. Abu melepas helm nya. Lalu beralih menatap Liha tampak kesulitan membuka penutup kepala tersebut.


"Aku bantu buka," Abu memencet pengait helm di leher Liha. Mereka tidak tahu jika dua pasang mata memperhatikan mereka.


"Nov, Kak Abu sama siapa ya?" tanya Udin.


"Iya Din... ya ampuun... romantis banget deh" Novi menatap mereka kagum.


"Jika diperhatikan, Kak Abu memperlakukan wanita itu seperti istrinya, apa jangan-jangan... Kak Abu sudah menikah Din?"


"Nggak tahu Nov, tadi malam Kak Abu juga mengatakan bahwa beliau punya istri, tetapi kapan nikahnya? Masa tiba-tiba punya anak sih!"


Dua orang itu pun masih saling melempar pertanyaan. Untuk menghilangkan rasa penasaran mereka menunggu Abu membuka helm.


Kedua mata mereka melebar kala melihat wanita itu, Novi dan Udin saling pandang.

__ADS_1


"Aslihah? Benarkan wanita itu Aslihah Nov?" Udin tidak percaya. Menatap Abu yang menggendong Aisyah di ikuti Liha masuk apotek.


...BERSAMBUNG....


__ADS_2