Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Terpaksa mengiklaskan.


__ADS_3

Suasana kediaman Ambu menjadi sepi, saat Zarina mewakili Nanta, mengutarakan maksud dan tujuanya mendatangi tempat ini yakni bertujuan melamar Sumidah. Semua orang memasang telinga mendengarkan, apa yang disampaikan oleh wanita yang masih tampak cantik itu.


"Mengingat anak-anak kita yang sudah nempel seperti perangko, sebaik nya pernikahan mereka kita percepat saja. Bagaimana menurut calon besan?" Tanya Zarina kepada Ambu.


Midah hanya tersenyum masam mendengar ucapan calon mertua. Padahal selama ini dirinya dengan Nanta selalu ribut, lalu mana bisa seperti lem dan perangko seperti yang beliau katakan.


"Kami setuju saja Ece" Ambu pun menyepakati. Pernikahan Nanta dan Midah akan dilaksanakan tiga bulan lagi. Agar leluasa mengurus segala sesuatunya.


"Lalu menurut Cek Endang, pernikahan mereka akan kita laksakan dimana?" Tanya Zarina memastikan.


Sesaat semua diam, Ambu lantas melempar tatapan ke arah Nanta, hanya calon menantunya itu yang bisa memberi keputusan.


"Sebaiknya acaranya kita adakan disini saja, Ma." Usul Nanta. Ia peka apa yang Ambu pikirkan.


"Disini? Tetapi tempatnya tidak mencukupi Nak," Ambu terkejut. Tidak menyangka jika Nanta akan memilih disini.


"Masalah itu kami akan sewa tempat Mbu." Nanta menambahkan. Setelah semua sepakat Nanta menghampiri Midah menyelipkan cincin ke jari manis Midah. "I love you. Tomboy..." bisik Nanta.


"Love you too. Tengil." Jawab Midah pipinya merona.


Tepuk tangan dari sanak saudara maupun tetangga setelah selesai acara di adakan, kemudian makan siang bersama. Walaupun sedikit terlambat, karena saat ini sudah hampir ashar.


"Ce, maafkan kami, kami hanya bisa menyediakan masakan seperti ini." Kata Ambu. Makanan yang Ia sediakan tentu bukan masakan hotel ala nyonya Zarina.


"Ya Allah... justeru masakan seperti ini yang saya cari Ce Een." Jawab Zarina menyantap makanan dengan lahap.


Ayam kampung bakar, bermacam-macam olahan ikan hasil ternak sendiri. Sambal dan lalapan pun dari kebun, buah pisang sebagai pelengkap tidak ada yang Ambu beli.


"Terimakasih Ce." Ambu senang ternyata besanya suka dengan masakan yang ia sajikan. Ambu mungkin lupa jika Zarina tinggal di Jakarta hanya sebagai pendatang. Sama-sama dari Jawa Barat, tentu selera pun sama.

__ADS_1


"Tomboy. Setelah makan, kita ke pantai yuk" Ajak Nanta. Ia ingin menikmati pemandangan pantai di sore hari. "Gw dengar pantai disini bagus," Imbuh Nanta.


"Memang kamu belum mau pulang, sekarang sudah sore loh." Midah tanya serius. Midah pikir Nanta akan menginap di rumahnya.


"Besoklah! Memang loe mau mengusir nyokap gue." Jawab Nanta seraya mengusap mulut. Ia bersama Zarina sudah bermusyawarah akan menginap, tentu mencari hotel di Tasik.


"Bukan begitu, Tengil! Kamu nyolot saja sih! Aku tuh malu sama Tante Zarina. Masa beliau tidur di rumah aku yang jelek dan sempit begini." Midah meluruskan setengah sewot.


"Biasa saja kali? Nanti malam, kalau semua sudah tidur, gw mau masuk kamar loe, jangan dikunci ya." Kelakar Nanta menaik turunkan alis nya.


"Buk"


"Aaggghh..." Pekik Nanta. Mengundang semua mata beralih menatapnya. Midah meninju, bahu Nanta. Sebenaranya tidak sakit memang dasar pasangan aneh sama-sama gendeng.


"Nanta... kamu kenapa?" Tanya Mama Zarina.


"Ini Mah, calon manantu, otot kawat balung wesi," Nanta cengegesan.


Acara sudah selesai para tetangga membubarkan diri, termasuk kakak Ambu. Namun Bulan dan Tara tidak mungkin pulang ke Jakarta jika Aslihah belum di ijinkan pulang. Ia pun pamit menggendong Rangga dan Aisyah menuju hotel yang sudah ia pesan secara online.


"Nanta... kamu sudah pesan hotel?" Tanya mama Zarina.


"Belum Ma, sekarang saja, aku pesan Deh." Jawab Nanta, hendak mencari hotel yang ada kamar kosong.


"Jika mau menginap di rumah ini, saya rasa tidak usah memesan hotel Ce, nanti kita atur kamarnya." Saran Ambu. "Tapi ya maklum begini keadaan kami."


"Memang ada apa dengan rumah Ecek, rumah sejuk begini kok. Tentu, bukan itu masalahnya, Ce Een..." Zarina menjeda ucapanya. "Nanti kami merepotkan," Mama Zarina sebenarnya senang menginap di rumah ini.


"Tentu tidak, jika Ece Rina bersedia menginap, saya senang." Tutur Ambu. Zarina pun akhirnya mengangguk.

__ADS_1


"Jika acaranya sudah selesai, saya mau ijin menjenguk istrinya Kak Abu ke rumah sakit dulu, Mbu." Ijin Sumidah. Midah merasa kasihan jika terjadi apa-apa dengan wanita baik seperti Aslihah. Midah sadar, ia sudah menyakiti hati Liha dengan kata-kata pedas. Namun, rupanya Liha tidak membalas, justru ingin menjalin silaturahmi datang kemari hingga menyebabkan sakit.


"Boleh" Jawab Ambu singkat.


Sumidah beranjak seraya menjinjing kebaya agar tidak kesrimpet seperti tadi dan memudahkan langkahnya. Yang pertama ia tuju adalah kamar ambil baju ganti. Tidak lama kemudian ke dapur menarik handuk di jemuran hendak mandi.


"Tomby... gw antar loe ke rumah sakit." Kata Nanta. Ia baru keluar dari kamar mandi, rambutnya sudah basah itu artinya sudah selesai mandi.


"Iya" Jawab Midah menatap calon suaminya tampak segar. "Kamu mandi bangkong ya, masa mandi kok cuma lima menit," Ujar Sum, mengatai Nanta. Tidak mau tahu reaksi Nanta akan ucapanya. Sumidah cepat-cepat menutup pintu kamar mandi seraya bersandar disana. Ia tidak menyangka pria tampan seperti Nanta melamarnya. Midah senyum-senyum sendiri.


Midah membuka kebaya ia sangkutkan di pintu kamar mandi, lalu mengguyur tubuhnya. Rasanya dingin sekali, wajar jika Nanta mandi hanya sebentar. Sumidah tahu jika di Jakarta mungkin Nanta mandi dengan air shower hangat.


Midah ganti pakaian tentu bukan celana, melainkan rok, tentu tidak lupa memakai lapisan celana panjang. Midah memilih setelan baju muslim yang selama ini selalu ia gantung jarang dipakai. Tiba di luar setelah pamit Ambu dan calon mertua kemudian berangkat ke rumah sakit.


"Awas loh, kalau di rumah sakit nanti kamu peluk-peluk Abu." Kata Nanta posesif ketika supir sudah menjalankan mobilnya.


"Nggak jelas!" Midah melengos kesal.


"Kalau gitu aku sekarang boleh peluk kamu kan..." Kelakar Nanta. Kali ini mereka duduk berdekatan di jok tengah.


"Berani macam-macam... Nih." Midah mengepalkan tinju.


***********


Di ruang rawat inap rumah sakit besar, di samping ranjang pasien, tampak pria duduk di lantai beralaskan sadjadah. Ia menengadah mengadu kepada sang pencipta.


Bulir air mata nya jatuh membasahi pipi. Tidak menyangka buah cinta nya tidak diberi kesempatan untuk hidup di dunia ini. Ia adalah Abu. Pria itu kini benar-benar pasrah menjatuhkan dahinya ke atas sadjadah posisi sujud. Ia memohon ampun berdoa di sela-sela isak tangis. Abu merasa lalai untuk menjaga sang istri, hingga kesakitan terlebih mengalami keguguran.


Ia bisa mengiklaskan buah hatinya, tetapi bagaimana dengan istrinya. Sampai saat ini, Aslihah belum juga sadar. Akibat keguguran tadi darah yang keluar terlalu banyak hingga menyebabkan komplikasi.

__ADS_1


"Ampuni hamba ya Allah..." Abu merasa bersalah jika ia tidak mengijinkan istrinya bekerja, mungkin tidak akan terjadi seperti sekarang.


...Bersambung....


__ADS_2