Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Mengarang cerita.


__ADS_3

"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Sumidah tiba di rumah Abu, setelah mengetuk pintu Aslihah sendiri yang membukanya. "Masuk Sumidah." Sambut Liha ramah.


"Terimakasih Kak, Ais kemana? Kok sepi?" Tanya Midah segera duduk di kursi sofa, setelah dipersilahkan.


"Ada di kamar lagi mainan" Jawab Liha, kemudian ke dapur membuat minum, tidak lama kemudian dua gelas teh manis sudah tersedia di meja.


"Nggak usah repot-repot Kak," Sum selalu memanggil Liha Kak, karena sudah biasa memanggil Abu demikian. Padahal usia mereka hanya berbeda beberapa bulan.


"Nggak repot kok Midah, ayo diminum."


Mereka pun minum bersama di selingi obrolan ringan. Sumidah lantas merogoh tas, ambil undangan dari dalam. "Kak, saya cuma mau mengantarkan undangan." Sumidah meletakkan di atas meja.


"Oh, terimakasih Midah... semoga lancar." Aslihah membuka undangan, kemudian membacanya. "Jadi... acaranya di tasik ya Sum?" Tanya Liha meyakinkan setelah membaca undangan. Aslihah mendadak sedih ingat kejadian tiga bulan yang lalu. Di tasiklah Liha keguduran, Ais diculik, hingga menyebabkan Liha trauma.


"Kak Liha kenapa? Keberatan ya kalau datang ke Tasik?" Tanya Midah menangkap ke sedihan di wajah Liha.


"Bukan begitu Sum, aku hanya ingat kejadian yang menimpa aku tiga bulan yang lalu." Aslihah menarik napas berat.


"Jangan khawatir Kak, semua akan baik-baik saja," Sum menggenggam pungung tangan Liha.


"Amiin..." Jawab Liha.


"Oh iya Kak, ngomong-ngomong... bagaimana kabar Bu Citra?" Tanya Midah. Ia tidak tahu kelanjutan kasus penculikan tiga bulan yang lalu.


"Kami akhirnya damai Sum, Papa Ilham yang menjamin istrinya bahwa tidak akan melakukan kejahatan lagi." Jawab Liha.


"Sudah beberapa kali, Mama Citra menjenguk Ais bersama Papa Ilham." Tutur Liha.


"Syukurlah Kak, kalau begitu apa lagi yang kakak risaukan? Toh, semua masalah sudah selesai,"


"IsyaAllah, kami datang Sum, nanti aku berunding dengan Abi nya Ais." Jawab Liha antusias. Liha memang sudah rencana datang ke acara pernikahan Midah, tetapi Liha pikir acaranya di Jakarta.


"Tapi kenapa kamu masih disini Sum? Bukanya seharusnya kamu sudah mempersiapkan segala sesuatunya di kampung?" Liha menyambung pertanyaan.


"Iya Kak, soalnya urusan baju, cetak undangan, dan pernak pernik lainya, Mama yang mengurus disini," Tutur Sumidah, tentu membantu calon mertua. Untuk mengurus surat-surat sudah dilakukan Sumidah satu bulan yang lalu.

__ADS_1


"Tapi besok pagi aku akan pulang kok Kak, Ambu juga sudah telepon terus," Sumidah menceritakan jika Ambu menyarankan untuk segera pulang. Harusnya minggu ini menurut Ambu Sumidah harus dipingit.


"Tante..." Panggil Ais, baru keluar dari kamar memotong obrolan.


"Aisyah..." Sumidah tersenyum menatap Ais yang sedang berjalan ke arahnya.


"Tante... aku sebental lagi mau sekolah." Kata Ais senang, lalu duduk di sebelah Midah.


"Oh... bagus itu, sekolahnya jauh tidak?" Tanya Midah memainkan rambut Ais, yang baru kali ini Midah melihat, karena bisanya bertemu Ais selalu berkerudung.


"Sekolah di dekat apotik Sum, biar sekalian aku awasi sambil kerja." Liha yang menjawab, menceritakan Abu yang ngotot ingin Ais sekolah sejak berumur tiga tahun yang lalu.


Sumidah mengangguk-angguk.


"Sekolahnya TK Tan, nanti balu naik ke SD. Iya kan, Umma," Celoteh Ais, menoleh Liha menceritakan seperti yang Abu tuturkan. Aslihah tersenyum mengacungkan jempol.


"Iya, Ais kan baru 4 tahun, TK 0 kecil dulu, TK 0 bsr, baru SD," Sumidah menjawab.


"Oh... gitu ya Tan." Ais tampak berpikir.


***************


Sementara di butik tampak Nanta berjalan tergesa-gesa menuju ruangan mama Zarina.


"Selamat siang." Jawab Nanta singkat.


Tok tok tok.


"Masuk"


Nanta mendorong handle pintu tampak mama sedang memasukan sesuatu ke dalam tas. Rupanya beliau sudah siap-siap untuk pergi.


"Ada apa Ma?" Tanya Nanta, lalu duduk di depan sang mama tanpa di suruh. Kedatangan Nanta ke butik karena memenuhi panggilan mamanya melalui telepon.


"Ta, Mama 20 menit yang lalu mendapat telepon dari Amel. Katanya Sumi mengurung Amel di tanah kosong. Terus... pagarnya di kunci calon istrimu dari luar." Mama menceritakan apa yang di katakan Amel kepadanya. Mama Zarina tidak tahu jika Amel memutar balikkan fakta.


"Tomboy mengurung Amel? Terus apa alasanya Ma? Tidak mungkin." Sanggah Nanta.


"Makanya kita segera meluncur kesana Ta, apa benar yang dilakukan Midah." Mama Zarina pun beranjak di ikuti Nanta. Mereka diantar supir mengendarai mobil Tara.

__ADS_1


"Lokasinya berada dimana Ma?" Tanya Nanta, masih tidak mengerti mengapa Midah bisa bersama Amel.


"Di perumahan xxx Ta."


"Oh, aku tahu Ma, tadi Sumidah telepon aku pamit mau mengantar undangan ke rumah Aslihah," Nanta mulai mengerti.


"Tapi yang aku tidak habis pikir, mengapa Midah bisa bertemu Amel Ma," Nanta penasaran dibuatnya.


"Mama tidak tahu Ta, tetapi 10 menit yang lalu, Amel datang ke butik, terlihat sedih sekali ketika tahu kamu mau menikah dengan Sumidah," Mama menjelaskan.


Hingga tidak mereka sadari jika mobil sudah tiba di depan kediaman Abu.


"Ma, ini kan mobil Bulan yang di kendarai Tomboy." Nanta membuka kaca, menatap plat nomor mobil.


"Berarti, Sumidah saat ini berada di dalam rumah Aslihah. Gitu kan maksud kamu?" Tanya Mama.


"Benar Ma, coba aku telepon Tomboy dulu," Nanta telepon Midah berkali-kali namun tidak di angkat.


"Sekarang lebih baik kita bebaskan Amel dulu." Mama Zarina menyalakan gps melacak keberadaan Amel.


"Pak Budi, tolong ikut kami ke belakang komplek perumahan ini ya," Perintah Zarina kepada supir pribadinya.


"Baik Nyonya." Pak Budi segera turun lebih dulu membukakan pintu untuk kedua bos nya. Mereka beriringan melewati pinggir tembok komplek masih ada jalan sedikit yang tidak di tumbuhi rumput.


"Tanah ini milik siapa Ta?" Tanya Mama Zarina, beliau berjalan paling depan tampak hati-hati agar tidak tergores tanaman berduri.


"Tanah ini masih milik komplek Ma, hanya belum dibangun semuanya," Jawab Nanta. Dulu pernah mendengar cerita Abu.


Mereka pun tiba di belakang komplek. Tanah yang dipagar dan diberi pintu gerbang itu memang sengaja tidak di bangun karena untuk penyerapan air.


"Amel..." Panggil Mama dari luar.


"Tante... tolong aku Tante... aku tidak bisa keluar, kuncinya disembunyikan sama Tomboy." Adu Amel menagis, mengarang cerita dari dalam pagar. Padahal kuncinya dia sendiri yang sembunyikan.


Mama menatap wajah Amel, tampak merah-merah di lihat dari gerbang berwarna hitam itu. Mungkin terkena goresan daun ilalang yang panjang tajam dan gatal jika kena kulit. Mama Zarina tidak tega melihat anak sahabatnya yang biasa manja berada di tempat seperti itu. "Tenang Mel, kami akan berusaha menolong kamu," Mama Zarina meyakinkan.


"Terimakasih Tan, hiks hiks hiks,"


"Pak Budi, bisa tolong memanjat pagar?" Tanya mama Zarina.

__ADS_1


"Saya akan berusaha Nyonya." Dengan lincah seperti Midah tadi, pak Budi memanjat gerbang. Sementara Nanta sejak tadi hanya mengotak atik handphone menulis pesan untuk Sum, karena teleponnya tidak diangkat.


...Bersambung....


__ADS_2