Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Main petak umpet.


__ADS_3

Tok tok tok


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Ceklak


"Selamat sore Bu... Midah nya ada?" Tanya pria bertubuh jangkung mengejutkan Ambu. Walaupun putrinya kebanyakan mempunyai teman pria, tetapi yang satu ini berbeda. Ambu menatap tamunya sambil mengingat-ingat siapa dan pernah bertemu dimana. Sebab wajah anak itu familiar, tetapi yang jelas belum pernah datang bersama Midah.


"Anak ini siapa?" Ambu menganggukan kepala sopan.


"Saya Junaedi Bu" Junaedi tersenyum ramah.


"Oh, masuk Nak" Ambu sudah paham pria ini yang menyebabkan ketiga anaknya bertengkar setelah mendengar namanya Junaedi.


"Silahkan masuk Nak, duduk dulu saya panggilkan Sumidah," titah Ambu.


Junaedi masuk rumah sederhana namun sangat rapi. "Bu, boleh saya mengganggu waktu Ibu sebentar" pinta Junaedi ketika Ambu hendak memanggil Sumidah.


"Ada apa Nak, silahkan duduk" Ambu duduk berhadapan dengan Junaedi menatap pria yang tampak sempurna dan santun.


"Bu, sebelumya saya minta maaf, mungkin Sumidah sudah cerita mengenai kesalahpahaman di minimarket tadi. Saya tidak bermaksud apa-apa hanya ingin bersahabat dengan putri Ibu," Juned berkata lancar.


"Nggak apa-apa Nak, masalah ini lebih baik kamu bicarakan dengan Midah" Ambu menangkap jika pria ini sebenarnya baik hanya caranya yang salah.


"Oh iya, anak ini asli daerah sini?" Tanya Ambu mengalihkan pembicaraan.


"Betul Bu, kebetulan saya merantau di Jakarta dan saat ini sedang pulang kampung" Juned ngobrol panjang lebar. Sesekali Ambu melempar pertanyaan dan yang terakhir menanyakan tentang siapa keluarga Junaedi.


"Saya anaknya Bu Suprihatin Bu," Juned memperkenalkan diri.


"Suprihatin istrinya Pak Endang?" Ambu menegaskan.


"Betul Bu..."


"Ya Allah... ternyata kamu ini Edi anaknya sahabat saya?" Ambu terkejut. Pantas saja, wajah Juned mirip Atin sahabatnya.


"Jadi... Ibu mengenal orang tua saya?" Junaedi tak kalah terkejut.


"Iya Nak, tapi kamu pergi sejak lulus SD kan? Makanya Ibu tidak kenal sama kamu, ternyata kamu menjelma menjadi pria tampan," Ambu kagum. Ambu mengingat-ingat, Junaedi ketika lulus SD diajak pamanya adik kandung Suprihatin, sekolah di Jakarta. Tentu keadaan Suprihatin dulu tidak seperti sekarang.

__ADS_1


"Betul Bu"


"Kalau gitu Ambu panggilkan Sumidah dulu," Ambu masuk ke kamar Midah. Midah tampaknya hanya gulang guling di ranjang.


"Ambu..." Midah terkejut karena tiba-tiba Ambu sudah berdiri di samping ranjang.


"Sum, Junaedi sudah datang, katanya kamu mau mengembalikan uang," kata Ambu.


"Iya Mbu" Midah segera bangun menyandak kerudung pendek lalu menutup kepalanya.


"Oh iya Sum, Junaedi itu ternyata anak teman Ambu, sebaiknya kamu bicara baik-baik jangan marah-marah. Nggak baik anak perempuan marah-marah tuh," nasehat Ambu.


"Iya Mbu, aku nggak marah kok cuma nggak senang saja, kalau sikapnya lancang seperti tadi" tegas Midah kemudian keluar dari kamar di ikuti Ambu. Ambu langsung ke dapur sementara Midah menemui Juned.


Sum tiba di depan pria yang sedang memainkan ponsel. Rupanya Junaedi tidak menyadari kehadiran Sumidah.


Cling cling.


Hp Midah berbunyi rupanya ada pesan masuk, hp yang sudah diganti batrai baru oleh Anda, tentu sudah bisa menyala dengan baik. Juned mendongak baru menyadari jika orang yang dicari sudah berada di depanya.


"Sumidah" ucapnya seketika berdiri.


"Kebetulan kamu kesini Juned, jadi saya tidak usah susah-susah mencari kamu! Aku cuma mau mengembalikan uang yang kamu berikan kepada kedua adik saya," Midah merogoh kantong celana jins lalu meletakkan uang di atas meja.


"Ambil uangnya!" ketus Midah.


"Okay... uangnya aku ambil" Juned ambil uang itu cepat memasukan ke dalam dompet.


"Aku minta maaf Midah, tetapi kamu harus tahu, tujuan aku memberikan uang tidak ada maksud lain. Lain kali aku tidak akan mengulangi lagi, ternyata ini menyinggung perasaan kamu, tapi boleh kan aku menjadi sahabat kamu,"


"Di minum dulu Nak Edi" Ambu menyuguhkan minuman.


"Terimakasih Bu, tidak usah repot" kata Juned.


"Nggak ada yang repot, sekarang kalian ngobrol santai saja, sekalian dicicipi kue buatan Ambu," Ambu kembali ke dapur setelah Juned mengucapkan terimakasih.


Junaedi pun akhirnya mengajak ngorol panjang lebar, karena Juned pria asik akhirnya nyambung. Yang awalnya Sumi selalu ketus kini sudah tidak lagi. Pada akhirnya sore itu mereka minta ijin Ambu jalan-jalan sore.


**********


Di kediaman Abu dan Liha kini sedang kedatangan tamu yakni Rembulan dan suaminya. Jika Abu ngobrol bersama Tara di ruang tamu, sambil mengasuh anak mereka. Saat ini di dapur kedua ibu muda sedang memasak sambil ngobrol.

__ADS_1


"Jadi... kamu mau bekerja di apotek kita Liha?" Tanya Rembulan.


"Betul Lan, sebenarnya Kak Abu tidak boleh, tetapi aku tidak betah, jika hanya diam di rumah begini," curhat Liha.


"Sama Liha aku juga begitu, makanya aku selalu membantu Tara mengerjakan yang bisa. Tapi kalau Sumidah lagi nggak ada begini, sama sekali nggak bisa berkutik," Bulan tentu fokus mengurus putra nya.


"Oh iya Bulan, lalu bagaimana, apakah sudah tahu keberadaan pengasuh Rangga?" pertanyaan ini yang akan di tanyakan Aslihah, namun belum ada kesempatan.


"Sumidah ternyata pulang kampung Liha, kami mengutus supir agar menjemputnya, di temani Nanta, mungkin nanti malam sudah sampai disana," tutur Bulan.


"Nanta? Siapa itu Bulan?" Aslihah belum pernah bertemu Ananta.


"Ananta itu sahabat suami aku Liha, padahal kalau bertemu Sumidah selalu bertengkar seperti kucing sama Anjing, tetapi giliran hilang dia ikut mencari." Bulan geleng-geleng kepala jika ingat Nanta dan Sum bertengkar di rumah nya.


"Oh gitu...." Liha manggut-manggut paham. "Gerah Lan" ujar Liha setelah masakan matang.


"Kamu mandi dulu saja Liha," saran Bulan, yang sudah menata makanan di meja makan.


Karena sudah merasa gerah Liha pun ke kamar, ambil handuk kemudian mandi, mengguyur tubuhnya terasa segar. Liha menutup tubuhnya dengan handuk kemudian keluar.


Ia tidak tahu jika cogan sedang rebahan di ranjang, mendengar derit pintu kamar dibuka pria itu pasang telinga.


Liha membuka lemari niatnya mau ambil baju ganti, berdiri jinjit agar tanganya bisa ambil baju yang di gantung dengan hanger. Liha tidak menyadari jika di belakangnya ada yang menelan saliva, menatap paha mulus.


Abu berjalan pelan menuju pintu.


Ceklak-Ceklak.


Mendengar pintu di kunci Liha menoleh. Pria berjenggot tipis tersenyum ke arahnya.


"Liha..." di rangkulnya tubuh yang hanya berbalut handuk dari belakang. Aroma sabun membuat sekujur tubuh Abu menegang.


"Kakak... Ais kemana?" Liha berusaha lolos dari tubuh kekar itu. Namun tidak berdaya.


"Tenang saja, Ais ikut jalan-jalan ke komplek bersama Tara dan Bulan" ujar Abu. Dengan cepat Abu menggendong tubuh istrinya membopongnya ke ranjang.


"Kakak mau apa?" Liha menutup dadanya dengan bantal. Padahal Abu sudah berhasil menindih wanita berkulit putih itu.


"Kakak... Sumidah di jemput Nanta ke Tasik loh," Liha mengganggu konsentrasi Abu.


"Seeeetttt..."

__ADS_1


Rupanya Abu sudah tidak perduli dengan siapapun saat ini, ia memilih menarik selimut dan main petak umpet di dalam bersama Liha.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2