
"Tomboy... loe cantik" puji Nanta ketika sudah dalam perjalanan menuju kediamannya. Nanta selalu melirik gadis yang sudah mengisi ruang hatinya.
"Nggak punya receh" jawab Sumidah enteng. Ia berpaling menatap jalanan. Padahal hanya menyembunyikan wajahnya yang tersipu malu.
"Oh iya, kalau di rumah nanti jangan panggil gw dengan embel-embel apapun selain Mas di depan Mama ya" kata Nanta, dengan nada perintah.
"Seperti orang jawa saja. Mau dipanggil Mas" Midah beralasan karena lidahnya terasa kelu untuk mengucap kata, Mas.
"Kata siapa gw bukan orang jawa, almarhum bokap gue asli jawa kok. Jadi gw keturunan orang jawa tulen" papar Nanta.
"Oh, pantas... kamu jangkung, orang jawa kenapa kebanyakan jangkung ya" Sumidah kali ini memutar tubuhnya menghadap Nanta yang sedang fokus dengan setir.
"Kamu mau tahu kenapa pria jawa tinggi-tinggi?" Tanya Nanta.
"Kan, ditanya malah nanya, kebiasaan!" sungut Midah.
"Karena konon orang jawa kalau sunat menunggu usia 8 sampai 10 tahun" Nanta senyum-senyum.
"Atuda, aya-aya bai, keburu berbulu atuh" jawab Midah. Gayanya yang ceplas ceplos tidak menyadari jika ucapanya membuat Nanta terbahak-bahak.
"Kamu tuh, jadi orang nggak percayaan sama gw Tomboy" Nanta menyembunyikan rasa malu nya. Ketika Sumidah menyebut bulu.
"Cek! Mitos itu mah, sunat tidak mempengaruhi tingi atau pendek anak-anak. Contohnya Endar, walaupun disunat baru berumur satu tahun, tapi dia lebih tinggi dari Anda yang disunat kelas 5 SD" Sum tidak mau kalah.
"Eh, kok malah membahas sunat sih" Midah tersadar yang di ajak bicara adalah Nanta. Midah seketika menutup wajahnya merasa malu.
"Ahaha..." Ananta tertawa ngakak. Ketika melihat perubahan Midah sangat lucu dan menggemaskan.
"Oh iya, tadi sore loe darimana?" Tanya Nanta. Kali ini serius pertanyaan ini sudah akan ia tanyakan sejak sore tadi. Namun belum ada kesempatan.
"Oh, ambil motor Kak Juned ke bengkel" jujur Midah.
"Motor Juned? Kenapa jadi loe yang sibuk?" Cecar Nanta posesif.
"Ya iya lah, motor Kak Juned kan waktu itu aku yang menabrak sampai ringsek, wajar lah kalau saya bertanggungjawab" papar Midah.
"Terus, kalian ngapain berdua-duaan di dalam bengkel?" Tanya Nanta ngawur. Di bengkel jelas bukan hanya berdua, tetapi banyak orang.
__ADS_1
"Pikir saja sendiri, di dalam bengkel itu tidak hanya berdua, karyawannya ada puluhan. Dan disana adanya besi tua, bukan ranjang seperti di hotel. Jadi, dikondisikan bicaranya." Tandas Midah.
Ananta pun mengalah, ucapan Midah memang benar. Setelah dari Tasik beberapa waktu yang lalu, ia sering cemburu jika Midah berdekatan dengan Juned. Keduanya saling diam hingga beberapa saat kemudian mobil yang di kendarai Nanta tiba di depan rumah.
"Kak, aku takut kalau Mama kamu tidak mau memaafkan aku bagaimana." Midah membuka percakapan, ia merasa khawatir, sebab ketika kesini seminggu yang lalu tidak menceritakan jika dia asisten Bulan.
"Kamu ini aneh Tomboy, aku mengajak kamu kesini itu... karena Mama mau mengenal kamu lebih dekat. Kok malah takut" Ananta melirik ke kiri ada ketegangan di mata Midah.
"Kamu kalau sama aku seperti kucing siap menerkam, tetapi kenapa kalau sama Mama ketakutan terus sih..." Ananta tertawa.
"Ih, serius nih, kamu kan memang rese seperti tikus. Sedangkan Mama kamu, orang tua yang harus di hormati." Midah merengut kesal.
"Apa kamu bilang? Aku kamu samakan dengan tikus?! Keterlaluan." Nanta menekan kedua pipi Midah. Mereka berhadapan, wajah Nanta maju menatap lekat mata Midah dari jarak hanya satu sente.
Ceklak.
"Kalian..." Mama Zarina menatap kedua remaja di depan pintu itu tidak percaya.
Midah mendorong tubuh Nanta sekuat tenaga dan.
"Aow" Nanta tersungkur di lantai teras. Namun segera bangkit.
"Mama..." ujar Nanta. Kala mendapati wajah mamanya yang sedang menatapnya horor, kemudian menunduk.
"Tante... kami tidak melakukan apa-apa" kata Sumidah menjelaskan kepada mama Zarina yang masih berdiri di depan pintu, melipat kedua tangannya.
Rasa takut Midah karena berbohong kemarin belum hilang, justeru malah ada salah paham lagi. Midah menatap mama Zarina yang sudah balik badan masuk meninggalkan dirinya. Ia tidak enak hati. Kesan pertama sudah membuat beliu kecewa.
Midah melempar tatapan kesal kepada pria di dekatnya. "Kamu sih, aaggg..." Midah mendelik gusar.
"Kok kamu malah nyalahin, bokong aku sakit ini" Nanta meringis mengusap bokongnya. Padahal tidak apa-apa tetapi pria satu ini jago akting.
"Nanta... masuk..." panggil mama Zarina dari dalam.
"Ya, Ma" Nanta masuk. Midah membuntuti, dengan perasaan ketar ketir. Hingga tiba di depan mama Zarina, Nanta duduk lebih dulu, sebelum berbisik kepada Midah agar mengikutinya. Sementara Midah menunduk meremas kedua telapak tanganya. Ia merasa takut seperti terkepung Harimau.
"Midah kamu duduk disini" titah mama Zarina.
__ADS_1
"Terimakasih Tante" Midah mengangkat kepala cepat, tidak menyangka jika mama akan berkata lembut, ia pikir akan menghardiknya. Midah mencoba duduk dengan sopan melipat dua kaki bagian bawah agar tidak renggang. Walapun biasanya petakilan Midah akan belajar agar tidak memalukan di depan orang-orang elite.
"Kalian memang benar-benar sudah saling mencintai?" Tanya Zarina langsung pada intinya.
"Sudah Ma" Nanta menjawab cepat.
Sementara Midah menggigit bibir bawahnya.
"Kamu Midah..." Sambung mama Zarina.
Midah mencoba tegak lurus menatap mata mama Nanta agar jangan terlihat bodoh. "Nyonya... saya hanya orang rendahan tentu tidak pantas mencintai pria seperti putra Nyonya." Tegas Midah.
Tangan Nanta mencolek pinggang Midah. Tentu ia kecewa akan jawaban Midah. Namun Midah tidak merespon kode Nanta.
"Lalu seperti apa wanita yang cocok untuk putra saya?" Tanya Zarina.
"Maaf jika saya lancang Nyonya..." panggilan Midah yang awalnya tante pun berubah. Kini sudah saatnya Midah blak-blakan membuka jati diri. Sakit sekarang akan lebih baik daripada nanti ketika Sumidah berjodoh dengan Nanta dan pada akhirnya Zarina tidak menyukainya.
"Bukankah Nyonya sudah mempuanyai calon untuk putra Nyonya. Wanita yang bernama Amelia, saya rasa selevel dengan Mas Nanta."
"Midah...!" Dengus Nanta serius, bukan jawaban itu yang ingin Nanta dengar dari mulut Sumidah.
"Sudah... kalian jangan tegang. Midah, jika saya merestui kalian apakah kamu bersedia menikah dengan Ananta?" Tanya Zarina.
"Tapi saya ini hanya pengasuh Nyonya, bahkan ibu saya bera-"
"Saya tahu Midah, kamu berasal dari Tasik, Ibu kamu seorang janda seperti saya, dan kamu pengasuh putra nya Tara suami Rembulan kan." Dengan gamblang Zarina melanjutkan penuturan Midah yang tersendat.
"Nyonya..." Midah terkejut.
"Ananta sudah menceritakan semuanya, dan saya tidak ingin kalian berbuat yang tidak-tidak. Untuk menghindari Zina, kami akan melamar kamu ke rumah orang tua kamu." Tegas Zarina.
"Nyonya..." Sumidah terkejut akan permintaan nyonya Zarina. Tidak percaya apa yang beliu ucapkan.
"Sekarang jawab dengan jujur Midah? Apakah kamu bersedia menjadi menantu saya?"
...Bersambung....
__ADS_1