
Puas mandi bola Ais merasa haus, dengan senang hati Abu membelikan minuman dan cemilan. "Liha... kamu mau belanja sekalian?" Tanya Abu.
"Paling membeli susu untuk Ais Bi" jawab Liha. Kebutuhan dapur baru belanja akhir bulan dua minggu yang lalu tentu masih ada.
Aslihah ambil susu balita kemudian membawanya ke kasir. Ia membuka tas ambil kartu ATM.
"Liha... kenapa kamu memakai ATM milik kamu sendiri? ATM milik aku sudah kosong?" Cecar Abu. Padahal ia sudah melarang istri nya agar jangan menggunakan gaji Liha untuk kebutuhan rumah tangga.
"Masih banyak Bi, tapi kan..." Liha tidak melanjutkan ucapanya.
"Tapi karena untuk kebutuhan Ais, lantas kamu tidak mau memakai uang aku, gitu kan! Maksud kamu?!" Abu tersinggung atas sikap Liha. Dengan begitu Liha masih meragukan kasih sayangnya terhadap Ais.
"Bukan begitu Bi... ya sudah, aku pakai ATM kamu dech" menatap wajah Abu yang tidak biasa, Liha segera melakukan yang Abu mau.
"Nah, gitu dong" pungkas Abu, setelah Liha membayar di kasir, lantas mereka kembali ke apotek.
********
Hari berganti, tibalah saatnya hari minggu, seorang pria sedang mengendarai motornya tersenyum di balik helm. Ia senang, hari ini punya alasan untuk menolak gadis pilihan sang Mama yang akan di jodohkan dengannya.
Flashback on.
"Nanta... hari minggu nanti Mama akan memperkenalkan gadis yang cocok untuk kamu" Ibu paruh baya itu rupanya gelisah. Sudah hampir usia 27 tahun, tetapi putranya belum pernah mengenalkan seorang wanita kepadanya. Mama pikir anaknya itu tidak normal.
"Mama tidak perlu repot, aku sudah punya calon" Jawab Nanta asal. Saat ini anak dan ibu itu baru saja selesai sarapan, sebelum berangkat ke kantor dan ke butik.
"Kalau begitu kenapa kamu tidak mau mengenalkan gadis itu kepada Mama" sesal Mama Zarina. Mama Zarina tentu ingin segera mempunyai cucu. Padahal teman-teman Nanta kebanyakan sudah mempunyai anak, termasuk Bumantara.
"Tenang Ma... Nanti kapan-kapan... aku kenalkan gadis itu sama Mama" jawab Nanta seraya mengenakan sepatu. Sudah berpakaian rapi hendak ke kantor.
"Mama tidak percaya! Hari minggu besok akan mengenalkan gadis pilihan Mama, pasti kamu cocok dan langsung menyukainya" ujar mama Zarina sambil berlalu meninggalkan Nanta yang baru merapikan celana bahan yang ia gulung ke atas.
__ADS_1
"Maa... tunggu Maa..."
Teriak Nanta. Namun Mama Zarina sudah masuk ke dalam mobil menuju butik.
"Aaahhhggg..." Nanta meninju angin.
Flashback off.
Motor pun akhirnya tiba di rumah Bulan, seperti biasa Nanta mendorong pagar. Bersamaan dengan itu Sumidah yang sudah siap berangkat seperti biasa mengenakan celana jins dan kaos lengkap dengan kerudung yang ia pakai asal.
"Ayo kita segera berangkat" Nanta sudah bertengger di atas motor besarnya.
"Tunggu dulu, sebenarnya saya ini akan kamu suruh mengerjakan apa?" Midah takut jangan-jangan Nanta penyalur gadis-gadis kepada pria hidung belang. "Hiii... seram"
"Apanya yang seram Tomboy, pekerjaan kamu hanya pura-pura menjadi calon istri aku di depan Mama, itu saja"
"Pura-pura menjadi calon istri? Oh tidaaak... jadi kamu mengajari aku untuk berbohong!" Tandas Midah. Di suruh pura-pura menjadi calon istri kepada orang tua pula, walaupun begitu, Midah tentu takut dosa, Ambu selama ini tidak pernah mengajari berbohong.
"Plak!" Tangan Midah pun mendarat di punggung Nanta.
"Aaggg... sakit tomboy... tangan kamu itu kalau mukul lebih keras daripada palu, tahu!" Nanta meringis.
"Kapok"
"Sudah ayuk, jangan buang waktu lagi" secepatnya Nanta menarik tangan Midah, memaksanya naik ke atas motor.
"Tunggu! Mama kamu bukanya Nyonya Rina ya? Beliau kan sudah pernah bertemu saya sekali, kalau sampai mengenaliku bagaimana?" Midah pernah bertemu nyonya Zarina ketika menghadiri acara syukuran kehamilan Rembulan yang ke empat bulan.
"Alaah... itukan sudah hampir dua tahun Tomboy... mungkin Mama sudah nggak ingat, lagian loe itu sudah kelihatan tua tidak seperti dulu lagi, makanya jangan gr"
"Plak!"
__ADS_1
"Aow.... Tomboy?! Belum jadi bini saja loe sudah plak plok! Jika jadi beneran habis gw" Nanta geleng kepala tangan Midah kalau mukul sakit benar.
"Siapa juga yang mau menjadi bini kamu!" Kali ini Midah sudah naik ke atas motor, ketika duduk berpegangan bahu Nanta. Sang empu tersenyum tertutup helm. Motor pun melesat pergi hingga tiba di sebuah salon, Nanta menghentikan motornya.
"Kok berhenti disini?" Tanya Midah ketika helm sudah terbuka.
"Ini bagian dari pekerjaan kamu" Nanta menggandeng tangan Midah.
"Jangan cari kesempatan!" Midah menghempas tangan pria di sampingnya. Pria itu hanya tersenyum.
"Loe itu kalau nggak ngomel-ngomel seberapa menit gitu, bibir loe kedutan" Nanta mencubit bibir Midah.
"Kan! Kan, lancang!" Sungut Midah, mereka pun masuk ke dalam salon, Nanta menemui wanita yang berdandan cantik berbicara sesuatu entah apa yang mereka bicarakan. Nanta menyuruh Midah agar mengikuti wanita itu, sementara Nanta menunggu sambil memainkan ponsel.
Satu jam kemudian. "Coba Nona berkaca dulu" kata wanita yang sudah menyulap wajah Midah.
"Hah..." Midah terkejut menatap wajahnya di depan cermin.
"Nona cantik kan? Sekarang ikut saya" Perias mengajak Midah ke ruang ganti. "Nona sekarang ganti pakaian..." perias memberikan paper bag, kepada Midah.
"Ini darimana Mbak?" Tanya Midah menelisik paper bag. Karena Midah tidak merasa membeli.
"Pakaian ini dari Tuan Nanta, sebaiknya Nona ganti pakaian ini, saya tinggal dulu" kata wanita cantik itu meninggalkan Midah. Midah masuk ke kamar Pas membuka paper bag yang berisi gaun wanita cantik lengkap dengan hijab.
"Kira-kira... aku pantas nggak ya? Mengenakan pakaian seperti ini?" Gumam Midah kemudian membuka celana jins dan kaos.
Gaun terkesan santai namun elegan telah melekat di tubuh Midah. "Mudah-mudahan... aku percaya diri dengan pakaian seperti ini" Midah komat kamit berbicara sendiri. Kebiasaan Midah yang selalu memakai celana, tidak akan mudah jika mengenakan gaun. Ia akan bebas bergerak karena wanita petakilan seperti dirinya tidak bisa bersikap anggun selayaknya wanita feminin.
Selelsai berpakaian Midah keluar dari kamar pas menemui Nanta yang masih asik dengan handphone di tangan. Mata Nanta menangkap kaki yang sudah mengenakan sepatu yang ia belikan berdiri di depan nya. Sengaja Nanta memilih sepatu yang haknya tidak tinggi agar Midah yang biasa mengenakan sandal jepit itu tampil tanpa kesulitan ketika berjalan.
Nanta mengangkat kepala, dari sepatu ke lutut, naik ke perut, dada, dan yang terakhir wajah. Mata Nanta tidak lagi berkedip kala menatap wanita bar bar itu ternyata bisa juga berubah anggun.
__ADS_1
...BERSAMBUNG. ...