
"Sum, tolong antar minuman ini ke ruang kerja Tuan Tara" titah bibi. Dua gelas kopi sudah di buat bibi tinggal di antar.
"Nggak mau Bi" tolak Midah jika ia mengantar minuman pasti akan bertemu Ananta musuh nya.
"Hus! Disini tuh kita kerja Sum, bukan Nyonya, jadi tidak ada penolakan!" Omel bibi. "Lagian kan Rangga sedang tidur bersama Non Bulan," imbuh bibi.
"Iya... Iya..." tak urung Midah membawa nampan ke ruang kerja Tara.
"Huh! Kenapa sih, pria tengil itu kesini? Nyebelin!" Gerutu Midah, sambil berjalan. Tiba di depan pintu ruang kerja. Midah mengangkat satu kaki. Lututnya ia tempel di daun pintu kemudian meletakan nampan di lutut dipegang dengan satu tangan, sebelum mengetuk pintu.
Tok tok tok.
"Masuk saja Bi" jawab Tara dari dalam, yang ia tahu adalah bibi. Sebab Tara menyuruh bibi membuat kopi.
Ceklak.
"Kopi nya Tuan" Sebisa mungkin Midah bersikap sopan kepada Tara, menyembunyikan kekesalanya kepada pria yang fokus mantengin komputer di samping tuanya.
"Terimakasih, simpan disini saja," Tara menunjuk meja di depannya.
"Baik Tuan" dengan hati-hati Midah meletakkan nampan. Tanpa dinyana tangan usil ambil pulpen dan...
Sreett... sreeett.
Nanta mencoret-coret punggung tangan Midah, tanpa bersuara.
Plak!
Midah membalas memukul tangan Nanta sambil berlalu mendelik gusar.
"Sweeekkk... si tomboy..." Nanta mengusap lenganya yang berwarna merah pandanganya tertuju pada langah Midah. Midah menjulurkan Lidah ketika diluar, sebelum akhirnya menutup pintu.
"Pada kenapa sih loe?" tanya Tara.
"Asisten bini loe itu gile bener! Tanganya kayak papan" Nanta merasa tanganya panas kena pukulan Midah.
"Lagian loe, jangan usil sama Dia. Loe nggak ingat ketika Sum melawan tiga penjahat dua tahun yang lalu," kata Tara. Memang benar Sum itu wanita kuat bisa mengalahkan orang suruhan Keke, wanita yang terobsesi dengan Tara. Keke menyewa penjahat untuk menculik Rembulan. Namun Sumidah yang menolong Rembulan dan mampu melumpuhkan musuh.
"Sudah... minum nih kopinya" pungkas Tara.
Nanta menyeruput kopi sedikit kemudian melanjutkan pekerjaan.
Sore harinya setelah ashar di kamar Rangga Sumidah baru selesai memandikan Rangga.
__ADS_1
"Sudah ganteng... Sudah wangi... uhh... gantengnya..." Sum gemas mengajak bicara Rangga ketika mengenakan pakaian bocah yang baru bisa berjalan dan sering jatuh itu.
"Memem..." rupanya Rangga sudah haus.
"Iya... selesai pakaian Rangga nanti terus mam" jawab Sumidah. Dengan terampil ia mengurus Rangga.
"Mam..." Rangga mengangkat mainan yang berwarna terang mengacungkan ke arah Midah.
"Duuh... kamu lucu..." Midah menyisir rambut Rangga. Namun Rangga menggaruknya mungin karena gatal. Setelah Rapi sumidah menyuapi anak montok itu, hingga makanan habis.
"Anak Mama sudah mandi?" Bulan yang sudah cantik selesai mandi pun mendekati putranya dalam gendongan Midah.
"Sudah Non, sudah mamam juga," jawab Sum.
"Mama..." Rangga mengulurkan tangan minta di gendong, Bulan.
"Yuk... gendong Mama sayang..." semenit kemudian Rangga sudah pindah dalam gendongan Bulan.
"Sekarang kamu mandi saja Sum" titah Bulan. "Oh iya saya juga mau kasih tahu kamu, minggu besok kita diundang syukuran ke rumah Kak Abu," Bulan menambahkan.
"Ke rumah Kak Abu Non" Sumidah seketika sumringah.
"Iya, kamu dandan yang cantik ya" Bulan tersenyum sambil berlalu mengajak anaknya ke kamar.
"Terimakasih Non" Sumidah ingin segera mandi sambil berpikir bertemu Kak Abu? Sungguh momen yang di tunggu-tunggu olehnya. Tiba di depan kamar mandi ia lupa belum ambil handuk karena melamun. Yang ada dalam pikiranya hanya Abu-Abu dan Abu. Midah kemudian ambil handuk di jemuran di atas loteng.
Tanpa gentar gadis itu merangkak ke atas genteng seperti hewan melata
"Puuss..." Midah tersenyum lebar kala netranya menangkap 4 ekor kucing. Kucing yang paling besar sepertinya baru beberapa hari melahirkan, dan ketiga kucing imut sedang menyusu. Sumidah ambil salah satu kucing lalu menggendongnya seperti anak kecil.
Sementara di dalam rumah Tara, seorang pria sudah merampungkan pekerjaannya dan berniat pulang. Namun ketika hendak setarter motor besarnya. Pria yang tak lain adalah Ananta menyipitkan mata kala melihat si tomboy di atas genteng di lihat dari kejauhan sedang mencium sesuatu.
"Gw harus jebak Dia" Ananta menyeringai ia segera turun dari motor berjalan ke dapur. "Bibi... ada tangga nggak?"
"Ada Den Nanta, saya ambilkan" tanpa bertanya untuk apa, bibi segera ambil tangga dari gudang.
"Ini Den" bibi tampak keberatan membawa tangga. Sebab biasanya Sumidah yang ahli mengangkat tangga.
"Terimakasih Bi" Ananta tersenyum jail, ingin menjebak si tomboy pasti wanita itu sudah berbuat yang tidak-tidak di atap. Jika tidak ngapain Dia? Nanta bertanya-tanya dalam hati. Ananta memasang tangga di depan rumah kemudian memanjat. Dengan susah payah ia naik ke genteng. "Aku ini laki-laki tidak boleh kalah dengan wanita tomboy itu" gumamnya padahal ia sungguh ketakutan. Seumur hidup belum pernah memanjat.
"Oh my god... ngapain loe?" tanya Nanta ketika mereka sama-sama sudah berada di atas genteng. Nanta menyembunyikan rasa gemetaran kakinya.
"Loe yang ngapain?" Sungut Midah.
__ADS_1
"Loe mesum sama kucing kan?!" tuduh Nanta asal. Ternyata Midah tertangkap mencium kucing.
"Ngaco" Midah mendekatkan dua kucing ke wajah Nanta.
"Tomboy!" Nanta mundur dengan lutut, menatap kaki kucing yang seperti ingin mencengkeram wajahnya. Keringatnya semakin bercucuran.
"Ahahaha... dasar anak Mama, sama kucing saja takut" ledek Midah. Kemudian merangkak mundur menuruni genteng. "Asik... ada tangga" Sum tersenyum lebar tidak perlu ke loteng ternyata ada jalan yang lebih cepat yakni menuruni tangga.
"Bibiii..." pekik Ananta, ketika hendak turun tangga yang ia pasang tadi tidak ada, padahal Nanta sudah gemetaran.
"Bibiii... Taraaa..." karena bibi tak kunjung datang ia mengulangi.
"Bibi lagi mandi Ta, ngapain loe di atas genteng? Bukanya loe tadi sudah mau pulang?" cecar Tara dari bawah mendongak ke atas tidak habis pikir.
"Nanti gw ceritakan Tara, sekarang tolong ambil tangga yang di sembunyikan tomboy!"
***********
Di tempat yang berbeda Abu bersama anak dan istrinya sudah tiba di rumah mewah berlantai dua. "Ini rumah siapa Kak?" tanya Liha. Sebab Abu katanya mau mengajak ke rumah bu Fatimah, tetapi ternyata ke rumah mewah. Aslihah pernah mendengar jika bu Fatimah kontrak rumah bukan tinggal di rumah mewah seperti ini.
"Ini rumah bu Fatimah, Liha... karena beliau menikah dengan pengusaha properti sukses yang bernama pak Handoko" tutur Abu.
"Bukankah yang menikah dengan pengusaha properti sukses itu Rembulan Kak? Kenapa menjadi ibu nya?" cecar Liha.
"Dua duanya Liha, Bulan dan bu Fatimah, memang dipersunting oleh dua pria kaya, hanya berbeda usia," Abu menjelaskan sambil menggendong Aisyah menuju halaman rumah.
Liha mengangguk kagum menatap sekeliling rumah mewah itu, semua itu tidak lepas dari perhatian Abu.
"Tetapi kamu tidak boleh menyesal karena mendapatkan suami aku, yang tidak seperti suami Rembulan Liha,"
"Apaan! Sih!" ketus Liha memotong ucapan Abu.
Teng tong... teng tong...
Perdebatan berhenti karena Liha segera memencet bel rumah.
Ceklak!
Wanita paruh baya membuka pintu. "Oh Ustadz Abu" sapa wanita itu menatap Liha dan Aisyah bergantian. Liha mengangguk santun sambil tersenyum.
"Iya Bi, Ibu Fatimah ada?" tanya Abu. Jika di perhatikan interaksi antara bibi dengan Abu, sepertinya Abu sudah sering bertemu. Jelas sering bertemu karena tidak jarang, Abu menginap disini.
"Ada Ustadz, silahkan Masuk" titah bibi. Mereka mengikuti bibi ke dalam.
__ADS_1
"Silahkan duduk Ustadz, saya panggilkan Nyonya,"
...Bersambung....