
PoV Sumidah.
"Ma-Mama," Ucapku terkejut. Tidak menyangka bahwa mertua aku akan ke restoran. Tahu darimana beliau jika restoran ini milikku.
"Sumidah, benar ini kamu Nak?" Mama menatapku lekat. Beliu pun rupanya terkejut.
"Mama..." Sapaku, setelah beberapa saat kami hanya saling pandang. Aku berdiri menghampiri mama kemudian salim tangan.
Mama mertua menarik tanganku hingga aku jatuh kepelukannya. Baju mama tercium aroma jeruk, ketika aku menempelkan dagu ke pundak beliu. Setelah melepas pelukan ternyata baju mama basah.
"Duduk Ma" Ucapku, lalu aku telepon pelayan agar mengirim minuman ke ruanganku, kemudian menyusul mama duduk di sofa.
"Baju Mama basah?" Tanyaku ingin tahu.
"Betul Midah, tetapi Mama senang, baju basah ini ternyata menuntun langkah kaki Mama hingga bisa bertemu kamu." Tutur Mama sambil membersihkan baju dengan tisue.
"Maksud Mama?" Aku tidak mengerti apa yang di katakan mama. Mama lalu menuturkan jika di lantai bawah tadi bertemu Dito yang sedang berlarian hingga menumpahkan juice.
"Maaf Ma, Dito memang anaknya sangat aktif, pengasuhnya pun dibuat kwalahan," Jawabku apa adanya.
"Tetapi bukan itu yang mengganggu pikiran Mama Midah. Sekarang jawab dengan jujur, Dito itu anak Nanta kan? Cucu Mama." Ucapnya yakin.
Aku menunduk, kemarin aku bisa membohongi Nanta, tetapi tentu tidak untuk mertua. Mungkin memang sudah saatnya aku jujur.
"Midah... tolong katakan sayang..." Pinta mama lembut.
Aku mengangguk, lalu menceritakan yang sebenarnya tentang Dito, tidak ada yang aku tutupi lagi.
"Sumidah... hiks hiks hiks, jadi... selama ini kamu membesarkan Dito sendirian Nak? Kenapa kamu tidak menemui Mama," Sesal mama menangis sesegukan.
"Ma... sebenarnya saat Dito lahir, Anda datang ke rumah Mama, bermaksud memberi kabar. Tetapi, saat itu, Anda tidak diijinkan masuk oleh wanita yang mengaku istri Nanta," Aku berkata jujur.
"Apa? Istri?" Tanya mama Zarina terkejut.
"Iya Ma, awalnya saya tidak percaya begitu saja, apa yang dikatakan Anda. Lalu saya telepon Nanta sendiri," Aku menarik napas sesak mengingat kala itu.
"Tetapi ternyata benar Ma, ketika saya hubungi Nanta yang mengangkat handphone bukan Nanta, melainkan perempuan." Kataku.
"Lalu apa kata wanita itu?" Potong mama tidak sabar.
"Wanita itu mengatakan bahwa Nanta adalah suaminya. Ia bilang, Nanta sedang tidur tidak boleh diganggu, gitu Ma. Lalu wanita itu memutuskan sambungan telepon begitu saja." Tuturku menirukan ucapan wanita di telepon kala itu.
__ADS_1
"Kapan kejadian itu sumidah, kenapa kamu tidak memberi tahu Mama?" Tanya Mama, tampak kecewa.
"Sudah tiga tahun yang lalu Ma, karena usia Dito saat ini sudah 3 tahun," Jawabku.
"Kamu ini Midah... tega sama Mama, Dito sampai umur 3 tahun, tidak nemberi tahu Mama," Mama geleng-geleng kepala.
"Maaf Ma"
"Ya sudah... yang penting kalian baik-baik saja, dan bisa melewati semua ujian yang kamu hadapi,"
"Mengenai wanita itu jangan percaya Midah, selama ini suami kamu itu terus menerus memikirkan kamu. Jadi sama sekali tidak kepikian untuk menikah lagi. Jika ada wanita yang di rumah saat itu hanya Amel orangnya." Tutur mama.
"Kamu kan tahu, Midah... siapa Amel. Jika bukan karena Mama dengan Ibunya bersahabat tidak akan saya ijinkan main ke rumah lagi."
Mama menceritakan saat Dito lahir, Nanta sedang keluar negeri bersama Tara. Selama satu tahun mereka disana mengurus bisnis. Karena handphone Nanta ada dua, yang satu ia tinggal di rumah.
"Sumidah... jika saat itu Mama tahu keberadaan kamu, pasti Mama akan menunggui kamu Nak. Jangan kamu kira selama kamu pergi, Mama tidak mencari kamu, tetapi entahlah. Mama seperti kehilangan jejak kamu." Tutur Mama.
"Maafkan Midah Ma," Sesalku lirih.
"Midah... Mama sudah tua, tidak ada hal yang membuat Mama lebih bahagia selain anak dan menantu Mama bisa berkumpul dan hidup bahagai Nak," Kata Mama netranya mengembun.
"Saya mengerti Ma."
"Dito... sini sama Oma sayang..." Kata Mama, mengansunkan tangan. Dito perlahan-lahan menatap mama.
"Ayo, di gendong Oma," Mama mengulas senyum.
"Oma nggak malah sama Dito?" Tanya Dito polos. Pada akhirnya mendekati mama dan mau di gendong.
"Nggak sayang... Oma tidak marah. Dito kan tidak sengaja," Mama meyakinkan Dito dan mengajaknya ke bawah.
Aku mengikuti mama ternyata di bawah nyonya Maya sudah memunggu.
"May... lihat ini, cucu aku." Kata mama bangga memamerkan Dito dalam gendongan kepada nyonya Maya.
"Cucu! Jangan bercanda Rin," Bantah nyonya Maya belum melihat ke arahku.
"Nyonya..." Sapaku kepada mantan majikan aku itu. Aku menjabat tangan beliu lalu menciumnya.
"Kamu disini Sumidah? Berarti, Dito itu anak kamu dengan Nanta?" Cecar nyona Maya.
__ADS_1
"Benar May, makanya aku tadi kaget saat melihat Dito seperti melihat bayangan Nanta sejak kecil," Tutur mertuaku seraya mengusap kepala Dito.
Kami pun ngobrol panjang lebar. Mama di restoran hingga sore, kemudian mengajak aku ke rumah. Sebelum berangkat aku telepon Ambu minta ijin ke rumah mama. Tentu Ambu senang sekali mendengarnya.
Aku titipkan restauran kepada Aulia orang kepercayaan aku sebelum akhirnya kami berangkat dengan mobil masing-masing.
Tiba di Jakarta menjelang ashar kami di ajak ke kamar Nanta.
"Ini kamar kamu Midah, terus kamar Dito dengan Surti di sebelah," Tutur mama.
"Terimakasih Ma." Aku menjawab, lalu mengajak Dito ke kamar sebelah seperti yang sudah di tunjukan oleh mama. Sungguh luar biasa mengejutkan kamar Dito sudah lengkap dengan lemari, dan tempat tidur anak-anak.
"Barang-barang ini baru Nanta beli kemarin Midah. Mama sempat heran, tetapi ketika Mama tanya kata Nanta "surprise." Tutur mama, menirukan ucapan Nanta. Kami pun tertawa, sebelum mama akhirnya ke bawah.
"Dito, sekarang mandi sama Mbak Surti ya," Aku usap kepala anakku lembut.
"Iya Bun"
"Bun, kita mau nginap disini ya, memang ini kamal siapa Bun?" Tanya Dito. Dito memang selalu ingin tahu. Kadang aku selalu bingung menjawabnya.
"Ini kamar Oma," Jawabku, tidak mau menjelaskan panjang lebar, biar Nanta sendiri yang menjelaskan.
"Yuk, mandi sama Mbak," Ajak Surti lalu membuka lemari hendak ambil handuk seperti yang ditunjukan mama.
"Waah... baju Dito sudah banyak..." Seru Surti. Aku mendekati lemari terkejut. Kapan Nanta, membeli ini semua. Padahal baru dua hari yang lalu dari puncak.
"Ya sudah... pilih saja Sur, saya mandi dulu ya," Pungkasku.
Sore itu aku mandi yang pertama kali di kamar Nanta. Selesai mandi aku bingung tidak membawa baju ganti lalu membuka lemari Nanta. Aku terkejut ternyata di lemari Nanta pun sudah banyak baju wanita.
"Jangan-jangan... ini baju istri Nanta," Gumamku.
"Ini memang baju-baju milik istriku," Suara familiar di telingaku. Aku terlonjak kaget. Kala Nanta merangkul aku dari belakang. Padahal aku hanya mengenakan handuk.
"Awas ih! Aku mau ganti pakaian dulu," Usirku ingin melepas tangan Nanta. Namun pria itu rangkulanya sangat kuat tentu aku tidak mampu untuk berkutik.
Seluruh tubuhku terasa merinding, kala napasnya menyapu leherku, jujur aku rindu seperti ini. Tanpa aku sadari mataku terpejam.
"Sumidah..." Ia angkat tubuhku ke atas ranjang.
Cubit-cubitan, Oee.
__ADS_1
Senggol-senggolan.
...~Bersambung~...