
Mobil mewah milik Tara dikemudikan wanita yang merangkap sebagai pengasuh anak, dan supir itu yang tak lain adalah; Sumidah melaju sedang.
"Lihat Mas, Sum senyum-senyum sendiri" bisik Rembulan kepada Tara yang sedang memangku Rangga. Tara yang awalnya fokus dengan putranya kini mengangkat kepala melempar tatapan kepada Midah di kaca spion.
"Iya, ada apa Yank?" dahi Tara berkerut.
"Sumidah itu sedang mabuk cinta sama Abu Mas," Bulan tersenyum.
"Sejak kapan?" Tanya Tara, kembali memainkan jemari Rangga.
"Kurang tahu Mas, aku juga tahu belum lama ini, Udin yang kasih tahu" tutur Rembulan.
**********
"Aslihah... Rembulan sudah sampai?" tanya bu Fatimah. Ia datang bersama suaminya membawa buah tangan, kue-kue basah yang Fatimah buat sendiri kas daerah asal. Pak Handoko kemudian bergabung dengan Abu, mereka sengaja datang sore agar bisa ngobrol.
"Belum Bu... memang katanya Bulan mau datang sore ya?" Liha menjawab sekaligus bertanya. Tanganya membantu membawa beberapa kotak kue yang dibawa supir Handoko ke ruang keluarga.
"Katanya sih begitu Liha, memang kalian tidak saling kontak?" bu Fatimah meletakkan kardus di atas meja karena ia pun membawa kue juga.
"Nggak Bu, mau minta nomor hp Bulan sama Kak Abu nggak dikasih, katanya mau kasih kejutan," Liha cemberut, tiap kali minta nomor handphone Rembulan, Abu selalu beralasan.
"Hehehe... Ibu juga dipesan begitu sama suami kamu Liha," bu Fatimah terkekeh.
"Ya Allah... Ibu membawa kue kok banyak sekali," Liha mengganti topik pembicaraan. Ia geleng-geleng kepala menatap tumpukan kardus kue.
"Biarin Liha... Ibu kan sudah pesan sama kamu jangan membeli kue kan..."
"Tidak kok Bu"
"Nenek..." Ais memeluk perut Fatimah manja. "Kok pelut Nenek besal, kalau punya Umma kecil," Ais menatap perut Liha dan Fatimah bergantian.
"Waah... cucu Nenek pintar, di perut Nenek ada dedek bayi..." Fatimah gemas lalu menoel pipi Ais.
"Ais..." Liha tidak enak hati kepada bu Fatimah. "Maaf Bu" imbuh Liha.
"Sudah... jangan dipikirkan Liha, namanya anak-anak Ibu justeru senang anak kamu itu pinter sekali."
"Kakek mana Nek?" Ais mendongak.
"Ada di depan, sana gih samperin," titah Fatimah.
"Holee... ketemu Kakek..." Ais kegirangan segera berlari keluar.
__ADS_1
"Anak kamu lucu banget Liha... jadi ingat Rembulan ketika kecil" Fatimah tersenyum menatap Ais hingga tidak terlihat lagi.
"Kalau Ibu sendiri, kapan kira-kira putra nya lahir?" tanya Liha karena ia sudah diberi tahu bu Fatimah jika hasil usg, bayi dalam kandungan beliu adalah laki-laki.
"Katanya sih dua minggu lagi Liha, kalau dipikir lucu ya... masa wanita tua seperti saya hamil," perasaan Fatimah campur aduk, antara senang, khawatir, dan malu.
"Kata siapa Ibu sudah tua, usia Ibu itu belum genap 40 tahun loh, lagi pula... wajah Ibu masih sangat muda," kata Liha Memang benar. Usia bu Fatimah lebih muda dari bu Indah orang tua Liha, saat ini sudah berusia 45 tahun.
"Bu Fatimah..." Udin dan Novi yang sedang membungkus kue dalam mika dan dibantu sejumlah tetangga terkejut, karena bu Fatimah menghampiri mereka. Udin bersama Novi segera berdiri salim tangan beliu. Mereka pun ngobrol sambil mengemas kue diselingi canda tawa.
Bu Fatimah menceritakan ketika Liha, Bulan, Udin dan Novi kecil dulu. Kadang lucu kerena ulah keempat anak itu kadang bertengkar, nangis guling-guling, tetapi tidak lama kemudian, mengundang gelak tawa.
"Assalamualaikum..." datang wanita cantik hanya seorang diri karena Tara sudah bergabung dengan Abu dan Pak Handoko.
"Rembulan..."
"Aslihah..." kedua sahabat itu pun saling berpelukan.
"Aslihah... kamu tambah cantik saja, ya Allah..." Bulan menatap kagum wajah sahabatnya setelah mengurai pelukan.
"Kamu masih kurang cantik apa Lan? Suami kamu mana?" Tanya Liha.
"Ada di depan bergabung dengan para pria, nanti aku kenalkan kalau kita sudah puas ngobrol," Bulan kembali memeluk Liha.
"Awas-awas jeruk makan jeruk" Udin berseloroh.
"Kalian ini, kita ngobrol sambil duduk Lan" ajak Liha mereka duduk di karpet berbincang akrab. Novi membuat minuman manis dan menikmati cemilan kue bawaan dari bu Fatimah.
"Bu, kue nya enak, seperti kue dari kampung, Ibu beli online ya?" tanya Liha sambil mengunyah.
"Kamu salah Liha... memang kamu lupa kalau Ibuku ini ahli membuat kue" Bulan merangkul pinggang Fatimah dari samping, anak dan ibu itu seperti kakak dan adik.
"Aku tahu sih Lan... tapi masa sih... Ibu sudah hamil besar begini masih membuat kue" kata Liha.
"Liha... hamil tua itu justeru harus banyak bergerak supaya persalinan nanti lancar," bu Fatimah menjawab. Mereka ngobrol panjang lebar tetapi Bulan tidak menyinggung masalah Liha. Bulan belum tahu jika Liha istri Abu. Yang Bulan tahu, Liha berada di rumah Abu karena memang silaturahmi.
Kita tinggalkan dulu, Aslihah dan Rembulan temu kangen kita lihat diluar.
Setelah Abu berbincang-bincang sebentar dengan Bumantara. Tara kemudian beralih membicarakan bisnis properti dengan Pak Han. Abu tentu tidak begitu mengerti mengenai bisnis tersebut.
Abu memilih keluar, ia tahu pasti Midah masih membersihkan mobil maka dari itu, Abu menggunakan kesempatan ini untuk bicara kepada Midah.
Benar saja ketika tiba di depan garasi, tampak Midah sedang membersihkan mobil dengan kemoceng. Abu keluar hanya sendiri sebab Ais sejak tadi bermanja di pangkuan pak Handoko.
__ADS_1
"Midah..."
Pluk!
"Astagfirrullah... kaget A'a" Midah mengelus dada. Menatap kemoceng yang ia pegang mental jauh. Jujur sambil membersihkan mobil, Sumidah sedang mengatur detak jantungnya ketika akan bertemu Abu agar tidak grogi, tetapi kini Abu justeru menghampirinya. Begitulah pikiran Sumidah.
"Boleh saya bicara sebentar Midah?" kata Abu lembut.
"Tentu saja boleh A'a" jangan pingsan-jangan pingsan Midah... inilah penentuan masa depanmu. Hati Midah merasakan di hinggapi ribuan kupu-kupu. Yang Midah tahu, Abu akan mengutarakan cinta kepadanya.
"Kita bicara di teras saja Midah..." Abu berjalan lebih dulu diikuti Sumidah. Abu melungguhkan bokongnya di kursi teras. "Duduklah Midah" titah Abu.
"Iya A'a"
Deg deg deg.
Musik di dada Midah berdentam-dentam, baru kali ini ia duduk sedekat ini dengan pria yang sudah mampu membuat hatinya begitu menyanjung dan mengaggumi. Lebih dari siapapun selain bapak dan Ibu Midah di kampung. Hatinya bergemuruh menanti kata dari bibir Abu yang selama ini Midah tunggu. Midah aku mencintai kamu. Namun sudah menunggu hingga 10 menit Abu tak kunjung mengucap kata itu.
"Midah... saya mau tanya sama kamu, jawab dengan jujur, apakah selama ini kamu menyukai saya?" Abu melirik Midah di samping nya.
Wanita barbar itu mengapa kini menjadi gadis alim tenggorokanya tercekat lidahnya kelu untuk berucap. Dan pada akhirnya gerakan kepala Midah mengangguk mewakili jawaban.
"Midah... sebelumya saya minta maaf, karena selama ini sudah membuang waktu kamu untuk menyukai saya pria yang tidak sempurna seperti yang kamu kira," Abu berkata diplomatis.
"Apa maksud Kak Abu," Midah tidak mengerti.
"Kamu masih muda Midah... banyak laki-laki yang jauh lebih baik daripada saya,"
"Apa maksud Kak Abu..." Midah mengulangi. Panggilan A'a pun tiba-tiba berganti sendiri dari ucapan Midah.
"Midah... saat saya pulang ke kampung kemarin, sebenarnya saya sudah menikah dengan wanita lain," bibir Abu sebenarnya berat untuk berucap tetapi Abu tidak ingin membuat hati Midah semakin sakit jika Abu menunggu lebih lama lagi.
Jedeeerrr...
Badan Midah lunglai seketika, seolah tulang-tulang nya remuk disambar petir. Air bening pun membanjiri pipi Midah. Yang Midah takutkan kini terjadi, ternyata feling nya ketika Abu meninggalkan kota ini akan menikah ternyata benar.
"Midah maafkan saya... kamu jangan marah maupun kecewa karena kita lebih cocok menjadi adik Kakak."
"Maafkan aku Kak, aku sudah lancang mencintai Kakak, seharusnya aku sadar sejak pertama kali bertemu Kakak. Siapakah aku? Wanita tomboy yang tidak ada bagus-bagusnya di hati pria macam Kakak," tangis Midah tidak bisa ditahan lagi.
"Midah, jangan katakan itu..." Abu memutar pundak Midah menatap sendu mata wanita itu. Seketika Midah menjatuhkan wajahnya ke dada bidang Abu. Midah menumpahkan tangis hingga kaos Abu basah. Abu sebenarnya ingin menyingkirkan kepala Midah, tetapi Abu sungguh tidak tega.
Bersamaan dengan itu Aslihah yang baru keluar hendak mencari Abu melihat suaminya di peluk wanita lain hatinya hancur. Aslihah tidak kuat menatap drama romantis itu dan memilih kembali masuk ke dalam mempercepat langkahnya. Ia tidak percaya bahwa Abu tidak sepolos yang Liha kira. Aslihah tidak menyangka pria yang ia kira mampu menjaga nafsu ternyata salah. Tangis Liha pun akhinya pecah. Liha masuk ke kamar lalu mengunci pintu, selama dua minggu ini hati Liha sudah mulai luluh dengan perhatian dan kasih sayang Abu, tetapi semuanya hanya palsu.
__ADS_1
Udin yang kebetulan berada di tempat itu bingung antara mengejar Aslihah yang hatinya hancur atau mengingatkan Abu agar menjauh dari pelukan Midah.
...Bersambung....