
Keseruan di saung pun berhenti ketika mendengar adzan ashar. "Ayo dek, kita pulang" ajak Midah. Kepada adik-adiknya mengemasi bekas makan mereka yang hanya tinggal tempat saja.
"Okay..." Jawab kedua adik Midah. Endar membantu Midah membawa nampan.
"Aduh... gendut lagi kalau begini" sesal Midah, jika makan bareng memang kadang tak terkontrol. Pasalnya masakan Ambu habis semua. Di samping lapar, masakan Ambu memang enak, dan juga suasana sore yang sejuk menambah perut semakin minta diisi. Lalu melahap makanan hingga tandas.
"Halaah... Teteh. Lapan gemuk ge, sudah laku ini." Kelakar Endar.
"Laku! Memang Teteh dagangan apa." Sungut Midah, menyentil telinga adiknya. Endar hanya tertawa.
"Ndar... ini bawa semua, aku mau membantu Ambu mengangkat ikan," Ujar Anda, meletakan mangkok bekas sambal ke dalam nampan yang sudah di pegang Endar.
Sore itu mereka kerja sama. Midah mencuci piring. Anda bersama Endar menyapu, kemudian mengepel lantai. Tidak membiarkan Ambu ikut bekerja. Setelah mandi, Midah sholat ashar berjamaah. Anda yang menjadi imam.
Begitu juga saat magrib dan Isya. Malam harinya setelah bakar ikan, Midah merebahkan tubuhnya di kasur. Ia ambil handphone mencari chat dari Nanta, namun tidak ada sama sekali. Yah... begitulah Sumidah jika di dekati pura-pura menjauh. Namun jika Nanta tidak menyapa, Midah merasa ada yang hilang. Midah pun mencoba untuk tidur, agar esok kuat karena akan merapikan rumah.
Keesokan harinya setelah subuh, Midah mengecek hp barang kali Nanta kirim pesan tetapi ternyata tidak juga.
"Awas saja nanti, kalau kamu telepon tidak aku angkat." Ancam Midah mengajak bicara hp, lantas meninggalkan benda tersebut di tempat tidur. Midah keluar dari kamar menghampiri Ambu, membantunya memasak.
"Kamu sudah mandi Sum?" Tanya Ambu yang sedang menumis kangkung, aroma tauco memenuhi seisi rumah.
"Tidak usah mandi Mbu, nanti juga bergijabu dengan semen. Hehehe..." Midah terkekeh. Ambu tersenyum masam.
"Ya sudah... kita sarapan dulu." Pungkas Ambu. Seraya memasukan kangkung yang sudah matang ke dalam wadah. Sementara Sumidah, mengumpulkan panci kotor bekas memasak, setelah makan nanti baru akan mencuci semua.
"Iya Mbu" Midah kemudian membawa masakan ke meja makan, lalu memanggil kedua adiknya yang masih di kamar.
Setelah sarapan, Midah ganti kaos lengan pendek, celana jins selutut. Mengikat rambutnya ditekuk menjadi dua membentuk sanggul kecil agar tidak lepas ketika mengaci tembok nanti. Tidak lupa menutup kepala dengan topi, walaupun tidak kepanasan. Sebelum akhirnya ambil tangga menyenderkan di tembok. Midah kemudian memanjat tangga selayaknya tenaga proyek profesional bahkan mengalahkan Anda.
"Prot prot.... srerk esrek-esrek"
Midah menyeprot tembok dengan semen yang sudah diantar Endar sebagai kenek.
"Kalian hati-hati..." pesan Ambu mengamati ketiga anaknya berkaca-kaca.
"Iya Mbu..." Jawab ketiga anaknya.
Ambu kemudian ke kamar Midah, bermaksud membereskan ranjang. Namun ternyata sudah rapi dan kebelutan handphone Midah berbunyi Ambu segera membawanya ke Sumidah.
"Midah, ada telepon Nak" ujarnya dari bawah.
"Geser saja Mbu" Titah Midah tidak mungkin ia mengangkat telepon.
Ambu menggeser tombol hijau dan ternyata Nanta vidio call. "Midah... Nanta nih..." Kata Ambu.
"Ambu, ngapain tuh, Midah naik-naik?" Tanya Nanta. Karena Ambu mengarahkan hp ke tembok.
__ADS_1
"Apa Tengil, mau bantu ngecat rumah!" Pekik Midah.
"Haaahhh... ngecaaattt???
**********
Setelah maghrib di Jakarta, dua sahabat sedang ngobrol sambil mengawasi anak-anak mereka. "Lan, tiap kamu kesini, kenapa Midah tidak pernah ikut... apa Dia masih marah kepada Abu?" Tanya Aslihah. Ia tidak mau ada permusuhan lagi di antara mereka.
"Sumidah saat ini sedang pulang kampung Liha... makanya aku mengajak Rangga kesini," Jawab Bulan. Rangga memang sudah bergantung kepada Sumidah. Jadi kalau tidak ada selalu mencari dan menangis.
"Umma... dedek Langga gigitin mainan," Adu Ais. Menghentikan obrolan mereka. Mungkin gigi Rangga mau tumbuh hingga gatal, lantas menggigiti APE.
"Tidak apa-apa, mainanya bersih kok," Jawab Aslihah.
"Kata Umma mainanya kotol" polos Ais menirukan ucapan Umma nya, tiap kali Ais selesai mainan harus cuci tangan dulu.
"Kamu benar kalau belum di cuci, tapi kan kemarin sudah kita cuci sayang..."
"Oh..." Ais pun kembali menemani Rangga.
"Lan... bagaimana kelanjutan cerita Midah?" Tanya Liha. Ingin melanjutkan obrolan mengenai Sumidah yang tertunda.
"Alhamdulilah, hari minggu besok, Midah akan tunangan Liha" Jawab Bulan.
"Alhamdulilah... dengan siapa Lan?" Tanya Aslihah penuh rasa syukur dan tulus. Ia sudah tidak ada rasa cemburu sedikitpun kepada wanita yang tergila-gila kepada suaminya itu. Toh Abu sama sekali tidak menaruh perasaan apapun selain menganggapnya adik.
"Yah... lamarannya di Tasik ya, kalau dekat, aku pasti datang Lan" sesal Aslihah.
"Kalau kamu mau ikut, aku sama Mas Tara mau kesana Liha, berangkat minggu pagi-pagi habis subuh," Bulan mengutarakan rencananya.
"Boleh-boleh" Aslihah antusias.
"Lagi ngobrol apa kalian, semangat banget?" Tanya Abu ketika baru pulang dari masjid bersama Tara.
"Bi, kata Bulan, Sum sudah ada yang melamar." Kata Aslihah kepada suaminya.
"Ya baguslah terus kenapa?" Tanya Abu santai, lalu duduk di sofa berhadapan dengan Tara.
"Kami mau ke Tasik Kak Abu, terus... Liha katanya mau ikut menghadiri lamaran Sum." Tutur Bulan.
"Nanti kami pikirkan lagi ya," Jawab Abu. Menatap Aslihah tampak kecewa. Mereka ngobrol masalah lain sebelum akhirnya Bulan dan Tara pulang sambil menggendong Rangga yang sudah tidur pulas.
Malam harinya di tempat tidur. "Liha... kamu yakin mau ikut Bulan ke Tasik?" Tanya Abu lembut, menyingkirkan rambut istri nya yang menutup mata Liha.
"Maunya sih begitu Bi, sekalian jalan-jalan. Tapi kalau Abi nggak boleh juga nggak apa-apa kok," Lirih Midah.
"Bukan begitu Aslihah, aku hanya khawatir kamu masih kesal sama Sumidah" Itulah yang menjadi alasan Abu tidak mau datang.
__ADS_1
"Abi bicara apa, sih?! Memamg aku anak kecil apa?" Aslihah tidak percaya, mengapa suaminya tidak bisa mempercayainya.
"Okay... jika kamu sudah tidak ada rasa cemburu sedikitpun kepada Sumidah, Abi mau kok, ikut kalian." Tegas Abu.
"Yeeyyy..." Sorak Liha seperti anak kecil. Tanganya melingkar di pinggang suaminya.
"Hehehe... Abu terkekeh. Setiap kali Istrinya manja kepada nya, Abu merasa senang.
"Kamu harus tanggung jawab Liha, karena sudah membangunkan macan aku yang sedang tidur." Kata Abu. Kaki kekar itu mengunci pinggul Aslihah.
"Abi..." Ujar Liha. Jika sudah begitu, ibu muda yang cantik itu menyerah. Melakukan ibadah suami istri.
"Terimakasih sayang..." Bisik Abu, tiap kali menggauli istrinya. Ia melakukan dengan sopan dan tidak berlebihan. Setelah mandi keringat pasutri pun mandi wajib. Begitulah Abu selalu mengajari istri nya. Tidak boleh tidur sebelum mandi walau entah jam berapa mereka melakukannya. Karena mereka tidak tahu kapan malaikat maut datang menjemput.
Tepatnya hari minggu setelah subuh, Rembulan menjemput sahabat nya. Aisyah yang masih tidur, terpaksa diangkat oleh Abu.
"Biar aku yang nyetir Ta." Kata Abu setelah Aisyah di pangku istri nya di dalam mobil, posisi di jok belakang.
"Nggak usah Bang, ada supir kok, Dia lagi merokok sebentar" Jawab Tara.
"Oh" Abu mengangguk-angguk.
"Kita masuk saja Bang, menunggu di dalam" Kata Tara menyusul Bulan duduk di tengah. Setelah membiarkan Abu masuk ke belakang menyusul Liha.
Mobil berjalan menuju kediaman Midah, selayaknya sahabat mereka tidak ada bosannya ngobrol. Kecuali Aslihah, sepanjang perjalanan Ia lebih banyak diam.
"Liha... kamu kenapa? Kalau kamu mengurungkan niat melanjutkan perjalanan ini, lebih baik kita turun disini saja." Titah Abu. Ia pikir Aslihah menyesali keputusanya untuk menghadiri acara lamaran Midah.
"Liha..." Abu menatap lekat wajah istrinya, karena tidak ada jawaban. Ternyata wajah Liha pucat, dan berkeringat padahal ac mobil menyala.
"Bi... perut aku sakit sekali." Lirih Liha, nyaris tak terdengar. Rupanya sudah tidak kuat lagi menahan sakit.
"Astagfirrullah... Liha..." Abu merogoh sapu tangan dan mengelap keringat istrinya.
"Tara..." Panggil Abu dari belakang.
"Ada apa Bang?" Tanya Tara menoleh ke belakang.
"Bisa berhenti sebentar, Liha sakit perut." Titah Abu terlihat panik. Mobil pun berhenti, Abu lantas ambil Ais yang masih tidur di pangkuan Liha.
"Kenapa Liha... kamu mau buang air?" Tanya Bulan memberikan Rangga kepada Tara lalu berdiri menatap sahabatnya yang terhalang jok.
Liha hanya bisa menatap Bulan sekilas dan akhirnya memejamkan mata.
"LIHA..." Jerit Abu menepuk pipi Liha yang sudah jatuh pingsan. Bersamaan dengan itu kedua balita menangis karena terkejut.
...Bersambung....
__ADS_1