
Sah sah sah.
Dedeh Aslihah kini sudah resmi menjadi istri Abu Miftah. Tangan putih itu terulur menyadak punggung tangan Abu, kemudian menciumnya setelah Abu menyambutnya.
Tes.
Air bening jatuh ke tangan Abu, Liha menyadari bahwa kini ia telah menjadi istri untuk yang kedua kali. Pernikahan tanpa rencana, tanpa cinta, dan terkesan mendadak. Tidak seperti pernikahan yang terdahulu. Liha hanya bisa berdoa semoga pernikahan yang kedua ini memang jodoh Liha yang sebenarnya dan untuk selamanya hingga maut memisahkan.
Abu menatap pipi kemerahan yang dibanjiri air mata itu hatinya mencelos. Abu bisa menebak jika air mata yang tumpah itu bukan air mata bahagia, melainkan air mata kesedihan. Dan apa yang membuat Liha hingga sesedih itu hanya Liha yang tahu jawabannya.
Tidak banyak yang dilakukan selayaknya pernikahan pada umumnya selain nasehat perkawinan dari penghulu.
**********
Waktu berganti malam, Aslihah duduk di tangga rumah panggung. Ia menatap kelelawar yang sedang berseliweran kesana kemari di bawah terangnya rembulan. Seharian ini sejak sah menjadi istri Abu, Aslihah banyak diam. Entah apa yang mau Liha perbuat tidak bisa semudah seperti membalikkan telapak tangan untuk bisa bersikap selayaknya istri kepada suaminya. Wajar, semua terjadi secara tiba-tiba.
Aslihah belum tahu siapa Abu, sudah punya pacar atau belum. Ketika sekolah dulu yang Liha tahu, Abu sangat mencintai sahabatnya yaitu Rembulan.
"Eheem.." deheman berat mengejutkan Liha.
"Kamu ngapain malam-malam disini? Angin malam tidak bagus untuk kesehatan," kata Abu lembut lalu duduk di sebelah Liha. Liha menggeser duduk nya seperti bukan kepada suami khawatir bersentuhan.
"Heemm... kamu takut sekali? Aku tidak akan menggigi kok" Abu terkekeh menoleh Liha. Yakni tangan kiri Liha memeluk tiang tangga.
"Liha... segitu tersiksa nya kamu menikah dengan aku?" tanya Abu lembut melirik Liha yang sedang menunduk.
"Liha... pasti kamu terkejut dengan pernikahan kita yang tiba-tiba ini. Jujur, tidak hanya kamu yang merasakan semua ini Liha," tutur Abu.
Liha menoleh sekilas menatap pria yang mengenakan surban di sebelahnya jika dilihat sepertinya baru pulang dari masjid.
"Liha... mungkin kita masih butuh waktu untuk saling mengenal, aku nggak memaksa kamu, untuk mengakui aku sebagai suami. Yang harus kita lakukan saat ini adalah bagaimana sama-sama membesarkan Ais." kata Abu lembut.
"Terimakasih Kak," ucap Liha. Inilah pertama kali lidahnya mengucap kata kakak," tangis Liha akhirnya pecah.
__ADS_1
"Liha, menangis lah jika itu membuat perasaan kamu menjadi lega. Tetapi aku mohon jangan jadikan pernikahan kita ini menjadi beban. Jika kamu belum bisa menganggap aku suami anggap saja kita ini sahabat," jujur Abu.
"Sekarang kita masuk," Abu beranjak diikuti Liha. Tiba di ruang tamu Ais masih bermain di temani bu Indah sambil menonton televisi. Bu Indah tersenyum menatap anak dan menantunya sudah berjalan bareng.
"Umma sama Om dalimana?" Ais menatap keduanya bergantian.
"Nggak kemana-mana, diluar saja kok," jawab Liha lalu ikut bergabung di depan televisi.
"Om nggak boleh pulang ya... Sekalang bobo disini saja" pinta Ais.
"Pasti dong... Om bobo disini" Abu duduk di samping Ais. Tanpa sungkan, Ais merebahkan tubuhnya di pangkuan Abu. Mereka ngobrol lebih tepatnya bu Indah dan Abu. Sedangkan Liha hanya mendengarkan saja.
Hingga beberapa menit kemudian Ais tidur. "Biar Ais bobo di kamar Ibu saja Liha" belum di jawab bu Indah mengangkat tubuh Ais dari pangkuan Abu.
"Biar saya yang angkat Bun..." Abu hendak beranjak tetapi di cegah bu Indah.
"Jangan Bun, biar tidur sama aku saja, kalau nanti bangun terus menangis bagaimana..." Kilah Liha. Padahal ia ada alasan untuk menolak jika Abu meminta hak nya. Bukan Liha tidak tahu kewajiban yang harus ia berikan kepada suami, tetapi untuk saat ini Liha benar-benar belum siap.
Di depan televisi saling diam hingga beberapa saat kemudian. "Sebaiknya kamu juga tidur Liha... besok pagi-pagi sekali kita sudah harus berangkat ke bandara" titah Abu kasihan melihat istri barunya masih takut denganya.
"Baiklah..." Liha pun meninggalkan Abu ke kamar lebih dulu. Serasa ada angin segar akan perintah Abu. Tiba di kamar, Liha mengenakan celana jins dan baju tebal kemudian tidur bergulung selimut.
"Aman..." gumamnya. Jam berganti, tiga jam sudah di dalam selimut Lihat tidak bisa tidur. Selain takut jika Abu masuk dia juga kegerahan yang luar biasa. Wajar, ia mengenakan pakaian yang tidak biasa.
Liha pun akhirnya main handphone daripada tidak bisa tidur.
**********
Sementara Abu karena lelah sejak dua hari kurang tidur ia merebahkan tubuhnya di depan televisi. Tidak masalah tidur beralas tikar, dan berbantal boneka kura- kura milik Ais, tidak lama kemudian tertidur.
Tepat dini hari ia terbangun lalu ke kamar mandi yang berada di belakang rumah Liha. Ia membuka kran lalu ambil air wudhu hendak melaksakan shalat sunnah tahajud.
Abu pun akhirnya memutuskan untuk shalat di kamar Liha. Khawatir jika sampai ketahuan bu Indah bahwa ia baru saja tidur disini tidak enak. Abu juga ingin tahu seperti apa kamar tersebut sebab besok sudah pulang ke Jakarta.
__ADS_1
Gredeeekk...
Abu membuka pintu menatap tempat tidur ukuran nomer dua dan lumayan bagus. Wajar, Liha pernah berkeluarga sudah pasti ranjang itu almarhum suaminya yang membeli.
Abu tahu jika Liha sedang tidak tidur, karena netranya menangkap benda menyala di balik selimut. Abu membiarkan saja tidak mau mengganggu, kemudian menggelar sadjadah yang ia sampir di pundak, dan membetulkan kopiah melaksakan shalat.
Sementara di dalam selimut mendengar pintu di buka, Liha menghentikan pergerakan tangan meletakan handphone di dada jangan sampai Abu tahu jika ia belum tidur.
"Allahu akbar"
Mendengar takbir, Liha tahu jika Abu sedang shalat. Entah mengapa tiba-tiba mata Liha menjadi mengantuk lantas tidur.
Allahu akbar... Allahu akbar.
Mendengar adzan subuh Liha membuka mata hendak mandi sebelum shalat subuh. Memang begitu kebiasaannya.
Aslihah duduk terlebih dahulu memulihkan kesadaran. Ia memindai tempat tidur terkejut kala tidak menemukan Ais.
"Ais..." Liha segera beranjak, mengedarkan pandangan. matanya menangkap seorang pria yang meringkuk di atas sadjadah. Liha baru sadar jika dirinya telah memiliki suami, dan saat ini Ais di ajak tidur bunda Indah.
Liha ambil selimut di tempat tidur lalu mendekati pria tampan tidur miring kedua tanganya di jepit kedua sisi lutut seperti kedinginan. Wajar jika subuh begini hawanya terlalu dingin.
Liha membentang selimut menutup tubuh suaminya sebelum akhirnya ke kamar mandi.
30 menit kemudian Abu meraba handphone yang ia letakan di lantai. Tepatnya di atas kepala. Abu membuka mata melirik jam tersentak kaget. Selama ini Abu tidak pernah terlambat bangun mungkin karena tadi malam tidur hanya sebentar.
Abu segera bangun menatap selimut yang menutup badan, kemudian beralih menatap tempat tidur. Abu tersenyum sambil melipat selimut kemudian meletakan di tempat tidur baru kemudian ke kamar mandi.
"Liha... kok kamu nggak membangunkan aku" ucapnya berjalan tergesa-gesa melewati Liha yang sedang membuat sarapan.
Lihat hanya menatap langkah Abu yang sedang ke kamar mandi.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1