Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Tidak kuat menerima kenyataan.


__ADS_3

Jika di luar apartemen sedang bertarung sengit, di dalam. Citra menggendong paksa Ais masuk ke dalam kamar.


"Nggak mau... Ais nggak mau sama Nenek, AIS MAU PULAAAANG....!!! Huaaaa..." Tangis Ais kencang. Kakinya memberontak ingin lepas dari gendongan sang Nenek.


"UMMAAAA... ABIII....tolong Ais... hiks hiks hiks."


"Ais... Nenek punya boneka loh, pasti kamu suka." Kata Citra setelah mendudukan Ais di ranjang, ia berjalan menuju lemari. Nenek yang selalu berpenampilan mewah itu mengunci pintu kamar, lalu menuju lemari. Di ambilnya boneka merk terkenal berwarna pink tampak lucu.


"Ini sayang... boneka kamu," Citra memberikan boneka itu. Namun, Ais tidak merespon justeru turun dari ranjang meninggalkan Citra.


"Nggak mau! Ais nggak mau apa-apa. Ais mau pulang." Jerit Ais berlari menuju pintu mencoba menarik handle. Jelas tidak bisa karena di kunci.


Dok dok dok.


Ais menggedor-gedor pintu namun yang ada justeru kelelahan hingga merosot ke lantai. Gadis kecil yang selalu mengenakan kerudung itu menangis sesegukan.


"Boneka ini, bagus dan lucu sayang... boneka ini Nenek sengaja beli dari luar negri untuk cucu Nenek." Tutur Citra meletakkan boneka di pangkuan Ais.


Ais tidak menjawab hanya terdengar isaknya walaupun tidak teriak seperti tadi. Saat Ais mengambil boneka tersebut, Citra tersenyum, ia pikir cucunya yang sudah mulai tenang akan menerima boneka itu. Namun, tidak Citra duga, Ais meletakkan di lantai.


"Ya sudah... kamu pasti lapar, Nenek ambil makanan ya," Citra beranjak hendak membuka pintu.


Secepatnya Ais beranjak ketika Ais berniat merebos, Citra menyingkirkan tangan Ais yang memegang handle. Tentu tenaga Ais kalah kuat dari nenek nya. Citra segera keluar dan mengunci pintu dari luar.


Tidak lama kemudian, Citra kembali membawa makan malam dalam piring. Perlahan Citra membuka pintu waspada agar jangan sampai, Ais berlari keluar. Namun begitu sampai di dalam, Ais tampak duduk bersandar di tembok tanpa perduli akan kehadiranya.


"Ais sekarang makan dulu, Nenek suapin ya." Citra duduk di depan Ais, kemudian menyuir chicken, di cocol saus, tanganya maju ke mulut hendak menyuap Ais. Namun Ais mendorong tangan Citra dalam posisi miring.


Citra pun ikut duduk di sebelah Ais, mendengus kasar. Cucu dan nenek itupun saling diam, hanya terdengar sisa isak lirih tangis Ais.


Satu jam kemudian Ais tertidur meringkuk di lantai.


Citra sebenarnya sedih melihat cucu nya seperti ini. Namun tidak ada pilihan lain bagi Citra, selain mengambil jalan ini. Jika menempuh jalur hukum pun tentu tetap kalah karena Liha memang berhak atas Ais.


Citra mengangkat tubuh Ais, memindahkan ke ranjang. Sejenak Citra duduk merenung langkah apa yang harus ia ambil.

__ADS_1


"Aku harus membawa lari Ais sekarang juga!" Monolok Citra, kemudian ambil tas memasukan baju ke dalamnya.


Sementara keadaan di luar.


"Aow..." Pekik Nanta, ketika hendak menolong Sum yang sedang dalam tekanan lawan. Tendangan dari belakang mengenai kaki Nanta, hingga tersungkur di lantai. Sementara Tara yang sedang menyerang pun terdesak lantaran menoleh sekilas ke arah asisten dan sahabatanya.


Buk!


Tinju pria berwajah garang melayang ke bibir Tara. Darah pun mengalir deras.


*************


Keesokan harinya pria tampan sedang membantu istrinya ke kamar mandi. "Aku mau mandi sendiri saja," Tolak Liha, ketika suaminya hendak memandikan.


"Kamu yakin, sudah kuat?" Tanya Abu merasa was-was.


"Yakin." Jawab Liha pendek.


"Baiklah, aku siapkan pakaian ganti, tapi pintunya jangan di kunci." Saran Abu, khawatir. Setelah Liha mengangguk Abu keluar menyiapkan pakaian untuk istrinya. Tidak lama kemudian kembali.


"Bi... aku kan sudah sehat, nanti Abi minta Dokter ya. Agar aku diijinkan pulang," Pinta Liha sambil menggosok badanya dengan sabun. Liha sudah tidak merasa malu lagi.


"Liha... biar sehat dulu." Jawab Abu, tidak rela jika istrinya terburu-buru pulang. Abu ingin, istrinya benar-benar sembuh baru kemudian pulang.


"Aku sudah sehat Bi. Ya... tolong katakan pada Dokter," rengek Liha. Sejak semalam semua rencana sudah tersusun di kepala Liha. Ia ingin ikut menjemput Ais, baru kemudian pulang ke Jakarta.


"Iya sayang... nanti kita bicarakan di kamar tidur, masa kita ngobrol di kamar mandi." Kata Abu mengulur waktu, entah bagaimana keputusan dokter wanita yang menangani Liha nanti, Abu baru bisa memutuskan.


"Terimakasih Bi."


"Sama-sama sayang..." Jawab Abu sembari menutup pintu lalu menunggu istrinya di sofa, memeriksa handphone barang kali ada pesan penting masuk.


Ternyata tidak ada pesan dari siapapun, Abu kemudian beranjak membuka retsleting tas, ambil kaos. Setelah istrinya sarapan nanti, jika Liha belum boleh pulang hari ini, Abu hendak menuju hotel menjemput Ais.


Tok tok tok.

__ADS_1


Mendengar ketukan pintu, Abu mempercepat gerakan tanganya mengenakan kaos, kemudian berjalan menuju pintu.


Ceklak!


"Bulan..." Sapa Abu. Abu menatap wajah Bulan terperangah. Pasalnya adik kelasnya ketika SMK itu matanya sembab, sudah pasti kebanyakan menangis. Wajahnya pun kusut tanpa muke up setipis pun.


"Kak Abu... Ais Kak... hiks hiks hiks." Bulan tidak kuat menahan tangis dan tak mampu melanjutkan bicara.


Deg.


"Bulan... Ais kenapa?" Tanya Abu segera keluar menutup pintu mengajak Bulan menjauh dari ruang rawat inap. Abu tidak ingin perbincangannya di dengar Liha.


"Ada apa?" Tanya Abu memburu ingin cepat mendengar cerita Bulan. Keadaan ruang tunggu masih sepi, karena memang masih jam tujuh pagi.


"Ais hilang sejak kemarin sore Kak," Bulan menunduk dengan air mata bercucuran.


"Hilang? Hilang bagaimana Bulan?!" Suara Abu agak meninggi.


Bulan terkejut, selama ini belum pernah mendengar Abu berbicara keras. "Maafkan aku Kak, Aku yang salah." Kata Bulan, di sela-sela isak tangis ia menceritakan apa yang terjadi.


"Aaaggghhh..." Abu mengeram, berpaling cepat, meninju angin. Ia marah tetapi tentu bukan menyalahkan Bulan. Tetapi ia marah kepada pria yang sudah berani bermain-main dengan keluarga kecilnya. Seklebat bayangan bu Citra melintas di benak. Ia berpikir pria itu pasti orang suruhan Citra. Abu tidak mau berburuk sangka. Namun, hanya wanita itu yang mempunyai masalah dengan keluarganya.


"Lalu kenapa kamu tidak mengatakan sejak kemarin Bulan." Sesal Abu. Jika saat itu Bulan bicara, tentu Abu ingin cepat ambil tindakan.


"Aku bingung Kak, seandainya aku cerita dari kemarin. Lalu apa yang akan Kakak lakukan? Melapor polisi?" Cecar Bulan.Tentu belum bisa melapor ke pihak yang berwajib, karena belum 24 jam. "Yang ada aku takut Liha sampai mendengar sudah pasti ia syok Kak." Bulan menjelaskan. Walaupun terputus-putus.


"Aku takut Kak, Mas Tara, Nanta dan Sumidah sejak kemarin sore ke Jakarta, sampai saat ini belum ada kabar, hiks hiks hiks" Pikiran Bulan pun menumpuk menceritakan jika Tara curiga kepada bu Citra, kemudian menyelidiki sendiri ke apartemen miliknya di Jakarta.


"Astagfirrullah... Jadi, Suami kamu ke Jakarta dan belum ada kabar? Sekarang juga kita ke kantor polisi Bulan."


Bruk!


"Aslihah!" Pekik Abu dan Bulan bersamaan, ternyata sejak tadi Liha mendengar percakapan Bulan dan Abu.


Abu menggendong Liha membawanya ke ruang rawat, kemudian memencet tombol memanggil dokter.

__ADS_1


__ADS_2