
Tanpa putus selama satu jam berdoa dengan tasbih di tangan. Berdzikir, tahmid, takbir dan juga terus memohon agar istrinya segera sadar Allah menjawab doa-doa Abu.
Di atas ranjang pasien, Aslihah mendengar suara pria berdoa. Walaupun pelan masih tertangkap oleh telinganya. Ia menggerak-gerakan kelopak mata perlahan lalu membukanya. Bola matanya berputar memindai sekeliling masih belum menyadari keberadaanya kini.
Infus yang di gantung terhubung ke tangannya membuat Liha sadar jika kini sedang di rumah sakit. Liha mengusap perut tangisnya pecah.
"Hiks hiks..." Terdengar tangisan istrinya, Abu seketika bangkit dari sadjadah.
"Sayang... Alhamdulillah... kamu sudah sadar. Apa yang kamu rasakan?" Tanya Abu menggenggam tangan Lihah, memandangi istrinya yang sedang menangis pilu, hati Abu tersayat.
"Liha..." Abu mendekap erat tubuh Istri nya yang sedang bergetar, Abu paham apa yang dirasakan istrinya.
"Bi..." Aslihah tidak bisa berkata-kata, air matanya mengalir ke bantal. Kala mengingat tadi siang telah melakukan kuretasi.
"Sayang... jangan sedih ya..." Ujar Abu, mengangkat kepala dari dada Lihah, jemari tanganya menghapus air mata istrinya.
"Anak kita Bi, maafkan aku karena tidak bisa menjadi Ibu, hingga..." Lirih Liha.
"Seeettt..." Potong Abu meletakkan jemarinya di bibir Lihah.
Aslihah tidak melanjutkan ucapanya dengan tangis tergugu. Ia merasa teledor tidak menyadari kehamilanya hingga tidak hati-hati dan menyebabkan anaknya tidak betah di rahimnya.
"Aslihah, kamu tidak salah, semua ini sudah takdir dan belum rezeki kita. Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita untuk kedepanya." Nasehat Abu. Walaupun sebenarnya hatinya tak kalah hancur, namun Abu menyembunyikan.
"Aisyah mana Bi?" Tanya Liha tidak melihat putrinya.
"Tenang sayang, Ais bersama Rembulan." Jawab Abu yakin jika Bulan bisa menjaga Ais.
"Bi, aku kangen Ais, aku mau memeluknya. Sekarang juga kita pulang." Kata Liha. Pasti Ais saat ini sedang sedih memikirkan dirinya. Selama ini Ais tidak pernah berpisah dengan nya.
"Tenang Liha... Bulan pasti bisa menenangkan anak kita, lagian kamu belum boleh pulang. Paling tidak selama tiga hari." Tutur Abu panjang lebar. "Kalau kamu kangen Ais, biar nanti aku minta Tara mengantarkan kesini." Abu menenangkan istrinya.
Tidak ada pilihan lain bagi Aslihah kecuali mengangguk.
Tok tok tok.
"Sebentar ya." Pungkas Abu kemudian membuka pintu.
"Kalian..." Abu terkejut melihat kehadiran Nanta dan Sumidah.
"Kak Abu... kami mendengar kabar dari Rembulan, katanya istri Kakak kena musibah?" Tanya Nanta.
"Betul Nanta, istri saya keguguran, tetapi alhamdulilah sudah lebih baik," Jawab Abu menyembunyikan kegetiran hati.
__ADS_1
"Astagfirrullah..." Midah menutup mulutnya.
Selamat untuk kalian semoga lancar semuanya, kalian pasangan yang cocok." Abu menjabat tangan Nanta. Lalu menangkupkan tangan di depan dada kepada Midah.
"Terimakasih Kak." Jawab Nanta dan Midah bersamaan.
"Mari masuk" Titah Abu berjalan lebih dulu, di ikuti Nanta dan Midah.
"Teh Liha... yang sabar ya." Ujar Midah menggenggam tangan Liha.
Terimakasih Sumidah..." Aslihah memaksakan untuk tersenyum. "Kamu repot-repot menjenguk saya Sum, bukankah kamu sendiri sedang repot?" Tanya Liha hampir tidak terdengar.
"Saya tidak repot Teh, alhamdulilah... karena doa Teteh, semua lancar. Saya yang seharusnya minta maaf, demi saya Teteh sampai mengalami musibah."
Mereka saling menyalahkan diri sendiri selepas magrib Nanta pamit pulang.
"Nanta... Saya boleh merepotkan kamu tidak, saya menghubungi handphone Tara, tetapi tidak aktip. Jadi saya mau minta tolong. Tolong Tara suruh antar Ais kemari ya," Titah Abu. Abu mengira jika Bulan dan Tara masih di kediaman Sumidah.
"Baik Kak Abu, kami sendiri yang akan menjemput Ais dan mengantarkan kesini." Jawab Nanta tulus.
"Terimakasih Nanta." Abu menepuk-nepuk pundak Nanta.
Nanta pun akhirnya berlalu kembali ke parkiran. Supir menjalankan mobilnya menuju hotel dimana Tara dan Bulan menginap.
"Namanya juga anak Tomboy. Semua Ibu pasti sedihlah, kalau kehilangan anak." Kata Nanta.
"Oh iya, bagaimana dengan kamu? Kamu nanti kira-kira bisa nggak mengandung dan memberi aku anak, sedangkan kamu kan tomboy?" Cecar Nanta berseloroh. Tidak menyadari jika ucapanya menyinggung perasaan Midah.
Midah menunduk sedih, semua kata-kata yang Nanta lontarkan selama ini tidak Midah masukkan ke hati. Tetapi mendengar ucapan Nanta meragukan keasliannya. Apakah ia memang wanita normal membuat Midah bertekat akan merubah dirinya sedikit demi sedikit dan menunjukan bahwa ia memang wanita normal.
"Maaf Tom, bercanda," Tangan Nanta, mengusap kepala Midah yang terhalang kerudung. Nanta sengaja memanggilnya Tom agar Midah tersenyum, tetapi rupanya tidak mempan.
Hingga mereka tiba di parkiran hotel Sumidah menghubungi Bulan.
"Hallo Sum..." Jawab Bulan dari sambungan telepon. Midah terkejut sepertinya bos nya sedang tidak baik-baik saja, karena Suara Bulan serak sedang menangis.
"Hallo Non, kami sedang di parkiran hotel. Kami di utus Kak Abu agar menjemput Aisyah." Tutur Sumidah.
"Tunggu disitu Sum,"
Sambungan telepon pun sudah diputus oleh Bulan. Sum bersama Nanta bersandar di mobil, sambil menunggu Bulan.
"Kira-kira ada apa ya Kak, saat bicara di telepon tadi Non Bulan menangis," Kata Sumidah. Ada saatnya ia bicara serius tidak selalu berkata nyolot.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan,Tara sama Bulan bertengkar ya Tom, soalnya hp Tara tidak aktip." Nanta berasumsi.
"Bisa jadi, tapi aku kok nggak yakin, kalau Tuan sama Nona bertengkar." Sanggah Midah.
Mereka membicarakan sahabat dan Tuanya panjang lebar. "Coba dihubungi sekali lagi Tom, kenapa lama sekali ya." Nanta sudah tidak sabar.
"Nggak enak Kak, Kakak saja yang mencoba lagi menghubungi Tuan Tara, siapa tahu sekarang sudah aktip." Saran Midah.
"Betul juga Tom." Nanta Mengeluarkan handphone.
"Tom-Tom! Panggilan kamu itu aneh-aneh saja sih Tengil, apa itu artinya." Midah menepuk pundak Nanta gemas.
"Kan keren, yang penting bukan Tomket," Jawab Nanta asal, sambil mengotak atik handphone mencari nama Tara.
"Plok!
"Kurang asem, aku di samain serangga Tomket!" Sumidah melengos kesal. Baru sebentar baper karena ucapan Nanta, kemudian serius membahas Bulan dan Tara. Kini mereka sudah kembali ke model awal yakni saling meledek.
"Almarhum Akung gw namanya Tomo Suhardjo. Selalu di panggil Tom." Kata Nanta mengulas senyum.
"Au. Ah! Cepetan telepon."
Tak tak tak.
Suara langkah kaki menghentikan perdebatan mereka. Belum sampai Nanta telepon Tara sudah tiba.
"Tara... ada apa?" Tanya Nanta menatap wajah Tara tampak ruwet seperti benang kusut.
"Gw lagi bingung mencari Aisyah Ta. Dia tiba-tiba menghilang saat di parkiran sore tadi." Tara menyugar rambutnya gusar.
"Astagfirrullah... Kok bisa..." Nanta dan Midah terperangah kaget.
"Itulah Midah... saya bingung," Bulan menangis tergugu, bagaimana menyampaikan kepada Abu. Pasalnya Abu dan Liha sedang dirundung kesedihan. Masalah yang satu belum selesai kini sudah ada masalah lain lagi.
"Ya Allah... Sabar ya Non," Mulut Sum bisa berkata sabar, tetapi dalam hatinya pun merasa sedih.
"Loe sudah cari kemana saja Tara?" Tanya Nanta.
Tara menceritakan ketika baru tiba di parkiran, Bulan turun lebih dulu sambil menggandeng Ais. Sementara Tara menggendong Rangga.
Bulan lantas melepas tangan Ais ketika sedang ambil koper dari bagasi. Namun, begitu menoleh Ais sudah tidak ada. Mereka kemudian mencari di sekitar parkiran dari mobil satu ke mobil yang lain. Bulan berpikir jika Ais hanya mengerjai dirinya sedang main petak umpet. Namun ternyata Bulan benar-benar tidak menemukan Ais. Dibantu supir, tukang parkir, satpam yang bekerja di tempat itu mencari di sekitar hotel dan juga bertanya kepada resepsionis. Namun Ais entah kemana.
...Bersambung....
__ADS_1