Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
10 ribu dapat tiga.


__ADS_3

Abu, Liha, dan Aisyah, mereka duduk di sofa mewah, menunggu bibi memanggil pemilik rumah. Aslihah terperangah namun bukan fasilitas mewah di rumah itu yang membuat Liha demikian. Tetapi ketika Netra nya menangkap wanita yang tak lain bu Fatimah. Ibu dari sahabatnya berjalan ke arahnya di gandeng oleh pria matang berkumis. Bu Fatimah mendekati Liha dengan penampilan yang berbeda. Yakni perut besar seperti sedang hamil tua.


"Liha... kamu kah itu?" tanya Fatimah menatap wajah Liha semakin bertambahnya usia, Aslihah semakin cantik saja.


"Saya Bu..." jawab Liha tersenyum manis menatap wanita yang tidak ia jumpai setelah kurang lebih 4 tahun. Selama Liha menikah dengan Imron Liha tidak pernah berkunjung. Di rangkulnya wanita paruh baya itu dengan perasaan kasih sayang yang mendalam. Ketika sekolah dulu tidak jarang Liha menginap disana. Bu Fatimah sudah seperti orang tua sendiri bagi Aslihah.


Liha melepas pelukanya kemudian melirik pria yang sudah bergabung dengan Abu tampak ngobrol serius. "Om..." Liha tersenyum menangkupkan kedua tangan Handoko yang hanya membalas senyum Liha.


"Pak Han, bu Fatimah... Liha ini istri saya," tutur Abu. Ketika Fatimah mengkode Abu minta penjelasan, kenapa Abu bisa bersama Aslihah.


"Alhamdulillah..." jadi kalian sudah menikah..." tergambar kebahagiaan di wajah Fatimah.


"Baru seminggu Bu, dan kedatangan saya kesini ingin mengundang Bapak Ibu, minggu besok... rencana kami akan mengadakan tasyakuran pernikahan kami, mengundang tetangga dan teman-teman." tutur Abu.


Fatimah menyambut dengan rasa bahagia, Aslihah yang ia dengar telah menjadi janda kini sudah menikah, dan yang menjadi suaminya kini adalah Abu Miftah pria baik. Pandangan Fatimah beralih pada bocah kecil dalam pangkuan Abu.


"Aduh... cantiknya, namanya siapa sayang?" Fatimah mendekati Ais, kemudian duduk di sebelah Abu.


"Ais..." jawab Ais tanpa di suruh salim tangan Fatimah kemudian menciumnya.


"Waah... nama yang bagus" mereka pun ngorol panjang lebar menikmati minuman dan kudapan yang di suguhkan bibi.


"Kalian malam ini tidak boleh pulang harus menginap disini, nanti kita makan malam bersama. Jarang kan kita bisa berkumpul seperti sekarang," pinta Fatimah.


"Tetapi sekarang ini saya sudah punya buntut, masa menginap Bu" tolak Abu halus.


"Memang buntut kamu siapa Ab, Aslihah loh, sudah seperti anakku sendiri, ya kan Liha... kalian menginap disini," Fatimah merangkul pundak Liha.


"Saya sih bagaimana Kak Abu saja Bu," Liha menatap Abu minta jawaban.


"Hihihi... kamu ini memanggil suami kok Kakak, rubah dong, Liha... panggilanya biar romantis sedikit?" kata bu Fatimah.

__ADS_1


"Iya Liha, seperti wanita di sebelah kamu itu, memanggil saya Mas saja susah sekali," sindir Pak Han, ingat ketika baru resmi menikah dulu, Fatimah pun tampak kaku ketika hendak memanggilnya.


"Hahaha...." semua tertawa.


"Benar Ab, sebaiknya malam ini kalian menginap disini," Handoko menyambung obrolan tadi.


Pada akhirnya Abu dan Liha memutuskan untuk menginap di rumah Fatimah. Setelah ngobrol panjang lebar dengan pak Handoko Abu menutuskan untuk mandi.


"Ais main sama kakek yuk" kata pak Handoko.


"Kakek?" Ais bingung.


"Iya, kakek, kenapa sayang?" bu Fatimah menimpali.


"Kakek Ais banyak" ujar nya.


"Iya, Kakek Ais banyak, ada tiga, terus nenek Ais ada dua," sambung Aslihah menunjukkan tiga jari, kemudian dua jari.


"Saya saja yang membantu Bibi Bu..." Aslihah tidak tega melihat bu Fatimah lelah dalam keadaan hamil besar.


"Liha... susul suami kamu ke kamar, siapkan pakaian biar Ais bersama Mas Han," titah bu Fatimah. Fatimah menangkap kejanggalan selama dua jam Abu dan Liha berada di rumahnya. Pengantin baru ini seperti ada sekat. Fatimah tergerak hatinya untuk mendekatkan keduanya. Fatimah pernah mengalami di posisi Liha, yakni janda yang sudah mempunyai anak. Masih mending, Liha janda muda masih 23 tahun. Sedangkan dirinya... saat itu usianya sudah 36 tahun bahkan sudah mempunyai menantu yakni suami Rembulan. Cukup berat bagi Fatimah ketika itu untuk sekedar berdekatan dan menyesuaikan diri. Namun Fatimah segera menyadari bahwa semuanya sudah di takdirkan. Kini Fatimah pun menangkap hal serupa yang dirasakan Aslihah.


"Liha... kok malah diam saja, ayo susul suami kamu," kata Fatimah lembut.


"Tapi Bu..." Liha ragu-ragu.


"Liha... yang namanya istri itu harus mengurus suaminya dengan baik, tidak hanya dalam hal memberikan makanan yang Dia suka. Buat suami kamu betah di rumah. Cinta suami pada Istri itu bisa kuat karena cinta dengan masakan yang kita sajikan. Kedua, puas dengan pelayanan kita ketika di atas ranjang"


Deg


Aslihah merasa tersentil oleh ucapan Fatimah. Rupanya Ibu dari sahabatnya ini, cukup peka, bisa menangkap apa yang Liha rasakan.

__ADS_1


"Baik Bu, saya tinggal" tidak membantah lagi, Liha menyusul Abu ke kamar yang sering Abu tempati. Pria itu tampak hanya berbalut handuk, tanganya sedang membuka lemari hendak salin baju. Pulang dari apotek Abu memang langsung berangkat tidak sempat mandi.


"Kakak, memang membawa baju ganti?" tanya Liha. Rupanya Abu banyak menyimpan pakaian di rumah bu Fatimah.


"Ada Liha, kan aku sering menginap disini" Abu tersenyum ternyata ada hikmahnya menginap disini nyatanya Liha menyusul ke mamar padahal jika di rumah sendiri mereka tidur terpisah.


"Sini aku yang pilih" Liha berdiri di samping Abu aroma sabun dan sampoo dari tubuh Abu wangi sekali.


"Terimakasih" Abu tidak berhentinya tersenyum, baru dilayani seperti ini saja sudah membuat perasaan Abu bahagia membuncah. Abu tersenyum menatap Liha yang sedang menyiapkan pakaian untuknya. Hingga akhirnya Liha balik badan, wajahnya membentur dada Abu. Secepatnya Abu merangkul tubuh Istri nya. Mendekapnya erat, Abu terpejam ingin selalu seperti ini dan terus seperti ini. Cinta Abu terasa memenuhi rongga hati. Tentu berbeda dengan Liha ingin lepas namun tenaga Abu lebih kuat.


"Kak" sekuat tenaga Liha mendorong tubuh suaminya. "Maafkan aku Kak, aku belum..." Liha tidak melanjutkan ucapanya merasa bersalah pada suaminya. Tubuh Liha sesungguhnya menginginkan sentuhan Abu, namum hati Liha masih menolak.


"Nggak apa-apa Liha... aku akan sabar menunggu, Cup" Abu mengecup mesra bibir Liha.


"Oh iya, ini bajunya dipakai," Liha mengalihkan.


"Terimakasih..." Abu pun mengenakan pakaian.


"Kak... aku tidak menyangka, seusia bu Fatimah ternyata masih bisa hamil," ini yang ingin Liha katakan sejak tadi.


"Kenapa tidak Liha? Usia bu Fatimah kan baru 38 tahun. Makanya... kamu cepat memberi Ais Adik, selagi masih Muda. 10 tahun tiga ya, Liha..." Abu terkekeh.


"Memang pasar loak, bisa dibeli 10 ribu tiga" Liha melengos.


***********


Tiga hari kemudian tibalah saatnya selamatan di rumah Abu di selenggarakan. Novi, Udin, dan cleaning service membantu Abu menyiapkan segalanya.


"Din, Bulan kan nanti datang, itu artinya akan mengajak Midah ikut kesini, aku kok nggak bisa membayangkan. Apa yang akan terjadi" kata Novi resah.


"Memang apa yang akan terjadi, jika Bulan kesini Kak Novi? Lalu siapa itu Midah?" cecar Liha mendengar obrolan yang tidak wajar lalu menimpali.

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2