
"Liha... baru satu tahun yang lalu suami kamu meninggal, kamu sudah menggandeng pria lain" Citra menyeringai.
"Mama hanya sendirian, Papa kemana?" Liha pura-pura tidak mendengar nyiyiran mantan mertuanya itu. Memilih mengalihkan pembicaraan.
"Papa sedang ada urusan" jawab wanita setengah baya itu lantas menyeruput juce. "Kalian mau pesan apa?" Citra melirik Abu dan Liha yang duduk bersebelahan bergantian.
"Tidak usah Ma, kami sudah sarapan," tolak Aslihah.
Citra tidak memaksa, bola matanya memutar menatap Ais dalam pangkuan Abu.
"Hai cantik... namanya siapa?" Kali ini Citra bertanya lembut dan tersenyum manis.
"Aisyah Tante..." Jawab Ais.
"Jangan panggil Tante sayang... saya ini Oma kamu" Citra merasa lucu dipanggil tante oleh cucunya sendiri. "Sini... duduk sama Oma" Citra menepuk kursi di sebelahnya.
"Oma itu apa Bi?" Polos Ais mendongak menatap Abu.
"Oma itu... sama dengan Nenek, sayang" Abu menjelaskan menunduk menatap wajah Ais.
Citra merasa iri melihat cucu nya sangat manja kepada Abu.
"Oh... Nenek... Belalti Nenek Ais ada empat ya Umma?" Tatapan Ais beralih kepada Liha yang hanya diam menyimak dulu inti pokok pembicaraan mertuanya dalam pertemuan kali ini. "Nenek Ifah, Nenek Indah, Nenek Fatimah, teluuus..." Ais menatap Citra takut untuk bertanya namanya.
"Nenek Citra" Citra menunjuk dadanya tersenyum gemas. Ternyata anak Imron pintar dan cantik sekali. Keinginan untuk memiliki Ais sebagai ganti putranya yang hilang semakin kuat.
"Oh... Nenek Citla... sepelti bedak Umma..." polos Ais. Citra mengerutkan kening.
"Citra... bukan Citla..." Citra menekan hurup r.
"Iya Citla...."
__ADS_1
"Iya, nenek Aisyah ada banyak" Liha menimpali agar Ais tidak melanjukan ucapnya.
"Seberapa banyak Nenek Ais, hanya Omma yang asli, jadi... kamu besok ikut Nenek jalan-jalan, Ais mau kan?" Citra tersenyum, mulai meracuni pikiran Ais.
Wajah Liha seketika berubah menahan rasa kesal. Namun Liha masih mencoba untuk bersabar. Abu yang tahu akan hal itu, mengusap badan Liha.
"Jalan-jalan kemana Nek?" Tanya Ais penasaran mendengar kata jalan-jalan, tentu bocah itu merasa senang.
"Jalan-jalan naik pesawat, pasti Ais senang" Citra membujuknya.
"Mau... tapi sama Umma, sama Abi" jujur Ais, menoleh kedua orang tuanya.
Citra pun akhirnya diam, suasanya menjadi hening. Hingga beberapa menit kemudian, Citra mulai membuka percakapan serius, tetapi bukan dengan Ais, melainkan kepada pasutri di hadapanya.
"Aslihah... tujuan saya kemari, ingin menjemput cucu saya, hanya Aisyah yang saya punya saat ini,"
Deg.
Terjawab sudah kecurigaan Liha selama ini. "Apa maksud Mama?" Liha menatap lekat wajah wanita yang sudah membuang putranya tanpa perasan, tetapi dengan tidak tahu malunya mertuanya mengucap kata-kata itu. Ingin ambli
"Maaf jika saya ikut campur" potong Abu. "Hidup maupun mati seseorang sudah takdir, tetapi jika Ibu mengatakan bahwa Liha penyebab kematian putra ibu, itu salah besar" Abu tidak terima Citra menyalahkan Liha.
"Hahaha... pintar sekali Anda bicara, Anda bisa bicara begitu, karena Anda belum menjadi korban! Anda harus tahu, wanita yang Anda nikahi ini membawa sial!" Sergah Citra.
"Dengar Liha, kamu sudah menyeret putra saya dalam penderitaan, jika anak saya menuruti saran saya untuk tidak menikahi wanita pembawa sial seperti kamu! Pasti sekarang ini masih hidup! Ngerti kamu Liha?!" Citra menangis entah menyesal karena sudah mengusir anaknya, atau ada hal yang lain hanya Citra yang tahu.
Aslihah mendengar kata membawa sial rasanya hatinya tersayat sembilu. "Apapun yang akan Mama katakan mengenai saya, saya tidak perduli, tetapi tidak ada yang boleh memisahkan Ais dari saya, termasuk Mama"
Brak!!
"Kamu menatang saya?!"
__ADS_1
"Huaa... Ais takut..." mendengar meja digebrak oleh Citra, Ais menangis histeris.
"Sayang..." Abu mengajak Ais menjauh, tidak membiarkan jika Ais sampai trauma mendengar pertengkaran orang dewasa.
Sementara kedua wanita berbeda usia itu pun masih saling melempar tatapan nyalang. "Huh! Menjaga sikap di depan anak kecil saja, tidak becus sok-sok-an mau mengasuh cucunya!" Aslihah membatin.
"Liha... sebenarnya saya tidak mau bersikap kasar, tetapi saya mohon, biarkan Ais tinggal bersama kami. Dengan Ais tinggal bersama kami kebutuhannya akan tercukupi" kata Citra tidak punya perasaan.
"Tetapi sayang... yang dibutuhkan Ais, bukan harta yang berlimpah Ma, kasih sayang yang kami berikan sudah cukup baginya" potong Liha.
"Jadi... kamu berpikir! Jika kami merawat Aisyah, tidak bisa memberikan kasih sayang untuknya, begitu kan maksud kamu?!" Citra merasa ucapan Liha meremehkan. Citra berdiri petentang petenteng di depan Liha.
"Saya tidak mengatakan itu Ma, tetapi masih segar dalam ingatan saya, bagaimana Mama bersikap kepada putra Mama sendiri, itu sudah jawaban yang benar" Liha tentu tidak akan mempercayai ucapan Citra, entah kasih sayang seperti apa yang akan di tunjukkan kepada Ais, mendengar saja Liha sudah tidak yakin.
"Itu gara-gara kamu Liha! Sebelum Imron mengenal kamu, kami hidup saling menyayangi! Jika kamu tidak mau menyerahkan Ais kepada kami, kamu jangan menyesal Liha!" Citra menyandak tas bertali pendek menggantung di lengan kemudian melenggang pergi.
Aslihah menatap kepergian Citra menarik napas berat. Ia sudah menduga pasti akan begini jadinya.
Dengan langkah berat Liha pun meninggalkan cafe mall. Sambil berjalan, Liha menghubungi suaminya. Ternyata Abu mengajak Ais bermain mandi bola bersama anak-anak pengunjung yang lain.
"Umma..." Ais melambaikan tangan begitu melihat Liha dari kejauhan. Liha membalas lambaian tangan sambil tersenyum. Ia sedikit lega, karena Ais sudah kembali tersenyum. Liha lantas duduk di samping suaminya.
"Sudah pergi mertua kamu Liha?" Tanya Abu lembut.
"Sudah... tetapi aku takut Bi, jika sampai Mama mengambil paksa Ais," Liha kini benar-benar mengalami masalah besar. Ia senderkan kepala di pundak Abu, menatap Ais yang sedang mengubur badanya dengan bola hingga setengah badan.
"Tadi bu Citra berkata apa lagi?" Tanya Abu. Abu terpaksa meninggalkan Liha menghadapi mantan mertuanya sendiri, karena membawa Ais menyingkir dari keributan orang dewasa itu lebih penting.
"Banyak Bi, intinya mengancam akan merebut paksa Ais dari kita" Liha tidak sanggup jika harus kehilangan Ais.
"Liha... tidak hanya kamu yang takut kehilangan Ais, tetapi aku pun sama" ujar Abu sungguh-sungguh. Abu sudah tahu sikap Citra. Kini Abu pun sudah mempunyai ancang-ancang bersiap-siap jika Citra berani mengambil Ais Abu pun akan bertindak.
__ADS_1
"Terimakasih Bi..." pungkas Liha.
...Bersambung....