Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Sah


__ADS_3

Abu menjatuhkan dahinya ke atas meja berbantalkan tangan. Pikiranya melayang jauh ke Jakarta. Mengapa ia merasa bersalah kepada Midah? Padahal dia selama ini tidak pernah berkomitmen.


Abu menarik napas panjang kemudian berangkat kembali ke rumah sakit. Pria bertubuh tegap dan sedikit brewok di dagu itu, sudah tiba di tempat.


"Ais belum bangun?" tanya Abu pendek.


"Belum" lirih Liha.


"Panasnya sudah turun?" Abu menempelkan punggung tangan ke dahi Ais memeriksa suhu tubuh bocah cantik itu.


"Belum," Liha menggeleng.


Hingga beberapa saat saling diam, keduanya sulit sekali untuk berkata-kata.


"Om..." ucap Ais memecah keheningan. Namun matanya masih terpejam.


"Ais..." kedua orang itu menjawab serentak. Keduanya berdiri menekan ranjang menatap Ais lebih dekat.


Jedug!


Dahi mereka bertubrukan. "Astagfirrullah..." ucap keduanya. Mata mereka saling bertemu.


"Om..." Ais mengulangi. Keduanya lantas menunduk menatap Ais.


"Kamu sudah bangun?" Lagi-lagi keduanya melempar pertanyaan yang sama.


"Sudah" Ais mengangguk, menatap lekat wajah Abu. "Om, katanya mau ajak main Ais..." protes Ais.


"Iya... Maaf... makanya Ais cepat sembuh terus kita bikin kereta," kata Abu sambil tersenyum.


"Ais sudah sembuh Om... benelan," ucapnya padahal suaranya masih lemah.


"Kepalanya masih sakit sayang?" Liha mengusap pipi putih Ais dengan telunjuk.


"Sedikiit.." jawab Ais. Lalu memegangi organ bawah seperti menahan sesuatu.


"Ais mau pipis... gendong Umma yuk" Liha mengangkat tubuh mungil putrinya. Sambil menarik penyangga botol infus kemudian melangkah ke kamar mandi. Abu bermaksud membantu namun Liha menolak.


"Om jangan pelgi ya..." pesan Ais rupanya takut di tinggal. Abu mengacungkan jempol menatap ibu dan anak itu hingga masuk ke kamar mandi.


Sambil menunggu mereka, Abu merapikan kasur dan bantal Ais. Pekerjaan seperti ini sudah biasa bagi Abu. Tinggal di Jakarta hanya seorang diri, pekerjaan rumah tentu ia lakukan sendiri.


Kriitt...


Terdengar pintu kamar mandi dibuka Abu segera mendekat membantu mendorong penyangga infus.


"Oh iya Om punya sesuatu," kata Abu kemudian ia ambil dari meja.


"Sesuatu?" tanya Ais.

__ADS_1


"Trararaa..." Abu ambil boneka dari balik punggung. Memberikan pada Ais saat masih di gendongan Liha.


"Bilang apa sama Om," kata Liha.


"Telimakasih Om"


"Sama-sama"


Liha menidurkan putrinya kemudian ambil sarapan pagi di atas meja. Sebenarnya sudah kelewat karena saat ini sudah mendekati makan siang.


"Umma suapin ya..." Liha sudah menyendok bubur hendak memasukkan ke mulut Ais.


"Suapin sama Om saja..." pinta Ais. Walaupun sebenarnya takut dimarahi Liha. Karena Liha sudah berpesan kepada Ais sebelum sakit agar jangan merepotkan Om Abu.


"Sini, Om suapin ya..." Abu hendak ambil mangkok dari tangan Liha.


"Kan sudah Umma katakan Ais... ja-" Liha tidak melanjutkan ucapanya karena Abu menatapnya tajam. Segera ambil alih mangkok dari tangan Liha, kemudian menyuapi Ais. Abu kesal baru saja Ais sedikit lebih baik, tetapi keras kepala Liha tidak hilang-hilang.


"Sekarang... Ais berdoa sebelum makan dulu ya..." kata Abu membimbing doa sebelum makan. Sedikit demi sedikit menyuapi Ais dengan telaten hingga satu mangkuk bubur habis.


"Alhamdulillah... anak pintar," puji Abu. Liha hanya terpaku menatap Abu dan putrinya seketika ingat Imron. Andai saja masih ada tentu dia yang akan melakukan ini, bukan orang lain. "Astagfirrullah..." Liha meraup wajahnya lupa pesan bunda Indah.


"Kamu kenapa?" tanya Abu, karena istighfar Liha terdengar oleh nya.


"Nggak apa-apa" Liha kemudian membereskan mangkok.


Banyak yang Abu lakukan selama dua jam di kamar itu untuk menghibur Ais. Hingga akhirnya bu Indah tiba membawa rantang.


"Ibu sudah datang, kalau begitu saya pamit pulang Bu..." Abu berdiri dari samping Liha.


"Loh... kok pulang... paling tidak makan dulu..." Bu Indah tampak kecewa.


"Lain kali saja Bu... saya mau mempersiapkan segala sesuatunya," jawab Abu yang dimaksud adalah mempersiapkan pernikahan ke KUA lusa. Entah mengapa Abu masih merasa enggan untuk membahas masalah pernikahan ini kepada Liha.


"Om... jangan pulang..." cegah Ais.


"Om shalat dulu... terus nanti malam IsyaAllah... kesini lagi," Abu mengusap kepala Ais.


"Benelan ya Om..." ucap Ais dengan wajah memelas.


"Beneran dong... sekarang Ais istirahat, bobo siang biar cepat sembuh," nasehat Abu selayaknya anak sendiri.


"Assalamualaikum..." ucap Abu seraya berjalan keluar.


"Waalaikumsallam..."


Liha menatap langkah Abu hingga keluar ruangan. "Huh! Angkuh amat! Kayak yang paling tampan saja" omel Liha pelan agar tidak terdengar oleh Ais.


"Hus! Liha..." bu Indah memperingatkan.

__ADS_1


"Sekarang kita makan saja Liha... nanti mubazir" sesal bu Indah. Sudah membawa masakan lebih banyak tetapi ternyata Abu tidak mau makan.


"Iya Bu aku mau makan kok, yang nggak mau makan ya sudahlah, tidak usah sedih begitu" sungut Liha menatap mata bundanya tersirat rasa kecewa. Liha kasihan, sudah capek-capek memasak malah pria itu ngacir.


"Hus! Nggak boleh ngomongin orang di belakang Liha, itu namanya gibah,"


"Habisnya aku kesel banget Bun, tahu nggak, dari tadi Dia disini aku ajak ngomong melengos terus," adu Liha seperti anak kecil.


"Hehehe... jadi... sudah minta perhatian sama calon suami" kelakar bu Indah.


"Calon suami sombong gitu? Idih, mentang-mentang ganteng!" Liha salah ucap.


"Tadi kamu bilang, kayak yang paling tampan... terus... sekarang kamu bilang paling ganteng," bu Indah masih berkelakar.


"Sudahlah Bun, katanya mau makan! Jangan bahas dia lagi!" ketus Liha.


"Ya sudah kita makan dulu setelah ini ada yang mau Bunda bicarakan, penting" pungkas bu Indah.


"Ais... Nenek makan dulu ya sayang..." ucap bu Indah berdiri dari tikar di samping pasien menatap Ais yang sedang main boneka pemberian Abu baru saja.


"Sudah makan di suapi sama Om," celoteh Ais. Nenek mengacungkan jempol kemudian makan dalam diam.


"Bu... katanya ada yang mau Ibu bicarakan, apa?" tanya Liha rupanya sudah tidak sabar.


"Begini Liha... tadi haji Umar sama Ifah ke rumah, menurut mereka pernikahan kalian akan di laksanakan lusa, tetapi ke KUA saja," tutur bu Indah seperti yang Ifa katakan.


"Apa Bu? Lusa?" Liha terperangah. "Yang benar saja, aku nggak mau!" tegas Liha.


"Mulai dech seperti kemarin, egoisnya nggak hilang-hilang. Padahal Ais baru mendingan" bu Indah geleng-geleng menatap Liha kadang emosinya tidak terkendali jika membahas tentang Abu.


"Tetapi seharusnya nggak lusa juga kali Bun, kami biar kenal dulu" kilah Liha.


"Dari kemarin juga kamu yang membuat aturan begitu Liha, malah mengajak ta'aruf, semua menyetujui kamu, termasuk Abu. Tapi ta'aruf macam apa yang kamu buat? Memang Ibu nggak tahu kalau kamu mengusir Abu dengan seenaknya padahal Abu itu kurang baik apa sih Liha..." bu Indah geregetan.


Liha tidak bisa menjawab omelan bu Indah lagi, yang dikatakan beliau memang benar, tapi hanya karena belum siap bersanding dengan pria lain itu yang membuat Liha mudah marah.


********


Dua hari kemudian, tepatnya hari dimana pernikahan di lakukan. Petugas KUA sudah berada di kediaman bu Indah. Pernikahan yang hanya di hadiri kerabat dekat dan juga tetangga.


Patah hati berjama'ah itulah yang di alami para pemuda.


Paman Liha adik bu Indah yang menjadi wali nikah.


Sah


Sah


Sah

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2