
Jika Nanta dan Midah mengalami sedikit perubahan satu sama lain. Yakni sudah saling merindukan.
Sekarang kita lihat bagaimana keluarga Abu. Apakah Citra masih keukeuh dengan niatnya untuk mengambil alih hak asuh Ais?
"Aslihah, dan kamu Abu, jika kalian tidak mau menyerahkan Ais, saya akan menempuh jalur hukum, untuk merebut cucu saya" Citra percaya diri. Dengan uang yang ia miliki wanita paruh baya itu yakin akan bisa ambil Ais dalam pangkuan Abu yang bukan siapa-siapa Ais.
"Bu Citra... saya tekankan sekali lagi. Jika ibu nekat, saya pun bisa kok, meladeni ibu sampai dimanapun ibu akan mencari pembelaan atas hak asuh Ais. Saya akan tantang Anda" tegas Abu.
Aslihah menciut mendengar gretakan Abu kepada Citra. Liha khwatir jika nanti mereka kalah lantas Citra berhasil memenangkan hak asuh Ais, hancur sudah harapanya. Untuk mendidik Ais ke jalan Allah. Namun Liha tidak berkata apapun mempercayakan kepada suaminya. Liha hanya menunduk sedih.
"Bu Citra... saya tahu Anda banyak uang, tetapi posisi Anda ini lemah loh. Anda hanya sebagai nenek yang tiba-tiba datang ingin merebut Ais" tegas Abu.
"Sementara Liha, ibu Citra pasti tahu, istri saya ini ibu kandungnya Ais. Yang merawat dan membesarkan Aisyah seorang diri hingga sekarang" imbuh Abu.
Citra diam entah apa yang wanita itu pikirkan.
"Anak balita tidak boleh berpisah dari ibu kandungnya. Terlebih keduanya saling takut kehilangan satu sama lain. Andai ibu bisa merebut Ais. Apakah Ibu bisa memberi cinta kasih yang luas seperti yang istri saya berikan kepada putrinya?" Tanya Abu mencoba untuk berbicara lebih lunak.
"Bu Citra... jika ibu nekat, ibu sudah banyak membuang waktu, dan banyak mengeluarkan uang, belum tentu bisa mengambil Ais. Tetapi jika Ibu mau berdamai, mari kita sama-sama sayangi Ais. Maksud kami, Ibu boleh kok menginap di rumah saya, bahkan tinggal disini sekalipun. Tanpa harus membawa pergi Ais. Ibu bisa menghabiskan masa tua Ibu dengan kami" Abu memang baik. Jika dipikir, siapa Citra? Namun, ia berpikir luas agar semua berjalan sesuai keinginan kedua belah pihak.
Citra masih tetap diam, tidak bersikap arogan seperti ketika datang tadi. Atau... wanita itu sudah luluh dengan kata-kata lembut Abu. Wanita paruh baya itupun pamit pulang.
Abu dan Liha mengantar sampai pintu. "Kira-kira... Mama masih ingin lanjut memilih jalur hukum tidak ya Bi" Aslihah masih tampak resah jika Citra membuktikan ucapanya.
"Jika memang Bu Citra bisa berpikir panjang, beliau akan berpikir dua kali Liha..." jawab Abu. Abu bisa menilai jika Citra tergolong wanita memilih harta daripada manusia. Abu yakin, Citra tidak mau membuang banyak uang hanya demi seorang cucu. Sedangkan dengan anak kandung sendiri pun rela membuangnya.
"Semoga ya Bi" Liha meraup wajahnya dengan telapak tangan. Ia hanya bisa berdoa hanya Allah yang mampu membolak balikkan hati manusia.
"Sekarang kita jemput Ais yuk, sekalian menjenguk bu Fatimah" kata Abu. Abu memilih menitipkan Ais kepada Udin, ketimbang mendengar perdebatan yang akan mempengaruhi psikis Ais jika terjadi perselisihan yang rumit dengan Citra.
"Iya Bi" jawab Liha. Mereka menjalankan motornya menuju apotek karena Udin masih menunggunya disana.
Usai menjemput Ais pasutri langsung ke rumah bu Fatimah.
"Mau ke lumah Nenek ya Umma?" Tanya Ais. Ketika sudah di atas motor.
"Iya... Nenek Imah, sekarang punya dedek bayi" jawab Liha.
Abu hanya mendengarkan obrolan anak dan ibu itu, kemudian menuju kediaman bu Fatimah.
__ADS_1
"Selamat ya Bu" Liha memeluk tubuh wanita yang berperut besar tempo hari, tapi kini sudah kembali langsing. Saat ini mereka berkumpul di ruang tamu.
"Terimakasih Liha..." Jawab bu Fatimah kemudian duduk di samping pak Handoko. Kali ini ngobrol dengan Abu dan Liha.
Pak Handoko memberi perhatian khusus kepada istri dan anaknya. Saat ini sedang memangku putranya yang baru lahir selama tiga hari itu dengan perasaan bahagia yang membuncah.
"Diberi nama siapa putranya Pak?" Tanya Abu. Abu terharu. Tidak menyangka di usia bu Fatimah yang tidak lagi muda, seperti Bulan maupun Liha, tetapi masih mampu mengandung dan melahirkan normal. Abu pun berdoa dalam hati semoga istrinya diberi kesempatan untuk hamil untuk melengkapi kebahagiaan nya.
"Muhamad Alfi Handoko" jawab Handoko. Bangga.
"Dedeknya masih kecil, nanti bisa besal sepelti Abi nggak" polos Ais. Mengundang gelak tawa.
"Bisa, justru lebih besar dari Abi" jawab Abu.
"Di pelut Umma ada dedek bayi nggak? Ais pengen..." rengek Ais menyusupkan wajahnya ke perut Liha.
"Semoga Allah menitipkan dedek di perut Umma" doa Abu.
"Aamiin..." semua mengaminkan.
Setelah ngobrol beberapa saat sambil menikmati kudapan dan minuman yang di suguhkan bibi. Abu mengajak anak dan istrinya pulang.
"Bang, diisi penuh ya" titah Abu.
"Siap Mas" jawab penjual bersemangat.
Sambil menunggu motornya diisi Abu memindai sekeliling. Netranya menangkap sosok yang tidak asing.
"Liha... kalau tidak salah wanita tomboy itu Sumidah kan?" Tanya Abu.
"Betul Bi, memang Sumidah. Saya temui Dia ya" ijin Aslihah.
"Kamu yakin Liha?" Abu terkejut dua minggu yang lalu betapa bercinta Sumidah kepada Liha jika bertemu apakah tidak akan ada keributan nantinya. Abu setengah keberatan.
"Tenang saja Bi" Liha seolah tahu apa yang dipikirkan suami nya. Abu pun mengangguk mengijinkan Liha.
Dengan langkah pasti Liha menghampiri Sumidah, bermaksud silaturahmi. Walaupun bagaimana mereka bukan musuh karena tidak ada yang salah diantara mereka.
"Assalamualaikum..." Liha mengucap salam.
__ADS_1
"Waalaikumsalam..." Midah yang sedang berbicara dengan pihak kasir bersama pria menoleh cepat.
"Ka-kamu" gugup Midah.
"Sumidah... sedang apa kamu disini?" Tanya Liha lembut.
"Emmm... sa-saya..." seperti bertemu mantan pacar. Sumidah benar-benar bingung untuk menjawab.
"Kami sedang ambil motor yang kami servis di bengkel ini Mbak" jawab pria itu yang tak lain adalah Junaedi.
"Oh..." Liha manggut-manggut.
"Kalau begitu saya permisi Midah..." kata Liha. Merasa tidak di respon lebih baik kembali keluar.
"Tunggu Teh" cegah Midah ketika Aslihah meninggalkan dirinya.
Liha yang sudah menjauh menghentikan langkahnya menatap Sumidah yang berjalan cepat menghampirinya.
"Saya minta maaf atas sikap saya tempo hari Teh" Midah mengulurkan tangan.
"Saya yang seharusnya minta maaf Midah"
Keduanya saling memaafkan, Abu hanya menatap dari kejauhan tersenyum. Ia senang dua wanita itu akhirnya mau berdamai.
"Kenalkan ini Junaedi tetangga kampung saya, Teh" ucap Midah.
"Junaedi" Juned bermaksud berjabat tangan. Namun Aslihah memilih menangkupkan tangan di depan dada.
"Umma..." panggil Ais menghampiri Liha. Menatap dua orang asing bergantian.
"Salim Om sama Tante sayang..." Aslihah menunduk menatap Ais. Ais mengulurkan tangan kepada dua orang itu tanpa bersuara.
Sumidah pun tersenyum memandangi gadis kecil itu gemas. Lalu mengangkat kepala mencari seseorang ada anak kecil berwajah cantik itu baru dari luar sudah pasti disana bersama Abu.
Midah menangkap pria yang sedang memundurkan motornya setelah diisi bensin.
"Sumidah... saya pamit ya..." Aslihah mengejutkan Midah.
"Oh iya Teh, hati-hati" jawab Sumidah menatap kepergian Liha yang menuntun Ais kemudian naik ke atas motor.
__ADS_1
...Bersambung....