Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Marah.


__ADS_3

Entah apa lagi yang dikatakan oleh Junaedi kepada dua adik Midah, nyatanya keduanya menurut mengikuti Junaedi ke kasir. Tiba di tempat, belanjaan Sumidah sedang di hitung oleh penjaga kasir.


"Total 500 rb saja Teh" kata penjaga kasir.


"Pakai ini saja" Junaedi dengan cepat memberikan kartu ATM ke petugas kasir tanpa minta persetujuan Sumidah. Rupanya Juned sudah mengeluarkan ATM sejak tadi.


"Jangan Kak Juned" tolak Sumidah cepat. Namun petugas kasir sudah menggesek ATM, kemudian memberikan nota kepada Sumidah, setelah mengembalikan kartu kepada Junaedi . Midah mengalah kemudian keluar dari depan meja kasir.


"Ini uang gantinya Kak" Sumidah mengeluarkan uang tunai dari dompet.


"Tidak Sum, aku ikhlas membayar ini, sekali-kali memang kenapa," tulus Juned. Midah melempar tatapan ke wajah Juned. Dari tatapan mata pria itu jelas ada ketulusan. Namun ada maksud apa, Midah tentu tidak ingin ada hutang budi. Mana ada orang baru di kenal lantas memberi uang dengan cuma-cuma.


"Teteh... biar kami yang membawa belanjaan pulang duluan, terus... Teteh makan seblaknya sama Kak Edi saja" Anda dan Erdar segera membawa belanjaan pulang.


Junaedi yang biasa dipanggil Edi, kecuali Midah yang memanggil Juned itu tersenyum, menatap kepergian Anda diikuti Endar.


"Anda... Endar..." Panggil Midah. Namun kedua adiknya sudah menjauh. Midah menatap Juned merasa aneh setelah adiknya dipanggil olehnya mengapa tiba-tiba pulang, padahal di rumah tadi sudah berjanji akan makan bersama. Tidak mungkin adiknya bersikap seperti itu jika tidak ada apa-apa.


"Bicara apa Kak Juned sama kedua adik saya, kenapa mereka tiba-tiba pulang?" selidik Sumidah.


"Tidak bicara apa-apa kok Midah... katanya kamu mau makan seblak... terus aku ijin sama mereka bermaksud menemani kamu," Juned hendak mengait lengan Midah, namun dengan cepat Midah mundur.


"Ada apa Juned? Kita baru saja kenal tadi pagi, tapi tiba-tiba kamu mau main ke rumah, membayar belanjaan saya, terus sekarang mengajak saya makan seblak, tanpa adik saya!" Sumidah merasa curiga.


"Sudah aku katakan, tidak ada apa-apa Midah.. aku hanya ingin kita bersahabat apa itu salah?" Juned mengangkat kedua telapak tangannya.


"Jangan bohong!" Midah menangkap satu tangan Juned, memegang dengan tangan kiri. Kemudian mengembalikan uang 500 ribu tadi ke telapak tangan pria yang baru di kenal nya itu.


Sumidah kemudian menjauh, niat makan seblak gagal total. Ia keluar dari minimarket kemudian menyetop angkutan lalu pulang. Tidak menghiraukan Juned yang masih mengejarnya.


Midah sudah tidak percaya lagi dengan kebaikan pria yang ujung-ujungnya membuatnya sakit hati. Cukup Abu saja yang mengecewakan dirinya. Midah lalu mengingat lagi selama mengenal Abu. Pria yang masih bertahta di hati nya itu, dulu sering memberi perhatian tidak hanya berbentuk benda maupun uang, tetapi juga perhatian yang membuat nya meleleh. Namun ternyata sulit dipercaya, hingga tiba-tiba menikah.


Midah menarik napas panjang, kini ia penasaran siapa wanita yang mampu meluluhkan hati Abu hanya dengan hitungan hari. Sedangkan dirinya, hingga bertahun-tahun pun akhirnya gigit jari.


"Kiri Mang" kata Midah, ketika angkutan melintas dimana gang yang menuju kediamannya.

__ADS_1


"Terimakasih Mang" setelah membayar angkutan kaki kecil itu lompat dari angkut berjalan melewati gang. Tiba di rumah Ambu dan kedua adiknya tampak sedang mengeluarkan barang belanjaan.


"Loh Teteh, kok nggak jadi makan seblak?" Anda mengangkat kepala bersamaan dengan Ambu dan Endar menatap mata Midah yang sudah tidak bersahabat dengan adik-adiknya. Tanpa aba-aba kedua tangan Midah menjewer dua telinga adiknya.


"Apa yang kalian bicarakan dengan Juned?!" Mata Midah melotot tajam.


"Teh-teh sakit Teh" sambat kedua pemuda itu memperlihatkan gigi putih nya karena meringis.


Ambu hanya menatap ketiga anaknya bingung melihat Sumidah yang sedang menahan marah.


"Teh lepas Teh..." rengek Endar.


"Aku nggak mau melepas telinga kalian sebelum kalian bicara dengan jujur apa yang kalian bicarakan dengan pria tadi"


"Sumidah... lepas telinga adikmu pipi nya sampai merah tuh" Ambu akhirnya melerai.


"Biar Mbu, kalau tidak mau bicara kuping ini tidak akan aku lepaskan!" Ancam Midah.


"Iya-iya aku cerita tapi lepas dulu" Anda mengalah.


"Tadi tuh Kak Edi bilang, kalau kami mau membujuk Teteh agar mau makan bersamanya, kami akan diberikan u--" Anda menunda ucapanya.


"Iya"


"Mana sekarang uangnya" telapak tangan Midah menengadah. Anda dan Endar bergeming.


"Mana uangnya kembalikan!" ketus Midah untuk yang kedua kali.


"Ada apa sih, kalian ini... Kak Edi, Juned, siapa itu, terus uang apa maksud nya?" cecar Ambu.


"Anak-anak ini Mbu, bikin malu kita saja! Ngemis sama pria yang baru dikenal, bikin malu kan mereka," sungut Midah.


"Ngemis?" Ambu masih tidak mengerti.


Midah kemudian menceritakan kepada Ambu tentang pertemuanya dengan Junaedi.

__ADS_1


"Anda... Endar... berikan uangnya pada Teteh. Apa yang dikatakan Teteh kamu benar, kalian jangan bikin malu, biar kita ini orang tidak punya, jangan suka minta belas kasihan" nasehat Ambu lembut.


"Apa kurang, Teteh kamu selama ini memberi uang jajan untuk kalian, Teteh kerja banting tulang itu untuk siapa Nak, untuk kita..." sambung Ambu.


"Maaf Teh..." Anda merogoh uang merah dua lembar di susul Endar kemudian memberikan kepada Sumidah.


"Uang ini akan Teteh kembalikan kalau Juned nanti kesini" Midah meyimpan uang ke dalam saku celana jins, kemudian merogoh dompet memberikan uang miliknya berjumlah yang sama kepada kedua adiknya.


"25 ribu saja Teh, cuma mau buat beli paketan satu bulan kok" Anda merasa bersalah kepada Midah yang sudah selalu mencukupi kebutuhannya namun ia mengecewakan.


"Simpan saja, di irit-irit itu uangnya" Midah kasihan menatap kedua adiknya. Sebenarnya Midah tidak mau berbuat kasar kepada mereka, tetapi biar bagaimana Midah tidak mau jika adiknya mudah di pengaruhi orang lain hanya demi uang.


"Terimakasih Teh" ucap Anda menatap Midah yang berjalan gontai masuk ke dalam kamar.


"Sudah... kalian pada istrihat sana," kata Ambu.


"Iya Mbu" Anda dan Endar masuk ke kamar.


"Aku nyesel sudah ngecewain Teteh," ujar Anda seraya melepas jaket.


"Aku juga, tapi ini gara-gara Kang Anda... aku kan hanya ikut saja," kilah Endar.


"Huh! Kamu ini, salah kita berdua" Anda merebahkan tubuhnya di kasur. Mereka tidur satu kamar dengan tempat tidur yang berbeda. Keempat tempat tidur di rumah ini Midah yang membeli satu persatu. Motor pun Midah juga yang membelikan. Agar memudahkan kedua adiknya jika ke sekolah.


"Ndar... kok Tumben ya, Teteh tadi marah sampai begitu" Anda tidur berpangku lutut.


"Aku juga mikirnya begitu Kang, kayaknya Teteh ada masalah lain deh" tebak Endar.


Mereka lantas diam dalam pikiran masing masing.


Sementara diluar kamar, Ambu menatap pintu Midah. Ibu tiga anak yang sudah menjanda kurang lebih 10 tahun itu pun termenung. Ambu kasihan anak gadisnya, baru mencintai pria untuk pertama kali tapi sudah patah hati.


"Ambu doakan semoga kamu mendapat jodoh pria sholeh Nak" gumam Ambu.


Tok tok tok

__ADS_1


Saat sedang melamun ada yang mengetuk pintu, Ambu segera membuka pintu.


...BERSAMBUNG....


__ADS_2