Balas Dendam Dewa Iblis

Balas Dendam Dewa Iblis
Episode 79


__ADS_3

Dia melihat seorang kakek yang sudah sangat tua renta, berbaring diatas ranjang


Melihat Kepala Suku Bai memberikan salam hormat, An Ling segera mengikutinya. Dia memberikan salam hormat kepada petapa tua, "Petapa, perkenalkan. Namaku An Ling!!, "


Sang petapa tiba-tiba mengulurkan tangannya. Memegang tangan An Ling dengan sangat lemah. Lalu mengatakan sesuatu dengan sangat lirih


An Ling sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan oleh petapa tua. Dia melirik kearah Kepala Suku Bai. Namun sama saja, Kepala Suku Bai menggelengkan kepalanya. Dia juga sama sekali tidak tahu apa yang diucapkan oleh petapa tua


"Terakhir kali kakek petapa berbicara, dia mengatakan sebuah marga yaitu, Ling. Seorang anak laki-laki yang bermarga Ling akan membantu kami membalaskan dendam!!, "


An Ling mengamati setiap gerakan bibirnya. Semakin lama dia semakin paham dengan apa yang diucapkannya


An Ling tersenyum pahit, "Kakek petapa, aku mengerti!!, "


Sang petapa tua tersenyum lega setelah mendengar jawaban dari An Ling. Dengan sisa kekuatannya, kakek petapa memberikan seluruh pengetahuan yang dimilikinya kepada An Ling


An Ling duduk bersila di samping ranjang. Dia memejamkan matanya, berkonsentrasi untuk menyerap seluruh ilmu yang dimiliki oleh kakek petapa


Cahaya kuning terang menyinari seisi rumah. Gubug kecil yang tadinya sangat gelap tiba-tiba saja bersinar sangat terang


An Ling tersenyum pahit. Dia menahan rasa sakit yang dia rasakan. Tubuhnya terasa seperti sedang di siram oleh lahar yang sangat panas


Tekanan yang sangat kuat terjadi. Semua orang yang merasakan tekanan yang disebabkan oleh An Ling saling menatap satu sama lain sambil bertanya-tanya, "Ada apa ini?,". "Apa kau merasakan sesuatu?, "


Sang petapa tua kembali terbaring di ranjangnya setelah ritual selesai dilakukan


An Ling sangat terkejut dengan semuanya. Tiba-tiba di dalam ingatannya, dia melihat sesuatu yang sangat mengerikan. Semua kejadian yang dialami oleh petapa tua masuk kedalam otaknya


Dia mengkerutkan keningnya lalu berkata dengan terbata-bata, "Se, setengah dewa. Petapa, anda sudah hampir menjadi dewa sejati. Sekte Cahaya Agung, mereka..., "


An Ling memukul lantai hingga retak. Dia sangat marah dengan Sekte Cahaya Agung yang telah menindas orang lemah. Mereka bahkan berhasil membuat kakek petapa kehilangan kultivasinya


An Ling berkata didalam hati, "Jika mereka berhasil membuat kakek petapa lumpuh, berarti, mereka memiliki seseorang yang sudah menjadi setengah dewa!!, "


"Gawat!!, " Pikiran An Ling sangat kacau. Dengan cepat dia berlari meninggalkan Kepala Suku Bai dan petapa tua


Ketika Kepala Suku Bai hendak mengejar An Ling, tiba-tiba saja tangan kakek petapa memegang tangannya. Menyuruh Kepala Suku Bai agar tetap disana


An Ling berlari sangat kencang hanya mengikuti nalurinya saja. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba berlari


Langkah An Ling terhenti ketika dia melihat kuil kuno berada beberapa meter dari tempatnya berdiri


Dia mengkerutkan keningnya, "I, itu. Jangan-jangan itu, Kuil Kuno!!, ". An Ling segera meneruskan langkahnya. Dia mempercepat larinya sambil bergumam, "Bagus, dengan ini aku bisa menjadi Kaisar Spiritual!!, "


An Ling mengeluarkan Pedang Iblisnya sambil terus berlari


Dengan penuh semangat, dia melompat dan menebas patung Dewa Air hingga hancur berkeping-keping

__ADS_1


Cahaya yang sangat terang berwarna kuning memancar ke langit. Aura Dewa Air yang sangat kuat mengelilingi seluruh Benua Air


Semua orang bersujud, memberikan salam hormat kepada Dewa Air


Wujud Sang Dewa yang hanya auranya saja bisa membuat semua orang merinding. Mereka semua bahkan tidak berani untuk mengangkat kepalanya


Dengan sangat kompak, seluruh manusia yang hidup di Benua Air mengucapkan salam hormat kepada Sang Dewa, "Hormat kami, Dewa Air!!, "


An Ling mendangakkan kepalanya, melirik kearah Dewa Air. Seketika tubuhnya terbang dengan sendirinya melalui cahaya yang memancar keatas


Kejadian itu disaksikan oleh seluruh rakyat Benua Air


Tiba-tiba saja, An Ling berada didalam dimensi ruang dan waktu. Dia melihat seorang yang berumur sekitar dua puluh lima tahun. Berdiri membelakanginya


Pria itu tiba-tiba saja tertawa, "Jiang Shi, memang mata iblismu tidak pernah salah melihat!!, "


An Ling mengkerutkan keningnya lalu berbicara dalam hati, "Jiang Shi, bukankah itu nama guru?, "


Laki-laki itu membalikkan badannya. Terlihat senyumannya yang sangat bahagia. Keempat Spirit Weapon suci terbang disamping laki-laki itu


Laki-laki itu kembali tertawa setelah melihat An Ling. Dia berkata, "Sudah ribuan tahun aku menunggu penerusku. Dan sekarang aku telah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!!, "


"Dewa Air, apakah aku benar?, " An Ling sangat yakin jika pria yang ada di depannya adalah Dewa Air


Dewa Air tersenyum pahit, "Tepat sekali, anak muda!!, ". Dia memperhatikan setiap lekuk tubuh An Ling, "Semuda ini sudah berada di puncak Surgawi, benar-benar anak yang luar biasa, "


"Bocah, siapa namamu?, "


"Jika dilihat-lihat, kau sama sekali belum bisa mengendalikan mata iblis merah darah bukan?, "


Pertanyaan Dewa Air membuat An Ling menjadi bersemangat, "Dewa Air, apakah anda bisa memberitahuku tentang mata iblis ini?, "


Sungguh disayangkan, Dewa Air menggelengkan kepalanya membuat An Ling kembali kehilangan semangat. Dia berkata, "Yang bisa mengendalikan mata itu hanya Jiang Shi seorang. Waktu itu, untuk mengendalikannya, dia kehilangan banyak sekali bawahannya. Mereka semua mengorbankan nyawa mereka agar Jiang Shi bisa melakukan ritual terlarang klan iblis untuk mengendalikan Mata Iblis. Setahuku, mata itu memerlukan darah segar yang sangat banyak, sebab itulah mata itu dinamakan, Mata Iblis Merah Darah!!, "


Sontak mulut An Ling tercengang, "Ta, tapi. Klan iblis telah disegel di jurang Abbys. Bagaimana aku bisa mengendalikan Mata Iblis ini?!, "


Dewa Air menggelengkan kepalanya. Dia menghela nafas dalam-dalam lalu menghembusnya, "Nak, waktuku tidak banyak lagi!!, "


"Aku akan mewariskan semua ini kepadamu. Buatlah kontrak darah dengan mereka!!, "


Keempat Spirit Weapon melayang kearah An Ling. An Ling segera meneteskan darahnya ke Spirit Weapon itu


"Nak, aku mempunyai sedikit informasi dan juga saran!!, "


An Ling menatap serius Dewa Air. Dia membuka lebar-lebar telinganya


"Aku, Jiang Shi, dan Dewa angin Ling Feng, adalah sahabat sehidup semati, kami bertiga berlatih bersama, berpetualang bersama, hingga pada akhirnya kami bertiga berhasil menjadi dewa. Di dunia Dewa, sekarang hanya tersisa Ling Feng, Dewa Api, Huo Shen, Dewa Tanah Jing Wu, dan Dewi Cahaya, satu-satunya wanita yang ada di dunia Dewa, Guang Ni Yun, "

__ADS_1


An Ling mengkerutkan keningnya, "Lalu, kekuatan yang kuat ini?, "


Dewa Air tertawa, "Ini hanya sisa kekuatanku yang aku tinggalkan di dalam Spirit Weapon ku. Aku, Dewa Air, Hui Ji. Telah mati ribuan tahun yang lalu hanya untuk membantu Jiang Shi. Tak kusangka mereka sangat licik!!, "


An Ling menggertakan giginya, "Aku, An Ling. Bersumpah kepada langit akan membalaskan dendam kalian!!, "


Dewa Air tersenyum puas, "Bagus, aku suka dengan sifatmu yang satu ini. Pergilah temui Dewa Angin dan jangan lupa sampaikan salamku kepadanya!!, "


Tubuh Dewa Air perlahan memudar, seluruh kekuatannya yang tersisa masuk kedalam tubuh An Ling


Cahaya yang berwarna kuning berubah menjadi merah. Kedua mata An Ling pun sama. Kekuatan Dewa Air perlahan mulai masuk kedalam tubuhnya


Keempat Spirit Weapon juga terpasang ditubuh An Ling. Sontak, sosok Dewa Air seperti menjelma menjadi An Ling karena sekarang An Ling memancarkan aura yang sama persis dengan Dewa Air


An Ling tersenyum dingin dan berkata, "Kekuatan yang sangat kuat, jadi seperti ini rasanya menjadi Kaisar Spiritual?!, "


Cahaya merah perlahan mulai memudar, An Ling turun dengan perlahan. Sosok An Ling yang berpenampilan kumuh telah berubah drastis. Armor Naga Laut yang terpasang di dadanya, Mahkota Emas yang ada di kepalanya, Pelindung Lengan Biru Laut yang terpasang di lengan kanannya dan Trisula Emas yang dia pegang di tangan kanannya, membuat semua orang yang ada di Pulau Mahkota Dewa tercengang terutama teman-temannya


"Ti, tidak mungkin. An Ling, kau?, " Ucap Yu Nie setelah melihat penampilan An Ling yang diluar dugaan


An Ling mengetukkan Trisula Emas ketanah lalu berkata dengan sangat tegas, "Dewa Air telah memberikan titah, bahwa akulah yang akan menggantikannya!!, "


Semua orang bersorak-sorai, "Hidup Dewa Air, hidup Dewa Air!!, "


Teman-teman An Ling masih tercengang tidak percaya. Ternyata selama ini mereka berteman dengan utusan dewa


Kepala Suku Bai sedikit membungkukkan badannya, dia memberi salam hormat dan ucapan selamat kepada An Ling


"Tidak perlu sungkan begitu, kakek. Aku ingin berterima kasih kepadamu karena sudah membantuku, "


"Tidak-tidak, aku yang harus berterima kasih kepadamu. Di kedepannya, masih banyak rintangan yang harus kau hadapi. Kuharap, tujuan kita dapat tercapai, "


An Ling menganggukkan kepalanya lalu berkata, "Kakek, besok pagi aku akan segera pergi dari sini. Aku memutuskan untuk meningkatkan kekuatan dengan berpetualang, "


Kepala Suku Bai menganggukkan kepalanya, "Tentu saja. " Dia lalu berteriak, "Semuanya, mari kita lanjutkan pesta yang meriah!!, "


Semua orang bersorak-sorai. Mereka kembali melanjutkan pesta mereka yang belum selesai. Bahkan persediaan wine mereka masih sangat banyak


An Ling menutup kembali Auranya, memasukkan Trisula Emas dan Mahkota Emas kedalam dimensi ruang dan waktu


Teman-temannya segera menghampirinya. Dengan tidak percaya Zao Hua berkata, "An Ling, itu benar kau. Aku tidak sedang bermimpi bukan?, "


Kapten Chu Leng menepuk bahu An Ling, "Selamat atas pencapaianmu, nak!!, ". Dia tersenyum puas


"Bisa-bisanya kau menyembunyikan semuanya dari kami!!, " Sahut Xiao Chu dengan perasaan gembira


Yu Nie dengan cepat berlari lalu memeluk An Ling dengan sangat erat, "Dasar brengsek, bisa-bisanya kau menutupi semuanya dengan sangat sempurna. Aku yakin Jie Yu juga tidak mengetahuinya sama sekali. Aku juga sangat yakin, sekarang Jie Yu sedang menangis bahagia, menunggu kepulanganmu, "

__ADS_1


An Ling tiba-tiba teringat dengan Jie Yu. Dia berkata didalam hati, "Jie Yu, apakah kau masih memberiku kesempatan?, "


Yu Nie segera menarik tangan An Ling setelah dia puas memeluknya. Dia mengajak An Ling untuk berkumpul dengan sekumpulan pria berbadan kekar yang sedang menghabiskan wine


__ADS_2