
Setelah Aditya dan Andi pulang, Kyra mencoba menghubungi Tania. Ia ingin meminta bantuan Tania untuk mencarikannya Apartemen baru untuk ia tempati bersama anaknya.
Suara telfon
“Halo...ada apa Ky?” Suara Tania dibalik telfon.
“Tania....aku mau minta bantuanmu lagi.”
“Silahkan katakan saja, aku pasti akan membantumu.”
“Apa kamu bisa membantuku mencarikan Apartemen baru untuk kutempati bersama Kaila?”
“Kamu tinggal saja disitu, kenapa harus mencari lagi.”
“Sepertinya aku tidak bisa kembali ke Amerika, aku ingin mencari Apartemen baru. Aku sudah delapan tahun di Amerika, aku tidak tahu Apartemen yang bagus disini. Aku ingin mencari Apartemen yang lebih dekat dengan kantor perusahaan Sinatria.”
“Apartemen yang kamu tempati itu juga dekat dengan kantormu. Kamu tidak usah mencari yang lain.”
“Tapi....ini kan Apartemen pribadimu. Aku tidak bisa tinggal disini.”
“Aku juga tidak akan tinggal disitu lagi, ayah menyuruhku tinggal bersamanya sebelum menikah dengan Bagas.”
“Begini saja, aku akan menyewa Apartemenmu ini selama enam bulan. Bagaimana?”
“Baiklah....itu terserah padamu. Aku tidak bisa menang kalau harus berdebat denganmu.”
“Terima kasih banyak.”
“Tidak usah berterima kasih padaku karena aku sama sekali tidak membantumu.”
“Kamu sudah sangat membantuku, aku tidak susah – susah lagi mencari tempat lain.”
“Ia....kalau ada apa – apa hubungi aku yah.”
“Baiklah...maaf aku sudah mengganggu malammu.”
“Tidak apa – apa.”
“Kalau gitu aku tutup telfonnya sekarang.”
__ADS_1
“Ia..”
Setelah Kyra mengobrol lama dengan Tania, ia kemudian menghubungi Zahila. Ia mengirim pesan kepada Zahila kalau ia tidak bisa kembali ke Amerika.
Isi pesan.
“Zahila....sepertinya kakak tidak bisa kembali lagi ke Amerika. Kakak harus bekerja di perusahaan Aditya. Kalau kamu ingin kembali mintalah Mas Bagas mengantarmu ke Indonesia, jangan pergi sendiri. Katakan juga kepada Mas Bagas kalau kakak tidak bisa kembali.”
Setelah mengirim pesan kepada Zahila, ia kembali tidur disamping anaknya sambil mengelus – elus kepala anaknya.
***
Ditempat lain....tepatnya di rumah Aditya yang berada di pinggir pantai.
Mereka sudah berada didepan rumah bergaya barat itu, Andi langsung memarkirkan mobilnya diparkiran mobil rumah Aditya. Aditya masuk ke dalam rumahnya bersama dengan Andi. Ia menuju ruang kerjanya diikuti Andi dari belakang.
Aditya duduk sambil merebahkan tubuhnya dikursi kerjanya. Didalam mobil tadi, ia hanya diam tanpa mengatakan apa – apa pada asistennya sedangkan Andi berdiri didepannya karena memang waktu kerjanya masih belum habis. Itu sudah biasa sekali terjadi, ketika pulang lebih awal dari perusahaan, ia menemani Aditya bekerja dirumahnya.
Aditya bergumam sendiri sambil mengingat ketika Kyra menandatangani dokumen yang ia berikan.
“Dasar wanita bodoh, dia menandatangani dokumennya begitu saja tanpa diperiksa dulu. Besok pasti dia akan membuat keributan di kantor.” Gumamnya sambil tersenyum. “Sudah lama aku tidak melihat dia mengacau.”
Aditya kembali berbicara dengan wajahnya yang terlihat senang.
“Kenapa tadi aku tidak menarik tali piyamanya itu yah, dia pasti mengamuk terus memukul hidungku lagi seperti dulu?” Gumamnya sambil memikirkan piyama yang dipakai Kyra.
Sedangkan Andi hanya berdiri didepannya seperti orang bodoh. Ia tidak ingin mengganggu kesenangan sepupunya yang sudah menjadi bosnya itu. Ia hanya bisa berbicara dalam hatinya.
“Kalau kakak sudah membahas istrinya, semuanya dilupakan. Dia seperti tidak menganggap keberadaanku disini. Apa aku terlihat seperti hantu atau bayangan sampai bicara sendiri tanpa melihatku. Sepertinya tadi aku terlalu berlebihan saat melihatnya dimobil yang hanya diam tanpa mengatakan apa - apa. Ternyata dia menikmati nostalgianya dengan kakak ipar.” Dalam hati Andi.
Aditya kemudian menegakkan tubuhnya ke depan sambil menatap Andi.
“Malam ini kamu kosongkan ruang dokumen yang ada didekat ruanganku. Jadikan itu ruangan bermain untuk anak kecil, besok harus bisa digunakan. Kamu penuhi saja ruangannya dengan boneka atau apalah yang bisa membuat anak umur 7 tahun senang. Dan besok kamu suruh orang untuk menjemputnya datang ke kantor, jangan biarkan dia menitip anakku pada orang lain.” Tegasnya.
“Anda ingin membiarkan Nona Kyra membawa Kaila ke kantor.”
“Ia...”
“Tapi.....bukankah Anda sendiri yang melarang orang membawa anak kecil ke kantor, tuan.”
__ADS_1
“Kaila adalah anakku, kenapa dia tidak boleh masuk ke kantor sesukanya.”
‘’Baiklah....saya akan menyuruh orang untuk menjemputnya besok.”
“Satu lagi...kamu beli Apartemen yang ada didepan Apartemen yang ditempati Kaila, besok aku harus tinggal didekatnya.”
“Sepertinya itu sudah ada pemiliknya, tuan.”
“Beli saja dengan harga yang dia mau. Selama dia bersedia menjualnya padaku, harga berapapun akan aku beli. Besok aku harus pindah kesana. Aku ingin lebih dekat dengan Kaila.”
“Baik....akan saya lakukan malam ini. Tapi....kenapa Anda tidak langsung memberitahunya tentang status Nona Kyra yang masih menjadi istri Anda”
“Wanita itu suka memberontak kalau aku langsung mengikatnya dengan alasan itu, apa kamu pikir dia seperti wanita lain yang langsung menerima begitu saja. Biarkan saja dia bermain – main, aku akan mengikuti sampai mana dia mau bermain. Kalau sampai dia berbuat macam – macam, aku akan bertindak ekstrim bahkan jika perlu aku akan mengikat kedua kakinya itu. Apalagi tadi dia berani membahas wanita yang pernah menghianatinya itu. Dia masih berpikir kalau aku bersama dengannya.”
“Kalau Kyra tahu hidup Aura berantakan dan hancur pasti Nona Kyra akan kasihan lagi padanya. Aku takut kalau rasa kasihan Nona Kyra itu bisa membuat dia menolong Aura lagi apalagi Santi ada di kota ini. Kalau dia bertemu dengan Nona Kyra, pasti dia akan meminta tolong padanya.”
“Coba saja jika dia berani melakukannya, aku akan membuat nasibnya sama dengan temannya itu.” Ucap Aditya dengan wajah dinginnya.
“Apa perlu saya mengusir Santi dari negara ini. Saya hanya takut kalau dia membocorkan masalah Aura pada Nona Kyra?”
“Tidak perlu, aku sudah berjanji padanya untuk membuat hidupnya aman karena sudah mengatakan semua perbuatan wanita sialan itu padaku. Kamu ancam saja dia, jangan sampai dia menemui Kyra. Kalau sampai dia menemuinya, aku sendiri yang akan mengurusnya seperti yang kulakukan pada Aura.”
“Baik...”
“Pergilah....lakukan semua yang kuperintahkan tadi. Dan jangan pernah katakan pada mami kalau Kyra sudah kembali.”
“Baik”
Andi pergi meninggalkan Aditya yang masih duduk diruang kerjanya. Ia mengendarai mobilnya menuju perusahaannya karena ia harus mengosongkan ruang dokumen yang sangat penting. Ia harus mengawasinya sendiri karena itu merupakan dokumen penting perusahaannya. Ia tak lupa menghubungi istrinya untuk tidak menunggunya pulang, tentu saja Lea setuju karena itu sudah resiko dari pekerjaannya sebagai asisten pribadi Aditya. Apalagi ia harus menyelesaikan semuanya hanya dalam semalam.
Sementara Aditya masih duduk di ruang kerjanya. Ia duduk menghadap jendela kaca yang ada dibelakang meja kerjanya. Ia menatap langit malam sambil membayangkan wajah anaknya yang begitu ia damba – dambakan selama bertahun – tahun ini.
“Anakku begitu cantik, wajahnya mirip sekali dengan ibunya seperti yang kuharapkan selama ini. Aku senang bisa memandang wajahnya meskipun hanya sebentar. Aku akan melakukan apapun untuk membuat kalian kembali bahkan jika aku harus menjadi pria yang tidak tahu malu. Aku akan melakukan semuanya.” Dalam hati Aditya.
Ia kemudian memejamkan matanya sambil menghela nafasnya dengan pelan.
“Anakku....tunggu papa, kita akan hidup bersama. Tunggu sampai papa membuat mamamu mengerti.” Dalam hati Aditya.
Bersambung.
__ADS_1