Beautiful Romance 2

Beautiful Romance 2
BAB 68 Beautiful Romance 2


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Kyra turun tangga menuju dapurnya. Ia berjalan ke sana dengan wajahnya yang terlihat senang.


Dua pelayan datang menghampirinya.


“Siang nyonya.” Sapanya sambil membungkuk di depan Kyra.


“Siang.” Sambil tersenyum.


“Nyonya perlu apa. Biar saya yang melakukannya?” Sahut salah satu pelayannya.


“Aku mau masak. Kalian tidak usah bantu. Kerjakan saja hal yang lain.”


“Baik.” Secara bersamaan sambil membungkuk hormat.


Kedua pelayannya itu hanya berdiri di belakang Kyra sedangkan Kyra sudah mulai masak untuk suaminya.


“Aku harus masak apa ya?” Gumamnya sambil berpikir. “Apa aku buat spaghety atau pasta ya. Apa aku buat pasta saja. Kalau aku buat spaghety, nanti dia tidak suka lagi seperti dulu saat di Amerika. Kalau pasta kan, aku sudah biasa membuatnya.” Gumamnya.


“Ah pasta sajalah.”


Kyra pun mulai masak pasta seperti yang ia lakukan setiap hari sewaktu masih tinggal di Amerika.


Selama satu jam, ia sibuk di sana. Ia meletakkan masakannya di meja dengan wajahnya yang terlihat senang.


Ia memanggil pelayan yang masih berdiri di dekatnya.


“Mba.”


“Iya nyonya.” Balas salah satu pelayannya.


“Tolong bantu saya masukkan makanannya di kotak makannya ya. Saya mau ganti baju dulu.”


“Baik nyonya.”


Kyra berjalan meninggalkan pelayannya itu yang mulai memasukkan makanannya di kotak makannya. Ia menaiki tangga menuju lantai atas kamarnya. Ia masuk ke dalam kamarnya dan mengganti bajunya dengan jamsuit lengan panjang menutupi semua badannya yang hanya memperlihatkan kepala dan wajahnya saja.


“Haaaa....panas sekali kalau harus pakai baju seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, kalau tidak pakai baju tertutup begini pasti Aditya marah – marah lagi. Bagaimana bisa sih para desainer yang dia bawa itu ke rumah, semua model bajunya seperti ini. Huh....menjengkelkan?” Gumamnya dengan wajahnya yang terlihat kesal.


Aditya memang sengaja menyuruh desainer yang pernah datang ke rumahnya untuk membawakannya pakaian yang tertutup. Jadi semua model baju Kyra semuanya tertutup.


Selesai berpakaian ia turun kembali ke bawah dan berjalan ke arah Ruang Makannya.


Di sana ia melihat pelayannya tengah berdiri di samping meja sambil memegang kotak makannya tadi.


“Nyonya....ini kotak makannya dan juga botol minumnya.” Sambil menyodorkan kotak makannya pada Kyra.


“Terima kasih.” Meraih kotak makan yang di berikan pelayannya. “Oh..ya. Di mana Bu Marta?”


“Ada di belakang nyonya.”


“Ya sudah....lanjutkan pekerjaanmu. Saya mau ke luar dulu.”

__ADS_1


“Baik.”


Kyra pun berjalan keluar rumahnya. Ketika ia sudah berada di luar, ia melihat Pak Malik sudah ada di depan rumah sambil membuka pintu mobil untuknya.


“Silahkan masuk nyonya.”


Kyra berdiri di depan Pak Malik sambil tersenyum.


“Terima kasih pak.”


“Iya nyonya. Sudah tugas saya.”


Kyra pun masuk ke dalam mobil di susul Pak Malik masuk ke dalam mobilnya. Ia mengendarai mobilnya menuju Perusahaan Sinatria.


Di dalam mobil.


“Ternyata nyonya benar – benar masih istri Tuan Muda. Saya pikir saya yang salah.” Sambil tersenyum melihat Kyra di cermin kaca tengah mobilnya.


Kyra ikut tersenyum. “Iya pak. Itu semua karena salah paham. Saya terlalu di butakan prasangka.”


“Nyonya jangan berkata begitu. Itu semua cobaan dan pengalaman hidup setiap manusia yang selalu di berikan tuhan pada umatnya.”


“Iya pak.”


Tak lama kemudian, mobil yang di kendarai Pak Malik sampai di Perusahaan Sinatria. Ia menghentikan mobilnya tepat di depan Perusahaan Sinatria.


Kyra langsung membuka pintu mobilnya tanpa menunggu Pak Malik turun.


“Baik nyonya.”


Kyra masuk ke dalam perusahaan suaminya setelah pamitan pada Pak Malik.


Ketika ada di dalam, ia di sambut kedua resepsionis yang tengah berada di meja kerjanya itu.


“Siang nyonya.” Sapa kedua resepsionisnya sambil berdiri.


“Siang.” Balasnya sambil tersenyum.


“Maaf nyonya.” Ucap salah satu resepsionisnya.


Kyra menghentikan langkahnya yang ingin masuk ke dalam lift tepat di sampingnya. Ia menengok melihat resepsionis yang bicara padanya itu.


“Ada apa mba?”


“Nyonya mau ke kantor Tuan Muda.”


“Iya.”


“Nyonya naik lift yang sebelah saja. Itu biasa di naiki Tuan Muda.”


“Oh baiklah. Terima kasih ya.”


“Iya nyonya.”

__ADS_1


Kyra melanjutkan kembali berjalan ke lift sampingnya yang hanya di naiki Aditya dan Andi.


Para resepsionis tadi memang sudah beranggapan kalau Kyra adalah istri dari bos mereka setelah beberapa kali datang ke kantor membawa Kaila apalagi Aditya selalu pulang bersama dengan Kyra sewaktu Kyra masih bekerja di kantor suaminya.


Tak menunggu lama, Kyra sampai di kantor suaminya. Ia keluar dari lift dan sudah melihat May yang tengah sibuk di meja kerjanya. Ia datang menghampiri May di meja kerjanya itu.


“Mba May.”


May langsung mengangkat kepalanya melihat Kyra yang ada di depannya.


“Eh...nyonya. Anda di sini.” Sambil berdiri.


“Iya. Saya mau masuk ke kantor Tuan Aditya. Apa dia ada di dalam?”


“Tuan Muda ada di dalam nyonya. Baru selesai rapat. Silahkan masuk saja ke dalam.”


“Terima kasih.”


“Sama – sama.” May kembali duduk di kursinya dan sibuk kembali mengerjakan semua pekerjaannya itu.


Sedangkan Kyra menekan tombol pintu Ruang Kerja suaminya dan secara otomatis terbuka.


“Sayang...aku datang.” Teriaknya sambil tersenyum lebar di depan pintu.


Seketika Kyra kaget melihat beberapa karyawan tengah berdiri di depan suaminya sambil menengok ke arahnya sampai membuat ia sangat malu. Ia menunduk sambil memalingkan wajahnya karena sangat malu dengan tingkahnya tadi. Sedangkan Aditya menyuruh karyawannya itu pergi ketika ia melihat istrinya berdiri di sana.


Para karyawannya pun berjalan melewati Kyra sambil membungkuk hormat di depannya sedangkan Aditya berdiri dari tempat duduknya dan datang menghampiri istrinya yang tengah berdiri dengan wajah malunya.


“Kamu kenapa ?” Tanya Aditya yang melihat Kyra terus memalingkan wajahnya sambil menutupi samping wajahnya dengan tangannya.


“Aku malu sayang. Kenapa May tidak bilang kalau kamu sedang sibuk?”


Aditya kemudian memeluk istrinya yang baru datang itu.


“Buat apa malu sih pada mereka?” Tanya Aditya sambil menyandarkan kepalanya di bahu istrinya.


Ia mencium bau wangi istrinya itu sambil memejamkan matanya.


“Yaaaa....malu saja. Mereka pasti sedang membicarakanku sekarang. Aku datang - datang langsung berteriak begitu”


“Jangan terlalu di pikirkan sayang, yang penting kita bahagia.”


“Iya....sudah jangan peluk aku terus. Lebih baik kamu makan siang. Aku sudah bawakan makan siang untukmu.”


“Sebentar dulu dong. Aku belum puas memelukmu.”


“Oke.” Sambil membalas pelukan suaminya dengan erat.


“Nyaman sekali. Aku ingin sekali waktu berhenti sekarang. Aku cuma ingin memelukmu terus tanpa ada gangguan.” Ucap Aditya sambil tersenyum.


Aditya semakin erat memeluk istrinya di sana sambil terus mengusap – usap wajahnya di bahu Kyra.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2