Beautiful Romance 2

Beautiful Romance 2
BAB 49 Beautiful Romance 2


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Setelah Andi dan Rey pergi satu jam yang lalu. Aditya melanjutkan kesibukannya menemani Kaila bermain di ruang belakang bersama ibunya sedangkan Kyra sibuk membantu pelayannya menyiapkan makanan untuk Kaila.


Pukul 7:00 malam....mereka sekarang tengah duduk di meja makan sambil menikmati makan malam mereka. Sesekali Kyra membantu mengambil lauk untuk suami dan anaknya.


Sedangkan Nyonya Sintya tersenyum bahagia melihat cucu dan menantunya sekarang sudah kembali berkumpul bersama mereka berdua.


Ia kemudian berbicara pada Kaila yang tengah duduk di samping ibunya.


“Kaila sayang.”


“Yah.”


“Apa oma boleh tidur malam ini bersama Kaila?” Tanya Nyonya Sintya.


“Boleh....tapi besok malam saja yah oma.”


“Kenapa?”


“Kaila mau temani mama tidur. Mama kan sedang sakit tadi.”


“Ada papa yang jaga mama.”


Kaila langsung melihat kearah Aditya yang sedang makan sambil memperhatikan mereka berdua.


“Papa mau tidur sama mama yah.” Tanya Kaila dengan polosnya.


Aditya tersenyum. “Ia sayang.”


“Kalau begitu Kaila ikut yah.”


“Terus yang temani oma tidur siapa sayang. Oma kan masih kangen sama Kaila?” sahut Nyonya Sintya.


“Baiklah....Kaila tidur sama oma saja.”


Nyonya Sintya terlihat senang mendengar cucunya yang setuju untuk tidur dengannya sedangkan Kyra dan Zahila hanya tersenyum melihat mereka berdua sambil menikmati makan malamnya.


Setelah mengobrol dengan Kaila, Nyonya Sintya kembali menikmati makan malamnya begitupun dengan Kaila.


Selesai makan....Nyonya Sintya, Kyra, Zahila dan Kaila duduk di Ruang Keluarga. Mereka tengah asyik bermain kartu sedangkan Aditya pergi ke ruang kerjanya setelah menerima pesan dari Andi asistennya.


Sudah satu jam berlalu mereka bermain kartu bersama....wajah Kyra sudah di penuhi bedak tabur di wajahnya akibat dirinya yang terus kalah. Ia tersadar kalau ia sudah bermain selama satu jam. Ia kemudian melihat ke lantai atas tepat di Ruang Kerja Aditya.


“Ada apa Kyra?” Tanya Nyonya Sintya yang melihat menantunya itu terus menatap ke atas.


“Mi....aku lihat Aditya dulu sepertinya dia masih bekerja.”


“Oh....baiklah. Jangan lupa cuci wajahmu itu.”


“Ia...” Balasnya sambil mengusap – usap wajahnya. “Kaila sayang. Mama lihat papa dulu yah.”


“Ia....”


Kyra lalu melihat kearah adiknya. “Zahila....jam 11 kamu sudah harus istirahat yah. Jangan lewati jam tidurmu.”


“Ia kak...”


Kyra berdiri dari tempat duduknya menuju kamar mandi yang ada di dekat dapurnya. Selesai mencuci muka, ia membuatkan teh herbal untuk suaminya. Ia membawa teh herbal yang ia buat tadi menuju lantai atas. Ia melangkahkan kakinya menuju Ruang Kerja suaminya.


Ketika ia ingin membuka pintu Ruang Kerja Aditya ia mendengar Aditya tengah marah – marah pada seseorang di balik telfon. Ia hanya bisa berdiri di luar menunggu Aditya selesai bicara.


Suara Telfon.


“Batalkan saja kerja sama dengan orang itu. Aku sudah bilang kan kalau aku tidak suka kalau desainnya di ubah biarpun hanya bagian belakangnya saja. Semuanya harus persis seperti desain aslinya.” Ucap Aditya dengan suaranya yang terdengar marah.

__ADS_1


“Tapi...itu cuma di rubah sedikit.” Suara Rey di balik telfon.


“Hei...aku tidak suka di perintah – perintah yah. Kalau pun hanya sedikit di rubah tapi itu sudah merubah dari desain aslinya. Pokoknya kau putuskan kerja sama dari mereka. Aku bisa cari orang lain. Aku tidak peduli kehilangan 25 millyar. Kalau kau tidak mau. Berhenti saja sana.”


“Oke....oke...tenanglah Dit. Kalau kau tidak suka desainnya aku akan mencoba bicara lagi dengannya.”


“Tidak usah bicara. Aku tidak suka di perintah dengan orang seperti itu. Aku bilang batalkan ya batalkan.”


“Oke....aku akan menghubungi Tuan Delard dan membatalkan kerja samanya. Tapi kamu pasti akan menunggu lama lagi kalau harus cari orang lain.”


“Aku tidak peduli.” Tegasnya.


“Baiklah.”


Aditya langsung mematikan HP-nya.


“Cih...dasar menyebalkan. Beraninya memerintahku.” Gumamnya dengan marah.


Saat Kyra sudah tidak mendengar suara Aditya yang bicara di telfon ia langsung membuka pintu dan masuk ke dalam ruang kerja suaminya sambil memegang gelas cangkir yang sudah berisi teh herbal.


“Sayang...” panggilnya sambil tersenyum.


Aditya langsung menegakkan tubuhnya di kursi dengan wajahnya yang kaget melihat Kyra di depannya.


“Kamu di luar tadi.” Tanya Aditya


“Ia...” Balasnya sambil meletakkan teh herbalnya di depan Aditya.


“Kenapa kamu tidak masuk?”


“Aku takut mengganggumu.”


“Apa kamu mendengarku marah – marah tadi?”


Kyra mengangguk. “Ia...”


“Kemarilah.” Ucapnya sambil menepuk – nepuk pahanya.


Kyra berjalan kearah suaminya dan duduk di paha Aditya. Aditya langsung melingkarkan kedua tangannya di perut istrinya sambil menyandarkan kepalanya di lengan Kyra.


“Ada apa sayang?” Tanya Kyra sambil memegang kepala suaminya.


Tanpa basa – basi....Aditya langsung menceritakan semua masalahnya pada istrinya itu.


“Delapan tahun lalu papi berencana membuat Hotel bergaya kastil di Prancis. Tempat dimana dia dan mami pernah tinggal selama beberapa tahun. Itu juga tempat aku dilahirkan. Papi dan Mami jatuh cinta disana. Awalnya mereka juga di jodohkan sama seperti kita. Mereka jatuh cinta saat mereka masih tinggal di sana. Papi ingin menghadiahkan Hotel Kastil yang dia buat itu untuk mami. Sebelum meninggal, papi bilang padaku kalau mami punya impian punya Hotel bergaya Kastil yang di kelilingi taman bunga. Papi berencana menghabiskan masa tuanya bersama mami disana sambil menjalankan Hotelnya itu tanpa memikirkan masalah bisnis yang lain. Dia hanya ingin hidup dengan santai untuk menebus waktunya yang hilang karena pekerjaan. Tapi tuhan memanggil papi duluan sebelum impiannya itu terwujud. Meskipun begitu, dia masih berharap aku menyelesaikan itu dan memberikannya pada mami. Papi ingin memberitahu mami kalau papi tidak pernah lupa dengan impian mereka.  Proyek yang Rey kerjakan itu Hotel bergaya kastil yang papi ingin bangun disana.”


Seketika Kyra menangis mendengar cerita suaminya. Aditya langsung mengangkat kepalanya melihat istrinya yang menangis.


“Kenapa kau menangis?”


“Papi meninggal semua gara – gara aku sayang.”


“Kenapa kamu menyalahkan dirimu.” Sambil mengusap air mata di pipi istrinya. “Papi meninggal bukan karena kamu. Itu memang sudah kehendak tuhan. Lagipula kalau mau di salahkan seharusnya yang disalahkan itu aku. Aku tidak pernah memperhatikannya yang selalu sibuk bekerja. Dia meninggal karena serangan jantung ditambah dia kelelahan. Bayangkan saja, dia harus bolak balik Indonesia ke Amerika untuk urusan bisnisnya.”


“Terus masalah apa yang terjadi pada proyekmu itu sampai kamu marah tadi?”


“Selama delapan tahun aku mencari orang yang bisa mengerjakan desain aslinya itu. Papi bilang ada dua orang yang bisa membantuku menyelesaikan desain aslinya. Salah satunya Pak Delard, katanya dia bisa mengerjakannya dengan sempurna. Aku baru bisa menjalankan proyeknya setelah aku menemukan keberadaan orang itu.”


“Apa ada masalah dengan Pak Delard?”


“Dia mengubah bagian belakang dena Hotelnya untuk menunjukkan gaya khas desainnya sendiri.”


“Kalau begitu kamu cari saja orang yang satunya lagi.”


“Aku sedang berusaha membuatnya kembali.”

__ADS_1


Tiba – tiba Kyra teringat tentang Bagas yang pintar dalam desain bangunan.


“Maksud kamu Mas Bagas.”


“Eem...orang yang selalu mengaku – ngaku kakakmu itu.”


“Kenapa bisa Mas Bagas?”


“Desain yang di buat papi itu sebagian ada sentuhan tangan Bagas. Saat kuliah semester pertama kami bertiga pernah magang beberapa bulan di perusahaan untuk pelatihan. Dia pintar membuat desain bangunan. Waktu itu dia membantu papi membuat desainnya seperti yang papi inginkan tapi aku baru tahu ketika papi masuk rumah sakit. Papi bilang kalau Pak Delard dan Bagas bisa membantuku membuat proyek bangunannya itu tapi sekarang Pak Delard seenaknya saja mengubah desainnya hanya karena dia ingin memasukkan gaya desainnya di bangunan itu. Semua desainer bangunan memang selalu memasukkan gayanya di setiap bangunan yang dia buat tapi aku tidak suka kalau dia ingin memerintahku seperti itu makanya aku ingin membatalkan kerja sama dengannya.”


“Waktu tinggal di Amerika. Mas Bagas memang sempat kuliah kembali sambil kerja di perusahaan Tante Rosa. Dia mengambil jurusan arsitektur.”


“Cih....orang sialan itu. Dia sangat menyukai mobil sport sampai dia bercita – cita menjadi seorang pembuat mobil handal tapi dia tidak tahu bakatnya yang sebenarnya. Salah dia sendiri. Hanya karena suka bukan berarti dia juga bisa melakukannya.”


“Jadi yang kamu bilang dia berhutang itu adalah ini.”


“Jangan bahas orang sialan itu lagi. Aku pusing mendengar namanya.” Ucapnya dengan kesal.


Ia kemudian memegang rambut istrinya dan menciumnya. “Mendingan sekarang kita tidur sayang.”


“Aku masih belum ngantuk. Aku masih mau bicara denganmu masalah Tania.”


“Lupakan dulu masalah itu. Kita tidur saja dulu.” Ucapnya sambil meraba – raba paha istrinya.


“Kamu mau tidur atau mau apa?”


Aditya hanya tertawa kecil melihat istrinya.


“Kalau begitu....kamu minum dulu tuh teh herbalnya yang sudah aku buatkan.”


“Oke sayang.”


Aditya meraih cangkir tehnya dan langsung meneguk habis teh herbal yang ada didepannya. Ia sampai mengeluarkan lidahnya karena rasa pahit pada teh yang ia minum itu.


“Ini teh atau apa. Kenapa pahit sekali?”


“Pahit yah.”


“Kamu mau merasakannya.”


“Bagaimana bisa. Kamu sudah minum semuanya?”


Aditya langsung mencium bibir istrinya dan ********** disana.


“Bagaimana....pahitkan?”


“Tidak sama sekali.”


“Itu karena bibirku yang manis.”


“Narsis.”


“Mau coba lagi.”


“Tidak mau.”


Aditya langsung mengangkat tubuh Kyra dan berdiri dari tempat duduknya.


“Dit...turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri. Nanti penyakitmu itu kambuh lagi.”


“Aku sudah sembuh sayang.”


“Ia...tapi aku kuat jalan sendiri.”


“Diamlah. Jangan berisik. Kamu mau kalau semua orang dengar suara kerasmu itu.”

__ADS_1


Kyra langsung diam dan menuruti suaminya itu sedangkan Aditya berjalan keluar dari ruang kerjanya sambil menggendong istrinya.


Bersambung.


__ADS_2