Beautiful Romance 2

Beautiful Romance 2
BAB 61 Beautiful Romance 2


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Bagas yang melihat Kyra langsung bangun. “Kebetulan istrimu datang.” Ucapnya.


Bagas ingin berdiri tapi langsung di tahan Aditya. Aditya mendorong Bagas kembali berbaring dan ia berada di atas Bagas.


“Hei....apa –apaan kau?” Teriak Bagas melihat Aditya yang tiba – tiba mencengkram lehernya.


Aditya langsung menutup mulut Bagas yang berteriak padanya. Aditya kemudian berbalik melihat Kyra yang masih jauh darinya. Ia melambaikan tangan satunya sambil tertawa kecil melihat istrinya. Sedangkan tangannya yang satu menahan mulut Bagas dengan keras.


Aditya kemudian melihat ke arah Bagas dengan wajah kesalnya.


“Awas kalau kau bicara macam – macam pada istriku.”


Kyra yang melihat mereka langsung menghentikan langkahnya dan hanya menatap mereka dengan tatapan aneh.


“Apa – apaan sih mereka. Aku pikir, mereka pingsan?”


“Kyra....kamu tidak usah ke sana. Biarkan saja, mereka sepertinya sudah baikan.” Sahut Rey sambil memegang bahu Kyra.


“Baikan.” Dengan wajahnya yang bingung. “Tapi posisi Aditya seperti ingin mencekik Mas Bagas.”


“Tidak akan. Itu sudah biasa. Kita tunggu saja di sini.”


“Maksudmu Aditya selalu memperlakukan Mas Bagas seperti itu.” Sambil menunjuk ke arah Aditya dan Bagas.


Rey hanya mengangguk sambil tersenyum.


“Tapi mereka terlihat kelelahan. Wajahnya sudah babak belur begitu. Pakaiannya berantakan.”


“Tidak apa – apa. Itu cara laki – laki menyelesaikan masalahnya. Kakak ipar tenang saja.” Sahut Andi.


“Kalian para pria sungguh aneh. Berantem di bilang cara menyelesaikan masalah.”


Andi dan Rey hanya bisa diam mendengar ucapan Kyra.


Kyra kemudian menghela nafasnya dengan pelan. “Baiklah. Kita kembali ke dalam rumah saja. Ayo Tania.” Sambil menarik tangan Tania dari sana.


Kyra pun kembali ke dalam rumah bersama Andi, Rey dan Tania.


Setelah Aditya melihat Kyra dan yang lainnya meninggalkan tempat itu. Ia kemudian melepaskan Bagas dan kembali duduk di depan temannya itu.


“Aku akan mengembalikan saham Tania.”


Bagas langsung bangun dari sana. Ia duduk dengan wajahnya yang terlihat bingung.


“Kenapa...kamu sudah merasa bersalah sekarang?” Tanya Bagas.


“Aku melakukannya bukan tanpa syarat.”


“Sudah ku duga.” Gumamnya. “Terus apa syaratmu itu?” Tanya Bagas kembali.


“Bantu aku menyelesaikan proyek pembangunan hotel di Prancis.”


“Kenapa kamu memintaku membantumu. Bukankah kamu punya banyak karyawan yang handal?”

__ADS_1


“Kamu masih ingat tentang desain Hotel dengan gaya kastil yang papi ingin bangun kan.”


“Iya...itu kan proyek yang Om Agung jalankan dan rencananya akan di hadiahkan pada Tante Sintya.”


“Jadi benar kalau kamu tahu semuanya.”


“Om Agung pernah menceritakan semuanya padaku saat kita magang dulu.”


“Orang yang membantuku menjalankan proyeknya tidak mau melakukannya sesuai dengan desain aslinya. Aku memintamu untuk menggantikannya.”


Bagas tertawa kecil. “Ada juga yang berani padamu.”


“Dia tahu kalau aku sangat menghargai proyek itu makanya dia seenaknya saja. Tapi, dia tidak pernah berpikir kalau aku juga berani menghentikan kerja sama dengannya. Sekarang dia ingin bekerja sama kembali tapi aku sudah tidak mau bekerja sama dengan orang seperti itu.” Ucapnya dengan wajahnya yang terlihat kesal karena membahas tentang orang yang tak ia sukai.


“Terus berapa bayaran yang bisa kamu berikan padaku?” Tanya Bagas yang sesekali memegang wajah bengkaknya.


“Katakan saja harga yang kamu minta aku bisa memenuhi semua permintaanmu.”


“Aku hanya punya satu permintaan.”


“Apa?” Dengan wajahnya yang terlihat serius.


“Buatkan mobil sport untuk Tania.”


“Itu hanya masalah kecil. Hanya itu permintaanmu.” Dengan ekspresi yang meremehkan permintaan Bagas.


“Tania menginginkan desainmu sendiri. Bisa di bilang, buatanmu sendiri.”


“Oke....aku bisa mendesainkannya mobil sport terbaru. Itu masalah gampang.”


“Kamu tidak mengerti maksudku ya.” Dengan serius.


“Aku mau kamu yang membuatnya sendiri. Bukan cuma desainnya saja tapi kamu bikin sendiri.” Ucapnya dengan serius.


“Hei......kau pikir gampang bikin mobil. Kau sudah gila ya.” Dengan wajah datarnya menatap Bagas.


“Ya sudah. Aku juga tidak akan melakukan sesuai permintaanmu itu.” Dengan sombongnya.


“Cih....kamu jual mahal sekali ya. Mentang – mentang aku meminta bantuanmu sendiri.” Kesalnya.


“Itu terserah padaku. Memangnya aku tidak boleh menolak permintaan orang yang sudah menghancurkan perusahaan keluargaku.” Dengan gaya sombongnya.


“Kamu minta saja hal lain. Jangan menyuruhku buat mobil.”


“Ayolah Dit. Tania ingin sekali punya mobil buatanmu.”


“Tidak akan. Kamu minta yang lain saja. Buat mobil tidak segampang itu apalagi kamu menyuruhku membuatnya sendiri.” Ketusnya.


“Haaaa......” Bagas menghela nafasnya sambil menatap laut yang ada di depannya. “Bagaimana ya kalau Kyra sampai tahu kamu suka menutup mulut wanita – wanita dengan uang dan koleksi mobil sportmu itu saat mereka datang meminta pertanggung jawabanmu. Pasti dia marah besar. Mengingat penyakit kejiwaannya itu mungkin dia tidak meninggalkanmu tapi mengambil semua kartu kreditmu sampai kamu tidak memegang uang sepeserpun.” Ancamnya.


Bagas memang sengaja mempermainkan sahabatnya itu.


“Huh....kamu mengancamku. Tidak mempan. Istriku bukan orang seperti itu. Dia memang kasar dan tomboi tapi dia tidak mungkin membiarkan suaminya seperti itu.”


“Apa aku perlu mencobanya. Kita lihat, kalau aku mengatakan semua itu pada Kyra, mungkin besok kamu bawa bekal ke kantor bahkan setiap hari?”

__ADS_1


Aditya langsung menatap tajam Bagas.


“Kenapa kamu menatapku seperti itu. Aku hanya mengatakan kenyataan. Kamu bilang istrimu tidak akan begitu padamu. Jadi aku cuma ingin membuktikannya saja kalau pikiranmu itu salah?”


“Oke...aku akan lakukan sesuai kemauanmu.” Sambil memalingkan wajahnya dengan kesal.


“Hahahaha....rasakan itu. Aku sudah tahu kelemahanmu. Seenaknya mau menghancurkan orang.” Dalam hati Bagas yang senang mempermainkan Aditya.


Aditya menatap laut dengan wajahnya yang berubah sedih. Ia lalu bicara pada Bagas tanpa melihat ke arah Bagas.


“Aku minta maaf.”


Bagas terlihat kaget mendengar Aditya meminta maaf padanya.


“Kamu meminta maaf padaku untuk pertama kalinya. Kamu sadarkan.”


Aditya yang mendengar itu langsung menatap tajam Bagas yang duduk di sampingnya. “Kamu pikir, aku tidak waras. Hah.”


“Ini baru benar. Aku pikir kamu sudah gila tadi.”


“Huh....” Sambil memalingkan wajahnya kembali ke depan.


Bagas ikut menatap lurus ke depan dengan wajahnya yang terlihat serius.


“Aku juga minta maaf karena pergi begitu saja tanpa pamit pada kalian. Waktu itu aku sangat kasihan pada Kyra yang datang menangis padaku. Aku mengingat Biangka saat melihat Kyra. Aku sangat sedih melihat Kyra menangis terus, keadaannya menyedihkan waktu itu. Aku pikir kalau aku membawanya, dia bisa bahagia. Aku hanya mementingkan perasaannya dan tidak mementingkan perasaanmu apalagi aku sangat kecewa padamu yang hanya percaya dengan Aura.”


“Aku sama sekali tidak percaya padanya. Aku hanya emosi sesaat sampai aku mengatakan itu padamu.”


“Terus dimana Aura sekarang. Dia tidak mungkin ada di Indonesia kan. Mengingat sifatmu itu, kamu pasti sudah melakukan hal buruk pada wanita itu?”


Aditya terdiam sejenak yang masih menatap ke depan tanpa sekalipun melihat Bagas.


“Kebisuanmu ini menandakan kalau kamu benar – benar melakukan hal buruk pada wanita itu. Apa kamu menjualnya?” Tanya Bagas dengan serius.


“Aku tidak menjualnya. Dia sekarang ada di Rumah Sakit Jiwa di Meksiko.”


“Apa Kyra tahu?”


“Dia tahu tapi aku pura – pura tidak tahu kalau dia mengetahui tentang Aura.”


“Haaaaa.....” Menghela nafasnya dengan panjang.


“Ada apa kamu begitu?” Tanya Aditya sambil menengok ke samping melihat Bagas.


“Tidak apa – apa. Aku hanya teringat tentang Tante Rosa.”


“Ada apa dengannya. Dia mengamuk lagi?”


“Tentu saja. Dia mengamuk ketika dia tahu Kyra tidak jadi bertunangan dengan Ivan. Tante Mery memberitahukan semuanya kalau itu semua perbuatanmu terus aku bertanya pada Zahila dengan yang terjadi ketika aku ingin terbang ke Indonesia. Dia memberitahukan semuanya padaku. Aku sangat kaget mendengarnya dan juga merasa bersalah. Aku dan Tante Rosa mencoba menghubungi Kyra tapi tidak bisa tersambung. Aku sudah mengingatkan dia untuk tidak bertunangan dengan Ivan tapi dia tetap kekeh ingin menikah dengan Ivan. Aku melarangnya karena tidak mau dia tertekan lagi seperti dulu apalagi dia punya penyakit kejiwaan.”


“Sebenarnya.....penyakit apa yang di derita istriku?” Tanya Aditya dengan serius.


“Post Traumatic Stress Disorder. Depresi akibat masa lalu yang terlalu menyakitkan. Kalau bukan karena Zahila dan anakmu, mungkin dia tidak bisa bertahan. Tante Rosa pernah ingin memasukkannya ke Rumah Sakit Jiwa tapi aku berusaha menahannya. Dia hanya berobat jalan. Aku sangat bersalah karena membiarkannya begitu saja. Kalau saja dari awal aku menuruti keinginan tante untuk pengobatan hipnotis mungkin Kyra lebih cepat sembuh. Aku takut kalau menyetujuinya, dia tidak akan kembali normal malah semakin parah. Tapi aku tidak pernah menyangka kalau Tante Rosa dan Kyra melakukannya tanpa memberitahuku. Untunglah dia bisa sembuh setelah melakukan terapinya itu.”


Aditya hanya bisa menunduk lemas di sana mendengar ucapan Bagas.

__ADS_1


Bersambung.


Tolong di like ya biar author tambah semangat up date.


__ADS_2