
SELAMAT MEMBACA
Ditengah – tengah kemesraan mereka. Tiba – tiba Zahila mengetuk pintu kamar Kyra. Tok.....tok....tok.....
Kyra menengok kearah pintu kamarnya dengan posisinya yang masih duduk di pangkuan suaminya.
“Siapa?”
“Ini aku kak. Aku ingin mengatakan sesuatu yang penting padamu.”
“Baiklah! Tunggu sebentar yah.”
Kyra melihat kearah suaminya. “Sayang aku keluar sebentar yah.”
“Oke.”
Kyra berdiri dari pangkuan suaminya dan berjalan keluar kamarnya. Saat membuka pintu kamarnya, ia sudah melihat Zahila didepannya dengan wajahnya yang terlihat khawatir.
Ia kembali menutup pintu kamar Aditya dan menarik tangan Zahila ke kamar sebelah. Setelah berada di kamar sebelah, Kyra mulai bicara pada adiknya itu.
“Katakan ada apa?”
“Perusahaan Kak Tania mau bangkrut kak. Mas Bagas sekarang dalam perjalanan kembali ke Indonesia.”
“Kenapa Mas Bagas tidak menghubungiku?”
“Mas Bagas bilang sudah menghubungi kakak tapi tidak tersambung.”
“Ia....aku baru ingat. HP-ku sering mati gara – gara Aditya pernah membantingnya. Aku hanya bisa memakainya sesekali belum pernah ada waktu menggantinya. Lalu apa lagi yang dikatakan Mas Bagas padamu.”
Zahila hanya diam saja dengan wajahnya yang terlihat takut. Kyra kembali bicara pada adiknya itu.
“Zahila....cepat katakan pada kakak. Apa yang dikatakan Mas Bagas padamu?” Tanya Kyra sambil memegang kedua bahu adiknya.
“Mas Bagas bilang kalau yang melakukan semuanya itu kakak ipar. Mas Bagas marah sekali waktu dia menelfonku tadi. Dia terbang ke Indonesia untuk menemui kakak ipar. Suaranya terdengar gemetar karena marah. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau Mas Bagas ke sini.”
“Aditya...” Balasnya dengan wajahnya yang kaget. “Kenapa Aditya bisa menghancurkan perusahaan Tania. Keluarga Tania kan tidak pernah mengusiknya. Sebenarnya apa yang dia inginkan pada Tania dan Mas Bagas. Aditya benar – benar keterlaluan?” Ucapnya dengan wajahnya yang sangat marah.
“Sebaiknya kakak tanya dulu pada kakak ipar. Kakak jangan langsung marah begitu. Siapa tahu dia punya maksud lain yang kakak tidak tahu?”
“Aku pikir....waktu di pesta Ivan aku hanya salah dengar. Ternyata dia benar – benar menghancurkan perusahaan orang yang tidak bersalah. Aditya benar – benar keterlaluan. Aku akan memberikannya pelajaran. Sudah lama dia tidak pernah merasakan tinjuku kan.” Ucap Kyra dengan wajahnya yang marah.
“Kakak tenanglah. Kakak jangan langsung marah – marah begitu. Kakak lupa kalau kakak pernah salah paham padanya gara – gara masalah yang tidak pernah kakak ipar lakukan. Apalagi kakak ipar sedang sakit sekarang.”
“Aku cuma mau menasehatinya dan meninju wajahnya itu supaya dia sadar kalau perbuatan dia itu sudah salah.”
“Baiklah....terserah
kakak.”
Sementara dikamar sebelah, Aditya tengah menempel telinganya di dinding kamarnya untuk mendengar pembicaraan mereka. Ia sudah curiga tadi saat Zahila memanggil istrinya. Rasa curiganya mengatakan kalau pasti itu berita dari Bagas dan benar saja, itu memang tentang Bagas.
Ketika ia mendengar suara langkah kaki Kyra keluar kamarnya. Dengan sigap, ia berjalan cepat sambil memegang perutnya yang masih sakit. Ia langsung berbaring dikasur sambil memegang perutnya.
Wajahnya terlihat sedikit takut karena mendengar pembicaraan istrinya yang sangat marah padanya. Tapi meskipun ia takut, rasa kesalnya pada Bagas sahabatnya lebih besar.
“Si Bagas kurang ajar itu. Dia baru berani menemuiku gara – gara perusahaan tunangannya bangkrut dan sekarang dia berusaha menghubungi istriku.” Dalam hati Aditya.
Tiba – tiba Kyra masuk ke dalam kamar Aditya. Aditya langsung pura – pura terlihat lemah didepan istrinya. Sedangkan Kyra terlihat sangat marah melihat suaminya.
“Ya....tuhan. Apa dia akan memukul hidungku seperti yang dia katakan tadi?” Dalam hati Aditya melihat wajah marah istrinya.
__ADS_1
Ketika Kyra sudah berdiri di sampingnya. Ia langsung bicara pada istrinya itu.
“Istriku....kenapa wajahmu terlihat marah. Siapa yang sudah membuatmu marah?”
“Orang itu sekarang ada didepanku.” Balas Kyra yang menatap tajam suaminya sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya.
“Oh....Zahila yah.” Balasnya yang pura – pura tidak tahu. “Zahila....kenapa kamu membuat kakakmu marah?” Tanya Aditya sambil melihat Zahila yang ada didepannya.
“Bukan aku. Itu kakak ipar sendiri.”
Aditya langsung berbalik melihat istrinya yang terus menatapnya dengan tajam.
“Hehehe...” terkeke paksa. “Sayang....aku melakukan kesalahan apa lagi?” Tanya Aditya sambil melihat Kyra.
“Kamu berbuat apa pada perusahaan Tania?” Tanya Kyra dengan serius.
“Aku menggali lubangku sendiri. Awalnya aku mengambil saham Tania karena ingin membuat si brengsek itu kembali. Tapi malah aku yang kena sial sekarang. Apa yang harus kukatakan pada istriku?” Dalam hati Aditya.
“Kenapa diam saja. Cepat katakan?” Teriaknya dengan keras sampai membuat tubuh Aditya terkejut karena melamun.
Aditya melihat kearah istrinya dan kembali bicara padanya.
“Aku tidak melakukannya sayang. Kamu pasti salah paham. Aku hanya berbisnis seperti yang kulakukan pada Ivan.”
“Kamu bohong padaku yah.”
“Tidak sayang. Aku tidak bohong. Aku tidak akan menghancurkan perusahaan mereka. Pasti yang dikatakan si brengsek itu pada Zahila salah paham.”
“Si brengsek yang kamu maksud Mas Bagas. Kenapa kamu bisa tahu. Aku kan tidak pernah bilang.”
“Aku hanya menebaknya saja.” Sambil memalingkan wajahnya.
Aditya terlihat kaget mendengar ucapan istrinya begitupun dengan Zahila. Tapi pemikiran Zahila berbeda dengan mereka.
Zahila yang terlihat kasihan setelah mendengar ucapan kakaknya ikut bicara.
“Kakak tega sekali membuat kakak ipar puasa 5 bulan. Kalau kakak ipar tidak makan selama 5 bulan dia akan mati kak.”
Aditya mengangguk – nganggukkan kepalanya dengan wajahnya yang terlihat kasihan.
“Anak kecil tidak usah ikut campur. Kamu tidak akan mengerti. Ini urusan orang dewasa.” Ucap Kyra sambil melihat adiknya.
“Aku bukan anak kecil lagi. Aku sudah 20 tahun kak.”
“Diamlah.” Teriaknya.
Zahila langsung diam.
Kyra benar – benar sudah marah sekarang dengan tingkah Aditya sampai ia juga meneriaki adiknya. Tapi Zahila tidak terlalu sedih karena itu sudah biasa ia ditegur Kyra ketika ia pulang terlambat.
Kyra kembali bicara pada suaminya.
“Dan kamu. Sepertinya kamu sangat meremehkan kesehatanmu yah. Sampai kamu melepaskan sendiri selang infusmu itu.”
Aditya baru tersadar dengan tangannya yang sudah terlepas dari selang infus. Tadi waktu ia ingin mendengar pembicaraan Kyra dan Zahila, ia langsung menarik selang infusnya dan turun dari tempat tidurnya.
Sekarang Aditya hanya bisa diam seperti anak kecil mendengar amarah istrinya itu karena memang ia yang salah.
Kyra kemudian bicara pada adiknya.
“Zahila....kamu keluar dulu.”
__ADS_1
Zahila langsung keluar tanpa mengatakan apa – apa. Setelah Zahila keluar, Kyra kembali bicara pada suaminya.
“Sekarang katakan apa yang ingin kamu katakan?”
“Kamu benar – benar membiarkanku puasa 5 bulan. Aku tidak kuat sayang.”
“Kalau kamu benar – benar menghancurkan perusahaan mereka. Kamu akan mendapatkan hukuman seperti itu. Lagipula 5 bulan itu kecil menurutmu karena kamu sudah melakukannya selama bertahun – tahun.”
Aditya hanya diam saja mendengar ancaman istrinya. Kyra kemudian melirik ke meja dan melihat obat Aditya masih utuh.
“Kamu belum makan obat dari tadi.”
“Bagaimana aku bisa makan obat. Tadi kamu pergi begitu saja sedangkan tanganku masih lemah. Susah bergerak. Aku tidak bisa makan sendiri.” Ucapnya dengan wajahnya yang sudah mulai cemberut.
Kyra menghela nafasnya dengan pelan melihat suaminya yang sejak tadi belum memakan obatnya yang diberikan Dr. Robert apalagi Aditya sudah melepaskan selang infusnya.
Ia kemudian duduk disamping suaminya dan meraih obat yang ada dimeja samping tempat tidurnya. Ia menyuapi obat pada Aditya sambil membantunya minum air di gelas. Wajah Aditya saat itu masih terlihat cemberut.
“Kenapa wajahmu cemberut begitu. Aku sekarang sudah menyuapimu obat?” Tanya Kyra pelan.
“Kamu tadi marah – marah padaku hanya karena orang lain.”
“Itu karena kamu sangat keterlaluan. Tania kan tidak berbuat apa – apa padamu tapi kamu mau menghancurkan perusahaan mereka. Aku kan yang berbuat salah padamu. Kenapa orang lain yang kamu hukum. Kalau mau disalahkan disini itu adalah aku bukan orang lain. Aku akan menerima semua kesalahanku itu tanpa membantah. Tapi kalau kamu mengusik orang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Aku dengan tegas melawannya.”
“Ya jelas ada lah. Bagas itu sengaja menyembunyikanmu selama delapan tahun. Dia pergi begitu saja tanpa memberitahuku dan yang lainnya. Itu adalah kesalahan terbesarnya. Dia memang pantas menerimanya” Ucapnya dengan wajahnya yang terlihat kesal karena mengungkit Bagas.
“Tapi Tania itu tidak salah apa – apa disini, Dit. Buat apa kamu mengusiknya?”
“Aku benar – benar tidak bermaksud menghancurkan perusahaannya.”
“Terus yang aku dengar
itu apa?” Tanya Kyra dengan matanya yang terlihat berkaca – kaca.
Aditya lalu memegang kedua tangan istrinya. “Kamu tenang saja sayang. Aku janji tidak akan menghancurkan perusahaan temanmu itu.”
“Benar yang kamu katakan itu.”
“Ia...aku melakukannya karena ingin membuat Bagas kembali. Dia masih berhutang padaku.”
“Hutang apa?”
“Ini masalah antara laki – laki sayang.”
“Aditya....biarkan saja mereka damai yah.” Ucap Kyra yang sudah tidak bisa menahan air matanya.
Sejak ia duduk disamping suaminya dan membicarakan tentang Tania. Kyra memang ingin menangis tapi ia berusaha menahan air matanya.
Aditya langsung memeluk istrinya dengan erat.
“Aku melakukan ini semua karena ingin hidup damai sayang. Mungkin caraku memang terlihat kejam. Tapi demi kehidupan damai kita. Aku harus melakukan cara ekstrim seperti ini. Tenang saja, aku tidak akan membuat keluarga Tania hancur. Ini masalah antara aku dan si brengsek itu.” Ucapnya yang terus memeluk istrinya.
Ia melepaskan pelukannya lalu menatap istrinya yang masih menangis.
“Sudah....jangan menangis. Aku tidak akan membuat temanmu menderita karena kita.” Ucapnya sambil menghapus air mata di pipi Kyra.
Kyra hanya mengangguk.
Aditya kembali memeluk istrinya sambil mengusap – usap belakang kepala Kyra dengan lembut.
Bersambung.
__ADS_1