Beautiful Romance 2

Beautiful Romance 2
BAB 40 Beautiful Romance 2


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Pukul 3:00 subuh, Kyra masih berlutut didepan rumah Aditya sedangkan Nyonya Sintya terus berdiri menatap Kyra dijendela.


“Pak Mus...”


“Ia nyonya.”


“Kamu suruh anak itu masuk ke dalam.”


“Baik nyonya.”


Pak Mustang keluar rumah untuk menyuruh Kyra masuk ke dalam rumah.


“Nona....sebaiknya Anda masuk saja ke dalam. Ini sudah jam 3 subuh, nona.” Pinta Pak Mus yang sudah berdiri didepan Kyra.


Kyra mengangkat kepalanya saat mendengar suara Pak Mas.


“Maaf pak. Saya tidak akan masuk sebelum mami sendiri yang meminta saya masuk.” Balasnya sambil melihat Pak Mus.


“Nona...ini permintaan dari nyonya.”


“Mami sudah memaafkan saya pak.” Balas Kyra yang sedikit kaget mendengar ucapan Pak Mus.


Pak Mustang hanya diam saja mendengar ucapan Kyra. Kyra yang melihat Pak Mustang kembali menunduk sedih.


“Saya tidak akan masuk sebelum mami membiarkan saya masuk, pak.” Ucap Kyra yang menunduk tanpa melihat Pak Mus.


“Tapi nona....


Dengan sigap......Kyra memotong ucapan asisten ibu mertuanya itu.


“Maaf pak....saya memang pantas menerima hukuman seperti ini bahkan hukuman yang mami berikan ini tidak cukup untuk menebus kesalahan saya.”


“Nona....kenapa Anda keras kepala sekali?”


“Saya akan terus berada disini sampai mami tidak marah lagi. Saya bisa melakukan apa saja kecuali meninggalkan Aditya. Pak Mus masuk saja ke dalam. Saya akan tetap berada disini.” Jelasnya dengan tegas.


Pak Mus hanya bisa diam menatap Kyra dengan kasihan.


“Nona keras kepala sekali. Bagaimana saya bisa membujuknya untuk masuk ke dalam. Nyonya juga pasti tidak ingin secara tiba – tiba menyuruh nona masuk. Haaa....Tuan Muda, kapan Anda akan bangun. Anda harus melihat ibu dan istri Anda sekarang lagi main siapa yang menang siapa yang kalah. Saya tidak tahu harus berbuat apa, Nona Kyra dan nyonya benar – benar keras kepala. Tidak ada yang mau mengalah. Mau bagaimana lagi, saya cuma bisa diam saja sampai salah satu dari mereka kalah.” Dalam hati Pak Mus.


Ia kemudian kembali ke dalam rumah dan berjalan menghampiri Nyonya Sintya yang sekarang tengah duduk di ruang tamu.


“Nyonya...”


“Bagaimana...dia sudah masuk kan?”


“Nona tidak mau masuk kalau bukan Anda sendiri yang memintanya masuk nyonya.” Ucap Pak Mus yang sudah berdiri disamping Nyonya Sintya.


“Baiklah....biarkan saja dia berlutut terus disana. Dasar anak keras kepala.” Balasnya dengan kesal.


“Anda kan juga keras kepala nyonya. Kenapa Anda tidak mengalah saja pada Nona Muda.” Dalam hati Pak Mus.


Ia kembali bicara kepada Nyonya Sintya.


“Nyonya....sebaiknya nyonya istirahat saja karena ini sudah jam 3 lewat. Kalau Anda terus terjaga seperti ini. Ini bisa berakibat pada kesehatan Anda.”

__ADS_1


“Kamu istirahat saja. Aku masih belum mengantuk, aku ingin duduk disini sebentar.”


“Pasti nyonya ingin duduk disini mengawasi Nona Kyra.” Dalam hati Pak Mus.


“Kenapa kau belum pergi. Sana pergi?” ucap Nyonya Sintya yang melihat Pak Mustang masih berdiri diam disampingnya.


“Saya akan menemani nyonya disini.”


“Pergi sana. Kau itu sudah tua, istirahatlah. Jangan menggangguku.”


“Baiklah nyonya.” Balas Pak Mus sambil membungkuk hormat didepan Nyonya Sintya.


Pak Mus pergi meninggalkan Nyonya Sintya yang masih duduk diruang tamu.


***


Pukul 6:00 pagi, Nyonya Sintya masih duduk di sofa. Tanpa sadar, ia tidur disana dengan posisi tangan kirinya ia letakkan di sofa sambil menahan kepalanya.


Tiba – tiba tangannya yang tadi menahan kepalanya langsung jatuh. Ia pun tersadar kalau dirinya ketiduran di sofa. Ia membuka matanya lalu bangun dan berjalan ke arah jendela untuk melihat menantunya itu.


“Dia kuat juga. Sampai sekarang masih bisa tahan.” Gumamnya sambil memegang horden jendela yang menghalangi pandangannya dari luar rumahnya. “Tidak bisa, kalau begini terus anak itu bisa jatuh sakit.”


Nyonya Sintya kemudian keluar rumahnya dan berjalan menghampiri Kyra.


“Apa kamu masih tetap berlutut seperti ini?” Tanya Nyonya Sintya yang sudah berdiri didepan menantunya.


Kyra yang tadinya menunduk langsung mengangkat kepalanya ketika mendengar suara ibu mertuanya.


Nyonya Sintya kaget saat melihat wajah pucat menantunya itu.


“Mami disini...” Jawabnya dengan suara pelan.


Ditengah – tengah pembicaraan mereka, tiba – tiba mobil Andi masuk ke dalam pekerangan rumah. Ia menghentikan mobilnya yang tak jauh dari Nyonya Sintya dan Kyra. Tapi Kyra dan Nyonya Sintya tidak menghiraukan mobil Andi. Mereka hanya fokus dengan pembicaraan mereka yang sekarang.


“Saya akan tetap berada disini demi Aditya. Saya akan melakukan apa saja untuk mami kecuali meninggalkan suami saya mi.” Jawab Kyra sambil menatap ibu mertuanya.


“Oke....mami tidak akan menyuruhmu meninggalkan Aditya tapi kamu harus masuk dulu. Lihat dirimu yang sekarang, wajahmu sudah pucat begitu.” Tegasnya.


Kyra hanya tersenyum didepan ibu mertuanya.


Tiba – tiba Zahila dan Kaila keluar dari mobil Andi. Kaila berlari kearah ibunya.


“Mama....” Panggilnya sambil berlari kearah ibunya.


Kyra langsung menengok ke belakang melihat anaknya begitupun dengan Nyonya Sintya ketika melihat cucunya berlari kearah ibunya. Pandangannya terus kearah Kaila.


Kyra yang melihat anaknya langsung berdiri dengan tubuhnya yang sangat lemah. Ketika berdiri ia tidak bisa lagi menahan tubuhnya yang lemah dan akhirnya ia jatuh pingsan.


Semua orang syok melihat Kyra pingsan.


Mereka semua berlari kearah Kyra dan langsung berjongkok didepan Kyra dengan wajah mereka yang syok dan panik begitupun dengan Nyonya Sintya yang melihat menantunya jatuh pingsan.


“Mama....mama.....mama kenapa?” Suara Kaila yang menangis memanggil ibunya.


“Kakak....” sambung Zahila yang terlihat panik dengan kakaknya yang sudah tergeletak dilantai.


“Kyra....sayang. Kamu kenapa?” Tanya Nyonya Sintya yang sudah memegang kepala menantunya sambil menepuk – nepuk pipi menantunya itu.

__ADS_1


Ia kemudian menengok kearah Andi yang juga ikut berjongkok didepan Kyra.


“Cepat kamu angkat kakak iparmu masuk ke dalam.”


“Baik tante.”


Dengan sigap, Andi menggendong tubuh Kyra masuk ke dalam diikuti Kaila dan Zahila sedangkan Nyonya Sintya pergi memanggil Dr. Robert yang ada dikamar tamu.


Andi membawa masuk ke dalam kamar sebelah kamar Aditya yang ada di lantai atas. Ia langsung meletakkan tubuh Kyra dikasur. Kaila langsung naik ke kasur dan duduk disamping ibunya sambil menangis memanggil – manggil ibunya.


“Mama....mama.....mama. Hiks....hiks....hiks....”


Zahila yang melihat keponakannya itu pun ikut naik ke kasur dan duduk disamping Kaila.


“Sayang....jangan menangis yah. Mama tidak apa – apa. Mama baik – baik saja sayang.” Ucapnya sambil memeluk bahu keponakannya.


Kaila tidak menghiraukan Zahila, ia hanya menangis disamping ibunya.


Nyonya Sintya masuk bersama dengan Dr. Robert dengan wajahnya yang panik dan khawatir dengan keadaan menantunya.


“Cepat kamu periksa dia.”


“Baik nyonya.”


Dr. Robert pun memeriksa keadaan Kyra.


“Ini semua salahku. Kenapa aku menyuruhnya melakukan hal bodoh seperti itu. Kalau terjadi apa – apa pada Kyra, bagaimana. Aku takut sekali.” Ucap Nyonya Sintya dengan wajahnya yang terlihat sedih sambil melihat Dr. Robert memeriksa Kyra.


“Tante.....tenanglah. Dr. Robert sedang memeriksanya sekarang. Dia pasti baik – baik saja.” Sahut Andi yang berdiri di sampingnya.


Dr. Robert pun selesai memeriksa Kyra. Ia langsung melihat kearah Nyonya Sintya untuk menjelaskan keadaan Kyra tapi Nyonya Sintya dengan sigap mengajukan pertanyaan kepada Dr. Robert.


“Dok...bagaimana keadaannya sekarang. Dia tidak apa – apa kan, dia baik – baik saja kan, dia tidak terluka kan, dok.”


“Tante....tenang dulu. Dr. Robert ingin menjelaskan keadaan kakak ipar.” Sahut Andi.


Nyonya Sintya langsung diam setelah Andi mengatakan itu padanya. Dr. Robert pun menjelaskan keadaan Kyra didepan mereka semua.


“Nyonya Muda tidak apa – apa, nyonya. Dia hanya kelelahan saja karena berlutut terlalu lama diluar apalagi dia berlutut semalaman. Setelah istirahat, dia akan pulih kembali.”


“Haaaaa.....syukurlah....” Ucapnya sambil memegang dadanya mendengar penjelasan Dr. Robert.


Tiba – tiba Bu Marta masuk ke dalam. Ia datang menghampiri Nyonya Sintya dan yang lainnya.


“Nyonya, Tuan Muda sudah sadarkan diri sekarang.”


Semua yang mendengarnya langsung terlihat senang. Nyonya Sintya kemudian berbicara kepada Zahila.


“Zahila.....tolong kamu jaga kakak kamu dulu yah disini. Tante mau lihat kakak iparmu dulu.”


“Ia tante...”


Nyonya Sintya kembali berbicara kepada Bu Marta.


“Bu Marta...kamu disini saja yah. Jaga menantu saya.”


“Baik nyonya.”

__ADS_1


Nyonya Sintya pun pergi meninggalkan kamar Kyra menuju kamar Aditya yang ada di sebelah bersama dengan Andi dan Dr. Robert yang sudah memeriksa keadaan Kyra.


Bersambung.


__ADS_2