
SELAMAT MEMBACA
Ketika Kyra dan Lea sudah tidak membicarakan tentang Aura lagi. Aditya langsung datang menghampiri istrinya yang masih asyik mengobrol dengan Lea.
“Sayang...” Panggil Aditya sambil tersenyum.
Seketika Kyra berbalik ke belakang melihat suaminya yang berjalan menghampirinya. Ia langsung berdiri dengan kaget melihat kedatangan Aditya begitu pun dengan Lea. Lea sangat ketakutan kalau Aditya mendengar pembicaraannya tadi.
“Kamu sejak kapan ada di sini?” Tanya Kyra.
Aditya melirik Andi yang ada di sampingnya memberikan kode dengan matanya untuk tidak mengatakan pada istrinya kalau ia mendengar pembicaraannya tadi. Andi yang sudah mengerti maksud bosnya itu hanya bisa diam di depan mereka.
Kyra kembali bertanya pada suaminya.
“Dit...kamu sudah dari tadi.”
“Baru datang sayang.”
“Sepertinya Kak Adit tidak dengar apa – apa tadi. Kalau dia dengar pasti dia langsung menatapku dengan tajam. Tapi wajahnya biasa – biasa saja.” Dalam hati Lea.
Aditya kemudian melihat ke arah Lea yang sejak tadi berdiri dengan ekspresi kaget dan takut.
“Lea....kamu sudah dari tadi di sini.” Tanya Aditya sambil tersenyum.
Lea tambah kaget mendengar Aditya yang menyapanya begitu pun dengan suaminya.
“Apa....Kak Adit menyapaku. Kenapa nih, dia juga tersenyum. Orang yang sama sekali tidak pernah bicara padaku bahkan tersenyum saja tidak pernah.” Dalam hati Lea sambil melirik ke arah suaminya.
Andi hanya menggeleng – geleng kan kepalanya dengan pelan melihat Lea tanda ia tidak tahu maksud bosnya.
“Aku tidak tahu. Tapi perasaanku tidak enak sayang.” Dalam hati Andi yang menggeleng – geleng kan kepalanya melihat istrinya.
Aditya yang melihat mereka diam kembali bicara pada mereka.
“Kenapa kalian begitu. Aku kan cuma bertanya?” Tanya Aditya melihat tingkah mereka berdua yang saling lirik – lirikan.
“Lea sudah lama di sini sayang. Sudah dari pagi dia di sini.” Sahut Kyra.
“Oh begitu....kalau begitu kalian lanjutkan saja obrolan kalian. Aku masuk dulu. Aku tidak akan mengganggu kalian mengobrol.”
“Tidak apa – apa kak. Aku pulang saja sama Mas Andi. Aku juga sudah lama di sini.”
“Pekerjaan suamimu masih belum selesai. Kamu di sini saja menunggu dia apalagi kamu dan Kyra baru bertemu kan.” Ucapnya dengan wajah datarnya.
“Baik.” Sambil menganggukkan kepalanya dengan sopan.
Kyra kemudian melihat ke arah Lea. “Lea....kamu tunggu di sini dulu ya.” Sahutnya.
“Ya.”
Kyra lalu melihat ke arah suaminya yang berdiri di sampingnya.
“Ayo.....” ajak Kyra sambil memegang tangan suaminya dan menariknya dari sana.
“Tidak apa – apa sayang. Kamu mengobrol saja dengan temanmu.”
__ADS_1
“Sudah....Lea bisa menunggu kok. Biarkan dia bersama Kak Andi dulu. Dia itu belum bertemu dengan Kak Andi beberapa hari ini.” Bisiknya pada suaminya.
“Baiklah...”
Mereka berdua pun meninggalkan Lea dan Andi yang masih berdiri di sana.
Sedangkan Lea yang melihat kepergian mereka berdua, langsung berjalan ke samping suaminya.
“Mas.....Kak Aditya kenapa?” Tanya Lea dengan serius.
“Aku tidak tahu. Padahal tadi dia mendengar kamu bicara tentang Aura.”
“Maksud Mas Andi.” Dengan wajahnya yang sangat kaget.
Andi langsung memegang pipi istrinya.
“Istriku sayang. Tuan Aditya itu tadi berdiri di belakang mendengar kalian bicara tentang Aura. Dia tahu kalau kamu beritahu kakak ipar tentang Aura.”
Setelah mengatakan itu, Andi langsung melepaskan tangannya dari pipi istrinya.
“Terus kenapa dia tidak marah ya. Malah menyapaku untuk pertama kalinya. Apa bosmu itu sudah tidak waras lagi?”
“Husst....jaga ucapanmu itu. Dia bos sekaligus sepupuku ya.”
“Ya....ya.” balasnya sambil berwajah cemberut.
Ia kemudian tersenyum mengingat adegan tadi ketika Aditya datang menghampiri mereka.
“Tapi sayang....adegan tadi kayak ayah tiri yang pura – pura baik sama anak kandung istrinya.”
“Hati – hati......ayah tiri yang tadi sebentar lagi akan memecat suamimu karena kelakuanmu itu.”
“Awas....jaga mulut cerewetmu itu. Jangan beritahu Kyra lagi. Kalau tidak, suamimu ini benar – benar akan di pecat. Terus kamu harus ikut denganku ke Amerika.”
“Oke....oke....aku tidak akan melakukannya lagi sayang.”
Tiba – tiba Bu Marta datang menghampiri mereka.
“Tuan Andi, Nyonya Lea.”
“Ya...ada apa bu?” Tanya Andi.
“Silahkan makan siang dulu. Nyonya Muda menyuruh kalian makan siang.”
“Hah....makan siang.” Ucap Lea.
“Ya nyonya. Tuan Muda sudah ada di meja makan bersama Nyonya Muda.”
“Baiklah. Kami akan segera ke sana.” Balas Andi.
Bu Marta pun kembali ke dalam di susul Andi dan Lea. Mereka berjalan menuju meja makan. Di sana mereka berdua berpapasan dengan Nyonya Sintya, Zahila dan Kaila yang baru saja turun dari lantai atas.
Mereka berjalan bersama menuju Ruang Makan.
Ketika mereka sudah berada di sana. Nyonya Sintya, Zahila duduk di meja makan dan Kaila langsung duduk di samping ayahnya sedangkan Andi dan Lea berdiri di samping meja makan.
__ADS_1
“Ayo duduk Lea, Kak Andi.” Ajak Kyra yang tengah sibuk memberikan makanan di piring suaminya.
Lea dan Andi hanya diam saja karena tak tahu harus berbuat apa mengingat tingkah Aditya tadi kepada mereka.
“Kenapa kalian diam saja dan tidak duduk makan. Memangnya aku melarang kalian duduk makan?” Tanya Aditya dengan wajah datarnya melihat mereka.
Kyra langsung mencubit pelan lengan suaminya karena merasa tidak enak pada Lea dan Andi dengan ucapan Aditya kepada mereka berdua. Aditya langsung diam dan hanya fokus pada makanan yang sudah di ambilkan istrinya.
“Ayo Lea....jangan sungkan begitu.” Ajak Kyra kembali.
“Hei....kalian berdua itu kenapa sih seperti orang baru saja?” Sahut Nyonya Sintya yang melihat tingkah Lea dan Andi.
Lea dan Andi langsung duduk di meja makan. Lea dan Andi seperti itu karena merasa aneh dengan perlakuan Aditya tadi kepada mereka.
Di tengah – tengah kesibukan mereka, tiba – tiba Rey datang dengan memegang sebuah dokumen di tangannya.
Ia datang menghampiri mereka yang tengah duduk di meja makan.
“Wah....wah....semuanya lagi pada berkumpul nih.” Sambil berjalan ke arah mereka dengan suaranya yang keras.
Mereka semua langsung menatap Rey yang datang ke arah mereka kecuali Aditya. Ia hanya sibuk makan sambil menyuapi anaknya.
Rey langsung duduk di samping Zahila. “Hai Zahila....” sapanya sambil tersenyum melihat Zahila.
Zahila hanya tersenyum mengangguk pelan di depan Rey sedangkan Aditya langsung menatapnya tajam.
“Hei....sedang apa kau duduk di sana?” Tanya Aditya dengan wajah dinginnya.
“Aku sedang duduk di sini. Mau ikut makan.” Rey kemudian melihat ke arah Zahila. “Ya kan Zahila.”
Zahila hanya tersenyum sambil menguyah makanannya sedangkan Aditya masih melihat temannya dengan wajah dinginnya.
“Kamu mau pindah dari sana atau aku langsung menyeretmu keluar.”
“Cih....galak sekali sih.” Sambil berdiri dan pindah tempat duduk ke samping Andi.
“Huh....melihat senyummu itu, aku sudah tahu. Cih...berani sekali kamu mau menggodanya di depanku.” Dalam hati Aditya yang sadar dengan tingkah Rey pada zahila.
Aditya kesal begitu karena tahu sifat Rey yang sering gonta – ganti pasangan. Lihat cewek cantik langsung ia goda dan pacari. Ia tidak ingin kalau Rey sampai mendekati Zahila dan menjadikan salah satu pacarnya yang selalu ia tinggalkan jika sudah bosan.
Aditya kembali bertanya pada Rey yang tiba – tiba datang ke rumahnya itu.
“Apa yang membuatmu datang ke sini?” Tanya Aditya dengan wajah datarnya.
“Aku datang memberikanmu dokumen penting.”
“Kamu kan bisa mengirimnya lewat email.”
“Aku mau minta tanda tanganmu.”
Aditya tidak menanggapi ucapan Rey. Ia hanya melanjutkan makannya setelah mengatakan itu pada Rey begitu pun dengan Rey. Ia mengambil makanan ke piringnya sambil menatap Zahila yang ada di depannya.
“Sebenarnya sih alasanku mau lihat Zahila. Mau mengetes diriku yang terus mengingat dia semenjak pertama kali aku melihatnya. Ternyata jantungku masih berdetak tak karuan kalau melihat dia. Aku pikir cuma sementara. Benar – benar kacau kalau aku seperti ini.” Dalam hati Rey.
Ia kemudian melihat ke arah Aditya. “Kalau aku mengejar Zahila, orang berwajah dingin itu pasti akan membunuhku.” Dalam hati Rey.
__ADS_1
Kembali fokus pada makanan yang ada di piringnya. “Ya tuhan....sepertinya karmamu sudah datang padaku yang selalu mempermainkan wanita. Sekarang giliranku sudah tiba.” Dalam hati Rey.
Bersambung.