
SELAMAT MEMBACA
Pukul 1:00 siang.
Nyonya Sintya pulang bersama Kaila, cucunya. Tadi ia membawa cucu perempuannya itu jalan – jalan berdua setelah dari sekolahnya.
Ia masuk ke dalam sambil menggandeng tangan cucunya. Ketika masuk ia sudah di sambut oleh beberapa pelayan yang ada di rumah itu.
Nyonya Sintya berhenti di depan Bu Marta yang tengah berjalan ke arahnya.
“Mana Kyra?” Tanya Nyonya Sintya.
“Nyonya Muda ada di belakang mengobrol sama temannya nyonya.”
“Siapa?”
“Istri Tuan Andi, nyonya. Apa Anda mau saya panggilkan?”
“Tidak usah.”
Nyonya Sintya kembali melangkahkan kakinya menuju lantai dua bersama cucunya. Disana ia berpapasan dengan Zahila yang baru keluar kamarnya.
“Zahila....kamu di rumah.”
“Ia tante.”
“Loh....bukannya kamu masih kuliah ya. Kakak kamu tidak memindahkan kuliahmu disini.”
“Bulan depan baru masuk tante. Aku masih menunggu semua berkas – berkasku dari Amerika. Kebetulan hari ini Mas Bagas pulang, sekalian dia yang bawa ke sini.”
“Bagas pulang.”
“Ia tante. Barusan dia menghubungiku. Katanya dia baru sampai di Indonesia. Dia minta alamat rumah Kak Adit.”
“Kenapa anak itu tiba – tiba kembali setelah pergi selama bertahun – tahun dan tidak ada kabar. Huh....berani sekali dia. Dia sudah lama tidak merasakan amarahku ya.” Dalam hati Nyonya Sintya yang kesal dengan Bagas.
Nyonya Sintya memang dekat semua ketiga teman Aditya sejak mereka masih kecil. Bahkan ia tahu semua sifat – sifat mereka. Itu karena mereka bertiga berteman sejak mereka kecil.
Zahila melambaikan tangannya di depan Nyonya Sintya yang terlihat diam memikirkan Bagas.
“Tante.....tante.”
“Ah...ya.”
“Ada apa tante?” Tanya Zahila penasaran.
__ADS_1
“Tidak apa – apa. Terus kamu mau kemana?”
“Aku mau turun cari kakak. Mau beritahu tentang Mas Bagas.”
“Kamu tidak usah mengurusi masalah mereka. Kita masuk saja ke kamar Kaila.”
“Tapi....tante...
Zahila belum menyelesaikan ucapannya tapi langsung di potong Nyonya Sintya.
“Sudah...ayo kita masuk ke kamar Kaila.” Sambil menarik tangan Zahila.
Mereka pun masuk ke dalam kamar Kaila sementara Lea dan Kyra masih mengobrol di belakang rumahnya.
“Lea...”
“Ya.”
“Selama delapan tahun ini, apa Aditya baik – baik saja?”
“Kenapa kamu bertanya begitu?” Tanya Lea sambil mengerutkan keningnya.
“Aku tidak tahu, kenapa. Perasaanku selalu mengatakan kalau dia tidak baik. Kemarin saja dia pingsan karena asam lambungnya terus banyak minuman di Ruang Kerjanya. Dulu dia memang suka minum di luar tapi tidak sampai minum – minum di rumah.”
“Haaaa....” Lea menghela nafasnya dengan pelan sambil menunduk. Ia kemudian melihat Kyra di depannya.
Kyra yang mendengar itu langsung syok tak percaya. Ia sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena kaget dengan apa yang ia dengar itu.
Seketika suara tangisannya keluar. Ia menundukkan kepalanya sambil menangis disana. Lea langsung berdiri dan berjalan ke arah temannya itu. Ia memeluk Kyra yang masih menutup mulutnya karena berusaha untuk tidak mengeluarkan suara tangisannya agar orang rumahnya tidak mendengarkan tangisannya.
“Kyra....jangan menangis. Aku mengatakan ini bukan untuk membuatmu merasa bersalah terus. Aku hanya ingin kamu tahu kalau Kak Adit sangat mencintaimu sampai dia seperti itu.”
“Kenapa aku tidak tahu, Lea. Hiks....hiks......hiks....Sejak aku disini, aku tidak pernah melihat dia minum obat seperti itu apalagi aku tidak pernah menemukan dia terjaga semalaman.” Sambil menangis di pelukan Lea.
“Itu pasti karena dia sudah menemukan obatnya, yaitu kamu. Aku memang sudah berpikir saat Mas Andi bilang kalau Kak Adit masih tetap tidak bisa tidur meskipun sudah minum obat. Saat itu aku yakin kalau obatnya hanya kamu.”
Kyra terus menangis mendengar ucapan temannya itu. Lea kemudian melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Kyra.
“Sudahlah...jangan menangis, nanti orang – orang rumahmu tahu. Terus aku yang di salahkan karena sudah membuatmu menangis. Kalau sampai Kak Adit tahu aku membuatmu menangis, bisa – bisa gaji suamiku di potong lagi. Masih mending kalau gajinya di potong kalau di pecat bagaimana. Aku dan dia pasti kembali ke Amerika. Kamu tega melihatku seperti itu.”
Kyra langsung tersenyum mendengar ucapan Lea. Sedangkan Lea kembali duduk di depan Kyra ketika ia melihat Kyra tersenyum.
Kyra menghapus air matanya lalu berbicara pada temannya itu.
“Jadi Aditya pernah memotong gaji Kak Andi.”
__ADS_1
“Bukan pernah lagi, tapi sering. Terlambat sedikit saja langsung di potong. Suamimu itu benar – benar keterlaluan. Aku saja selalu di cuekin kalau bertemu dia. Seakan aku itu tidak ada. Kalau aku sapa paling dia cuma bilang, Eem...sekali – kali dong bilang ya atau hai. Senyum saja tidak pernah, kalau pasang tampan dingin, ia.”
Kyra tertawa kecil mendengar Lea yang berbicara dengan wajahnya yang terlihat kesal.
Ia kemudian bicara pada Lea.
“Kenapa kamu tidak katakan langsung saja kekesalanmu itu padanya. Biar dia tahu kalau banyak yang tidak suka dengan tingkahnya itu?”
“Kalau aku katakan langsung pada suamimu, mungkin aku dan suamiku langsung di kubur hidup – hidup.”
Kyra langsung tertawa mendengar ucapan Lea tentang suaminya.
“Cih....” dengan wajahnya yang kesal melihat Kyra tertawa di depannya.
Ia kemudian ikut tertawa melihat Kyra yang terus tertawa di depannya.
Ketika mereka tertawa di sana. Mobil Aditya yang di kendarai Andi sudah terparkir di depan rumahnya. Ia masuk ke dalam rumahnya bersama asistennya itu.
“Hei...dimana istriku?” Tanya Aditya pada salah satu pelayannya yang datang menyambutnya.
“Nyonya Muda ada di belakang sama Nyonya Lea, tuan.”
“Eem.....” sambil membuka jas luarnya. “Bawa ini ke atas.”
“Baik.” Sambil meraih jas tuannya itu.
Aditya kemudian berjalan ke belakang rumahnya sambil melipat lengan bajunya secara bergantian. Ia terus berjalan diikuti Andi yang berjalan di belakangnya. Ketika disana, ia langsung berhenti di belakang tembok sambil melingkarkan kedua tangannya di depan dadanya mendengar mereka yang masih mengobrol. Begitu pun dengan Andi, ia berhenti tepat di samping bosnya.
“Kyra...kamu benar – benar tidak akan mencari Aura kan.” Tanya Lea kembali pada Kyra.
“Kalau pun aku mencari keberadaannya, buat apa. Aku bukan dokter jiwa yang bisa menyembuhkan penyakit jiwanya. Dia lebih baik di rawat orang terdekatnya. Aku sudah tidak punya kepentingan untuk mencampuri hidupnya lagi. Aku bukan saudara, atau pun temannya. Aku memang kasihan padanya Lea, tapi mengingat kejadian di kampus dulu membuatku tidak berani bertemu dengannya. Aku tidak bisa memaafkan dirinya yang menyianyiakan ketulusanku padanya. Aku juga takut kalau aku bertemu dengannya, aku kembali luluh dengan kelembutannya itu. Sekarang aku lebih mementingkan perasaanku dan perasaan suamiku. Aku hanya bisa mendoakan kesembuhannya saja. Itu sudah cukup.”
“Jadi...kamu tidak akan membahas masalah Aura pada suamimu.”
“Tidak akan. Itu juga pasti berat untuknya. Aku akan pura – pura tidak tahu tentang masalah Aura. Terima kasih karena sudah mengatakan ini padaku dan maaf kalau Aditya sudah membuatmu susah selama ini.”
“Sama sekali tidak.”
“Oh...ya. Aku ingin tahu tentang dirimu selama delapan tahun ini.”
Lea kemudian menceritakan dirinya pada Kyra sedangkan Aditya yang mendengar pembicaraan mereka hanya bisa tersenyum.
“Kamu sudah dewasa sayang. Aku senang mendengarmu bicara seperti itu. Aku memang sengaja menyembunyikannya darimu karena tidak ingin melihatmu lemah hanya karena perempuan seperti Aura yang tidak pernah menghargai kebaikan orang.” Dalam hati Aditya sambil tersenyum.
Sementara Andi yang beridiri di sampingnya hanya bisa terdiam tanpa berani melihat bosnya dengan wajahnya yang terlihat takut mendengar pembicaraan Kyra dan istrinya tadi.
__ADS_1
“Gawat....Lea menceritakan semuanya pada Kyra tentang Aura. Bagaimana ini, kalau kakak ipar marah. Aku langsung di pecat dan dengan terpaksa harus kembali ke Amerika.” Dalam hati Andi.
Bersambung.