
Setelah membahas Tania dengan suaminya, Kyra keluar kamarnya untuk menghubungi Tania. Ia mengambil HP suaminya untuk bisa menghubungi Tania sedangkan Aditya sedang tidur di kamarnya.
Tadi waktu ia ingin keluar kamarnya, ia memaksa suaminya untuk tidur kembali. Mau tidak mau Aditya terpaksa menuruti kemauan istrinya untuk istirahat.
Sekarang ini Kyra tengah berdiri di sebuah balkon di lantai atas rumahnya sambil meghadap kearah pantai yang ada di depannya. Ia menatap pantai sambil memegang HP ditelinganya.
Suara telfon.
“Halo.”
“Siapa?” Tanya Tania di balik telfon.
“Ini aku Kyra.”
“Ky....kenapa kamu susah sekali di hubungi sih. Dari kemarin aku mencoba menghubungi nomormu tapi tidak bisa tersambung?”
“Maaf....HP-ku rusak. Aku cuma sesekali bisa memakainya. Tania, apa benar kalau Mas Bagas sekarang sedang dalam perjalanan ke Indonesia.”
“Ia...mungkin besok dia sampai. Oyah...kamu ada di Apartemen kan. Aku ke sana yah. Ada yang ingin kubahas denganmu?”
“Aku sekarang tidak tinggal di Apartemen lagi. Aku tinggal di rumah Aditya.”
“Apa....maksudnya gimana sih Ky. Bukannya kamu mau tunangan sama Ivan yah?” Tanya Tania yang terdengar kaget.
“Kamu belum tahu kabar tentang Ivan.”
“Aku sibuk dengan perusahaan. Aku tidak tahu tentang kabar Ivan. Tadi kamu belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kamu bisa tinggal sama Aditya. Bukannya kamu sudah cerai dengannya?”
“Ceritanya panjang kalau aku bicara di telfon. Aku hanya akan bilang intinya saja. Aku dan Aditya tidak pernah bercerai. Sekarang aku dan dia kembali bersama.”
“Apa....tidak cerai.” Teriaknya di balik telfon dengan suara yang terdengar kaget. “Kalian masih suami istri. Ini gimana ceritanya sih Ky?”
“Aku tidak bisa ceritakan semua dari awal lewat telfon. Ceritanya panjang.”
“Berarti kamu sama Ivan tidak jadi nikah yah.”
“Ia...dia sudah kembali ke Singapura.”
“Haaaa....” menghela nafas panjang. “Sepertinya Bagas juga belum tahu kalau kamu sudah kembali dengan Aditya.”
“Oyah....ada yang ingin aku tanyakan tentang perusahaanmu.”
“Ia...tanya saja.”
“Bagaimana keadaan perusahaanmu akhir – akhir ini?”
“Sebenarnya aku berusaha menghubungimu karena ingin memberitahumu masalah perusahaan keluargaku tapi mendengar tadi kamu sudah kembali dengan Aditya. Aku tidak bisa mengatakannya padamu Ky.”
“Apa kamu takut kalau kamu mengatakannya kamu akan membuat aku dan Aditya bertengkar lagi?”
“Kamu tahu tentang masalah perusahaanku berhubungan dengan Tuan Aditya.”
“Ia...”
“Maaf Ky....Kamu baru kembali dengan Aditya. Aku tidak akan membuat kalian bertengkar karena mengatakan masalah keluargaku. Lagipula ini bisnis Ky. Wajar saja kalau ada orang yang melakukan hal ini. Dunia bisnis itu memang terlalu kejam. Ada yang kalah dan ada yang menang. Kami hanya bisa berusaha untuk bisa bertahan.”
“Aku tahu Tania kalau Aditya membeli saham keluargamu.”
“Ia...belum sepenuhnya dia ambil semuanya sih. Dia hanya membeli 50 persen saja dari beberapa pemegang saham. Ayahku masih menjabat direktur disini. Masalahnya hanya satu Ky, para perusahaan yang sudah bekerja sama dengan ayahku akan melanjutkan kerja sama mereka kalau Tuan Aditya yang bisa mengambil alih perusahaan dan menggantikan ayahku karena mereka tahu kalau Tuan Aditya yang mengambil alih perusahaan akan berkembang luas dan keuntungan yang mereka dapat dari sebelumnya pasti lebih tinggi tapi Tuan Aditya belum pernah muncul di perusahaan. Kami masih baik – baik saja Ky. Kamu tidak usah khawatirkan aku.”
“Syukurlah kalau Tania baik – baik saja. Selama Aditya tidak mengahancurkan perusahaan Tania. Maka aku bisa lebih tenang.” Dalam hati Kyra.
“Ky....Ky...Kyra. Kamu masih disana kan?”
“Aah ia...”
__ADS_1
“Sudah yah....aku mau rapat dulu. Nanti aku menghubungimu lagi.”
“Baiklah.”
“Jangan dipikirkan aku masih baik – baik saja. Perusahaanku juga masih baik – baik saja. Aku hanya perlu menyakinkan orang – orang disini untuk mempercayai ayahku.”
“Ia Tania. Maaf yah, aku akan membicarakannya lagi dengan Aditya masalah sahammu itu.”
“Tidak perlu Ky. Dengan adanya masalah ini, aku bisa membuktikan pada orang – orang perusahaan kalau kami juga bisa mengelola perusahaan dengan baik. Ini bisa menjadikanku lebih kuat mental dalam berbisnis.”
“Baiklah...kalau itu maumu.”
“Terima kasih. Kalau masalah ini selesai, aku akan datang menemuimu dan saat itu kamu harus menceritakan semuanya dari awal tentang kamu dan Tuan Aditya.”
“Ia...”
“Baiklah...aku tutup telfonnya yah.
“Ia...”
Telfonnya pun ditutup.
“Biarpun Tania bilang seperti itu tapi aku tetap ingin bertanya lagi pada Aditya. Apa benar dia tidak akan mengambil alih perusahaan Tania?” Gumamnya.
Selesai menghubungi Tania. Ia kembali ke kamarnya. Ia melihat jam dinding menunjukkan pukul 12 siang.
“Sudah jam segini, aku belum mandi gara – gara sibuk menlefon dan mengurusi Aditya.” Gumamnya.
Ia berjalan menghampiri suaminya yang tengah tertidur pulas setelah minum obat tadi. Ia mencium kening suaminya sambil tersenyum lalu berjalan menuju kamar mandinya.
Selama 30 menit, ia mandi disana. Ia keluar kamar mandi dengan baju mandi yang masih menempel ditubuhnya.
Ia berjalan menuju ruang gantinya mencari baju gantinya. Ia lihat disana kopernya yang masih utuh. Tadi pagi sewaktu dia pingsan, Andi membawa semua barang – barangnya masuk ke kamar Aditya.
Ia memakai salah satu baju santainya. Selesai berpakaian, ia menyimpan baju – bajunya itu di lemari baju Aditya. Ia kemudian keluar kamarnya mencari keberadaan ibu mertuanya dan Kaila anaknya. Ia turun ke lantai bawah sambil melihat sekelilingnya. Ketika ia sudah ada di lantai bawah, Bu Marta berjalan menghampirinya.
“Nyonya Muda. Anda mencari siapa?”
“Bu Marta lihat mami dan Kaila.”
“Oh....Nyonya Besar tadi membawa nona kecil ke kamar yang sudah disediakan Tuan Muda. Tadi saya baru dari sana sepertinya mereka sedang tidur siang setelah lelah bermain.”
“Sebaiknya aku tidak usah mengganggu mereka.” Dalam hati Kyra.
Ia kembali bicara pada pelayannya itu.
“Zahila dimana?”
“Nona Zahila sedang bersantai di belakang rumah, nyonya.”
“Terima kasih. Aku akan kesana dulu untuk melihatnya.”
“Ia...biar saya antar nyonya kesana karena pasti Anda belum tahu tempatnya.”
“Terima kasih.”
Kyra berjalan menuju ke belakang rumahnya ditemani Bu Marta. Ketika sampai, ia dan Bu Marta sudah melihat Zahila tengah berenang di kolam renang.
“Zahila....” panggilnya.
Zahila yang tengah berenang langsung berbalik kearah kakaknya.
“Eh....ada apa kak?”
“Siapa yang menyuruhmu berenang?”
__ADS_1
“Bukannya kakak bilang berenang itu bagus untuk jantung.”
“Kakak memang bilang begitu tapi ini sudah siang Zahila. Kalau kamu demam lagi gara – gara berenang di siang bolong bagaimana. Cepat naik.”
“Ia...aku akan naik. Kakak cerewet sekali sih.” Ucapnya sambil keluar dari kolam renang dengan wajahnya yang cemberut.
Ia melingkarkan handuk di tubuhnya dan berjalan masuk ke dalam rumah. Tiba – tiba disana ia tak sengaja berpapasan dengan Andi dan Rey yang ingin bertemu Aditya.
Zahila tersenyum manis sambil menyapa Andi.
“Selamat siang kak.”
“Siang....Apa Tuan Aditya ada di kamarnya, Zahila?” Tanya Andi.
“Ia....kakak ipar masih di kamarnya.”
Sedangkan Rey dari tadi memandang Zahila sambil terus tersenyum. Ia terpesona dengan senyuman manis Zahila.
“Aku naik duluan yah kak.” Ucapnya sambil tersenyum.
“Ia....silahkan.”
“Permisi..” pamitnya sambil tersenyum melihat Andi dan Rey secara bergantian.
Rey masih menatap Zahila sambil tersenyum. Andi tersadar dengan pandangan Rey yang tersenyum melihat Zahila.
“Hei....jangan macam – macam kamu. Dia itu adiknya kakak ipar.”
Rey langsung memegang dadanya. “Kali ini beda. Jantungku sampai berdetak kencang saat dia tersenyum tadi.” Ucapnya yang masih terus melihat Zahila di lantai atas.
“Cih....semua gadis yang kamu temui pasti jantungmu seperti itu. Apa kamu laki – laki murahan. Jangan berani – beraninya kamu menggoda anak itu?”
Ditengah – tengah pembicaraan mereka, Kyra datang menghampiri mereka.
“Kalian disini.”
“Kakak ipar.”
“Kalian mau bertemu Aditya yah.”
“Ia....apa dia sudah baikan?” Tanya Rey
“Ia...dia baik – baik saja. Dia masih tidur di kamar. Tunggu sebentar yah aku bangunkan”
“Tidak usah. Kami tunggu saja sampai kakak bangun. Kami hanya ingin melihat keadaannya saja.” sahut Andi
“Oh...begitu. Kalau mau tunggu sampai Aditya bangun. Kak Rey sama Kak Andi makan siang dulu. Aku suruh orang siapkan makanannya.”
“Nyonya....biar saya saja yang siapkan makanannya.” Sahut Bu Marta yang sejak tadi berdiri di samping Kyra.
“Baiklah.”
Bu Marta menuju dapur untuk menyiapkan makan siang untuk mereka.
Kyra kembali bicara pada Andi dan Rey.
“Kak Andi sama Kak Rey mau tunggu dimana?”
“Kami berdua ke Ruang Biliar saja. Sudah lama juga kami tidak bermain billiar.” Ucap Andi.
“Oh...baiklah.”
Andi dan Rey menuju ruang biliar Aditya. Andi memang tahu semua setiap ruangan yang ada di rumah itu karena ia selalu menemani Aditya di rumah itu.
Bersambung.
__ADS_1