
SELAMAT MEMBACA, LIKE AND VOTE YAH😊😚
Nyonya Sintya sudah sampai di rumah Aditya yang ada di pinggir pantai. Pak Mus memarkirkan mobilnya didepan rumah Aditya. Saat mobilnya sudah berhenti di depan rumah Aditya, Nyonya Sintya langsung turun dari mobil tanpa menunggu Pak Mus membuka pintu mobil untuknya.
Ia berjalan cepat masuk ke dalam tanpa peduli dengan beberapa pengawal yang berjaga di luar. Ketika ia sudah di dalam, ia disambut oleh Bu Marta.
“Selamat datang nyonya.”
“Dimana anak itu?” Tanya Nyonya Sintya dengan wajahnya yang marah.
“Tuan Muda ada di kamarnya, nyonya.”
“Aku menanyakan istrinya. Dimana anak kurang ajar itu?”
“Nyonya Muda ada di dapur nyonya. Dia sedang mengambil air hangat untuk Tuan Muda.”
Nyonya Sintya berjalan melewati Bu Marta tanpa membalas ucapannya tadi. Ia berjalan menuju dapur dimana Kyra berada sekarang.
Saat Nyonya Sintya sudah melihat Kyra yang tengah sibuk mengambil air minum untuk suaminya. Nyonya Sintya langsung memanggil menantunya itu dengan wajahnya yang marah.
“Kyra....” Panggilnya.
Kyra menengok ke belakang dan melihat ibu mertuanya. Betapa kagetnya ia ketika melihat ibu mertuanya didepannya sekarang.
“Mami....” Panggilnya.
Plak....Nyonya Sintya langsung menampar menantunya itu dengan keras.
Kyra hanya bisa diam menerima tamparan ibu mertuanya. Ia mengerti kalau ibu mertuanya itu sangat marah kepadanya sekarang.
“Dasar anak kurang ajar.”
Kyra langsung berlutut didepan ibu mertuanya dengan wajahnya yang mulai menangis.
“Maaf mi.....maaf. Aku bersalah sama mami.”
“Kamu benar – benar anak kurang ajar. Beraninya kamu pergi begitu saja tanpa memberitahuku. Apa kamu menganggapku sebagai orang tuamu?”
“Maaf mi...aku bersalah sama mami. Aku pergi tanpa pamit karena tahu mami pasti tidak akan mengijinkanku pergi. Dulu aku tidak tahu tentang masalah yang sebenarnya. Aku mohon maafkan aku mi.” Ucapnya sambil menangis.
“Ini karena kamu sangat bodoh.” Teriaknya sambil menunjuk – nunjuk menantunya yang tengah berlutut didepannya. “Mami pernah bilang kan kalau kamu punya masalah dengan Aditya, mami akan berpihak padamu. Tapi apa, kamu hanya berpikir menggunakan pikiran bodohmu itu.”
“Karena alasan itu aku tidak memberitahu mami. Dulu aku pikir Aditya mencintai wanita lain. Kalau aku mengatakannya pada mami, mami pasti akan membuatku tetap bertahan dengan Adit biarpun dia mencintai wanita lain. Tapi aku sungguh tidak menyangka kalau itu semua tidak benar. Tolong maafkan aku mi.” Balasnya sambil menunduk menangis.
“Mami benar – benar kecewa denganmu Kyra. Mami pikir kamu pintar menilai seseorang tapi ternyata kamu sangat bodoh. Kamu terlalu percaya dengan orang. Bahkan kamu berteman dengan si Aura itu tanpa mami tahu.”
“Aku salah....aku salah. Maafkan aku mi.”
“Buat apa kamu minta maaf sekarang...hah. Kamu sudah membuat anakku menderita selama delapan tahun. Sekarang kamu minta maaf. Kamu benar – benar meremehkan kasih sayang yang mami berikan padamu selama ini.”
“Aku tahu mami sangat marah padaku karena kesalahan bodohku. Aku akan menerima hukuman apapun yang mami berikan padaku kalau itu bisa menebus kesalahanku.”
“Oke....kalau begitu. Kamu pergi sekarang dari rumah ini. Jangan muncul dihadapan Aditya.”
Kyra terdiam mendengar ucapan ibu mertuanya itu dengan air mata yang terus mengalir.
“Kenapa dia diam saja. Anak ini benar – benar kelewatan. Awas saja kalau kamu benar – benar melakukannya lagi.” Dalam hati Nyonya Sintya yang sangat kesal dengan menantunya.
Nyonya Sintya kembali berbicara kepada menantunya.
“Kenapa kamu diam saja. Kamu tidak ingin mendengarku?”
__ADS_1
“Maaf mi....aku bisa melakukan semua yang mami minta tapi kalau mami menyuruhku meninggalkan suamiku. Aku tidak akan melakukannya.” Jawabnya dengan wajahnya yang terlihat sedih.
“Oke.....kalau kamu tidak ingin meninggalkan Aditya. Kamu berlutut sekarang diluar rumah. Kamu tidak boleh masuk ke rumah kalau aku tidak menyuruhmu masuk.”
Kyra kembali diam mendengar ucapan ibu mertuanya.
“Kenapa...kamu tidak sanggup?”
“Akan aku lakukan kalau itu membuat mami merasa tenang dan memaafkanku kembali. Selama aku tidak meninggalkan Aditya aku bisa melakukan apa saja untuk mami.”
“Anak ini benar – benar keras kepala.” Dalam hati Nyonya Sintya.
Kyra berdiri dan berjalan keluar meninggalkan ibu mertuanya yang masih berdiri di dapur. Ia berjalan keluar rumahnya dan langsung berlutut didepan rumahnya seperti yang di minta ibu mertuanya itu.
Nyonya Sintya berjalan ke ruang tamu. Ia berdiri didekat jendela sambil menatap sedih menantunya itu.
Tiba – tiba Pak Mustang datang menghampirinya.
“Nyonya....apa Anda baik – baik saja?”
“Eem...” Balasnya sambil melihat Kyra yang berlutut.
Ia kemudian berjalan menuju kamar Aditya yang ada di lantai atas. Disana sudah ada perawat yang sudah menjaga keadaan Aditya.
Nyonya Sintya berjalan menghampiri anaknya dan duduk disampingnya sambil menatap sedih anaknya itu.
“Bagaimana keadaannya?” Tanya Nyonya Sintya sambil memegang dan mengusap tangan anaknya.
“Tuan Muda baik – baik saja nyonya.”
“Apa dia pernah terbangun?”
“Tuan Muda tadi sudah sadarkan diri waktu Nyonya Muda disini tapi dia hanya membuka matanya sebentar dan kembali tidur lagi nyonya.”
“Dr. Robert ada di kamar tamu, nyonya. Dia sedang istirahat.”
Nyonya Sintya tidak menjawab perawatnya itu. Ia hanya menatap sedih anaknya sambil bicara dalam hatinya.
“Dit....maafkan mami yah. Mami sudah menghukum istrimu itu. Mami hanya ingin membuat dia untuk tidak mengulangi kesalahannya lagi. Mami sangat sayang kalian berdua. Mami tidak ingin kehilangan kalian lagi. Mami sudah cukup kehilangan nenek dan ayahmu. Mami tidak ingin merasakan kehilangan lagi nak.” Dalam hati Nyonya Sintya dengan air mata yang menetes dipipinya.
Perawat yang melihatnya terlihat khawatir. Ia pun berbicara kepada majikannya itu.
“Nyonya baik – baik saja.”
“Aku baik – baik saja. Hanya merasa sedih melihat anakku terbaring seperti ini.” Balasnya sambil menghapus air matanya.
Tiba – tiba ia tersadar dengan sesuatu. Ia kembali berbicara kepada perawat yang tengah berdiri disampingnya itu.
“Sus....tolong jaga anak saya sebentar yah.”
“Baik nyonya.”
Nyonya Sintya pun berjalan keluar meninggalkan kamar Aditya. Ketika diluar, ia sudah melihat Pak Mus sedang duduk di ruang tamu yang ada di lantai bawah.
Ia turun menghampiri Pak Mus.
“Pak Mus....”
“Ia nyonya.”
“Bukankah Kyra dulu hamil saat dia pergi.”
__ADS_1
“Ia nyonya.”
“Berarti cucuku sekarang sudah berumur 7 tahun yah. Apa dia ada disini juga?”
“Maaf nyonya. Anak Tuan Muda tidak ada disini. Barusan saya tahu tentang keberadaannya. Cucu Anda sekarang berada di sebuah Apartemen bersama Nona Zahila.”
“Siapa yang memberitahumu?” Tanya Nyonya Sintya penasaran.
“Saya tadi menghubungi asisten Tuan Muda. Dia memberitahukan semuanya pada saya.”
“Kamu benar – benar bodoh. Baru mencari tahu sekarang. Kenapa tidak dari kemarin – kemarin.”
“Nyonya kan tidak menyuruh saya.”
“Huh....terus informasi apa lagi yang kau dapat dari Andi?”
“Tuan Andi hanya mengatakan tentang cucu Anda saja.”
“Cepat katakan.”
“Cucu Anda seorang perempuan yang sudah berumur 7 tahun. Namanya Kaila nyonya.”
“Terus apa lagi?” Tanya Nyonya Sintya yang sangat penasaran mendengar info tentang cucunya.
“Itu saja yang saya tahu nyonya.”
“Kalau begitu kita jemput dia sekarang. Aku ingin sekali melihatnya.” Ucapnya dengan antusias.
“Nyonya....ini sudah jam 2 malam. Mungkin Nona Kaila sudah tidur.”
“Tapi dia itu cuma tinggal berdua dengan Zahila.”
“Tuan Muda sudah menyewa pengawal pribadi untuk Nona Kaila, nyonya. Besok katanya Tuan Andi akan membawa Nona Kaila kesini.”
Nyonya Sintya menghela nafasnya dengan wajahnya yang terlihat kecewa karena ia ingin sekali bisa bertemu dengan cucu yang selama ini ia damba - dambakan itu.
“Baiklah..” Balasnya dengan suara rendah
Ia kemudian berjalan ke depan jendela untuk melihat keadaan Kyra yang masih berlutut diluar tanpa sedikitpun meninggalkan tempatnya.
Ia sedih menatap menantunya itu. Pak Mus datang menghampiri majikannya itu.
“Nyonya....apa Anda baik – baik saja.”
“Aku tidak tahan melihatnya seperti itu. Meskipun dia hanya menantuku tapi aku sudah menyayangi dia seperti anakku sendiri. Kalau aku tidak berbuat seperti itu, aku takut kalau dia berbuat kesalahan lagi dimasa depan.”
“Kalau menurut pengamatan saya nyonya. Nona Kyra tidak akan mengulangi kesalahannya lagi. Nona sudah melihat semuanya, pasti ke depannya dia akan lebih teliti lagi dalam mengambil keputusan.”
“Apa aku terlalu kejam padanya sekarang?”
“Anda lebih tahu apa yang harus dilakukan pada nona. Nyonya sudah menganggap nona sebagai anak Anda sendiri. Jadi saya tidak berhak untuk menghalangi apa yang Anda lakukan. Saya hanya mengatakan pendapat saya tentang nona yang sekarang.”
Nyonya Sintya hanya bisa diam sambil menatap Kyra tanpa membalas ucapan asistennya itu.
Bersambung.
AUTHOR MAU MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1441 H BAGI PARA READERS BR 2 YANG MENJALANKANNYA..
MINAL' AIDIN Wal' FAIZIN.....................
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN..........
__ADS_1
SEMOGA ALLAH SWT SELALU MEMBERKAHI SETIAP LANGKAH KITA KE DEPANNYA.
AMIN............🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻