
SELAMAT MEMBACA
Kyra dan Zahila sekarang tengah bersantai di taman belakangnya. Mereka berdua duduk di sana sambil minum teh dan menikmati cemilan pagi yang di sediakan pelayannya.
“Kak...”
“Eem.”
“Kakak ipar benar – benar tidak mengijinkan kakak keluar rumah.”
“Iya. Bosan kalau di rumah terus. Tidak bisa ngapa - ngapain. Kakak ingin sekali bekerja seperti dulu. Kakak juga tidak punya kesempatan untuk mengantar Kaila ke sekolah.”
“Kakak ajak saja kakak ipar keluar nonton bioskop.”
“Di rumah ada Ruang Bisokop. Pasti ujung – ujungnya cuma nonton di rumah.”
“Kakak ipar pasti mengijinkan kakak keluar kalau pergi bersama dia. Sekalian juga kakak ajak Kaila jalan – jalan keluar. Dia kan belum pernah keliling kota asalnya. Ya.....meskipun bukan kota kelahirannya sih. Tapi dia perlu di ajak jalan – jalan keluar.” Sambil menguyah cemilan yang ia pegang.
“Benar juga yang kamu katakan dek. Sejak kita kembali, kakak tidak pernah mengajaknya keluar jalan – jalan. Harusnya kakak juga mengajak Kaila Ziarah di makam papi dan nenek.”
“Oh ya...kak.”
“Eem”
“Rumah peninggalan ibu dan ayah masih ada tidak.”
“Masih. Kakak tidak pernah menjualnya. Motor yang sering kakak pakai dulu juga masih ada. Tapi mungkin sudah tidak bisa di pakai lagi motornya. Sudah sepuluh tahun kakak tidak pernah pakai. Rumahnya mungkin sudah di penuhi sarang laba – laba apalagi itu rumah tua.”
Zahila hanya diam saja mendengar kakaknya mengatakan itu.
Kyra kembali bicara pada adiknya.
“Kamu kenapa mengatakan itu pada kakak?”
“Zahila hanya mengingat tentang ayah dan ibu. Zahila tiba – tiba rindu pada mereka.”
“Kakak cuma pernah satu kali mengunjungi makam ayah dan ibu setahun pernikahan kakak dengan Aditya. Kakak tidak pernah mengunjungi mereka lagi. Nanti kakak juga akan bawa Aditya dan Kaila ke sana.”
“Iya.”
Tiba – tiba HP milik Kyra berbunyi, ia meraih HP-nya yang ia letakkan di meja. Ia melihat nomor tak ia kenal di layar HP-nya.
“Kenapa kakak tidak angkat?” Tanya Zahila yang melihat Kyra hanya menatap layar HP-nya.
“Nomor baru. Kakak tidak tahu siapa?”
“Angkat saja dulu. Siapa tahu orang penting?”
“Oke.”
Kyra pun mengangkat nomor yang tak ia kenal itu.
Suara Telfon.
“Halo...siapa ini?”
“Rey.” Suara di balik telfon.
“Oh Kak Rey, ada apa kak?”
“Katanya Zahila mau kuliah di Treeya ya.”
“Iya. Kak Rey tahu dari mana?”
“Dari Bagas.”
“Oooo....memangnya Kak Rey kenapa bertanya tentang Zahila?”
__ADS_1
Zahila langsung melihat kakaknya saat mendengar namanya di sebut. Kyra hanya melirik ke arah Zahila dan kembali fokus pada Rey yang ada di balik telfon.
“Biar ku bantu kamu daftar dia kuliah. Kebetulan aku yang menggantikan Tante Sintya pegang yayasan kampus Treeya.”
“Kak Rey yang pegang yayasan kampus Treeya.” Kembali memastikan.
“Iya. Waktu Om Agung meninggal, dia menyerahkan yayasan padaku. Aditya tidak bisa mengurus semuanya sedangkan Hotel yang dulu tante kelola, di ambil alih Pak Mus. Makanya tante punya banyak waktu mengurus Kaila.”
“Aku pikir mami sangat menyukai pekerjaannya.”
“Tante berhenti kerja untuk mengurus Aditya. Apalagi kan mereka bedua cuma tinggal berdua. Kalau saja kamu tidak pergi, mungkin tante tidak sampai melakukan itu.”
“Iya.....aku yang salah.”
“Maaf calon kakak ipar. Aku membuatmu tersinggung ya.”
“Hah.” Dengan ekspresi kaget. “Calon kakak ipar.”
“Heheheh. Bukan apa – apa. Terus bagaimana tadi masalah Zahila?”
“Baiklah. Kalau Kak Rey mau bantu. Sebenarnya sih cuma daftar kuliah saja. Aku juga bisa melakukannya sendiri. Tidak perlu merepotkan Kak Rey.”
“Jangan bilang begitu dong. Aku sangat senang kalau sampai bisa melakukannya.”
“Oke..terima kasih sebelumnya kak.”
“Iya....tapi kirimkan aku nomor Zahila ya. Nanti aku bisa antar dia ke kampus.”
“Iya kak.”
“Eh....jangan bilang – bilang sama suamimu ya.”
“Kenapa?”
“Kamu tahu lah. Dia itu sensitif sekali padaku.”
“Baiklah.”
“Iya.”
Telfonnya pun di tutup.
Zahila kemudian bicara pada kakaknya setelah melihat Kyra meletakkan HP-nya di meja.
“Siapa yang menghubungi kakak?”
“Rey.”
“Om Rey.”
Kyra sedikit terkejut mendengar Zahila memanggil Rey dengan sebutan om.
“Kenapa kamu panggil dia om?”
“Dia kan sudah tua. Aku juga memanggil dengan sebutan om teman Kak Adit yang selalu menemaninya itu.”
“Kak Andi.”
“Iya...Om Andi.”
“Kamu panggil mereka berdua om, terus kamu panggil Aditya dan Bagas kakak dan mas. Itu bagaimana ceritanya sih dek?”
“Kak Adit kan suami kakak jadi aku panggil dia kakak ipar sedangkan Mas Bagas kakak angkat kita, ya harus panggil mas dong. Masa panggil om juga.”
“Terserah kamu lah.”
“Oh...ya. Aku tidak suka dengan teman Kakak ipar yang namanya Rey itu.”
__ADS_1
“Kenapa?”
“Sok dekat sekali. Aku tidak pernah bicara padanya tapi seolah – olah kita dekat sekali. Itu namanya dia om – om hidung belang.” Dengan wajahnya yang cemberut karena membicarakan tentang sikap Rey kepadanya.
Kyra langsung tertawa. “Hahahahah.....”
“Kenapa kakak tertawa?” Tanya Zahila dengan wajah tak sukanya.
“Kamu tersinggung mendengar dia bicara padamu.”
“Aku tidak suka saja dengan sikap sok dekatnya itu.”
“Padahal Kak Rey itu orangnya cuek ya dek. Dulu waktu kuliah, dia itu jarang bicara tidak seperti Kak Andi. Kakak juga tidak terlalu dekat dengannya seperti kakak dekat dengan Mas Bagas, karena dia orangnya sedikit cuek. Tapi mendengar kamu bilang kalau dia sok dekat, berarti dia suka padamu.”
“Huh....aku tidak suka padanya.” Dengan muka cemberut.
“Dia itu pria yang baik kok. Setia kawan.”
“Setia kawan.” Dengan wajahnya yang bingung.
“Iya. Buktinya dia bisa tahan dengan Aditya yang suka marah – marah itu. Cara bicaranya memang kadang bikin teman – temannya tersinggung tapi dia pria yang baik dan pengertian.”
“Kalau dia pria yang baik seperti yang kakak bilang, terus kenapa dia tidak nikah – nikah sampai sekarang?”
“Mungkin dia masih belum menemukan orang yang dia cintai.”
“Huh....pasti karena dia keasyikan main perempuan.”
“Sudahlah. Kakak mau Video Call dulu sama kakak iparmu yang posesif itu.” Sambil tersenyum.
“Oke....”
Kyra berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Di dalam kamarnya ia melakukan Video Call dengan suaminya. Sedangkan Aditya sedang berada di dalam ruangannya ketika melihat panggilan Video Call istrinya.
“Hai sayang.” Sambil melambaikan tangannya pada Aditya.
“Kamu lagi di kamar ya.”
“Iya. Aku bosan di rumah. Aku boleh ke situ kan mengantar makan siang untukmu.”
Aditya langsung tersenyum lebar mendengar istrinya ingin datang ke sana.
“Kamu mau datang ke sini.”
“Iya. Kamu pasti belum makan siang kan.”
“Baiklah....datanglah ke sini. Aku suruh Pak Malik datang menjemputmu.”
“Benar.” Dengan wajahnya yang terlihat kegirangan.
“Iya.”
“Kalau begitu aku siap – siap ya. Aku mau masak makan siangmu dulu.”
“Suruh saja pelayan yang melakukannya. Kamu tidak perlu melakukannya sendiri sayang.”
“Iya. Aku tahu. Aku tutup telfonnya ya.”
“Hei...jangan tutup dulu. Aku belum puas melihat wajahmu.”
“Aku kan mau ke sana Dit.”
“Baiklah.”
Video Callnya pun di tutup.
__ADS_1
Bersambung.