
SELAMAT MEMBACA
Mobil Rey sudah terparkir sempurna di parkiran Kampus Treeya. Rey turun dari mobil untuk membuka pintu mobil untuk Zahila. Tapi Zahila turun dari mobil tanpa menunggu Rey membuka pintu mobil untuknya.
“Kenapa kamu turun , Kak Rey kan belum membuka pintunya?” Tanya Rey yang sudah berdiri di depan Zahila.
“Aku punya tangan sendiri kok om.”
“Kenapa kamu terus panggil – panggil aku dengan sebutan om, panggil saja Kak Rey. Kan lebih enak di dengar?”
Zahila berdiri melingkarkan kedua tangannya di dadanya. Ia diam sejenak menatap Rey dari bawah ke atas. Zahila melihat pakaian setelan jas kantornya yang masih menempel di tubuhnya dengan dasi yang masih melekat di lehernya.
“Apa yang kamu lihat, apa ada yang salah dengan penampilanku?” Tanya Rey sambil melihat ke bawah. Ia menatap pakaiannya, ia menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan secara bergantian.
“Om lihat sendiri kan penampilan om. Aku tidak pantas memanggil Om Rey dengan sebutan kakak. Melihat penampilan om saja sudah membuktikan kalau om itu jauh di atasku. Semua pria seperti om yang ku temui di Amerika ku panggil Uncel. Tidak ada tuh yang ku panggil kakak. Lagi pula, om itu aneh sekali. Dari kemarin – kemarin sok dekat sekali padaku.” Zahila menatap Rey dengan serius.
Rey tak bisa berkata apa – apa mendengar ucapan Zahila karena umurnya memang jauh di bawah Zahila.
Zahila kemudian berjalan melewati Rey yang diam melihatnya. Rey menarik tangan Zahila yang berjalan melewatinya itu.
“Tunggu sebentar.” Rey menatap Zahila dengan serius. Ia sudah tidak tahan ingin mengatakan perasaannya pada Zahila. Ia sudah tidak sabar ingin memiliki gadis itu.
“Ada apa om?” Tanya Zahila, ia menatap Rey dengan bingung.
Rey berjalan maju mendekati Zahila. Tanpa basa – basi, ia langsung mengatakan isi hatinya yang ia pendam itu sambil terus memegang tangan Zahila.
“Kak Rey suka padamu, Zahila. Bukan hanya sekedar suka tapi Kak Rey jatuh cinta padamu saat pertama kali melihatmu.” Rey menatap Zahila serius.
Zahila diam tak percaya dengan apa yang di katakan Rey padanya. Ia memang biasa melihat pria yang mengatakan cinta padanya. Tapi, ini baru pertama kalinya seorang pria yang baru saja mengenalnya langsung mengatakan cinta padanya.
Zahila langsung melepaskan tangannya dari genggaman tangan Rey. Rey hanya membiarkannya begitu saja dan kembali bicara pada Zahila.
“Sebenarnya Kak Rey ingin mengutarakan perasaan Kak Rey dengan memberikanmu bunga atau sesuatu yang kamu sukai. Tapi karena kamu mempertanyakan alasanku dekat denganmu, membuat Kak Rey ingin mengatakannya padamu.” Rey menatap terus wajah diam Zahila.
“Maaf om. Bercanda atau pun serius. Aku tidak terima apa yang om katakan tadi.”
“Zahila, aku benar – benar serius dengan perasaanku padamu.” Kembali memegang tangan Zahila.
“Tapi, aku tidak suka dengan om.”
“Apa yang kamu tidak sukai dariku. Katakan saja?” Tanya Rey dengan serius.
Zahila kembali melepaskan tangannya lalu melingkarkan kedua tangannya di dadanya. Ia membalikkan badannya ke samping tak ingin berhadapan dengan Rey.
__ADS_1
“Kenapa sih om – om hidung belang ini terus memaksa. Tidak ada pria yang bisa di percaya. Lihat saja dia, baru saja kenal sudah bilang suka. Semua pria yang baru ku temui sama saja. Saat katakan cinta, bilangnya akan mendaki gunung himalaya untuk wanita yang di cintainya. Tapi ketika pacaran, jangan kan mendaki gunung, baru hujan gerimis saja banyak sekali alasannya. Batang hidungnya saja tidak muncul. Bilangnya sakit lah, ini itulah. Tidak ada yang seperti kakak ipar, Mas Bagas dan Kak Ivan. Apalagi pria ini, baru kenal langsung katakan cinta.” Dalam hati Zahila.
Zahila memang tidak pernah pacaran. Tapi, ia sering kali melihat berbagai pengalaman cinta dari teman – teman kampusnya di Amerika. Mereka selalu mengatakan hal – hal manis saat mengutarakan perasaan mereka pada gadis yang mereka suka. Tapi ketika pacaran mereka tidak bisa membuktikan ucapannya.
Rey kembali bicara pada Zahila yang hanya diam tanpa melihatnya.
“Zahila...katakan. Apa yang kamu tidak sukai dariku?” Tanya Rey yang terlihat gelisah dengan kebisuan Zahila.
Zahila langsung melihat ke arah Rey. Ia membalikkan badannya berhadapan dengan Rey. Ia menatap serius Rey dengan posisi tangannya tadi.
“Aku tidak suka pada om yang langsung mengatakan itu pada wanita yang baru om kenal. Om itu hanya main – main. Cinta pandangan pertama yang om bilang itu tidak bisa ku percaya. Tidak ada cinta seperti itu. Om itu hanya penasaran denganku. Itu bukan cinta om tapi hanya rasa suka dan rasa kagum pada seseorang yang baru pertama kali om temui.” Jelasnya dengan serius.
Rey menghela nafasnya dengan kasar karena Zahila sama sekali tak percaya dengannya. Tapi, ia sama sekali tidak ingin menyerah hanya karena pikiran sempit Zahila. Cara seseorang jatuh cinta itu berbeda – beda. Tidak semuanya sama. Seperti dirinya yang jatuh cinta pada pandangan pertama.
Rey kemudian bicara pada Zahila.
“Kak Rey bisa membuktikan padamu kalau Kak Rey benar – benar serius.”
“Om – om ini benar – benar tidak mengerti dengan yang ku katakan ya.” Dalam hati Zahila sambil memutar bola matanya karena kesal melihat tingkah Rey.
Rey kembali bicara pada Zahila.
“Kak Rey bisa jamin kalau Kak Rey sungguh suka padamu. Bukan sekedar suka tapi Kak Rey benar – benar jatuh cinta, Zahila.” Rey memasang wajah kasihannya di depan Zahila.
“Kalau begitu, om bunuh diri saja sana. Tabrakan diri om di jalanan.” Tegasnya.
Rey langsung kaget mendengar Zahila mengatakan itu padanya. Ia terdiam sejenak mencerna maksud ucapan Zahila.
“Dia menyuruhku menabrakkan diriku di jalan untuk membuktikan cintaku, begitu maksudnya.” Dalam hati Rey.
“Huh....aku cuma bercanda padanya mengatakan itu tapi dia langsung ketakutan begitu. Trikku memang selalu bisa di andalkan. Mana ada orang yang berani melakukannya. Dia pasti akan menyerah sekarang.” Dalam hati Zahila sambil melihat Rey yang hanya diam saja tanpa mengatakan apa – apa.
Zahila tersenyum tipis melihat Rey diam tanpa berkata apa – apa. Ia sengaja mengatakan itu pada Rey karena itu yang selalu ia katakan pada setiap pria yang mengatakan cinta padanya. Alhasil, mereka semua menyerah dan belum ada yang bisa melakukannya.
“Sepertinya gadis kecil ini mencoba bermain – main denganku. Oke....calon suamimu ini akan mengikuti permainanmu. Zahila sayang, kamu pikir Kak Rey menyerah hanya karena gertakanmu itu. Kita lihat, siapa yang akan menang.” Dalam hati Rey yang sadar dengan gertakan Zahila.
Ia kemudian bicara pada Zahila.
“Jadi itu adalah syarat darimu.” Ucap Rey sambil menaikkan kedua alisnya.
“Iya....kalau om menabrakkan diri di jalan. Aku pasti akan menerima perasaan om.” Zahila bicara dengan wajah percaya dirinya.
Rey memasukkan tangan kanannya di kantong celananya. Di sana ia menekan tombol rekam. Ia ingin merekam ucapan Zahila.
__ADS_1
Setelah menekan tombol rekam di HP-nya, ia bicara pada Zahila.
“Tapi Kak Rey bukan hanya ingin kamu menerima perasaan Kak Rey, Zahila. Kak Rey ingin menikah denganmu. Kalau Kak Rey melakukan syaratmu itu bagaimana bisa Kak Rey menikah denganmu?” Tanya Rey sambil memasang wajah kasihannya.
“Hehehe......sepertinya dia sudah ingin menyerah padaku. Akhirnya trikku berhasil. Pasti itu alasannya tidak mau melakukannya. Aku lanjutkan saja untuk main – main dengan om – om ini.” Dalam hati Zahila yang merasa dirinya sudah menang.
Ia lalu menjawab pertanyaan Rey.
“Aku juga bersedia menikah dengan om kapanpun om mau. Aku ini wanita yang bisa menepati janji kok.” Ucap Zahila dengan sombong dan rasa percaya dirinya itu.
Zahila mengatakan itu karena ia pikir kalau Rey tidak akan melakukannya malahan Rey akan menyerah padanya.
“Gadis kecil ini meremehkanku.” Dalam hati Rey.
“Lihatlah dia. Dia pasti ketakutan sekarang. Zahila mau di lawan. Mas Bagas memang the best. Dia memberikanku trik seperti ini untuk menolak pria playboy. Dan sekarang aku pakai pada temannya. Maaf ya mas.” Dalam hati Zahila.
Rey lalu membuka pintu mobilnya. Ia menarik tangan Zahila masuk ke dalam mobil.
“Apa yang om lakukan?” Tanya Zahila dengan bingung. Ia duduk di dalam mobil dengan wajah bingungnya.
Rey tak mengatakan apa – apa. Ia hanya berjalan masuk ke dalam mobilnya. Ia melajukan mobilnya menuju depan kampus Treeya. Ia menghentikan mobilnya tepat di depan kampus.
“Om....kenapa kita berhenti di sini?” Tanya Zahila melihat Rey yang duduk di kursi pengemudi.
“Melakukan sesuai yang kamu mau.” Rey tersenyum melihat Zahila.
“Apa maksud om?” Tanya Zahila dengan wajahnya yang kaget.
“Sepertinya tadi kamu memberikan Kak Rey syarat untuk bisa menikahimu kan.” Rey menatap Zahila dengan tersenyum sambil melepaskan sabuk pengamannya.
Rey turun dari mobilnya sambil tersenyum. Zahila sudah terlihat gelisah melihat Rey yang keluar dari mobilnya. Bahkan Rey terus tersenyum padanya.
Bersambung.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tekan LIKE ya. Berikan KOMENT dan VOTE kalian. Biar Author semangat terus up datenya.