Beautiful Romance 2

Beautiful Romance 2
BAB 52 Beautiful Romance 2


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Saat Aditya sibuk bersiap – siap di ruang gantinya. Kyra bangun dari tempat tidurnya lalu meraih bajunya yang masih tergeletak di lantai. Selesai berpakaian, ia keluar dari kamarnya menuju kamar anaknya. Ia melangkahkan kakinya sambil sesekali memegang pinggangnya yang masih sakit.


Ia langsung masuk ke dalam kamar anaknya ketika ia sudah berada di depan pintu kamar Kaila.


“Kaila sayang.” Panggilnya sambil berjalan menghampiri Kaila.


Disana sudah terlihat Nyonya Sintya yang tengah membantu cucunya berpakaian sekolah.


“Kyra....kamu disini. Pinggangmu sudah tidak sakit.” Tanya Nyonya Sintya.


Wajah Kyra terlihat bingung karena ia tidak pernah mengatakan tentang pinggangnya pada ibu mertuanya itu. “Hah...pinggang.”


“Aditya bilang, kamu sakit pinggang.”


“Astaga Aditya....kenapa sih harus bilang pada mami. Aku kan malu?” Dalam hati Kyra.


“Kyra...kamu benar tidak apa - apa?” Tanya Nyonya Sintya kembali


“Ia mi....aku baik – baik saja.”


Ia kemudian berjalan menghampiri anaknya yang sudah berpakaian rapi. Ia berjongkok di depan anaknya sambil menatap pakaian sekolah anaknya itu.


“Wah..anak mama sudah mulai sekolah yah.”


“Ia...Kaila sekarang sudah dewasa seperti Tante Ila.”


Kyra tertawa kecil mendengar ucapan anaknya itu. “Kaila senang sekali yah bisa sekolah.”


“Ia....Kaila bahagia sekali. Apalagi oma mau antar Kaila terus ke sekolah.”


“Benarkah. Jadi mama sudah di lupakan nih.”


“Kaila tidak melupakan mama tapi mama yang melupakan Kaila.”


“Mama tidak seperti itu sayang.”


“Buktinya mama tidur sama papa. Mama tidak ingin tidur lagi sama Kaila.”


Kyra menghela nafasnya dengan pelan lalu bicara pada anaknya itu.


“Kalau begitu. Nanti malam kita tidur bersama, sama papa, mama dan Kaila.”


“Kenapa Cuma bertiga. Oma tidur sama siapa?” Tanya Kaila dengan polosnya.


Kyra melihat kearah ibu mertuanya yang tengah berdiri di sampingnya.


Nyonya Sintya hanya melingkarkan kedua tangannya di depan dadanya sambil melihat menantunya tanpa menagatakan apa – apa.


“Kenapa melihatku. Jelaskan sana sama anakmu yang selalu ingin tahu?” Dalam hati Nyonya Sintya.


Kyra kembali melihat anaknya.


“Oke....nanti malam kita tidur berempat yah. Sama papa dan oma.”


Kyra tak tahu harus mengatakan apa. Ia hanya bisa menyetujui ucapan anaknya itu.


Sedangkan Kaila terlihat sangat senang mendegar ibunya setuju. “Asyik.” Sambil lompat – lompat di depan ibunya.


“Dasar anak kurang ajar ini.” Dalam hati Nyonya Sintya.


Nyonya Sintya lalu berbicara pada cucu perempuannya itu.


“Kaila sayang. Kita berangkat sekolah yah. Mba Lina sudah menunggu kita di luar. Kasihan kalau dia terus menunggu disana.” Ucapnya sambil memegang tangan cucunya.


“Ia...”


Kyra berdiri di depan mereka berdua.


“Mi....biar aku saja yang mengantar Kaila ke sekolah. Mami kan harus ke kantor.”


“Mami sudah jarang ke Hotel lagi semenjak papimu meninggal. Mami cuma di rumah mengurus Aditya. Mami menyuruh Pak Mus yang mengurus semuanya. Mami hanya pergi kalau ada hal yang mendesak. Jadi mami punya waktu banyak di rumah apalagi ada Kaila sekarang. Biar mami yang mengurusnya, kamu urus saja suamimu.”


“Ia...baiklah. Kalau mami maunya seperti itu.”

__ADS_1


“Ya sudah. Mami pergi dulu yah sama Kaila.”


“Ia...hati – hati dijalan.”


“Ia...”


Nyonya Sintya berjalan meninggalkan Kyra yang masih berada di sana. Kyra hanya melambaikan tangannya pada Kaila sambil tersenyum begitupun dengan Kaila.


Setelah Kaila dan ibu mertuanya pergi. Ia turun ke bawah menuju dapur. Disana ia disambut oleh beberapa pelayannya.


“Selamat pagi Nyonya Muda.” Sapa ketiga pelayannya sambil membungkuk.


“Selamat pagi.” Sambil tersenyum. “Apa sarapannya sudah siap?”


“Sudah nyonya.”


“Terima kasih.”


“Itu sudah tugas kami.”


“Oyah...tolong panggil tuan sarapan yah. Dia ada di kamar sekarang.” Perintahnya.


“Baik.”


Salah satu pelayannya itu pergi memanggil Aditya turun sarapan sedangkan Kyra sedang membuat Teh Herbal untuk suaminya. Salah satu pelayannya datang menghampirinya.


“Nyonya....apa Anda butuh bantuan kami?”


“Tidak usah. Kamu kerjakan yang lain saja.”


“Baik.”


Kyra kembali melanjutkan kesibukannya itu sedangkan pelayannya tadi berjalan ke meja makan sambil berdiri menunggu perintah dari majikannya itu.


Beberapa saat kemudian....


Kyra sudah selesai membuat Teh Herbalnya. Ia kemudian membuka semua lemari kecil yang ada di depannya itu.


“Nyonya....Anda mencari sesuatu.”


Pelayan itu berjalan kearahnya dan membuka lemari yang ada di bawah kakinya. Disana sudah ada berbagai macam termos tempat air.


“Banyak sekali.”


“Anda mau yang mana nyonya.”


“Terserah yang mana saja. Lagipula sama saja kan.”


“Baik..”


Pelayannya itu memberikan salah satu termos yang ada disitu. Kyra meraihnya dan memasukkan teh herbalnya tadi ke dalam termos kecilnya itu. Ia lalu berjalan menuju meja makan yang tak jauh darinya. Ia duduk disana menunggu kedatangan suaminya.


Dari arah kanannya sudah terlihat Aditya berjalan menghampirinya dengan setelan jasnya itu.


Salah satu pelayannya langsung menarik kursi untuknya.


“Pinggangmu sudah tidak sakit sayang.” Tanya Aditya pada istrinya sambil duduk di kursi.


“Sudah agak mendingan.”


Aditya meraih sandwich yang ada di depannya sambil mendengarkan istrinya tadi.


“Oyah...Dit. Apa aku boleh keluar hari ini?”


“Buat apa?”


“Aku mau beli Handphone.”


“Nanti aku suruh Andi mengirimkanmu Handphone baru untukmu. Kamu tidak usah keluar rumah. Nomormu itu juga harus di ganti.” Jawabnya dengan santai.


Kyra hanya diam cemberut mendengar suaminya mengatakan itu padanya. Sedangkan Aditya sesekali melirik istrinya sambil memakan sandwich yang ada di tangannya.


Ia kembali bicara pada istrinya yang sedang menggigit kasar sandwich yang ia pegang.


“Kamu tidak usah melampiaskan kekesalanmu pada makanan. Aku tahu kalau kamu kesal padaku karena melarangmu keluar.”

__ADS_1


“Siapa yang kesal. Aku tidak kesal sama sekali?” sambil memalingkan wajahnya karena tak mau ketahuan kalau ia benar – benar kesal.


“Oyah!” sambil tersenyum. “Terus kenapa wajahmu seperti itu?”


“Aku cuma ingin memilih Handphone sendiri sayang.”


“Nanti aku suruh seseorang mengantar semua model Handphone terbaru kesini supaya kamu bisa memilih.” Jawabnya dengan santai.


“Aku juga mau belanja pakaian.”


“Nanti aku suruh beberapa pemilik butik terkenal di kota ini untuk datang ke rumah. Kamu bisa memilih sendiri nanti.”


“Sekalian saja bawa bersama tokohnya datang kesini, cih. Bagaimana caranya aku keluar untuk bertemu Lea dan Tania. Kalau aku bilang mau bertemu dengan Lea, pasti dia juga akan membawa Lea datang ke rumah. Kalau seperti itu, aku tidak bisa bertemu dengan Tania.” Dalam hati Kyra.


Aditya melirik istrinya yang terlihat diam sambil memikirkan sesuatu.


“Huh....kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu ingin keluar rumah. Jangan harap.” Dalam hati Aditya.


Aditya kemudian berbicara pada istrinya.


“Kenapa kamu diam saja. Lagi memikirkan alasan lagi untuk keluar?”


Kyra langsung menatap suaminya yang terlihat santai itu. Ia lalu memalingkan wajahnya.“Huh....”


Aditya kembali bicara pada istrinya untuk memberikannya pengertian.


“Untuk saat ini kamu dilarang keluar rumah sampai kamu benar – benar bisa di percaya.”


Kyra menengok kearah suaminya. “Kamu benar – benar tega menjadikanku tahanan rumah.”


“Itu hukuman delapan tahunmu karena menghilang.”


Kyra hanya cemberut melihat suaminya yang bicara begitu padanya.


Sedangkan Aditya hanya minum jus yang ada di depannya lalu berdiri dari tempat duduknya. “Sudahlah....aku berangkat kerja dulu yah.”


Ia kemudian mencium kening istrinya yang sedang cemberut itu lalu berjalan meninggalkannya.


Kyra baru sadar kalau ia membuat Teh Herbal tadi.


“Sayang.”


Aditya menghentikan langkahnya dan berbalik melihat istrinya.


“Ada apa sayang?”


Kyra mengambil termos kecilnya yang berwarna perak itu dan menyodorkannya di depan Aditya.


“Ini apa?”


“Teh Herbal.”


“Kamu menyuruhku membawa ini ke kantor seperti anak TK.”


“Itu untuk kesehatanmu juga.”


“Tapi...


Kyra langsung menatap tajam suaminya sampai membuat Aditya tidak melanjutkan ucapannya itu karena melihat tatapan tajam Kyra.


“Oke....aku akan bawa sayang. Jangan memasang wajah begitu.” Sambil tersenyum.


Aditya kemudian mencium bibir istrinya dan mencium kembali keningnya.


“Aku pergi yah.” Memegang atas kepala istrinya.


“Eem...jangan lupa di minum.”


“Ia sayang.”


Aditya kembali berjalan meninggalkan Kyra yang masih berdiri di sana. Diluar, sudah ada Andi menunggunya. Ia langsung membuka pintu untuk bosnya itu disusul dirinya yang masuk ke dalam mobil.


Andi mengendarai mobilnya menuju Perusahaan Sinatria.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2