
SELAMAT MEMBACA
Terlihat Pak Malik dan Lina tengah duduk menunggu kedatangan mereka di Ruang Tamu rumah Kyra, tapi Zahila tidak terlihat di sana.
“Dimana Zahila?” Tanya Kyra pada Pak Malik dan Lina.
Pak Malik langsung berdiri dari tempat duduknya begitu pun dengan Lina yang ikut berdiri.
“Nona Zahila tadi masuk ke dalam nyonya.” Jawab Pak Malik.
Tiba – tiba Zahila keluar dari kamar yang pernah di tempati kedua orang tuanya itu.
“Aku di sini.” Sambil berjalan menghampiri mereka.
Kyra berbalik ke arah adiknya itu.
“Aku pikir kamu pergi kemana. Ayo kita ke makam ibu dan ayah.”
“Iya kak.”
Kyra lalu melihat ke arah Maria yang sedang berdiri di sampingnya.
“Maria...kami pergi dulu ya. Terima kasih sudah menjaga rumah ini dengan baik.”
“Iya nona. Saya juga berterima kasih pada nona.”
Kyra langsung tersenyum melihat Maria.
“Kalau ada waktu aku akan datang berkunjung lagi ke sini.”
“Iya nona.”
Kyra dan yang lainnya pun pergi meninggalkan rumah lamanya itu. Mereka naik mobil yang di kendarai Pak Malik menuju pemakaman kedua orang tuanya.
Tak menunggu lama, mereka sampai di pemakaman kedua orang tua Kyra dan Zahila. Kyra, Kaila dan Zahila turun dari mobil. Sedangkan Pak Malik dan Lina menunggu mereka di dalam mobil sampai mereka kembali.
Kyra berjalan menghampiri makam ibu dan ayah bersama dengan Zahila dan Kaila.
Ketika sampai di sana, Kyra memberikan bunga yang memang ia sudah siapkan sebelum datang ke sana.
Kyra dan Zahila berjongkok di depan makam kedua orang tuanya sedangkan Kaila berdiri di samping ibunya.
“Ayah...ibu, aku kembali. Bagaimana kabar kalian di sana, baik – baik saja kan. Maaf...karena delapan tahun tidak pernah mengunjungi kalian. Kali ini aku dan Zahila akan mengunjungi kalian setiap tahun. Bersama Kaila juga, dia sekarang sudah besar. Sudah sekolah, dia sudah menjadi gadis yang pintar.” Sambil mengusap – usap batu nisan ibu dan ayahnya secara bergantian.
Kyra kemudian melihat ke arah Kaila.
“Sayang...ini makam kakek dan nenek Kaila. Ayo beri salam pada mereka.”
Kaila langsung membungkuk di depan makam mereka berdua. “Halo kakek nenek.”
Menegakkan kembali tubuhnya di depan makam kakek dan neneknya.
“Aku Kaila, senang bertemu dengan kakek dan nenek. Kaila sekarang sudah besar, sudah bisa menjaga mama dan Tante Ila.”
__ADS_1
Kyra tersenyum mendengar ucapan anaknya itu begitu pun dengan Zahila.
Selesai melepaskan rindu mereka di makam kedua orang tuanya. Mereka berdua kembali berjalan ke arah mobil Pak Malik yang terparkir di depan.
Zahila langsung naik di dalam mobil begitu pun dengan Kyra. Ia naik ke dalam mobil sambil menggendong Kaila.
Pak Malik melajukan mobilnya kembali ke rumah Aditya yang ada di pinggir pantai.
Tak lama kemudian mereka sampai di sana, Pak Malik menghentikan mobilnya di depan rumah besar itu.
Kyra turun dari mobil sambil menggendong Kaila diikuti Zahila dan Lina yang ikut turun. Kyra lalu menurunkan Kaila di sana sambil memegang tangan anaknya masuk ke dalam.
Sedangkan Pak Malik memarkirkan mobilnya di garasi rumah Aditya. Ia kemudian masuk ke dalam rumah tuannya itu.
Sementara Nyonya Sintya yang mendengar kedatangan mereka, langsung menuruni tangga dan berjalan menghampiri mereka.
“Kalian dari mana saja?” Tanya Nyonya Sintya.
“Dari makam ibu dan ayah mi.” Sahut Kyra sambil melihat ke arah ibu mertuanya.
“Oh...mami pikir kalian pergi jalan – jalan karena baru pulang jam segini.”
“Tidak kok mi.”
“Naiklah ganti baju. Biar mami yang bantu Kaila ganti baju.”
“Iya...”
Nyonya Sintya kemudian memegang tangan cucunya.
“Iya.”
Nyonya Sintya kembali ke atas sambil memegang tangan cucunya diikuti Kyra dan Zahila yang berjalan di belakangnya.
Kyra masuk ke dalam kamarnya sedangkan Nyonya Sintya, Kaila dan Zahila berjalan menuju kamar mereka.
Nyonya Sintya masuk ke kamar bersama Kaila begitu pun dengan Zahila yang masuk ke kamarnya.
Ketika Zahila berada di kamarnya, ia tiba – tiba menerima panggilan masuk dari nomor yang tidak di kenal.
“Nomor siapa nih?” Sambil menatap layar HP-nya.
Ia kemudian mengangkat panggilan masuk di layar HP-nya itu.
Suara Telfon.
“Halo Zahila.” Suara pria di balik tefon.
“Anda siapa?” Tanya Zahila sambil mengerutkan keningnya.
“Kak Rey.”
Wajah Zahila langsung merasa aneh karena tiba – tiba di hubungi oleh Rey.
__ADS_1
“Ada apa Om Rey menghubungiku?”
“Kak Rey.”
“Iya....ada apa om?”
“Kak Rey.....Zahila, bukan om.”
“Terserahlah. Kenapa menghubungi nomorku. Apa Om Rey salah nomor?”
“Tidak....Kak Rey tidak salah nomor. Kak Rey menghubungimu untuk bicara masalah kampusmu. Kak Rey besok menjemputmu di rumah ya. Kita pergi bersama ke kampus.” Ucap Rey yang terus menyebut dirinya sebagai Kak Rey agar Zahila tidak memanggilnya dengan sebutan om.
“Buat apa?”
“Aku yang akan membantumu daftar di Kampus Treeya. Aku sudah bilang pada kakakmu.”
“Maaf ya om. Aku bisa daftar sendiri kok. Tidak perlu bantuan om atau siapa pun. Lagi pula berkas kampusku masih ada pada Mas bagas.”
“Tenang saja...semuanya sudah Kak Rey pegang.”
“Loh....kenapa ada sama Om Rey?”
“Kak Rey....Zahila, Kak Rey.”
“Iya..terserah lah. Tapi kenapa ada sama om?”
Rey hanya menghela nafasnya karena Zahila tak hentinya memanggil dirinya dengan sebutan om.
“Om...kenapa tidak jawab?” Tanya Zahila kembali.
Rey tidak menanggapi pertanyaan Zahila. Ia hanya mengatakan hal lain.
“Lusa aku akan datang menjemputmu, aku langsung datang ke sana ya.”
Rey langsung mematikan telfonnya tanpa mendengar jawaban Zahila.
“Halo....hei...om...Om Rey. Aku belum menyutujuinya.”
Ia kemudian melihat layar HP-nya.
“Ih....kenapa sih nih orang. Tidak sopan sama sekali. Aku belum bilang iya atau tidak tapi langsung di matikan apalagi dia tidak menjawab pertanyaanku?” Kesalnya.
Zahila melemparkan HP-nya di kasur lalu masuk ke dalam kamar mandinya. Ia berendam di Bathup dengan air panas yang sudah ia siapkan. Di dalam kamar mandinya ia mengomel - ngomel sendiri mengingat Rey yang seakan memaksanya tadi.
"Huh....om - om itu. Apa maksudnya coba, membantuku daftar di kampus bahkan mengambil sendiri berkas - berkas kampus pada Mas Bagas. Memangnya dia siapa, sok dekat sekali. Mentang - mentang temannya Mas Bagas dan kakak ipar langsung memaksaku begitu. Seharusnya dia mendengar jawabanku dulu baru tutup telfonnya. Menjengkelkan sekali." Gumamnya sambil menggosok - gosok tubuhnya dengan busa air.
Wajahnya sangat kesal dengan tingkah Rey kepadanya.
Setelah puas berendam, ia keluar dari kamar mandinya dengan memakai baju mandi putih di tubuhnya. Ia langsung melempar tubuhnya di kasur sambil memejamkan matanya di sana.
"Puas sekali habis berendam air panas." Gumamnya.
Ia kemudian menggerakkan tubuhnya untuk memperbaiki posisi baringnya. Ia berbaring sambil menarik selimut menutupi sebagian tubuhnya. Ia tidur di sana tanpa berganti pakaian dan hanya memakai baju mandinya itu. Itu ia lakukan karena sudah malas untuk menggerakkan tubuhnya.
__ADS_1
Bersambung.