
SELAMAT MEMBACA
Keesokan paginya.
Kyra dan Aditya siap – siap untuk pergi jalan – jalan bersama dengan Kaila. Tadi malam, Aditya memberitahu Andi kalau ia tidak akan ke kantor hari ini. Ia juga menyuruh Andi untuk mengambil libur untuk anaknya di sekolah.
Selesai siap – siap.....Kyra dan Aditya turun ke bawah. Aditya memakai baju kaos hitam polos dengan jaket kulit abu – abu dan celana jeans ketat seperti yang ia pakai saat ia kuliah dulu begitu pun dengan Kyra. Ia memakai celana jeans dan kaos ketat seperti yang selalu ia pakai semasa kuliah.
Saat mereka turun, mereka sudah melihat Nyonya Sintya dan Kaila sedang duduk di Ruang Keluarga menunggu mereka turun.
Kyra dan Aditya datang menghampiri mereka berdua.
“Ayo sayang kita jalan.” Ucap Aditya pada anaknya yang tengah duduk bersama Nyonya Sintya.
“Ayo pa.” Sambil turun dari sofa dan berjalan ke arah ayahnya.
“Jadi mami tidak boleh ikut nih.” Sahut Nyonya Sintya melihat mereka.
“Kalau mami ikut. Mami mau duduk dimana?” Sahut Aditya.
“Kenapa sih kalian tidak naik mobil saja. Kenapa harus naik motor besar begitu?” Tanya Nyonya Sintya.
“Tahu....Mas Adit maunya naik motor.” Jawab Kyra.
Nyonya Sintya langsung kaget mendengar nama panggilan Kyra pada suaminya.
“Sejak kapan kamu panggil suamimu dengan sebutan mas?”
“Sejak tadi malam. Dia bilang kalau aku panggil mas, dia akan membebaskan aku untuk keluar rumah.” Jelas Kyra dengan wajah cemberutnya karena masih risih dengan nama panggilan suaminya itu.
Aditya langsung menengok melihat istrinya. “Jadi kamu terpaksa nih memanggilku begitu. Kalau begitu, kamu tidak usah keluar rumah. Tinggal saja di sini selamanya.”
Kyra langsung memegang lengan suaminya sambil tertawa paksa.
“Hehehehe....tidak sayang. Aku mana berani padamu. Aku tidak terpaksa kok.”
Aditya berwajah sombong mendengar istrinya bicara begitu. Ia tersenyum sombong di sana. Seakan istrinya sudah sangat takut dan tak berani padanya.
Sedangkan Nyonya Sintya hanya menggeleng – gelengkan kepalanya.
“Pergilah....mami bosan melihat tingkah kalian yang seperti baru menikah saja.”
Aditya meraih tangan anaknya. “Ayo sayang, kita pergi jalan – jalan tinggalkan nenek – nenek yang suka iri itu.” Ucap Aditya sambil tersenyum melihat anaknya tanpa melihat ibunya.
Ia berjalan meninggalkan Nyonya Sintya dan Kyra yang masih berdiri di sana.
“Dasar anak durhaka. Mami masih muda begini sudah di bilang nenek – nenek. Huh..” Umpatnya.
Kyra hanya menatap mertuanya dengan tersenyum karena itu sudah biasa terjadi saat mereka baru menikah dulu. Meskipun Aditya dan ibunya sering melempar kata – kata sindiran seperti itu, tapi itu salah satu bentuk komunikasi di antara mereka berdua. Memang tak biasa, orang yang baru mendengarnya mungkin berpikir kalau ibu dan anak itu sama sekali tak dekat. Tapi itulah cara mereka menjalin kedekatan mereka berdua.
Kyra kemudian berpamitan pada ibu mertuanya.
“Mi...aku pergi dulu ya.” Meraih tangan ibu mertuanya dan menciumnya di sana.
“Iya....hati – hati di jalan. Jangan ikuti sifat suamimu itu.”
“Iya mi.”
Kyra pun pergi meninggalkan ibu mertuanya dan berlari mengejar suami dan anaknya.
Ketika Kyra di luar, ia sudah melihat Aditya naik di motor besarnya sedangkan Kaila duduk di depan ayahnya.
__ADS_1
Motor yang selalu membawanya kemana – mana, motor yang pertama kali membuatnya jengkel saat pertemuan perjodohan mereka, motor yang membawanya bertemu dengan Ivan saat perpisahan mereka, motor yang di pakai Aditya saat keliling kota mencarikannya bubur.
Motor itu menyimpan banyak sekali kenangan indah di antara mereka berdua. Suka duka di antara mereka berdua ada di motor itu.
“Sayang...motor ini masih ada.” Tanya Kyra.
“Tentu saja. Aku selalu menyimpannya baik – baik di garasi.”
Kyra tiba – tiba meneteskan air matanya di depan suaminya.
“Hei....kenapa kamu menangis?” Tanya Aditya sambil menghapus air mata Kyra yang sudah berdiri di samping motornya.
“Aku cuma mengingat masa lalu. Saat melihat kamu menaiki motor itu, aku teringat kenangan kita dulu.”
Aditya tersenyum sambil mengusap – usap pipi istrinya.
“Sudah....jangan menangis begitu. Ayo naik, Kaila sudah tidak sabar untuk jalan – jalan.”
“Iya.”
Kyra pun naik ke motor suaminya. Ia langsung memeluk perut Aditya sambil menyandarkan kepalanya di punggung Aditya.
Aditya melirik istrianya. “Kalian siap.”
Kyra langsung menegakkan tubuhnya sambil mengangkat tangan kanannya ke atas begitu pun dengan Kaila yang menaikkan tangannya.
“Siap.” Balas Kaila dan Kyra secara bersamaan.
Aditya melajukan motor harleynya itu meninggalkan rumahnya. Ia melajukan motornya sambil tertawa bahagia bersama istri dan anaknya.
“Uuuuuhhhhh...” Teriakan Kyra dengan wajahnya yang sangat bahagia.
Sesekali Aditya melirik istrinya di belakang sambil tersenyum bahagia.
Sesekali Aditya mengecup pipi istrinya yang dekat dengan wajahnya.
“Aduh...kamu jangan cium – cium terus dong. Nanti kita jatuh.” Ucap Kyra yang sudah di cium tiga kali oleh Aditya.
“Tidak akan sayang.”
“Kamu lihat jalan saja di sana.” Kesalnya.
“Oke....oke..”
Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah Restoran yang pernah mempertemukan mereka ketika Kyra masih menjadi pelayan di sana dan Aditya melakukan kencan buta dengan seorang gadis yang sudah di atur Nyonya Sintya.
Mereka bertiga duduk di salah satu meja Restoran di sana. Pelayan Restoran yang melihat kedatangan mereka, langsung datang menghampiri mereka.
Kyra kemudian memesan Spaghety dan susi begitu pun dengan Aditya. Setelah pelayan mencatat semua makanan dan minuman yang mereka pesan, Kyra kemudian berbicara pada suaminya.
“Kenapa kamu membawaku datang ke sini?” Tanya Kyra.
“Aku akan membawamu ke tempat dimana kita pernah bertemu?”
“Jadi kamu juga mau membawaku ke bar di mana kamu mengajakku untuk melayanimu.”
“Kecuali itu sayang.” Tanpa melihat istrinya karena merasa malu.
Ia hanya memegang bagian belakang lehernya.
“Kenapa tidak mau melihatku. Merasa bersalah padaku karena menganggapku sebagai wanita murahan yang selalu tidur denganmu?” Ucap Kyra sambil menutup telinga anaknya dengan kedua tangannya karena tak ingin membiarkan Kaila mendengar percakapan mereka.
__ADS_1
Aditya langsung melihat istrinya. “Jangan bilang begitu sayang, ada Kaila.”
“Kaila tidak dengar kok.”
Melihat ke arah anaknya sambil melepaskan tangannya di telinga Kaila.
“Kaila diam dulu ya sayang. Mama tutup telinga, mama mau bicara masalah orang dewasa sama papa.”
“Iya.” Mengangguk.
Kembali menutup telinga Kaila dan melihat ke arah suaminya.
“Karena kamu membahasnya, jadi aku ingin menanyakannya padamu. Dulu kamu memanggilku karena mau mengajakku tidur denganmu kan.”
Aditya langsung kaget karena Kyra mengetahui dirinya yang menganggap Kyra sebagai salah satu wanita yang ingin tidur dengannya.
“Tidak sayang. Kamu salah paham waktu itu. Kenapa sih kamu membahasnya, itu kan sudah lama sekali terjadi?”
“Aku memang mau menanyakannya padamu tapi selalu lupa. Dan sekarang kamu mengingatkanku, jadi aku membahasnya.”
“Aku benar – benar tidak sengaja menganggapmu begitu sayang. Tapi.....karena kejadian itu membuatku terus mengingat dirimu. Jadi kamu jangan marah begitu dong”
“Cih...dasar gombal. Menyogokku dengan gombalan.” Ketusnya.
“Benar...aku sampai menyuruh Bagas untuk mencarimu.”
“Huh...kamu mau mencariku karena ingin membalas dendam padaku yang sudah berani memukul hidungmu itu.”
Kaila yang melihat ekspresi ayahnya yang terlihat bersalah di depan ibunya pun ikut bicara pada Kyra.
“Mama...”
Kyra menengok melihat anaknya. Kaila kembali bicara pada ibunya yang sudah melihat ke arahnya itu.
“Mama tidak capek memegang telinga Kaila. Kaila merasa tidak enak ma.”
Kyra langsung melepaskan tangannya di telinga anaknya.
“Maaf sayang. Mama tidak akan menutup telingamu lagi.”
Kyra pun tidak membicarakan tentang masa lalunya saat melepaskan tangannya dari telinga anaknya sedangkan Aditya merasa lega karena sudah tidak di tanya oleh istrinya lagi.
“Untung saja ada Kaila. Anak papa memang yang terbaik.” Dalam hati Aditya.
Tiba – tiba pelayan yang mengantar makanannya pun datang. Kyra sibuk membantu pelayan itu menyimpan semua makanannya di meja sedangkan Kaila yang melihat ayahnya menatap dirinya langsung menaikkan jempolnya di depan ayahnya sambil menaikkan kedua alisnya.
Aditya langsung kaget melihat anaknya. Ia kemudian tersenyum sambil menaikkan jempolnya di depan Kaila.
“Anak papa memang pintar. Jadi dia sengaja bantu papanya tadi.” Dalam hati Aditya.
Kyra menengok ke arah mereka berdua. Dengan sigap, Aditya dan Kaila langsung menghentikan tingkah mereka itu. Aditya pura – pura melihat ke arah jendela kaca luar Restoran sedangkan Kaila menunduk.
“Kalian berdua kenapa?” Tanya Kyra yang merasa ada hal aneh dengan suami dan anaknya.
Aditya langsung melihat ke arah istrinya.
“Tidak apa – apa sayang. Ayo makan. Nanti makanannya dingin.”
“Oh....oke.”
Kaila dan Aditya pun memakan makanan yang sudah di pesannya tadi begitu pun dengan Kyra. Mereka menikmati makanannya di sana. Sesekali Kyra menyuapi anaknya dengan susi yang ia makan. Ia juga menyuapi suaminya yang ingin di suapi seperti Kaila.
__ADS_1
Bersambung.